Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
episode 257


__ADS_3

Zain berencana ingin membawa Khumairah membeli perlengkapan bayi mereka. Hari ini Ia akan menutup warungnya dan sengaja khusus untuk membawa Khumiarah berjalan ke Mall.


Khumairah pastinya tidak pernah memasuki Mall dan hal ini akan menjadi moment yang tak terlupakannya saat mereka nanti pulang ke desa setelah melahirkan.


"Dik.. Berpakaianlah yang bagus, Mas akan bawa Kamu berjalan ke Mall" ucap Zain sembari memakaikan kaki palsunya.


"Mall? Apa itu Mall Mas?" tanya Khumairah penasaran.


"Pusat perbelanjaan, nanti pasti kamu suka" jawab Zain, lalu merapikan pakainnya.


Tak lupa Ia memakai kacamatanya dan juga topi yang dapat menutupi wajahnya.


Rambut panjang melewati bahu Ia biarkan tergerai begitu saja, wajah dipenuhi jambang dan janggut juga begitu saja Ia biarkan.


Khumairah sudah bersiap dengan pakaian seadanya yang Ia rasa begitu pantas untuk dipakai berpergian.


Zain yang selalu melihat berbagai wanita cantik dengan gaya fashion yang menggoda dan juga sudah muak mencicipi berbagai wanita, tak lagi begitu penasaran atau berselera dengan wanita manapun.


Baginya Khumairah cukup sempurna meskipun gayanya terbilang biasa saja dan bahkan mungkin kampungan, namun itu membuatnya begitu mencintai wanita tersebut.


"Ayo.. Kita berangkat" ucap Zain sembari menatap wanitanya dengan begitu lembutnya.


Lalu mereka mengunci pintu rumah kontrakannya dan menaiki mobil pick upnya menuju Mall terdekat dari tempat tinggal mereka.


Zain tau Ia membutuhkan banyak biaya untuk kelahiran anaknya nanti, namun kapan lagi Ia akan membawa Khumairah melihat keindahan kota dan merasakan memasuki Mall sebagai tempat yang sering dikunjungi oleh semua warga dalam berbelanja.


Zain sudah memepersiapkan seluruh tabungan untuk biaya operasi cesar Khumairah, dan ada sedikit keuntungan dari hasil dagangannya, dan Ia ingin membuat hati istrinya itu senang.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, membelah keramaian kota.


Zain sengaja tidak melaju kencang, agar Khumairah dapat menikmati suasana kota dengan sedetail mungkin, agar Ia merasa berkesan setelah kembali ke desa.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit lamanya, akhirnya mereka sampai didepan Mall yang terbesar di kota tersebut.


"Ini apa Mas? Besar sekali?" tanya Khumairah takjub dengan bola matanya yang tampak heran dan terperangah.


"Ini Mall, nanti kita masuk kedalamnya" jawab Zain, lalu memarkirkan mobilnya dan mengajak Khumairah turun dari mobil mereka.


Zain menggenggam jemari Khumairah, Ia tidak ingin nanti istrinya kaget ataupun tiba-tiba hilang dari pandangannya dan akan membuat kebingungan untuk mencarinya.


Mereka menapaki tangga untuk masuk kedepan pintu lantai satu. Khumairah tampak begitu takjub dan terperangah dengan hingar bingar manusia yang berlalu lalang dengan pakaian minim dan bahkan ada yang hampir telan- jang dengan celana super pendek dan ketat serta tank top yang menampilkan belahan dan tonjolan tubuhnya.


"Mas.. Mereka apa gak malu pakai pakaian seperti itu datang kemari?" tanya Khumairah penasaran.


Zain terkekkeh mendengarnya, dan masih tetap menggenggam jemari tangan sang istri yang berusaha agar tidak terpisah.


"Nanti Kalau Dik Mai capek berjalan, bilang sama Mas ya? Soalnya Mall ini sangat luas" ucap Zain mengingatkan, sebab kondisi Istrinya juga sedang hamil dan ini harus menjadi perhatiannya.


Khumairah menganggukkan kepalanya pertanda mengerti.


Lalu Zain membawa istrinya ke lantai dua dengan menggunakan escalator, dan tentunya itu membuat Khumairah merasa gemetar.


Khumairah menganggukkan kepalanya, meskipun debaran di dadanya begitu sangat kencang.


Setelah mendengar aba-aba dari Zain, Mai mengikuti apa yang dinstruksikan, lalu Ia berhasil naik escalator. Meskipun berdebar kencang, namun Ia sangat senang, sebab ini pertama kalinya Ia menaiki tangga berjalan tersebut.


"Wah.. Hebat ya Mas.. Bisa berjalan sendiri" ucap Khumairah dengan berbisik.


Zain tersenyum, melihat wajah bahagia istrinya, membuat Ia ikut bahagia.


Lau mereka sampai dilantai dua. Mereka menuju tempat perlengkapan bayi dan membeli beberapa yang diperlukan. Khumaira mengalihakan pandangannya ke kiri dan kekanan dengan segala berbagai perlengkapan yang mereka inginkan.


Setelah mengambil beberapa barang, Zain membawa Khumairah ke kasir dan melakukan pembayaran.

__ADS_1


Lalu menuju kelantai dasar untuk mencari perlengkapan perawatan bayi mereka, dari mulai baby powder hingga minyak telon. Saat Zain mengambil satu paket perlengkapan bayi, matanya menangkap sesuatu yang membuat gemuru dijantungnya serasa bagaikan akan copot.


Ia melihat seorang pria berpakaian intel sedang berjalan mondar-mandir mencar seseorang yang mereka curigai. Zain melihat mereka berjumlah dua orang.


Zain berpura-pura tidak melihat orang itu dan berusaha tidak menimbulkan gerak-gerik yang mencurigakan.


"Kita pulang ya, Dik. lain kali Kita kemari lagi" ucap Zain sembari berbisik kepada Khumiarh.


Wanita itu hanya menganggukkan kepalanya, dan mengikuti apa yang dikatakan oleh suaminya. Saat menuju kasir, Ia melihat sebuah rotinyang menggoda hatinya, Ia memberitahu Zain untuk mengambil roti tersebut.


Zain tampak bingung, namun Ia tak ingin Khumairah kecewa, lalu mengiyakannya dan Ia mengambilkan roti yang diinginkan oleh sang istri, lalu terburu-buru menuju kasir untuk membayar belanjaan mereka.


Salah seorang dari pria yang diduga intel itu melihat gelagat aneh dari Zain, Ia merasa curiga dan mencoba mengekori Zain dari arah belakang dan tidak begitu mencolok.


Zain celingukan mencari sosok dua terduga Intel itu yang tiba-tiba menghilang dan membuat dadanya semakin bergemuruh.


Setelah mendapatkan antriannya, Ia menyerahkan barang belanjaannya dan membayar semuanya, lalu bergegas membaw Khumairah meninggalkan Mall.


Saat akan keluar dari pintu Mall, Ia melihat salah seorang dari terduga Intel mengekorinya dan itu semakin membuat Zain merasa khawatir.


Ia mencoba membawa Khumairah mempercepat langkah kakinya.


"Mas..jangan terburu-buru, perut Mai sedikit keram" keluh Khumairah sedikit meringis sembari memegangi perut bagian bawahnya.


Zain merasa serba salah dan akhirnya memperlambat gerak langkahnya, tiba-tiba pria bertubuh kekar itu menghilang, namun Zain tau jika pria pasti mengintainya.


Khuamirah merasa sedikit lelah dan hampir saja terjatuh, lalu memaksa Zain menangkapnya dengan tangan kanannya, lalu tangan kirinya menopang pada pintu kaca Mall dan segera membawa Khumairah menuju parkiran dan masuk ke mobil.


Seorang terduga Intel mengeluarkan sebuah sapu tangan dari saku celananya yang masih terbungkus plastik transparan, dengan menggunakan sarung tangan, pria itu membubuhkan sebuah bubuk berwarna putih ke pintu kaca yang tadi sempat terpegang oleh Zain saat hendak menangkap tubuh Khumairah yang limbung.


Pria itu menempelkan sapu tangan tersebut kepintu kaca, lalu kembali memasukkannya kedalam kantong plastik transfaran dan menghubungi rekannya yang tertinggal didalam Mall melalui sebuah alat komunikasi dan mengatakan sesuatu dengan bahasa isyarat tentang penemuannya yang dianggap mencurigakan.

__ADS_1


Zain segera keluar dari parkiran Mall, Ia melihat Khumairah masih meringis, namun perlahan mereda.


Setelah keluar dari parkiran, Zain mencoba membelai perut Khumairah agar membantu menghilangkan rasa keram tersebut, meskipun Ia sangat dengan penuh kecemasan saat ini.


__ADS_2