
Saat sampai di rumah Fairi nyonya Tias melihat ke sekeliling dan rumah itu sangat besar serta ada banyak orang yang berpakaian serba hitam disana. Dan nyonya Tias mendekati suaminya untuk bertanya rumah siapa yang ditempati oleh Fairi.
"Ssstt, jangan berisik ma. Papa juga tak tau rumah siapa ini." Tuan Bram menjawab juga sambil berbisik
"Kamu sudah datang Ta." Sabrina menyambut Anita dan Kenan serta orang tua Kenan
"Mari silakan masuk." Sabrina mempersilakan tuan Bram dan yang lainnya untuk masuk.
"Katakan Kemal kenapa kau tak ingin mengalahkan orang lain dan ingin membantu mereka." Tuan Sujono bertanya lagi pada Kemal
"Karena aku ingin mereka selalu ingat padaku dan tak akan melupakan aku atas bantuanku, mama bilang diingat orang karena bantuan dan perbuatan baik kita itu kemenangan sangat besar dari pada diingat orang karena mereka membenci kita." jawab Kemal
"Bagaimana jika orang - orang itu menyakitimu." Tuan Sujono
"Aku juga akan membalas mereka dengan cara berbuat baik dan perlahan merobohkan mereka dari dalam." jawab Kemal
"Bagaimana caranya?" Tuan Sujono
"Jika aku membantu orang maka aku akan tau kelemahan dan juga kemampuan dari mereka, dengan begitu aku bisa memanfaatkan kelemahannya untuk merobohkan mereka." jawab Kemal yang membuat tuan Sujono kaget dengan pola pikir Kemal yang masih 7 tahun itu.
"Hah...aku jadi ingin menikahi mamamu dan memiliki satu anak seperti mu." ucap tuan Sujono
"Tapi aku gak mau punya adik dari om." jawab Kemal langsung dan tuan Sujono kembali terbahak
"Tuan mereka sudah tiba." Sabrina berkata dan berjalan masuk bersama dengan Kenan dan orang tuanya.
"Oh sudah tiba ya, silakan duduk." Tuan Sujono berdiri dan menyambut kedatangan Kenan serta orang tuanya.
"Papa..." Kemal langsung lari ke pelukan papanya
"Hei bocah, kau benar - benar tak ingin adik dariku dan mamamu hah?" Tuan Sujono bertanya dan menatap Kemal.
Mendengar itu Kenan seketika langsung melihat ke arah tuan Sujono dengan bingung dan dia menatap tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari orang yang telah menjaga dan merawat Fairi selama ini.
"Gak mau dan gak pernah mau." jawab Kemal langsung dan Kenan merasa sedikit terhibur mendengar jawab putranya.
"Hah...bocah yang kejam, cepat kemari dan habiskan sayuran mu kalau tak ingin dimarahi lagi." ucap Sujono dan Kemal pun datang pada Sujono lalu memakan sayurannya dengan lahap.
"Maaf yang mengundang kalian adalah aku, karena aku ingin mengenal kalian secara langsung." ucap tuan Sujono tanpa basah basi setelah dia serius dengan tamu yang dia undang untuk datang.
Fairi yang berjalan dari arah dapur merasa kaget melihat Kenan dan orang tuanya ada di rumahnya dan sedang berbincang dengan tuan Sujono. Perlahan Fairi berjalan mendekat sambil membawah segelas jus untuk Kemal.
__ADS_1
"Fairi." Nyonya Tias melihat Fairi dan dia berdiri namun langkah kakinya terhenti karena dia ingat bagaiman dia dulu memperlakukan Fairi saat Fairi meminta untuk berpisah dengan Kenan yang mendua.
"Oh, aku yang mengundang mereka degan menggunakan nama mu. Karena aku rasa sudah saatnya kamu bertemu dan berkumpul dengan keluargamu serta menceritakan semuanya pada mereka, karena ayah juga berkata seperti itu." Sujono berkata dan menatap Fairi.
"Iya." Fairi menjawab dengan canggung.
"Mama, aku sudah menghabiskan semuanya." Kemal memeluk kaki Fairi dan menunjukkan wadah yang sudah kosong.
"Bagus sayang, sekarang habiskan juga jusnya." Fairi menyerahkan segelas jus dan mengambil wadah yang telah kosong dari tangan Kemal.
"Kalau begitu aku akan memasak sesuatu untuk makan malam." Fairi berbalik ke dapur
Nyonya Tias mengikutinya dan mendekati Fairi dengan diam. Saat Fairi berbalik dia mendapati nyonya Tias sudah berdiri dibelakangnya dengan diam dan menatap Fairi dengan mata berkaca - kaca.
"Em.." Fairi tak tau harus mulai dari mana untuk bicara karena dia sudah lama sekali tak bertemu dengan nyonya Tias
"Maafkan Mama sayang, tolong maafkan Mama." Nyonya Tias berkata dengan menangis.
"Tidak apa - apa ma, Fairi juga minta maaf pada mama." jawab Fairi
"Apakah mama boleh memeluk kamu sayang." Nyonya Tias menatap Fairi
Kedua orang itu saling memeluk dan menangis, Fairi juga menangis dan memeluk nyonya Tias dengan erat.
"Mama janji gak akan menyakitimu lagi. Semua salah mama sehingga kamu pergi dan terjadi hal yang seperti ini" nyonya Tias berkata dengan penyesalan yang dalam.
"Tidak, semua buka salah mama. Tapi memang sudah jalannya sepeti ini ma." Fairi menjawab dan tersenyum pada nyonya Tias.
"Mama mau membantu Fairi untuk menyiapkan makan malam."
"Tentu sayang, ayo kita buat makan malam yang enak."
Kedua wanita itu pun sudah mulai kembali seperti dulu lagi memasak dan bercanda bersama, terlihat Fairi sangat menyukai kegiatan memasak bersama dengan nyonya Tias itu. Dan setelah selesai makan malam nyonya Tias menceritakan soal bi Mina yang saat ini tinggal bersama dengan Kenan.
Fairi yang mendengar cerita soal bi Mina jadi merindukan bi Mina, karena hanya bi Mina yang selalu ada untuk Fairi dan bersama dengannya melewati segala hal serta masa sulit. Fairi pun memutuskan untuk bertemu dengan bi Mina dan ingin melihat serta menceritakan apa yang telah terjadi pada dirinya selama ini.
Malam itu pun Fairi datang ke rumah Kenan untuk bertemu dengan bi Mina, namun sampai didepan gerbang rumah Kenan satpam yang mengenali Fairi kaget dan menatap takut pada Fairi yang berdiri didepannya setelah keluar dari mobilnya.
"Selamat malam man." sapa Fairi pada man Ayub satpam rumah Kenan.
Man Ayub menatap Fairi dengan tatapan kaget dan secara spontan dia melangkah mundur karena takut , Fairi yang dia kenal sudah meninggal 1 tahun lalu dan saat ini ada seorang wanita yang berdiri tepat didepannya mirip dengan Fairi membuat dia merasa merinding dan berkali - kali menelan salifanya karena ketakutan.
__ADS_1
"Man..." Fairi memanggil lagi dan man Ayub semakin ketakutan.
"Si-siapa anda, ke-kenapa menyerupai majikan saya yang sudah meninggal." Man Ayub bertanya dengan terbantah - batah.
Fairi tersenyum dan dia sadar kalau dirinya telah dikenal sudah meninggal dunia. "Ini saya man, Fairi. Bisa tolong buka pintunya."
"Tidak mungkin, tolong jangan menakuti saya orang kecil ini. Hus, hus. Pergi, pergi. Pergilah, ya Allah...alfatihah."
Man Ayub mengusir Fairi dan membaca surat Al-fatihah serta ayat kursi untuk mengusir Fairi.
"Pergilah...setan, dedemit pergilah..."
Tak lupa man Ayub pun membaca mantra - mantra pengusir jin yang berbahasa Jawa.
Fairi semakin tersenyum melihat tingkah man Ayub dan Fairi pun mulai berbuat jail untuk menakuti man Ayub dengan berpura - pura jadi setan pengganggu.
"Tak maukah maman ikut saya, tak mau kah maman membantu saya. Saya kedinginan didalam sana dan juga pengap serta gelap."
Suara Fairi dibuat sedikit kecil dan melengking untuk menakuti man Ayub yang sedang meringkuk didalam posnya sambil membaca mantra - mantra.
Kenan yang diberitahu kalau Fairi akan datang ke rumahnya langsung menyusul bersama dengan orang tuanya karena mereka juga ingin melihat dan bertemu dengan Fairi.
"Maman...tidak mau ikut kah." suara Fairi dibuat - buat dan man Ayub semakin ketakutan sampai kakinya lemas tak bisa digerakkan.
"Sudah puas membuat orang takut sampai gemetaran begitu, hem." Kenan dari belakang menegur Fairi "kenapa tak bilang kalau kamu mau kesini, tau gitu kan tadi kita bisa berangkat bersama. kalau Om Jono tak bilang kamu kesini aku dan mama sama papa tak akan tau."
"Ken." Fairi tersenyum melihat man Ayub "habisnya dia bicara yang tidak - tidak dan membaca surat - surat pendek serta mantra untuk mengusir jin. Maaf tadinya aku tak berencana tapi aku ingin melihat bi Mina."
"Man, tolong buka pintunya. Ini aku Kenan." suara Kenan menyadarkan man Ayub yang meringkuk ketakutan.
Man Ayub melihat Kenan dan dia merasa lega "Ya Allah ya Tuhanku..mas anda sudah datang, barusan saya melihat han.."
"Halo man..." Fairi dari belakang Kenan menyapa sambil menggendong Kemal yang tertidur dalam perjalanan ke rumah Kenan dari rumahnya.
"Tu...hantu mbak Fairi." Man Ayub berteriak dan Kenan menoleh melihat Fairi.
"Sudah buka pintunya dia bukan hantu, cepat." perintah Kenan
"Baik, baik." Man Ayub membuka pintu gerbang dan menatap Fairi dari atas sampai bawah.
Lalu man Ayub terus mengikuti Fairi dari belakang dan terus memperhatikan Fairi yang berjalan dengan dikawal beberapa orang. Man Ayub bertanya - tanya dalam hati bagaimana orang yang sudah mati bisa hidup kembali dan menjadi sangat cantik.
__ADS_1