
Setelah beberapa jam akhirnya tuan Adi sadar dan terlihat segar, semua orang yang ada merasa senang terutama Handoko asisten tuan Adi yang dari tadi terlihat panik dan cemas. Tyas mendekat dan menggenggam tangan tuan Adi dia menangis sesenggukan dan mengatakan kalau dia menyesal karena tak pernah tau kalau papanya sedang sakit.
"Pa, jangan buat mama cemas lagi ya. Apa papa tau bagaimana mama tadi, mama sangat takut pa." Nyonya Ayu pun mulai menangis.
"Kalian tak usah cemas aku tak apa sekarang aku baik - baik saja." Tuan Adi berkata dengan lembut dan suara yang pelan.
"Fairi benar - benar keterlaluan, mama sudah memberitahu dia tapi dia malah tak ada kabar sama sekali dan bahkan telepon untuk tanya keadaan papa juga gak." Nyonya Ayu berkata dengan sangat marah.
"Sudah biarkan saja, mungkin dia masih repot jangan ganggu dia." Tuan Adi menjawab dan tersenyum.
Sehari berlalu dan tuan Adi pun sudah diperbolehkan untuk pulang tapi masih tak diijinkan untuk aktifitas, sehingga semua pekerjaan ditanggung oleh Handoko dan tuan Adi hanya memberikan persetujuan saja. Sedangkan nyonya Ayu terlihat sangat perhatian dan juga melayani tuan Adi dengan penuh kesabaran.
"Pak Han ada orang dari Bogor namanya pak Karto dan pak Hasan." lapor seorang satpam pada Handoko.
"Suruh mereka masuk." Handoko memerintahkannya dengan bingung
"Selamat siang sekretaris Han." salam pak Karto dan pak Hasan pada Handoko
"Kenapa bapak sekalian kesini, apakah ada maslah atau kalian diperintahkan oleh non Fa...oh non Laras untuk kemari?" Handoko bertanya penasaran
Kedua orang itu saling memandang dan bingung mau bilang apa dan bagaimana cara mereka untuk memulai memberitahu kabar yang menyedihkan kepada Handoko. Cukup lama kedua orang itu terdiam tak menjawab dan hanya memainkan tangan mereka karna gugup dan juga bingung. Handoko yang melihat hal itu jadi semakin bingung dan bertanya - tanya
"Sebenarnya ada apa ini, kenapa kalian terlihat gugup dan juga cemas. Katakan apa yang terjadi, harusnya non Laras sudah pulang Karan ini sudah 3 hari kenapa malah kalian yang datang. Katakan saja jika non Laras butuh bantuan aku akan mengirim orang untuk membantunya kalian tak perlu takut." Handoko berkata lagi dengan tak sabar.
"Maafkan kami sekretaris Han, tapi kami datang kemari karena ada kabar yang memang penting dan juga tak terduga." Pak Hasan berkata dengan gugup
"Katakan apa itu pak." jawab Handoko
"Kau saja yang bilang, aku gak sanggup." Pak Hasan meminta pak Karto untuk bilang
"Be-begini sekretaris Han, Bu Laras mengalami kecelakaan dan rumah sakit daerah meminta anggota keluarga untuk datang mengidentifikasi karena...karena jasadnya tak bisa dikenali karena hangus terbakar" jelas pak Karto terbata - bata.
"Apa?!" Handoko langsung kaget dan berdiri dari posisi duduknya. Dia tak tau harus bagaimana menceritakan pada bosnya mengenai kabar ini, karena dokter menyarankan untuk tua Adi beristirahat dan tak boleh terlalu lelah atau stres.
__ADS_1
Dengan bingung handoko mengabari Kenan dan meminta Kenan untuk datang ke kantor dengan cepat. Saat Kenan sampai pak Hasan dan pak Karto mulai menceritakan semuanya pada Kenan dan pak Handoko secara detail dari omongan orang - orang yang melihat dan menyaksikan langsung kejadian di lokasi kejadiannya.
...💔💔💔...
Kenan memutuskan untuk datang langsung dan melihatnya bersama dengan Handoko dan mereka tak memberitahu kepada tuan Adi karena ingin untuk lebih memastikan lagi kabar yang datang. Tapi mau bagaimana pun semua tak bisa untuk disembunyikan karena semuanya menunjukkan kalau jasad itu memang Fairi dengan gelang yang ada ditangannya dan juga beberapa barang yang ditemukan di lokasi semua menunjukkan kalau itu milik Fairi.
"Tidak ini tidak mungkin.!" Kenan histeris karena dia mendapati Fairi telah tiada dengan tubuh yang terbakar habis. "Aaaarh.!!" Kenan memukul - mukulkan tangannya di dinding hingga berdarah, Kenan merasakan rasa sesak dan hati yang tersayat, air mata Kenan tak bisa dibendung karenanya.
"Kenan tolong jangan begini, kenapa kau melukai dirimu sendiri." Handoko menghentikan Kenan
"Bagaimana bisa, bagaimana bisa ini terjadi. Ini pasti bukan kecelakaan Fairi bukan merupakan orang yang ceroboh dan dia memiliki pemikiran yang baik ini tidak mungkin, Fairi tidak mungkin pergi meninggalkan aku dan putra kami, tidak aku tak percaya semua ini." Kenan sudah berantakan dan duduk dilantai dengan sangat menyedihkan.
"Kenan bersabarlah, semua telah terjadi dan itu terbukti semua barang milik non Fairi." Handoko berusaha untuk menguatkan Kenan
"Bagaimana aku harus mengatakan pada putraku om, bagaimana caranya aku bilang padanya, dia terlalu kecil untuk harus menanggung semua ini" Kenan menangis dan mengacak rambutnya dengan frustasi.
"Apa anda adalah keluarga korban?" seorang polisi bertanya pada Kenan dan Handoko.
"Iya pak." Handoko menjawab dan Kenan tetap meratapi nasibnya.
"Kenan, ayo." Handoko memaksa Kenan untuk bangun dan berjalan mengikuti polisi ke kantor polisi.
"Silakan duduk pak, dan perkenalkan ini adalah pak Heru beliau adalah saksi mata dari kejadian sebelum mobil korban menabrak pembatas dan jatuh ke jurang." jelas polisi itu.
"Iya benar pak, saya juga tak tau apa yang terjadi karena kejadian itu terjadi begitu saja dan juga sangat cepat. Waktu itu saya datang dari arah yang berlawanan saya melihat mobil melaju dengan sangat kencang kearah saya dan saya menghindari mobil itu, lalu mobil yang didepan saya itu membanting setir ke kiri dan terjun ke bawah. Saya sempat melihat seorang gadis muda didalam mobil itu dan saat saya bilang mau membantu dengan mengambil tali mobil itu sudah meluncur semakin kebawah dan meledak." jelas pak Heru
"Datang dengan cepat, apa maksud anda mobil itu tak bisa dikendalikan?" Kenan bertanya dengan curiga.
"Iya pak, sepertinya rem mobil itu bermasalah karena tak mungkin mobil meluncur dengan kecepatan tinggi saat ada di belokan dan jalan menurun." jawab pak Heru.
"Mobil Fairi ada di bengkel karena pak Hasan membawah mobilnya kesana sebab ban mobil itu bocor semua, lalu mobil siapa yang dipakai oleh Fairi untuk kembali." Kenan semakin curiga.
"Itu yang ingin kami selidiki pak, karena dari plat nomer mobil itu. Dikatakan kalau mobil itu adalah mobil curian yang sedang kami cari beberapa waktu lalu." jawab polisi menjelaskan pada Kenan
__ADS_1
"Mobil curian? Itu artinya ini adalah rencana pembunuhan dan bukan kecelakaan. Karena tak mungkin seseorang memberikan mobil curian kepada orang lain jika dia tak memiliki niat buruk, pasti mereka berencana untuk menutupi alibinya dengan semuanya." Handoko berkata dengan marah.
"Ya, kami juga curiga akan hal itu, karena kami mendapatkan masukan dari banyak warga dan juga para pegawai kalau korban adalah orang baik dan juga bos yang baik, jadi kami tak akan mencurigai dia sebagai pencurinya, karena mobil itu sudah dalam pencarian sebulan yang lalu. Sedangkan korban baru datang kesini 3 hari yang lalu, dan juga keterangan dari pak Heru sangat memberikan gambaran kalau semua kejadian ini adalah rencana yang sudah disusun dengan baik oleh pelakunya." jelas polisi itu.
"Ini tak bisa dibiarkan begitu saja, tidak bisa. Aku akan melakukan segala cara untuk menemukan mereka yang sudah membuat anakku menjadi yatim." Kenan berkata dengan marah.
"Iya pak, kami pasti akan membantu sampai selesai masalah ini. Dan kami akan mencari tau apa motif dibalik semuanya. Yang perlu kami lakukan sekarang ini adalah untuk mencari tau siapa dalang dari semuanya dan untuk itu saya meminta pada pihak keluarga untuk bisa bekerja sama dengan kami." pinta polis itu.
Setelah pembicaraan dengan polisi Kenan membawah jasad Fairi kembali untuk dimakamkan dan juga memberitahukan kabar duka ini pada semua keluarga. Terlihat semua orang berduka atas kejadian itu, dan semua pegawai Fairi terlihat bersedih karena mereka kehilangan bos yang sangat baik bagi mereka.
Sepanjang jalan rumah sakit yang dilewati oleh mobil ambulance yang membawah jasad Fairi mereka semua berbaris dan menaburkan bunga dan semau orang berderai air mata. Karena tak menyangka kebersamaannya dengan Fairi begitu sangat singkat.
Kenan yang membawah mobil Fairi sementara mobilnya dibawah oleh Agus. Sepanjang jalan kenan terus mengikuti dibelakang mobil ambulance dan tak mau disela satu pun mobil lain, seolah Kenan ingin terus mengiringi Fairi sampai tujuan. Air mata Kenan terus saja keluar meski dia sudah berusaha untuk menahannya sekuat tenaga.
Jasad Fairi ditujukan ke rumah keluarga Kenan yang sebelumnya sudah Kenan kabari papa dan mamanya soal Fairi, dan di rumah nyonya Tias bi Mina, Kemal, keluarga Melisa dan kakaknya beserta keluarga Fahmi semua sudah ada disana menunggu kedatangan Kenan dan Fairi.
"Om, Ken..." Kemal yang mengenakan baju serba hitam itu lari menghampiri Kenan saat melihat Kenan keluar dari mobil dan seketika tangis seorang Kenan kembali pecah.
Sedangkan Handoko pergi ke rumah tuan Adi untuk memberitahu nyonya Ayu kalau Fairi telah pergi meninggalkan semuanya. Dan tuan Adi pun bersih keras untuk ikut datang karena dia ingin melihat putrinya. Handoko yang khawatir pun dengan terpaksa membawah tuan Adi dan tak lupa untuk membawah obat - obatan tuan Adi karena takut kalau nanti tuan ada kaget dan terjadi sesuatu yang tak diinginkan.
Selama menunggu kedatangan Handoko di rumah orang tua Kenan semua orang menangis saat mereka melihat jasad Fairi yang sudah tak bisa dikenali lagi karena hangus terbakar. Kenan memeluk erat Kemal dalam pangkuannya dan tak melepaskannya. Kemal pun merasa bingung melihat semua orang yang bersedih dan menangis dia terus saja mengusap air mata Kenan yang keluar dan mengecup pipi serta kening Kenan.
"Kenapa semua orang bersedih, siapa yang meninggal." Kemal bertanya dan Kenan semakin sedih.
"Om Ken..." Kemal pun mulai ikut menangis karena Kenan terus menangis.
"Maafkan papa sayang, tolong maafkan papa. Papa tak bisa menepati janji untuk membawah mama pulang dengan selamat, maafkan papa sayang." Kenan meminta maaf pada Kemal dan nyonya Tias yang ada disamping Kenan kaget mendengar Kenan menyebut dirinya sendiri papa dihadapan Kemal.
"Ken...apa maksudmu nak? Apa dia put-ramu" nyonya Tias menatap Kenan meminta penjelasan.
Kenan semakin menangis dan memeluk mamanya "Maafkan Ken ma..."
Nyonya Tias menangis semakin keras dan memeluk Kenan juga Kemal bersamaan "Ya Allah..."
__ADS_1
Semua yang melihat pun jadi ikutan bersedih. Malam itu di rumah orang tua Kenan telah menjadi rumah duka yang meninggalkan banyak rasa sakit dan kesedihan yang sangat mendalam sebab tak hanya jasad Fairi namun juga jasad dari ayah Fairi tuan Adi yang sedang di dibacakan do'a bersamaan, karena tuan Adi yang tadi baik - baik saja saat tiba langsung mendapatkan serangan jantung saat dia membuka dan melihat jasad putrinya yang hangus tak berbentuk.