
Denny terdiam menatap ribuan makam tersebut. Terbesit dihatinya rasa bersalah saat semasa Rania hidup keduanya melakukan disa terlarang.
Namun terlepas dari semua itu Denny tidak mengetahui jika Rania masih memiliki seorang suami dan juga anak yang Ia tinggalkan demi berselingkuh dengannya.
Dan yang lebih parahnya lagi, ternyata Rania adalah saudara sepupunya sendiri, anak dari saudara kembar mamanya yang dibunuh secara sadis oleh Papa Rania bernama Ramli.
Denny mendenguskan nafasnya dengan berat. Suasana padang pasir yang sangat panas dan dibawahnya terkubur jasad Rania bersama ribuan jamaah lainnya.
Hanya sebuah doa yang dapat di sampaikan, tanpa kembang atau pun siraman air mawar yang diletakkan diatas makamnya, sebab tidak ada tanda pengenal disana, karena makam itu hanya gundukan tanah dan juga bongkahan batu sebagai penandanya.
Kelak jika sudah bertahun lamanya, makam itu akan dibongkar dan ditumpuk menjadi satu, sebab akan dimasukkan jenazah yang baru, dan begitu seterusnya.
Setelah menyampaikan semua doa yang mereka munajatkan kepada Sang Pencipta Alam Semesta, agar Rania tenang dan juga damai dialamnya, mereka memutuskan untuk kembali ke hotel.
Saat melintasi pintu gerbang, tampak para petugas pengurusan jenazah membawa jenazah untuk dimakamkan dan mobil ambulance berjejer menunggu antrian untuk memakamkan para jenazah disana.
Sesampai mereka di mobil yang mereka sewa, Denny menatap Reno dengan seksama, lalu Ia menjabat tangan pria itu, dan memeluknya dengan erat.
"Maafkan Aku, maafkan atas segala dosa dan khilafku yang terbesar. Aku adalah pendosa yang yang tak terampuni" ucap Denny dengan tulus, dan tanpa terasa Ia mengalirkan bulir bening tersebut disudut matanya.
Ia sadar jika berselingkuh dengan istri orang adalah hal terburuk dan paling nista. Sebab dimana sang wanita masih memiliki ikatan suami istri dalam hubungan pernikahan dan juga anak yang Ia terlantarkan demi kesenagan semata.
Reno menepuk pundak Denny dengan pelan "Sudahlah, Aku sudah memaafkanmu.. Dan Aku juga meminta maaf karena pernah menaruh perhatian kepada istrimu, sebab Ia saat itu sangat menderita" jawab Reno dengan lancarnya.
__ADS_1
Seketika Denny terperangah saat masih dalam dekapan Reno, Ia ternyata benar menduga, jika saat itu Reno juga sempat menaruh hati pada Amyra.. Ah.. Ternyata begitulah sakitnya saat istri sendiri diberi perhatian lebih pada orang lain.
Lalu keduanya saling mengungkapkan apa yang mereka rasakan dan membuat mereka saling memaafkan satu sama lain.
Denny melepaskan pelukannya kepada Reno, dan mereka sudah saling membuka pintu maaf. Lalu tiba-tiba, Renata menghampiri menantunya tersebut. Ia juga memeluk tubuh menantunya, memohonkan maaf dan ampunan dengan tangisannya yang tulus dari lubuk hatinya.
Ia tak mampu lagi mengungkapkan apapun, hanya tangisannya yang mewakili isi hatinya.
Reno membalasnya dengan pelukan seorang menantu terhadap ibu mertuanya "Sudahlah, Ma.. Reno sudah memaafkan semuanya, kini kita jalani kehidupan Kita yang sekarang dan semua akan kembali normal dan menjadi satu keluarga lagi.." ucap Reno ditengah isakan Renata.
"Dan doakan Adnan yang sekarang sedang berjuang untuk mengikuti kompetisi Hafiz di negara Turki dan Ia ingin menghadiakan mahkota terindah untuk Rania, Mamanya" ucap Reno dengan bangga.
Renata melepaskan pelukannya, menatap pada Reno. Bagaiamana mungkin cucu yang Ia abaikan dan juga diabaikan ileh Rania waktu itu, kini justru yang memberikan doa terbaiknya kepada mamanya yang telah tiada.
"Katakan pada Nazla, Mama mengucapkan ribuan terimakasih yang tak dapat mama ungkapkan dengan kata-kata karena ini sangat begitu membuat Mama bangga dan juga teramat senang" ucap Renata dengan tulus.
Reno menganggukkan kepalanya, lalu mereka kini sudah merasa lega, sebab sudah saling mengutarakan isi hati mereka satu sama lain dan akan menjalin sialturahmi kekeluargaan, sebab masih ada Adnan dan juga Raisya sebagai penyambung tali silaturahmi, anak dari Rania dan juga Reno.
Kini mereka kembali menuju pulang ke hotel untuk beristirahat, sebab esok mereka akan memulai rukun umrah yang akan memerlukan tenaga dan fisik yang fit.
Sementara itu, disebuah pondok pesantren yang kini didibawah bimbingan Usataz Nazla, seorang bocah laki-laki sedang berjuang untuk menjadi Hafiz terbaik dan dengan tekad yang kuat, Ia terus berusaha untuk mewujudkan impiannya menjadi seorang yang mumpuni di kehidupan dunia dan akhiratnya.
Nazla, seorang Ibu sambung yang memiliki keluasan hati dan cinta kasih yang tulus dari hati nuraninya, membuat seorang anak yang haus akan kasih sayang kini merasa begitu sangat dalam kenyamanan.
__ADS_1
Sebuah cinta kasih yang pernah hilang saat Ia masih berusia enam bulan hingga usia 7 tahun, kini terganti dengan seorang ibu sambung yang dengan tulus memberikan seluruh kasih sayang untuknya.
"Umi.."ucap Adnan kepada Nazla.
Bocah laki-laki itu menatapanya penuh makna "Terimakasih, sudah menjadi Ibu untukku, semua jasa dan kebaikan serta kasih sayangmu, takkan pernah ku lupakan hingga akhir hayatku" ucap Bocah laki-laki tersebut dengan semua ketulusan yang Ia rasakan.
Nazlah tersenyum dengan tulus, lalu membelai ujung kepala anak sambungnya "Jadilah kelak pria yang memuliakan Ibumu, meskipun Ia sudah tiada, saudara wanitamu, nenekmu, dan juga wanitamu, alias istrimu. Dan ingat selalu pesan Umi, janganlah pernah memyakiti hati seorang wanita meskipun itu sangat sujung kuku.." ucap Nazlah dengan lembut.
"Lalu jika wanita itu yang menyakitiku?" tanya Adnan dengan polosnya.
"Maafkanlah.. Karena dengan memaafkan hatimu akan tenang. Dendam hanya akan membawa kesengsaraan dalam hidup, dan membuat penyakit hati yang sangat berbahaya, karena dapat membawa jiwa seseorang untuk melakukan perbuatan yang terlarang" ucap Nazlah dengan tenang, yang membuat hati Adnan begitu damai.
"Umi pergi dulu, ada hal penting yang akan umi kerjakan, kamu teruslah menghafal, nanti setelah selesai setorkan kepada Umi esok hari" ucap Nazla menasehati anak sambung tersebut.
Adnan menganggukkan kepalanya, lalu tampak Nazla beranjak dari duduknya dan meninggalkannya pergi dengan langkah yeryatih, sebab wanita yang Ia panggil Umi itu kini sedang mengandung calkn adiknya kelak.
Setelah kepergian Ustazah Nazlah, entah mengapa, tiba-tiba saja terlintas bayangan wajah Najma, sosok gadis kecil yang selalu mengusik hatinya.
Ia tidak tahu apa arti dari semua perasaan yang Ia miliki terhadap gadis kecil tersebut.
"Najma" gumannya dengan lirih dan menatap nanar langit biru, berharap menemukan wajah itu tersenyum dibalik awan putih yang menggantung dilangit cerah.
Ia tersenyum dengan ceria "Semoga Kamu baik-baik saja disana.. Maukah Kau menunggu untukku?" gumannya penuh arti. Sedangkan Ia sendiri hanyalah seorang bocah yang masih dalam masa pubertas dan menuju remaja.
__ADS_1
Adnan beranjak dari duduknya, hari ini Ia ada jadwal pelajaran Quran Hadist yang sebentar lagi akan segera masuk kelas, dan Ia berlari menuju kamarnya yang mana berbaur dengan teman santri lainnya.