Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
Episode 170


__ADS_3

Hari lamaran telah tiba. Amyra meminta Denny untuk libur hari ini dan ikut mengantar Reno melamar Nazla.


Ada rasa ogah-ogahan dihati Denny, namun Ia juga tidak rela jika Amyra pergi tanpanya. Semakin hari Ia semakin begitu menjadi pencemburu.


Apalagi Amyra saat ini semakin sering merawat diri bagian luar dan juga dalam, yang membuat Denny semakin cinta dan candu dengan sang istri.


Meskipun sudah dua kali melahirkan, namun Amyra tetap saja ramping dan masih terlihat sangat muda.


Bahkan jika dibandingkan dengan sekretarinya Dwy dan juga Fhitry, kedua sekretaris itu kalah jauh dari segi fisik dan juga penampilan.


Meskipun keduanya tidak jauh beda usianya dengan Amyra.


Keduanya baru saja menikah sekitar setahun yang lalu, dan memiliki satu orang anak, namun sudah mulai tampak tanda-tanda akan melar.


Sepertinya Amyra dianugerahi fisik dengan metabolisne yang tinggi, sehingga sebanyak apapun Ia makan tidak akan membuatnya membuatnya melar.


Reno juga mengundang Ibu mertuanya Renata dan juga Rudy untuk menghadiri acara lamarannya.


Karena memandang sang cucu yang akan menemukan Ibu baru, maka keduanya memutuskan untuk ikut datang.


Sementara itu, Adnan yang saat ini sedang menjadi santri dipondok pesantren itu tidak mengetahui jika seorang ustazah yang selama ini selalu memberikan perhatian lebih dan mendidiknya untuk menjadi seorang hafiz akan menjadi Ibu sambungnya.


Adnan tampak serius dengan hafalannya, dan Ia akan setoran hafalannya setiap hari kepada ustazah Nazla yang terus saja membimbingnya dengan begitu lembut dan juga ikhlas.


Rombongan yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga.


Karena pondok pesantren dan rumah Abah terpisah, maka segala aktivitas yang terjadi diluar tidak akan terlihat dari dalam pesantren karena tembok tinggi yang menghalangi.


Keluarga Abah menyambut kehadiran rombongan yang menghantar Reno untuk acara lamaran.


Keluarga Abah tidak pernah mengetahui jika calon menantunya adalah seorang pengusaha sukses, Ia hanya melihat jika puterinya menyukai pria itu, dan Ia mencoba menerima keputusan puterinya.


Mobil-mobil mewah mengiringi rombongan, yang membuat masyarakat sekitar merasa penasaran dengan apa yang terjadi.

__ADS_1


Ketika rombongan turun dari mobil dan banyak membawa hantaran, para warga menyimpulkan jika Ustazah Nazla akhirnya melepaskan masa lajangnya dan menerima lamaran seorang pria.


Rombongan disambut dengan ramah dan suka cita. Setelah melewati berbagai rangkaian acara, seorang tetuah sebagai penyambung lidah mengutarakan niat dan maksud kedatangan mereka. Lalu tetuah itu menanyakan mahar dan juga uang hantaran yang akan diberikan oleh Reno kepada Nazla.


Abah hanya tersenyum "Jika uang hantaran, maka itu sesanggupnya saja. Namun untuk maharnya, Saya meminta mahar untuk puteri saya satu surah Ar-rahman sebagai maharnya" ucap Abah dengan tenang dan penuh sahaja, namun membuat tercengang semua yang hadir.


"Apakah Kamu sanggup memberikan mahar yang diminta oleh calon mertuamu?" tanya tetuah itu kepada Reno, yang diikuti oleh tatapan tegang semua rombongan yang hadir, karena ini adalah hal yang sangat langka buat mereka.


Reno merasa bingung, namun Ia tidak ingin mundur. Lalu Ia menyanggupi mahar yang dimintai oleh calon ayah mertuanya.


"Insya Allah, saya sanggup, dan mohon beri saya waktu untuk menghafalnya" ucap Reno dengan perasaan yang tak menentu.


Seluruh rombongan yang hadir semakin tercengang melihat kesungguhan dan sikap nekad Reno yang menerima tantangan dari Abah Nazla.


Denny membolakan matanya, Ia tidak menduga, jika Reno benar-benar ingin membuktikan jika cintanya terhadap gadis yang akan dijadikan calon untuk Ibu sambung bagi anak-anaknya itu sungguh benar adanya.


Meskipun semua meeagukan kemampuan Reno, namun pria itu sudah mengambil keputusan yang tidak dapat diganggu gugat.


Denny menggenggam erat jemari Amyra, seolah Ia ingin menyatakan jika cintanya pada sang istri juga benar adanya.


Sementara itu, Adnan masih serius dengan hafalannya, dan Ia berusaha ingin memberikan mahkota yang indah untuk Rania, Ibunya yang sudah wafat setahun yang lalu.


Meskipun Ia santri baru, namun Ia merupakan anak cerdas dan mudah memahami apa yang baru saja dipelajarinya.


Dari mulai mempelajari makhorijul huruf, Ia begitu sudah antusias dan terus berlanjut ketahap selanjutnya.


Ia ingin meyetorkan hafalannya, namun ustazah yang dicarinya tidak ditemukan hari ini.


Adnan menatap lorong pesantren, yang mana ustazah itu selalu muncul dari arah sana, namun hari ini tak terlihat.


Diantara semua yang menjadi pengajar dipesantren itu, hanya Ustazah Nazla yang menjadi idolanya, sebab beliau begitu sangat lembut dan sabar dalam membimbingnya.


Adnan kembali kekamarnya yang mana dihuni oleh beberapa santri lainnya. Tempat tidur mereka bertingkat dan memiliki loker tempat menyimpan pakaian sendiri.

__ADS_1


Saat ini, Adnan masih ditingkat Tsanawiyah dan masih banyak yang harus dikejarnya, sebab Ia tidak berasal dari Ibtidahiyah, sehingga banyak materi pelajaran yang tertinggal.


Namun dengan sabar dan dengan bimbingan para ustaz dan ustazah yang selalu sabar dan juga ikhlas membuatnya merasa betah berada didalam pondok pesantren itu.


Meskipun terkadang Ia juga harus menahan rindu kepada Papa, Raisya dan juga Najma yang biasanya selalu menjadi sahabatnya bermain dikala sore.


Ia mengingat gadis kecil itu, dan bahkan mereka tidak bertemu saat Adnan memutuskan untuk pergi mondok dipesantren.


Disisi lain, Reno sudah sampai dirumahnyanya.


Perasaan senang bercampur penuh gemuruh saat menerima tantangan dari Calon Ayah mertunanya adal sesuatu yang sangat menantang dan juga sangat langka.


Reno membuka Al-Qur'an digital, dan mencoba mempelajari tata cara membaca Al quran yang benar.


Ia berniat memanggil seorang Ustaz untuk membimbingnya hingga dapat menghafal Surah Ar-Rahman sebagai salah satu syarat untuk mahar menikahi Nazla.


Jika Reno menghafal Surah Ar-Rahman untuk syarat menikahi Nazla, Namun Adnan menghafal Al-Quran untuk memberikan mahkota kepada kedua orangtuanya.


Ditempat yang berbeda kedua insan itu saling serius dan juga fokus untuk menghafal hafalannya.


Keduanya berniat untuk dapat menyelesaikan hafalan mereka sebaik mungkin.


Keesokan paginya, Adnan memasuki kelasnya dan ada pembelajaran tentang ilmu fiqih. Adnan sedikit berbeda dari teman-temannya lain.


Ia sedikit menyendiri dan terlalu tampak serius dalam menghayati setiap pembelajaran yang diberikan. Sehingga Ia begitu sangat disukai oleh para Usataz dan Ustazah yang mengajar dipesantren ini.


Seluruh tenaga pengajar sudah mengetahui jika Ustazah Nazla sudah dilamar oleh Papanya Adnan, namun mereka mencoba merahasiakan hal tersebut dari Adnan agar tidak mengganggu belajar Adnan.


Setelah materi yang diajarkan telah selesai, Adnan masih menatap lorong itu, dan mencoba menunggu kehadiran Ustazah idolanya.


Sesaat tampak sosok itu berjalan dari ujung lorong, Adnan tersenyum sumringah, dan menyusul wanita bercadar itu "Umi.. Saya sudah hafal beberapa Ayat" ucapnya antusias.


"Alhamdulillah, ayo Kita ke Mushallah, dan setor disana" ucap Nazla dengan tenang dan beranjak menuju ke Mushallah.

__ADS_1


__ADS_2