Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
Bab 128


__ADS_3

Keesokan paginya Kenan bangun dan dia masih melihat Fairi yang duduk dengan santai sambil membaca sesuatu dari laptopnya. Kenan tersenyum karena baru pagi ini Kenan melihat Fairi saat pagi hari karena biasanya Fairi sudah pergi dan tak terlihat di rumah, dan itu terjadi selama seminggu Kenan tinggal di rumah Fairi, karena Kenan akan tinggal di rumah Fairi 1 Minggu dan akan kembali ke rumahnya selebihnya. Dan setiap sebulan sekali Kenan akan tinggal di rumah Fairi 1 Minggu untuk bermain dengan anak - anaknya.


"Apa yang sedang kau lakukan, bukannya ini akhir pekan. Apa kau masih harus bekerja walau saat di rumah." Kenan mendekati Fairi


"Tidak aku hanya melihat jadwal les dan pertunjukan Arlan saja, karena aku gak mau kalau nanti jadwalnya akan bertabrakan dengan pekerjaan ku. Karena aku ingi selalu ada disetiap momen dia" jawab Fairi santai.


"Hem, apakah jadwalnya begitu padat. Kau harus menguranginya agar dia punya waktu untuk dirinya" Kenan ikutan melihat jadwal Arlan.


"Itulah makanya aku melihatnya, sekiranya jadwalnya berbenturan maka aku aka menghilangkan jadwal itu." Fairi menatap serius layar laptop itu dan menjawab Kenan tanpa melihatnya.


"Eh ini adalah pertunjukannya yang akan diadakan di pusat kota ya." Kenan mendekat dari belakang Fairi


"Iya dan aku ingin hadir saat itu, apa kau juga bisa hadir karena ini adalah pertunjukan besarnya. Dia terpilih sebagai wakil dari sekolah musiknya untuk menjadi pengantar musik besar." Fairi berkata dengan semangat dan berbalik


Tatap mereka bertemu dan jarak antara mereka hanya kurang 1 centi saja, Kenan menatap tanpa berpaling begitu juga dengan Fairi dia menatap dalam kedalam sorot mata Kenan.


"Aku mencintaimu Fa." gumam Kenan lirih


"Hem." Fairi menjawab hanya dengan gumaman


"Bolehkah aku mencium mu." ucap Kenan lagi


Fairi tak menjawab, dia hanya menatap dengan diam pada Kenan. Perlahan Kenan mendekatkan bibirnya dan memberikan kecupan di kening Fairi dengan lama dan dalam.


"Papa, mama." Arlan yang sudah bangun memanggil Kenan dan Fairi sambil menatap kedua orang tuanya dengan bingung.


"Oh, sayang." Kenan terkejud dan menjawab dengan terbantah


Fairi langsung bangun dan pergi meninggalkan Kenan sama Arlan begitu saja, Fairi pergi naik keatas menuju kamarnya dan terlihat salah tingkah.


"Ma" Kemal menyapa Fairi namun diabaikan oleh Fairi.


"Mama kenapa pa." Kemal pun bertanya pada Kenan karena melihat mamanya aneh.


"Tidak ada" jawab Kenan yang juga terlihat salah tingkah dan pergi ke depan rumah.


"Hei kenapa dengan mereka." Kemal merasa bingung menatap mama dan papanya yang bertingkah aneh.


"Kakak tadi aku lihat papa cium kening mama." Arlan memberitahu kakaknya


"Oh, itu sebabnya." Kemal tersenyum dan bersikap biasa saja.


Didalam kamarnya Fairi langsung mandi dan duduk termenung di depan meja riasnya, Fairi mengingat lagi kejadian saat Kenan mencium keningnya dan Fairi langsung bergeleng kepala.


"Gila apa yang kau lakukan sih Fa, kenapa kau mengiyakan permintaannya." gumam Fairi menyesali perbuatannya.


Tak jauh berbeda dengan Fairi kondisi Kenan pun juga sama, dia termenung didepan kolam renang dan mengingat kembali kejadian yang baru saja dia lakukan pada Fairi.

__ADS_1


"Ya ampun kenapa aku bisa senekat itu tadi, untung saja Fairi tak marah dan memukulku. Aku benar - benar lancang, dasar tak tau aturan kau Ken."


Setelah beberapa menit mereka telah berkumpul di depan meja makan untuk sarapan bersama, terlihat Fairi dan Kenan yang canggung satu sama lain.


"Nenek - nenek tadi aku melihat papa mencium mama." Arlan mengadukan apa yang dia lihat sama bi Mina.


"Uhuk uhuk" Kenan dan Fairi tersedak bersama mendengar apa yang dikatakan oleh Arlan


"Iya tak apa itu tandanya papa sayang sama mama." Bi Mina menjawab dan tersenyum pada Arlan


"Tapi mereka terlihat seperti melakukan dosa. Karena mereka pergi begitu saja, kata Bu guru kalau orang yang melakukan dosa akan merasa bersalah dan menghindar." Arlan berkata lagi


"Hei..kau mau makan atau bicara hah." Kemal menegur Arlan dengan tegas


"Makan." jawab Arlan langsung


"Kalau begitu habiskan makanan mu segera." Kemal menatap tajam pada Arlan


"Kakak selalu marah padaku." gumam Arlan sambil memonyongkan bibirnya.


Fairi dan Kenan terlihat canggung satu sama lain, mereka tak ada bicara satu sama lain, dan meja makan terasa sepi tak seperti biasanya selalu ada obrolan dan candaan dari Fairi, dan juga omelan saat Arlan tak mau memakan sayurannya.


"Haaah." Kemal menghela nafas dalam melihat kedua orang tuanya.


Setelah selesai makan pun Fairi langsung pergi begitu juga dengan Kenan, tinggal anak - anak mereka yang melihat dengan bingung apa lagi si kecil Arlan yang merasa tak biasa dengan sikap kedua orang tuanya yang aneh.


"Mereka tak marahan, mereka hanya tak biasa saja" Kemal berkata dan Arlan yang tak mengerti pun tak peduli.


"Sayang apa kau mau ikut papa ke rumah nenek Tias" Kenan bertanya pada Kemal dan Arlan.


"Aku ada kegiatan nanti siang pa, jadi tak ikut. Nanti saja sepulang kegiatan aku akan menyusul papa." Kemal berkata pada Kenan


"Lalu bagaimana dengan si kecil Lan Lan." Kenan mendekati Arlan dan bertanya.


"Ikut, Lan mau ikut ke rumah nenek Tias." Arlan berkata dengan semangat, Kemal tersenyum dan mengusap kepala adiknya yang sedang duduk disebelahnya.


"Pergilah pamitan pada mama." pinta Kemal dan Arlan langsung lari ke kamar Fairi untuk minta ijin padanya.


Setelah Kenan dan Arlan pergi Kemal masuk kedalam kamat Fairi dan melihat mamanya sedang fokus pada laptopnya dan terlihat jari jemari Fairi sedang menari diatas keyboard.


"Ma." Kemal mendekati Fairi


"Hem, apa sayang" Fairi tersenyum dan menatap Kemal


"Ma, jika mama berfikir dan ingin bersama dengan papa lagi tak apa ma, aku akan senang. Tapi jika mama tak memiliki pikiran itu juga tak apa, aku tak memaksa mama. Karena aku juga sudah bahagia dengan semua yang ada saat ini." Kemal langsung bicara pada intinya dengan Fairi.


"Boo, sayang aku tak tau kalau pangeran kecilku ini telah tumbuh menjadi sosok yang dewasa dan juga sangat baik. Kemari lah." Fairi meletakkan laptopnya dan membuka kedua tangannya lebar - lebar.

__ADS_1


Kemal tersenyum dan mendekat lalu mereka berpelukan, terlihat Fairi sangat menyukai pelukan itu dan Kemal pun juga memeluk dengan erat mamanya.


"Aku sangat menyayangimu dan juga mencintaimu." ucap Fairi dengan tulus dan menggoyang tubuh Kemal dalam pelukannya.


"Hem, aku juga amat sangat mencintai dan menyayangi mama." Kemal pun menjawab dengan sangat serius dan tulus.


"Mama tak tau harus bagaimana sayang." ucap Fairi setelah mengurai pelukannya dengan Kemal.


"Ma, sudah saatnya mama membuka hati, dan aku rasa papa juga sudah cukup membuktikan kalau papa sangat serius dan tulus sama mama. Papa pasti sudah menyesali semua apa yang pernah terjadi dan dilakukan pada mama, berikanlah kesempatan untuk papa membuktikannya dengan nyata." Kemal menatap Fairi yang tertunduk dan terlihat berfikir dalam


"Aku tau apa yang dilakukan oleh papa tak bisa dimaafkan dengan mudah, tapi aku ingin melihat mama bahagia dan tak lagi menyimpan beban di masa lalu. Biarkanlah yang berlalu tertinggal dibelakang untuk menjadi kenangan yang tak akan mempengaruhi kehidupan dimasa depan."


"Tapi apa pun keputusan dan pilihan mama aku akan selalu ada dan mendukung mama."


Fairi tersenyum dan dia tak menyangka kalau putranya telah tumbuh dewasa dengan sangat cepat sehingga dia bisa memberikan saran dan juga masukan untuk dirinya.


"Sayang, tolong berikan waktu untuk mama." Fairi mengusap pipi Kemal dengan lembut dan tersenyum manis.


"Apakah kau tak merasa aneh dengan penampilan mama dan perubahan wajah mama." Fairi bertanya dan menatap Kemal yang duduk berdampingan dengan dirinya.


"Ma, mau berubah berapa kali pun wajah mama aku akan selalu bisa dan mampu untuk mengenali mama, karena mama sudah terpatri permanen didalam hatiku. Jadi aku tak masalah dengan semua itu, karena mama adalah dunia ku dan semesta ku. Aku sangat mencintai mama." Kemal mencium Fairi dan memeluk erat Fairi


"Terima kasih sayang ku, kau juga segalanya untuk ku, kau pelitaku, harapanku, hidupku, dan juga nafasku." Fairi membalas pelukan kemal dengan erat juga


Kemal tersenyum "kenapa kita jadi melankolis sih ma."


"Biarkan saja, aku masih ingin bermanja padamu." jawab Fairi dan makin erat memeluk Kemal


"Oh..haruskah aku kembali manggil mama honey." Kemal berkata dan tersenyum bahagia


"Hem tentu, aku suka dengan panggilan itu." Fairi mengurai pelukannya dan tersenyum menatap Kemal


"Em baiklah, i love you my honey." Kemal berkata dan menatap Fairi dengan serius dengan senyuman yang terlihat sangat tulus.


"I love you too my boy." jawab Fairi


"Hahaha." Kemal dan Fairi tertawa bersama


"Baiklah - baiklah, bukankah kau ada latihan basket nanti kau terlambat." Fairi tersenyum dan mengusap punggung Kemal


"Hem, nanti aku akan pulang ke rumah papa jadi mama tak perlu menunggu kami. Aku akan bawah sekalian baju - baju Arlan." Kemal bangun dan Fairi mengantar putranya sampai depan.


"Hati - hati kalau menyetir" Fairi melambaikan tangannya saat Kemal telah melajukan mobilnya.


"Dia telah tumbuh dewasa dan sangat pengertian." ucap bi Mina


"Iya, bibi benar. Aku tak menyangka kalau putraku telah menjadi seorang pria sebelum waktunya, padahal aku masih ingin memanjakan dia. Tapi lihatlah dia malah datang dan menasehati ku, dan aku tak terbiasa dengan semua itu." Fairi berkata dan menghela nafas dalam.

__ADS_1


__ADS_2