Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
episode 249


__ADS_3

Zain mulai kembali mengumpulkan pundi-pundi rupiahnya, Ia tahu tidak lama lagi kelahiran dari anak pertamanya akan segera tiba.


Pagi ini Ia akan berbelanja untuk menambah barang belanja yang sudah berkurang dan harus menambah stok.


"Dik, Mas mau belanja, nanti kalau ada orang belanja bilang gak buka ya, sebab adik belum hafal semua harga barang" ucap Zain mengingatkan.


Khumairah mengangguk mengerti. Lalu Ia menyalim tangan Zain dan memandang kepergian Zain yang mengendarai mobil pick upnya dan memnghilang ditikungan jalan.


Sesaat Khumairah memandang kesekeliling lingkungan sekitarnya, penuh padat rumah-rumah pendudk, dan itu menguntungkan usaha mereka.


Namun hal yang membuatnya sedikit penasaran, dimana masyarakatnya tidak begitu seramah warga di desa yang selalu bertegur sapa saat bertemu dan juga sering bercengkrama.


Tiba-tiba Khumairah teringat akan kampung halamannya ditengah hutan, tanpa tetangga, yang ada hanya hamparan sawah dan tanaman sayur-mayur yang dijadikan sebagai tempat stok pangan.


Khumairah tak pernah berfikir untuk membeli keperluan dapurnya, Ia hanya tinggal memetik dari kebun dan Jika menginginkan ikan, tinggal mengailnya di aliran pematang sawah, semuanya tersedia dengan gratis.


Begitu juga dengan telur dan daging ayam, Ia mendapatkannya dari hasil peternakan, namun setelah hidup dilingkungan yang baru, Ia harus membeli semuanya.


Bahkan Khumairah masih mengingat ada lumbjng padi yang menggunung didekat rumahnya, dan itu masih ada hingga kini.


Kumairah berniat hendak masuk kembali kedalam rumah, dan langkahnya terhenti saat mendengar seseorang memanggilnya.


Suara seorang pemuda yang pernah membeli rokok kepadanya.


"Mbak.. Rokoknya satu bungkus" ucap Pemuda berkulit kuning langsat dan berwajah tampan itu dengan senyum yang menawan.


"Ternyata benar kata Mas Zain, kalau dikota banyak ragam berbagai wajah pria dan juga wanita" guman Khumairah dalam hatinya.


"Wah.. maaf, Mas.. Kata suami saya warung tidak dibuka, nunggu suami saya pulang belanja dulu, maaf, ya Mas" ucap Khumairah sembari bernjak masuk, sebab Ia akan mencuci pakaian yang sudah direndamnya.


Tampak wajah pemuda itu sedikit kecewa, karena Ia malas hendak berjalan ke depan simpang yang lumayan sedikit menyita waktunya.


Namun sesaat Ia kembali sumringah saat melihat Khumairah masuk ke dalam rumah. Ia memandangi tubuh Khumairah yang berjalan melenggang menuju arah dapur.


Entah menagapa Ia tiba-tiba merasa memiliki niat kotor terhadap wanita itu. Sebab saat ini Khumairah hanya menggunakan daster saja.

__ADS_1


Kulit bersih Khumairah serta wajahnya yang begitu memesona, membuat sang pemuda sudah lama memendam perasaan yang telah lama Ia simpan.


Sang pemuda celingukan kesana kemari, memastikan tidak ada yang melihatnya memasuki rumah kontrakan tersebut.


Pemuda itu mengendap-endap masuk kedalam rumah dan menghampiri Khumairah yang sedang berada didalam dapur, dan tepatnya sedang mencuci pakaian.


Karena begitu bersemangat, Ia tidak sadar menendang sebuah gelas kopi yang tergeletak dilantai, ternyata Khumairah lupa menaikkannya keatas meja dapur.


praaank...


Suara gelas menggelinding, namun tidak pecah. Hal tersebut membuat Khumairah terkejut dan penasaran dengan apa yang terjadi.


Alangkah terkejutnya Ia saat melihat pemuda itu masuk kedalam rumahnya dan menghampirinya ke dapur.


"Eh, Mas.. Ada apa, Ya?" tanya Khumairah dengan penasaran.


Pemuda itu cengengesan "Anu, Mbak.. Mau minta minum air putihnya boleh?" ucap Pemuda itu saat kepergok masuk kedalam rumahnya.


Sikap polos Khumiarah membuatnya begitu saja mempercayai pemuda itu.


Pemuda itu mengangguk dan tersenyum licik "Iya, Mbak.. Haus banget, minta sayu gelas ya" pinta pemuda itu dengn senyum palsunya.


Khumairah menganggukkan kepalanya, lalu beranjak ke arah despenser dan mengambil segelas air putih untuk diberikan kepada pemuda itu.


Namun diluar dugaan, pemuda itu menyergap Khumairah dari arah belakang. Wanita itu terkejut dan memberontak.


"Eh.. Eh.. Mas nya mau apa?" tanya Kumairah kebingungan.


"Sudah, Mbak diam saja, jangan berteriak" ucap pemuda yang mana tangannya sudah menggerayangi tubuh Khumairah.


"Eh, Mas.. Suami saya berpesan tidak boleh ada yang pegang-pegang tubuh saya, kenapa Mas pegang-pegang saya?" ucap Khumairah yang mengegliatkan tubuhnya untuk melepaskan diri dari dekapan pemuda itu.


"Mbak cantik banget, saya gak tahan menahan semuanya" ucap Pemuda itu dengan suaranya yang mulai terbata karena menahan gejolak hasratnya yang menggebu.


Khumairah bingung dengan kondisinya saat ini. Sebab sentuhan pemuda itu begitu terasa sangat membakarnya.

__ADS_1


Namun sesaat Ia teringat akan pesan Zain jika Ia harus pandai menjaga diri jika Ia tidak ada disampingnya, dan harus menolak atau melawan jika ada yang mencoba menyentuh bagian tubuhnya yang terlarang.


Dan benar saja, Pemuda itu sudah mere- mas bagian buah Melonnya dengan rakus, dan pernah mengatakan itu bagian yang tidak boleh disentuh oleh pria manapun kecuali Zain, suaminya.


Seketika Khumairah melihat pan teflon yang ada didekatnya, sebab posisi mereka disisi meja dapur.


Dengan cepat Khumairah meraih pan teflon tersebut dan memukulkannya ke kepala pemuda itu.


Pemuda itu tersentak atas apa yang dilakukan oleh Khumairah. Ia meringis menahan sakit yang luar biasa dibagian kepalanya, dan tampak kunang-kunang berterbangan didepannya, dan belum hilang rasa terkejut pemuda itu, Khumai kembali memukulkan pan teflon yang baru dipakainya untuk membuat omelet telur pagi tadi kewajah sang pemuda.


Seketika pemuda itu bergerak mundur selangkah ke arah belakang. Sembari memegangi kepala dan pipinya yang sakit.


Seketika warna hitam dari pan teflon itu membekas diwajah pemuda itu, dan Khumairah beranjak bergegas berjalan dengan tergesa-gesa menuju keluar rumah.


Perutnya yang membesar memperlambat geraknya, pemuda itu mengejarnya dengan berjalan terhuyung untuk mendapatka Khumairah.


Khumairah ketakutan dan berusaha untuk segera mencapai pintu depan.


Seketika suara deru mesin mobil Zain terdengar berhenti di depan warung mereka.


Pemuda itu memutar otaknya untuk tidak terlihat suami Khumairah. Pemuda itu menyelinap melalui pintu dapur dan bergegas pergi meninggalkan rumah Khumairah.


Sesaat Khumairah merasa lega karena suaminya sudah pulang, Ia melihat kearah belakang dan pemuda itu telah menghilang.


Khumairah bingung, apakah Ia akan melaporkan peristiwa barusan atau tidak, sebab pemuda itu sudah terlihat.


Tampak Zain keluar dari pintu mobil dan menuju bak mobilnya untuk menurunkan barang yang baru saja dibelinya.


"Dik.. Buatkan Mas kopi" titah Zain yang melihat istrinya tampak bengong berdiri diambang pintu dengan memegang pan teflon ditangannya. Zain mengira istrinya akan memasak sesuatu karena membaw apan teflon.


Khumairah tersentak saat Zain memanggilnya, dan menganggukkan kepalanya dengan cepat.


Khumairah berjalan tertatih, Ia masih merasa takut jika saja pria itu masih berada didapur.


Khumairah tampak waspada dan matanya meliahat kesekelilingnya, dan Ia melihat jika pintu bagian dapur terbuka sedikit.

__ADS_1


Khumairah memastikan jika pemuda itu keluar melalui pintu dapur, dan Ia dengan cepat mengunci pintu dapur, lalu menghidupkan kompor untuk memasak air dan membuatkan secangkir kopi yang diminta oleh Zain, suaminya.


__ADS_2