
1 minggu telah berlalu dan ini adalah hari dimana Fairi akan melakukan rapat dengan pihak Kenan, dengan persiapan matang Kenan telah menyiapkan sesuatu untuk Fairi yang nanti akan datang untuk rapat dengan pihaknya.
Saat Kenan telah menyiapkan segalanya ditempat Fairi dia juga telah menyiapkan semua berkas yang nanti akan dipersentasikan didepan semua orang yang akan bekerja sama dan membahas soal masalah pemasaran yang akan dilakukan oleh kedua perusahaan yang saling bekerja sama
"Apa semuanya sudah siap Lin?" Fairi bertanya dan menatap Lina yang sedang menyiapkan beberapa berkas lagi.
"Sudah Bu, dan kita bisa pergi sekarang." Lina berkata dengan sopan.
"Oh iya Lin bagaimana kabar yang di Bangkok yang ku minta untuk kamu menghubungi mereka apa sudah ada konfirmasi dari mereka?" Fairi bertanya sambil berjalan menuju lif.
"Oh, iya Bu waktu itu saya menghubungi mereka dan kalau tak salah yang menerima adalah mantan asisten dan yang bernama Lime, dan katanya dia akan mengatasi semuanya disana lalu akan menyerahkan hasilnya pada anda nanti saat sudah selesai jadi anda tak perlu kesana." jelas Lina dan Fairi mengangguk sambil tersenyum.
"Dia selalu cekatan dan cepat sama seperti mu, dan aku sungguh sangat terbantu dengan kerja kalian berdua." Fairi berkata dengan senyuman puas.
Saat Fairi telah dalam perjalanan menuju kantor Kenan dan mempelajari lagi berkas yang dikirimkan oleh pihak mereka lewat email, ditempat Kenan dia telah sangat siap dengan kedatangan Fairi dan dia terlihat sungguh sangat tak sabar ingin segerah melihat dan bertemu dengan Fairi lagi. Kenan menepatkan orang untuk menyambut kedatangan Fairi didepan pintu masuk perusahaan.
...💔💔💔...
"Selamat datang Bu Laras." sambut pegawai Kenan yang telah menunggu kedatangan Fairi di pintu masuk perusahaan.
"Oh iya" Fairi menjawab dengan bingung karena dia tak pernah diperlakukan dengan begitu istimewa saat dia datang ke perusahaan lain.
"Silakan sebelah sini Bu." pegawai Kenan menunjukkan jalannya pada Fairi.
"Hem" Fairi tersenyum dan menatap Lina dan Lina menggerakkan bahunya keatas tanda kalau dia juga tak tau apa - apa.
Fairi tersenyum sopan melihat pegawai Kenan dan lalu kembali menormalkan sikap dan kebingungannya, "Apa di perusahaan ini selalu melakukan penyambutan untuk menerima tamu?" akhirnya Fairi bertanya karena merasa penasaran.
"Tidak semua Bu, hanya pada tamu - tamu khusus saja." jawab pegawai Kenan dengan sopan.
"Hem." Fairi tersenyum dan mengangguk
"Disebelah sini Bu ruang pertemuannya." pegawai Kenan menunjukkan dan membukakan pintu ruang rapat.
"Terima kasih" Fairi dan Lina masuk dengan bingung
"Wao, ini beneran ruang rapat Lin? Ini lebih terlihat seperti ruang resepsi." ucap Fairi yang melihat ruang rapat didekorasi dengan sangat bagus dan penuh dengan hiasan serta bunga - bunga.
"Hihihi, entahlah Bu." Lina tersenyum dan juga merasa bingung.
"Kenapa mereka terlihat mencurigakan ya Lin." bisik Fairi lagi setelah masuk semakin dalam dan duduk di ruang rapat yang indah itu.
"Hahaha, saya juga merasa aneh Bu Laras." bisik Lina menjawab perkataan Fairi.
__ADS_1
"Mbak Fairi maaf, aku akan menyiapkan semuanya sekarang." ucap Melisa dan dia langsung menyiapkan ruang rapat, dan memasang proyektor, "Bagaimana apa mbak Fairi tak kesulitan untuk kesini?" tanya Melisa.
"Tidak jalanan sangat longgar, dan ada yang ingin aku tanya pada mu Mel" Fairi menatap Melisa "Apakah di perusahaan mu ini, kalian selalu menerima dan menyambut klien dengan begitu sopan dan juga ada pengiringan orang yang menunggu didepan pintu? Dan ini juga ruang rapatnya kenapa didekorasi seperti ini?" Fairi menatap Melisa dengan bingung dan juga penasaran.
Melihat tersenyum melihat Fairi bingung, "Mbak Fairi ini masih saja tetap seperti dulu ya, selalu menggemaskan kalau sedang bingung."
"Jangan mengalihkan pembicaraan." Fairi berkata dan tersenyum
"Tidak semuanya sih mbak, cuma ini yang pertama kali, karena dari sejak pagi bos sudah ribut untuk mengatur penyambutan untuk kedatangan mbak Fairi, serta dekorasi ruangan. Dan sepertinya mbak Fairi yang pertama diperlakukan seperti itu" Melisa menjawab dengan jujur.
"Halo selamat datang bu Laras." ucap Farid yang masuk kedalam ruang rapat itu
"Iya tuan Farid." Fairi menyambut dan berjabat tangan dengan Farid, jelas terlihat kalau Farid tersenyum melihat ruang rapatnya.
"Silakan sebentar lagi bos kami akan datang." Farid berkata dengan sopan dan tak lama Kenan masuk kedalam ruang rapat itu.
"Sudah datang ya." Kenan masuk dan hal itu membuat Fairi terkejut, karena Fairi baru tau kalau ternyata bos dari mereka adalah Kenan, yang dianggap Fairi sebagai orang gila selama ini.
Kenan tersenyum dan dia merasa puas dengan tatapan terkejutnya Fairi yang terlihat sangat cantik dan menggemaskan bagi Kenan. "Selamat datang Bu Laras atau haruskah aku memanggil mu sayang, mantan istriku." ucap Kenan dan Lina kaget mendengar itu.
"Apa?! Mantan istri? Bu Laras dan pak Kenan adalah pasangan suami istri sebelumnya? Ini sungguh luar biasa, aku tak pernah menyangka kalau mereka adalah suami istri dulunya, lalu kenapa mereka berpisah." Lina bergumam dalam hati dan menatap Fairi serta Kenan bergantian.
"Jangan bicara omong kosong, saya datang kesini untuk membahas soal pekerjaan bukan yang lainnya, jadi tolong profesional lah." ucap Fairi dengan dingin.
Melisa dan Farid tersenyum karena mereka tak pernah melihat Kenan usil dan terlihat bahagia seperti saat ini. Dan dengan cepat Farid memulai rapat. Dalam ruangan itu rapat berjalan dengan sangat baik, karena Kenan sangat tau cara membedakan antara pekerjaan dan urusannya walau sebenarnya Kenan sungguh tak sabar untuk segera membuat Fairi menyadari rasa cinta dan kerinduannya.
"Bagaimana menurut anda Bu Laras?" Farid berkata setelah mempresentasikan idenya.
"Hem, bagus juga. Tapi aku juga memiliki pendapat dengan beberapa farian rasa dari teh yang akan dipasarkan dengan kemasan yang menarik." ucap Fairi dan dia mulai mempresentasikan hasil idenya, dan Kenan menatap dengan puas dengan ide dari Fairi, menurut Kenan farian rasa bagus juga.
"Baiklah, semoga sukses selalu kerja sama kita dan terima kasih atas kehadirannya." Kenan mengucapkan terima kasih pada Fairi dan berjabat tangan ala profesional
"Baiklah semoga berhasil, dan terima kasih kembali. Kalau begitu saya mohon undur diri, nanti kopian berkasnya tolong kirimkan lewat email saja." Fairi berkata juga sama profesionalnya.
"Tunggu Fairi ada yang ingin aku bicarakan dengan mu secara pribadi, tolong ikutlah ke kantorku sebentar saja." Kenan menahan Fairi dan menatap dengan tatapan memohon.
"Baiklah, Lina tolong tunggu aku di lobby sebentar aku akan segerah kemabli." Fairi menyerahkan tasnya pada Lina dan mengikuti Kenan.
"Masuklah." Kenan mempersilakan Fairi masuk kedalam kantornya.
"Katakan apa yang ingin kamu katakan." Fairi bertanya sambil berdiri.
"Ini." Kenan menyerahkan sesuatu pada Fairi
__ADS_1
"Apa ini?" Fairi menatap bingung.
"Itu adalah barang milik mu yang mungkin sangat berharga, dan kamu meninggalkannya jadi aku menyimpannya untuk mu." Kenan berkata dan berdiri bersandar di depan meja kerjanya.
Fairi dengan perlahan membukanya, dan dia sangat terkejud saat mengetahui apa yang ada didalam kotak itu. Tanpa sadar Fairi meneteskan air matanya dan mengambil benda itu dengan senyuman mengembang dibibirnya. Kenan yang melihat ikut tersenyum karena dia merasa senang jika Fairi senang.
"Apa kamu senang melihat barang itu?" Kenan bertanya dan membuyarkan lamunan Fairi.
"Suka terima kasih banyak, ku pikir ini sudah hilang, ini adalah kalung peninggalan ibu dan satu - satunya yang aku miliki." Fairi berkata dengan sangat senang.
"Syukurlah, simpan baik - baik jangan sampai hilang atau ketinggalan lagi." Kenan berkata dengan tersenyum menatap Fairi.
"Terima kasih, terima kasih banyak. Aku pergi." Fairi tersenyum dan meninggalkan ruangan Kenan.
"Hanya begitu saja? Tidakkah kamu harusnya memberikan sebuah imbalan untuk ku karena telah menyimpan barang itu selama 7 tahun lamanya. Dan bagaimana dengan ruang rapatnya apa kamu suka?" Kenan berkata dan menatap Fairi yang mau keluar dari ruangannya.
"Jangan bicara yang tidak - tidak, kita sudah bukan siapa - siapa lagi dan hanya rekan bisnis saja, permisi." ucap Fairi dan pergi.
"Senyum yang sangat indah, tunggu aku Fairi. Aku akan mendapatkan mu lagi, dan kali ini akan ku lakukan dengan benar. Karena aku tau kamu adalah orang baik dan tak pernah menyimpan dendam." Kenan bergumam dan tersenyum sendiri.
...💔💔💔...
Malam itu Kenan menghadiri pesta peluncuran prodak baru yang dia ciptakan dan pesta malam itu terjadi sungguh sangat megah disebuah hotel ternama dan dihadiri oleh banyak orang dari berbagai kalangan. Dan malam itu Kenan datang bersama dengan Agus karena Farid tak bisa ikut hadir sebab acaranya bersamaan dengan hari kunjungan mertuanya.
"Tuan Kenan selamat malam, aku tak menyangka kalau anda sungguh sangat memukau dalam waktu singkat, anda bisa meluncurkan berbagai prodak baru yang sungguh sangat terkenal." ucap seorang pebisnis yang juga ikut hadir di pesta itu.
"Terima kasih, anda juga tak kalah hebatnya karena aku dengar anda juga baru saja mengeluarkan merek baru." Kenan juga ikut memuji orang itu.
"Mas Kenan, bolehkan aku duduk di sini?" Tyas yang datang sebagai model malam itu mendekati Kenan.
"Tak ada yang melarang kamu untuk duduk, karena ini tempat umum bukan milik ku." jawab Kenan dingin
"Mas Kenan, apa mas Kenan lupa sama aku karena sudah 2 tahun kita tak bertemu? Aku Tyas mas." ucap Tyas dengan nada suara lembut.
"Tidak, aku ingat cuma aku sedang gak ingin bicara saja jadi tolong jangan janggu aku." Kenan berkata dengan dingin tanpa melihat Tyas.
"Pak Kenan, semuanya sudah saya serahkan silakan menuju kearah sini." ucap Agus pada Kenan yang tadi diperintahkan oleh Kenan untuk menyerahkan berkas yang sudah ditanda tangani oleh Kenan.
"Mas Kenan, apakah mas Kenan tak bisa menemani Tyas sejenak." Tyas menahan tangan Kenan.
"Kita tak memiliki hubungan yang begitu dekat sampai harus saling menghibur dan menemani." Kenan menarik tangannya dan pergi.
"Oh, dia pria yang angkuh sekali." ucap teman Tyas yang datang menemani Tyas.
__ADS_1