Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
episode 278


__ADS_3

Malam semakin larut, keheningan, dan juga sepi mengiringi malam ini. Udara dingin dan hanya berbalut kegelapan yang membuat insan tertidur lelap.


Sesaat Zain tersentak saat mendengar suara letusan senjata api yang membahana diruangan rumah belakang.


Ia melirik Khumairah yang tampak juga terbangun dan terkejut akan peristiwa yang terjadi, namun Ia yakin nika Khumairah tidak akan mengerti dengan semuanya.


Zain meletakkan jemari telunjukkanya dijujng bibir Khumairah dengan isyarat untuk diam dan tetap ditempatnya.


"Jangan beirisik, bersikap tenang dan berpura-pura tidak tahu dengan apa yang kita dengar. Kamu tetap disini saja, faham?" ucap Zain yang mencoba berbisik kepada Khumairah, dan wanita itu hanya menganggukkan kepalanya.


Sementara itu, Zain beranjak dari kasur lipatnya dan menuju kamar mandi untuk mengintai apa yang terjadi.


Dalam gelapnya kamar mandi, Ia mencoba naik ke atas toilet berbentuk duduk dan menggapai baik mandi sebagai pegangannya.


Dar celah ventilasi, Ia melihat ada beberapa oramg berseragam hitam yang sedang berdiri didepan pintu rumah tersebut, lalu yang lainnya menyebar mengepung rumah tersebut, termasuk dibagian gang sempit tersebut.


Mereka mendobrak paksa pintu dan menerobos masuk dengan persenjataan lengkap dan pakaian anti peluru.


Namun ternyata para pengedar yang juga dilindungi oleh aparat kotor tersesebut melakukan perlawanan dengan baku tembak.


Suara tembakan kembali terdengar mengudara dan sangat membuat kengerian.


Melihat hal tersebut, Zain turun dari tolilet san menghampiri Khumairah yang mengatakan saat ini ingin buang air kecil.


Saat turun dari toilet, Ia melihat aparat keluar daei rumah tersebut dan melakukan serangan melalui dinding luar. Zain memastikan jika peluru itu dapat menembus dinding tembok rumah.


"Kamu pipis disini saja ya.. Ntar Mas ambilkan kantong plastik" ucap Zain yang tak ingin tiba-tiba ada peluru nyasar masuk kedalam kamar mandi.


Zain mengambil kantong plastik dan meminta Khumiarah untuk pipis menggunakan kantong plastik tersebut.


Setelah seselsai, Zain membantu membersihkannya dengan tisu basah.


Suara tembakan dan saling balas masih terdengar begitu mengerikan, hingga beberapa jam lamanya, akhirnya suara tembakan dari arah dalam rumah terdengar sunyi, tak ada lagi balasan tembakan yang dilancarkan.

__ADS_1


Memastikan para mafia itu sudah tewas, aparat kembali membuka pintu dan menerobos masuk.


Zain yang penasaran, membawa kantong plastik berisi cairan air seni milik Khumairah ke kamar mandi, lalu kembali mengintai apa yang terjadi disana.


Tampak para pemasok shabu itu tewas bersimbah darah dengan berbagai luka tembakan disekujur tubuhnya.


Aparat gabungan tersebut lalu mengadakan identifikasi pada jasad para pengedar dan pemasok barang tersebut. Mereka dikejutkan karena ada 2 orang pria yang diketahui ternyata berasal dari aparat yang bermain kotor dan curang untuk melindungi para mafia tersebut.


Tampak mereka menyita barang haram tersebut dalam jumlah yang cukup banyak, sekitar 1 ton lebih dan berbagai minuman keras dengan berbagai merk yang masih terdapat dalam dus dan dikemas pada peti kayu.


Saat bersamaan, satu sosok mayat diatas platfom terjatuh, sebab para mafia itu tidak begitu mahir menjadi tukang bangunan untuk menutup platfom tersebut.


Braaaaaaakkk... Buuuggh..


Aparat itu terkejut melihat ada jasad wanita terjatuh dari atas platfom. Seketika sebagian dari meereka memeriksa kondisi mayat tersebut dan sudah menyebarkan aroma busuk yang sangat menyengat.


Lalu seorang aparat menaiki meja yang masih ditumpuk oleh para pelaku tindak kejahatan tersebut sebagai alaut untuk memanjat dan menaikkan jasad tersebut.


Aparat itu melongok keatas platfon, dan masih ada dua wanita lagi disana, dan ternyata masih dalam kondisi hidup namun sangat kritis.


Seketika suasana menjdi riuh. lalu terdengar suara sirine ambulanc yang meraung-raung dan membuat sebagian warga juga terbangun dan mulai ada yang berani keluar untuk melihat kejadian yang mengerikan tersebut.


Mereka mengevakuasi dua wanita yang masih hidup dan memberikan perawatan medis, yang mana nantinya juga akan dijadikan saksi jika sudah sembuh.


Warga mulai berkerumun unruk melihat kondisi rumah tetangga mereka. Para warga mengatakan tidak tahu tentang kegiatan apa yang dilakukan oleh penghuni rumah tersebut.


Sebab penghuninya sangat jarang berinteraksi dengan tetangga dan mereka bekerja pada malam hari.


Lalu tampak petugas medis membawa pergi dua orang wanita tersebut dan mobil ambulance meninggalkan lokasi kejadian perkara.


Selain itu, aparat kepolisian juga intel membawa barang bukti hasil penyeludupan tingkat internasional tersebut bersama dengan aparat Badan Narkotika Nasional untuk memasukkan ke dalam mobil dinas dan juga berbagai merk botol minuman keras.


Seketika suasan disekitar tersebut menjadi ramai oleh warga yang penasaran karena apa yang terjadi.

__ADS_1


Polisi memasangi garis police line berwarna kuning yang mana hanya para petugas yang boleh melintasinya.


Sebuah mobil truck memasuki gang dan akan digunakan mengangkut barang bukti dalam jumlah yang cukup fantastis.


Aparat bekerja keras mengangkut memindahkan barang bukti tersebut ke dalam truck.


Tanpa terasa, pagi telah menjelang, dan sinar mentari bersinar terang, namun petugas belum juga selesai memindahkan barang bukti yang mana jumlahnya sangat banhak dan diperkirakan harga keseluruhannya mencapai triliunann rupiah.


Zain yang sedari tadi sudah turun dari toilet berjalan mondar-mandir dengan gelisah. Ia merasa gugup jika melihat para anggota berseragam yang tampak terus berseliweran didepan rumahnya.


Rasa gemetar dan debaran dijantungnya mmebuatnya begitu takut.


Samar-samar Ia mendengar suara Khumairah didalam kamar merintih menahan sakit.


Zain bergegas menghampirnya, lalu menanyakan kondisi sang istri.


Khumairah mengatakan jika perutnya sangat sakit. Rasa mulas bercampur nyeri menjadi satu.


Hal tersebut membuat Zain gelapan dan sedikit panik. namun berusaha untuk menjadi tenang. Ia tidak ingin menambah kepanikan dan kecemasan pada Khumairah, cukup saja Ia yang merasakannya.


"Bagian mana yang sakit, Sayang" bisik Zain agar suaranya tak terdengar oleh siapapun.


Khumairah menunjukkan bagian perut bawahnya. Ia merasakan jika desakan dari dalam perutnya semakin intens dan datang hilang begitu saja.


Keringat dingin mengucur dari pori-pori disekujur tubuhnya, sebab rasa sakit yang kini dirasakannya sangat berbeda dan itu begitu menyiksanya.


Zain merasa bingung, jika Ia keluar saat ini untuk membawa khumairah ke rumah sakit, maka Ia harus meminta aparat menggeser mobilnya dari jalanan gang yang mana menghalanginya untuk keluar dari gang mereka.


Jika itu sampai dilajukannya, maka bukankah itu sama saja Ia bunuh diri dan menyerahkan dirinya.


Ia meyakini jika mereka juga mengincarnya dan juga mencari keberadaannya.


Dilain sisi, Khumairah sudah semakin tak sanggup menahan rasa sakit yang menderanya. Ia menggigit kain untuk menahan rasa yang semakin terus datang.

__ADS_1


Dan saat itu, cairan berwarna bening merembes keluar dari jalan lahirnya dan membasahi pangkal kakinya.


"Mas.. Mas.. Kemarilah.." ucap Khumairah lirih dengan nada yang hampir tak terdengar..


__ADS_2