
Dengan serius Tyas dan mamanya berbicara seolah sedang merencanakan sesuatu yang sangat penting, Tyas menatap mamanya dengan kesal dan juga amarah yang sangat besar. Karena sejak pemberitahuan mamanya atas siapa dirinya Tyas masih tak bisa memaafkan mamanya walau dia terlihat baik dan menemui mamanya.
"Maafkan Mama sayang, karena mama telah membuat kamu sudah."
Nyonya Ayu menggenggam tangan Tyas dan menatapnya penuh rasa sayang dan juga bersalah.
"Aku gak butuh maaf dari mu, karena aku gak tau kenapa aku bisa memiliki seorang ibu yang hanya memikirkan dirinya sendiri sepertimu. Apakah kau masih pantas untuk disebut sebagai seorang ibu hah."
Tyas berkata dengan kasar dan penuh dengan tatapan kebencian pada nyonya Ayu, mendengar itu nyonya Ayu menunduk merasa bersalah karena dia telah dibutakan oleh ketamakannya sehingga tak ingin bersama dengan Herman ayah Tyas yang sebenarnya.
"Dengarkan aku, aku akan mencari tau siapa ayahku yang sebenarnya. Jika mama tak ingin memberitahu aku."
"Tyas, Sebenarnya papamu yang sebenarnya dia telah meninggal."
Nyonya Ayu berkata dengan menatap Tyas bersalah sebab dialah yang telah membuat ayah Tyas meninggal.
"Meninggal, atau kau yang telah merencanakan semuanya."
Nyonya Ayu kaget dan menatap Tyas dengan tatapan bersalah dan penyesalan yang sangat dalam.
"Ha..hahaha"
Tyas tertawa dan menatap nyonya Ayu penuh dengan kebencian yang sangat mendalam dengan semua yang telah dilakukan oleh mamanya untuk dirinya dan semua perbuatan dari sang mama.
"Aku gak tau kenapa ada wanitayang begitu tega membunuh orang yang yang telah memberimu seorang anak. Hah...aku tak peduli, ingat aku akan membantumu sekali ini saja setelah itu terserah kau mau apa yang jelas jangan ganggu kau dan jangan membuatku susah."
Tyas bangun dan pergi meninggalkan mamanya serta tak menoleh kebelakang lagi karena kemarahan Tyas semakin besar saat dia tau kalau mamanya telah membuat papa kandungan menghilang bahkan sebelum dia mengenalnya.
...💔💔💔...
Tyas pergi ke sekolah Kemal setelah dari tahanan untuk mengunjungi mamanya, dan disana Tyas merubah wajah yang penuh dengan kemarahan menjadi wajah cantik penuh kasih sayang
"Tante Tyas." Kemal tersenyum melihat Tyas.
"Halo boy, hari ini Tante yang datang menjemput. Ayo kita pergi ke kantor papa dan mengajak papa untuk makan siang bersama. Nanti Tante belikan kamu es krim kesukaan mu dan juga kue kalau kamu berhasil membujuk papamu pergi makan siang bersama bagaimana?"
Tyas merayu Kemal dan meminta Kemal untuk membawah Kenan makan siang bersamanya dan pergi bertiga.
"Ok ayo pergi Tante." Kemal dengan semangat dan langsung masuk kedalam mobil Tyas.
...💔💔💔...
Saat sampai di perusahaan Kenan, tyas berperan seperti dia adalah ibu yang sangat baik dan penuh dengan kasih sayang. Semua orang yang melihat telah merubah pandangan mereka pada Tyas yang dulu dan yang sekarang.
Kemal berlari dengan cepat dan Tyas mengikutinya dari belakang, Kemal lari menuju kantor papanya yang sudah dikenalnya dan Kemal sudah sangat familiar dengan kantor papanya karena selama 1 tahun ini dia selalu datang ke kantor setiap kali pulang sekolah.
"Papa..."
__ADS_1
Kemal menerobos masuk kantor papanya dan terlihat Kenan sedang sibuk dengan pekerjaannya dan tumpukan berkas diatas meja kerjanya.
"Boo, sayang." Kenan menangkap Kemal dengan sigap
"Pa ayo kita makan siang diluar, karena aku lapar dan sangat lapar. Ayo pergi makan sama Tante Tyas. Karena Tante akan mentraktir kita, iya kan Tante." Kemal menatap Tyas dan Tyas tersenyum manis.
"Ayo pa, ya..." Kemal membujuk Kenan
"Baiklah, ayo kita pergi." Kenan menyetujui Kemal
"Tunggu aku ajak om Farid, om Agus dan Tante Lisa." Kemal lari keluar dan membujuk semua orang yang tadi dia sebut namanya.
"Tunggu..." Tyas sudah tak didengar oleh Kemal
"Duh anak ini kenapa malah membawah semua orang." Tyas terlihat kesal.
...💔💔💔...
Kenan tersenyum pada Kemal dan mereka memesan meja besar untuk 8 orang, Kemal terlihat sangat senang dengan es krim didepannya dan memakannya dengan lahap. Dan Kenan penuh dengan rasa sayang selalu mengusap mulut Kemal yang belepotan dengan es krim.
"Apa di sini pertemuannya Nit." Fairi melakukan pertemuan dengan beberapa orang dari mitra kerjanya yang dari luar kota.
"Benar non, saya sudah mengatur semuanya dan mereka semua adalah orang - orang yang ada kaitannya dengan tuan Bagus sebelumnya." Anita menjelaskan
"Baiklah, ayo kita masuk dan temui mereka." Anita membuka pintu restoran itu.
Tap..
Langkah kaki Fairi yang memasuki restoran itu membuat seseorang yang tadinya ceria jadi terdiam dan memutar kepalanya ke segalah arah seolah sedang mencari seseorng.
"Boo, ada apa sayang?" Kenan bertanya dengan bingung melihat putranya yang tadi ceria tiba - tiba saja jadi sedih dan terlihat bingung.
"Sayang." Kenan menegur Kemal lagi.
"Honey...honey..." Kemal terlihat bingung dan bergumam mencari mamanya yang dia rasa kalau mamanya ada di restoran itu juga.
"Sayang kenapa, kau rindu sama mama ya? Sini sama Tante saja." Tyas mendekat dan hendak mengangkat Kemal.
"Gak mau." Kemal dengan cepat menolak dan mendorong Tyas.
"Aku mau pulang pa" Kemal mulai terlihat sedih dan matanya berkaca - kaca.
"Kak sebaiknya bawah dia pulang saja, soal kantor biar aku dan kak Farid yang urus." Melisa menepuk bahu Kenan dan dengan cepat Kenan menggendong Kemal untuk pulang.
"Sial. Kenapa dia harus ingat mamanya saat sepeti ini sih, padahal tadi sudah sangat baik." Tyas bergumam dalam hati dengan kesal.
"Kalau begitu aku akan kembali ke kantor non Tyas." Melisa pamit pada Tyas dan pergi meninggalkan Tyas.
__ADS_1
Didalam mobil Kemal diam seribu bahasa bahkan saat Kenan bertanya dia hanya menggeleng kepala dan duduk dengan memeluk kedua lututnya dengan raut wajah sedih. Kenan yang melihat merasa bingung karena Kemal tak pernah memberikan reaksi seperti itu sebelumnya.
...💔💔💔...
Saat sampai di rumah Kemal langsung lompat keluar dari mobil tanpa menunggu Kenan dan dia langsung lari dengan cepat sambil menangis. Bahkan panggilan Kenan tak dihiraukannya.
"Nenek..."
Kemal lari dan menghambur pada bi Mina serta menangis dengan sangat kencang, semua yang melihat merasa bingung apa lagi Kenan, karena dia tak pernah melihat putranya itu sedih sampai seperti itu.
"Sayang cucuk nenek kenapa nak."
Bi Mina mengusap air mata Kemal dan menatap Kenan penuh tanda tanya, tapi Kenan mengangkat kedua bahunya yang artinya Kenan juga tak tau apa pun.
"Eh, loh, kenapa kok cucu nenek menangis sayang?" Nyonya Tias yang baru datang kaget melihat Kemal menangis dengan sedih.
"Kenan, kau apakan dia hah?! Kau pasti memarahinya ya" nyonya Tias memukul lengan Kenan dan marah pada Kenan.
"Ma aku tak tau apa pun." Kenan menggosok lengannya yang dipukul
"Mama...nenek mama." Kemal bergumam dan menangis lagi.
Kemal tak mau ditolong oleh Kenan mau pun nyonya Tias, dia menempel pada bi Mina dengan erat. Bi Mina dan yang lain merasa kaget mendengar gumaman Kemal. Lalu yang lain menangis juga karena tangisan Kemal semakin lama terde.gar semakin menyayat hati dan sangat pilu.
"Nak ya Allah...ayo kita mandi dulu dan tidur siang ya." Bi Mina pun mulai menangis dan memeluk Kemal.
Dengan cepat bi Mina menggendong Kemal masuk kedalam kamar dan memandikannya lalu menidurkan Kemal sambil bercerita soal mamanya. Kemal mulai berhenti menangis saat bi Mina cerita soal Fairi yang saat kecil suka sekali bikin bi Mina susah dan kerepotan. Perlahan Kemal pun tertidur karena lelah menangis.
"Nak Ayu, akankah dia masih hidup? Kenapa dia menangis begitu pilu." Bi Mina menatap Kemal dan mengusap kepala Kemal dengan lembut.
"Ada apa bi?" Kenan bertanya dengan khawatir.
"Tadi dari mana ya nak Ken" bi Mina bertanya pada Kenan, dan mereka bertiga duduk di rumah tengah.
"Kami dari restoran untuk makan siang, awalnya dia baik - baik saja tapi tiba - tiba dia terdiam lalu celingukan dan mulai berlari kesana kemari mencari mamanya." jelas Kenan dan nyonya Tias mendengarkan cerita Kenan.
"Akankah bertemu seseorang yang mirip nak Ayu. Atau mungkinkah nak Ayu masih hidup dan ada disitu tempat" bi Mina berkata dan hal itu membuat Kenan dan nyonya Tias kaget.
"Maksud bibi apa? Kita sendiri tau dan melihat kalau Fairi telah meninggal dunia." Nyonya Tias berkata dengan cepat.
"Iya saya juga tau itu nyonya, tapi itu sedikit aneh. Karena nak Arman tak menangis sedikit pun saat jasad nak Fairi datang. Dan dia baru menangis menjerit saat diberitahu kalau mamanya tak akan kembali ke sisinya." Bi Mina berkata dan Kenan sama mamanya mendengarkan.
"Memangnya kenapa bi?" Kenan bertanya penasaran.
"Mereka telah hidup bersama sejak kami susah hingga kami bisa mengatasi segalanya, dan nak Arman memiliki kepekaan terhadap langkah nak Ayu sejak dia masih kecil. Nak Arman akan tau dimana dan kapan mamanya akan datang, seolah dia memiliki radar dan bisa menemukan dimana saja nak Ayu berada, tapi jika dia bisa merasakan tapi tak bisa menemukannya maka dia akan menangis bahkan akan demam tinggi." jelas bi Mina
Kenan yang mendengar itu terdiam karena dia tau kalau Fairi memang masih hidup hanya masih belum bisa menemui Kemal karena beberapa hal yang harus diselesaikan dengan cepat. Dan Kenan telah berjanji akan merahasiakan hal itu sampai Fairi akan muncul dengan sendirinya.
__ADS_1