Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
episode 218


__ADS_3

"Mas.. Ternyata orang kota baik juga, Ya" ucap Khumairah dengan polosnya.


Zain masih terdiam. Debaran dijantungnya semakin berdegub gak menentu.


"Masuk ke mobil dulu ya, Sayang. NantinKita lanjutin ngobrolnya" ucap Zain yang masih terus menetralkan deguban jantungnya yang begitu kencang dan memburu.


Khumairah hanya menuruti apa yang diucapkan oleh suaminya.


Zain mengemudikan mobil pick up nya menuju pulang ke desa.


Di pinggir kota, Ia singgah disebuah toko grosir sembako dan mengambil pesanan untuk barang dagangan diwarungnya.


Sementara itu, Denny sudah sampai dirumah. Ia sebenarnya sedang berkeling pagi ini mencari sarapan, lalu melihat sebuah toko perlengkapan bayi. Entah mengapa hatinya tergerak untuk membelikan kejutan buat Amyra.


Sepasang sepatu mungil yang terbuat dari rajutan tangan asli membuatnya sangat tergoda untuk membelinya.


Namun saat Ia akan membayar barang belanjanya, Ia melihat sepasang suami istri yang kekurangan uang untuk membayar perlengkapan bayinya dan sepertinya terkihat dari desa. Denny mencoba membantunya dengan niat menolong sesama.


"Sayang.. Coba deh lihat, Mas bawa apaan?" ucap Denny sembari memperlihatkan paper bag yang dibawanya.


"Apaan, Mas?" tanya Amyra penasaran.


"Buka saja" ucap Denny mempersilahkan.


Amyra meraih paper bag berwarna coklat tersebut, lalu membikanya, dan meraih sebuah boks plastik transparan yang memperlihatkan sepasang sepatu rajut berwarna hijau mint.


"Wah.. Lucu sekali bentuknya, Mas" puji Amyra karena pilihan Denny ternyata sesuai dengan seleranya.


"Kamu suka?" tanya Denny.


Amyra menganggukkan kepalanya "Ya.. Myra suka. Terimakasih ya, Mas" ucap Amyra dengan tulus.


Denny tersenyum sumringah dan mengecup ujung kepala Istrinya. "Mas cari sarapan tadi jauh banget, ada seorang pedangan sarapan kaki lima yang menjual nasi urap dan burung puyuh goreng, tapi tempatnya jauh banget, jadi harus pagi-pagi kesana" ucap Denny menjelaskan.


"Kirain pagi-pagi tadi sudah berangkat ke kantor" ucap Amyra, sembari meletakkan sepatu rajut yang di beli Denny diatas meja nakas.

__ADS_1


Denny tersenyum "Mas hari ini gak masuk kantor, mau seharian dirumah nemenin kamu" ucap Denny sembari membuka bungkus kertas sarapannya yang sudah dialasin piring keramik.


"Coba deh, Yang.. Enak banget lho burung gorengnya, lembut, garing dan gurih" ucap Denny sembari mencomot seekor burung puyuh goreng tersebut.


Amyra meraihnya dan mencobanya. "Eeem.. Iya Mas.. Enak banget, dimana belinya?" tanya Amyra penasaran dan menguyah burung goreng tersebut.


"Jauh.. Hampir dipertengahan menuju pinggir kota" jawab Denny menjelaskan sembari mengunyah burung goreng tersebut.


Amyra hanya menganggukkan kepalanya dan menikmati burung goreng tersebut "Jauh banget, Mas" ucap Amyra yang sudah hampir menghabiskan daging burung tersebut.


Ditempat lain, Zain berhenti disebuah grosir sembako. Ia mengambil barang pesanananya dan meminta pekerja grosir itu membantu menaikkan barang-barang tersebut kedalam bak mobil terbuka miliknya.


Zain harus memutar modalnya, demi dapat membiyai persalinan Khumairah yang nantinya akan membutuhkan biaya besar.


Setelah selesai dengan semuanya, Zain membayar total belanjanya dan sepertinya Ia akan berbelanja sendiri nantinya karena telah memiliki mobil sendiri.


Zai memasang penutup berupa tenda yang mana berfungsi agar tidak kehujanan jika tiba-tiba hujan.


Setelah selesai, Lalu mereka melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan menuju pulang ke desa, tampak Khumairah mulai mengantuk, Ia tertidur dan Zain melirik kearah istrinya tersebut, Ia berharap jika nantinya Khumairah tetap menerimanya andai semua masa lalunya yang kelam terbongkar.


Lalu apakah Ia masih harus larut dan tenggelam dalam dendam di masa lalu? Dan Ia sudah waktunya menyadari jika jodohnya atau tulang rusuknya adalah Khumairah. Ia harus membuang dan memendam masa lalu tersebut.


Zain membelai lembut rambut Khumairah yang tampak berantakan, Ia berjanji kepada dirinya, akan membawa Khumairah hijrah dan mengenakkan hijab seperti Amyrah. lalu Ia kembali fokus menyetir.


Sementara itu, Denny sudah menyelesaikan sarapannya, Ia membantu Amyra untuk beranjak bangkit dari ranjang dan waktunya untuk mandi.


"Sayang.. Kita mandi bareng, Ya.. Sudah lama banget lho kita gak mandi bareng.." bisik Denny dengan nada nakalnya.


Amyra membolakan matanya, menatap pada Denny "Ngebet banget, Mas" ucap Amyra sembari tersenyum geli.


"Kan sudah lewat masa puasa, Sayang.. Kamu juga sudah terlihat lebih baik.. Masa tega sih" rengek Denny layaknya seorang anak kecil yang meminta dibelikan lolipop.


Amyra melihat sikap Denny yang semakin manja dan tak sabaran.


Amyra terdiam sejenak, apakah Denny berfikir jika hanya Ia yang tersiksa berpuasa selama itu, Sebagai wanita normal Ia juga merasakan hal yang sama, namun Ia bersikap Jaga image dan mencoba menggoda Denny yang ternyata sengaja tidak masuk kantor dan memberinya hadiah dengan maksud tertentu.

__ADS_1


"Tapi pelan-pelan saja, Ya Mas?" ucap Amyra mengingatkan karena Ia masih takut akan keselamatan calon bayi mereka.


"Iya.. Mas janji pelan-pelan saja, Kok.." alibi seorang pria saat sudah terdesak kepala bagian bawahnya dengan berbagai rayuan mautnya.


Tanpa sabar, Denny langsung menggendong Amyra ke kamar mandi dan meletakkannya didalam buthtub.


"Isssh.. Mas. gak sabaran Deh" ucap Amyra dengan manyun.


"Abisnya kamu ngangenin banget" balas Denny yang dengan lincah melucuti pakain Amyra dan juga pakaiannya.


mereka berendam dalam buthtub yang berisi air hangat dan cairan sabun susu kecantikan kulit.


Denny yang sudah lama berpuasa bagaikan singa lapar yang bersiap memangsa Amyra.


Seluruh lekuk tubuh Amyra adalah candu baginya. Semuanya alami tanpa operasi plastik apapun.


Ia mulai menyusuri segala yang selama ini sudah tidak Ia sentuh. "Kamu selama hamil semuanya ikut membesar, Sayang" ucap Denny nakal saat melahap buah melon Amyra.


Mereka terlibat pergumulan panas yang selama ini sudah lama sekali terlewatkan.


Namun Denny tetap tidak ingin kasar, karena masih menjaga kandungan Amyra agar tidak terjadi sesuatu.


Saat akan meneroboskan juniornya, Ia merasa kesulitan "Koq susah masuknya sih, Sayang?" uajr Denny yang merasa bingung.


"Pelan-pelan saja, Sayang.. Itu faktor karena sudah lama tidak dikunjungi, jadi merapat lagi" jawab Amyra menjelaskan.


Dengan perjuangan yang cukup lama, akhirnya si junior berhasil menerobos masuk, dan membuat Denny tersenyum sumringah.


Sementara itu, Zain masih mengendarai mobilnya, Ia kini tahu apa itu tanggungjawab, apa itu mencintai, dan juga tentang kesetiaan. Ia terus menyetir mobilnya menuju pulang ke desa.


Ia memutuskan sepertinya Ia akan menetap di Desa selamanya, hidup dalam ketenangan dan membesarkn anak-anaknya kelak dalam ketidak khawatiran.


Menjauhi masa lalunya adalah pilihan yang tepat, agar kehidupannya lebih tenang dan juga nyaman.


Hampir sore hari mereka tiba didesa. Warga desa yang mendengar Zain membawa Khumairah ke kota untuk periksa kandungan akhirnya beramai-ramai mendatangi mobil Zain yang baru saja sampai. Mereka membantu Zain menurunkan barang dagangannya dan memapah Khumairah yang tampak kelelahan.

__ADS_1


__ADS_2