Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
Episode 206


__ADS_3

Zain dan Khumairah sudah menjual dua ekor sapi yang dibawa mereka dari hutan. Kini hasil penjualan tersebut akan mereka jadikan modal untuk usaha.


Zain mencoba melihat kondisi didesa, seperti apa peluang yang bisa dijadikan usaha.


Zain melihat jika membuka usaha toko sembako yang lengkap dengan berbagai kenutuhan warga desa akan membuat usahanya berkembang.


"Sayang.. Kita buka usaha toko sembako,Ya? Karena kalau bekerja kasar Mas tidak bisa dengan satu kaki" ucap Zain mengutarakan isi hatinya.


Khumairah hanya menganggukkan kepalanya, lagi pula Ia tidak faham didunia bisnis.


"Terserah Mas, saja bagaimana baiknya" jawab Khumairah dengan patuh.


Mendapat ijin dari sang istri, Zain mulai mengawali bisnisnya dan meminta bantuan kepada Pak Halim.


Zain mulai mencari sales yang dapat memasok stok barang dagangannya.


Zain mulai tampak berubah. Ia semakin mawas diri dan mulai menerima kondisi hidupnya yang sekarang.


Hidup bersama Khumairah mengajarkannya apa itu keikhlasan. Melepaskan semua dendamnya terhadap Amyra menjadikan hatinya terasa lapang, dan membuka cinta untuk Khumairah yang kini begitu menerimanya dengan penuh cinta.


Ia kini menyadari, jika dendamnya terhadap Amyra hanya membawanya pada kehancuran dan menjadikannya seorang pecundang.


Setelah mendapatkan apa yang dibutuhkannya, Zajn berencana dua hari kedepan akan membuka toko sembako. Sebab Ia sudah memesan kepada beberapa sales dan pemasok barang dagangannya.


Khumairah membantu sang suami mengemasi barang yang akan dijual nantinya.


Bahkan Zain sudah membeli rumah kontrakan tersebut dengan harga murah, sebab didesa harga tanah masih dapat diperjual belikan dengan harga yang sangat murah.


"Kamu jangan terlalu capek, Sayang.. Biar Mas saja yang beresin semua ini" titah Zain kepada Amyra.


"Tidak apa-apa, Mas.. Biar Mai bergerak juga, gak enak diam terus tanpa bekerja" jawab Khumairah dengan tulus.


"Iya.. tapi pesan Mbok Jumi tukang urut semalam, Kamu itu sudah mulai ngisi, dan harus hati-hati.. Kasihan calon bayi Kita" Zain coba mengingatkan.


"Iya.. Mai ingat koq.. Hanya bantu yang ringan-ringan saja" jawab Khumairah berusaha untuk meringankan pekerjaan suaminya.


Zain menggelengkan kepalanya melihat sikap keras kepala Khumairah.


Ia tahu jika istrinya itu suka bekerja, dan tubuhnya akan terasa sakit jika hanya bermalas-malasan saja.

__ADS_1


"Ya sudah.. Janji jangan angkat barang yang berat-berat" Zain mencoba mengingatkan sekali lagi.


Tak berselang lama, beberapa barang pesanan sembako berupa beras, gula, teh, susu, dan lain sebagainya datang menggunakan mobil pick up.


Toko sembako milik Zain dan Khumairah merupakan toko sembako yang termasuk besar didesanya. Sebab toko besar berjarak 5 kilometer dari tempat tinggal mereka.


Maka Zain memastikan jika usaha yang dipilihnya sudah tepat, untuk mempermudah warga desa berbelanja dan memenuhi kebutuhan hidup mereka.


Kedatangan barang dagangan milik Zain, membuat tetangga sekitar berkerumun. Mereka ikut membantu menurunkan barang yang dalam jumlah banyak.


Zain tak menduga jika rasa peduli dan sikap gotong royong masih melekat di desa tempat mereka tinggal.


Para tetangga yang melihat kondisi fisik Zain hanya memiliki satu kaki merasa iba, dan membantu Zain menata barang dagangannya.


Khumairah berinisiatif membuatkan kopi dan makanan ringan yang akan disuguhkan kepada tetangga yang membantu mereka.


"Jika hidup dikota, maka tidak akan Aku temukan pemandangan yang seperti ini. Dimana masyarakatnya bersikap acuh tak acuh kepada siapapun" guman Zain dalam hatinya.


Zain merasa haru dengan segala sikap warga sekitarnya. Setelah selesai membantu Zain, mereka menikmati suguhan yang disediakan oleh Khumairah, mereka bercengkrama dan saling tertawa membahas masalah ringan tentang kehidupan.


Tidak ada saling hujat, menjatuhkan, atau persaingan bisnis yang biasa dilakukan dikota.


Jika ingin membuka usaha yang sama, maka jarak antara satu usaha itu dengan usaha milik warga yang lama harus minimal 1 kilometer.


Semua itu untuk menciptakan kerukunan dan tidak adanya persaingan.


Jika tinggal disatu tempat yang sama, maka pelaku usaha harus membuka usaha yang berbeda, dan untuk menghindari kecemburuan sosial.


Didekat usaha toko sembako milik Zain, ada penjual bahan bakar eceran, bengkel, warung kopi dan usaha yang berbeda darinya.


Setelah menikamati suguhan dari Khumairah, warga berpamitan pulang dan saling mengucapkan terimakasih.


"Ternyata ada enaknya tinggal bertetangga, Ya Mas.. Saling bantu" ucap Khumairah sembari menatap warga yang sudah membubarkan diri.


*****


Mentari bersinar dengan sangat terang, Zain memulai membuka toko sembakonya. Para pembeli mulai datang dan berbelanja.


Tiba-tiba saja terdengar suara dari Mushallah, sebuah pengumuman duka yang mana anak dari Pak Halim yang pernah menjadi saksi pernikahan Khumairah dan Zain meninggal dunia karena terkena demam berdarah.

__ADS_1


Seketika warga yang sedang berbelanja mempercepat belanjanya dan akan pergi melawat kerumah duka.


Melihat warga yang tampak melawat kerumah Pak Halim, Zain dan juga Khumairah juga mengikuti warga dan menutup tokonya untuk sementara waktu.


Zain dan Khumairah terperangah melihat bagaimana sikap warga yang bergotong royong menyediakan dan menyempurnakan fardhu kifayah untuk almarhum anak Pak Halim.


Seketika Khumairah teringat akan almarhum ayahnya, dimana mereka berdua harus mengurus jenazah itu berdua.


Khumairah membayangkan andai saja waktu itu Ia tinggal sendirian, mungkin Ia tidak dapat membayangkan mengurus jasad orangtuanya sendirian.


Seluruh warga mengerti akan perannya masing-masing. Ada yang mengurus bagian memandikan, mengurus kafan, bahkan menggali kubur juga dengan sukarela.


Khumairah mempelajari semuanya, jika hidup bertetangga itu diperlukan.


Khumairah tampak ikut membantu apa yang bisa dibantunya dan mencoba membaurkan dirinya terhadap warga sekitarnya, sehingga dengan cepat Ia menjadi akrab dengan beberapa warga disana.


Akhirnya Khumairah tak lagi merasa hidupnya dalam kesendirian. Setelah penyempurnaan fardhu kifayah selesai, Khumairah dan Zain kembali kerumah, lalu kembali membuka toko sembakonya.


"Mas.." panggil Khumairah.


"Ya.." jawab Zain sembari menimbang gula pasir dalam ukuran 1 kg, setengah kg, dan juga seperempat, agar memudahkan Ia untuk melayani pembeli.


"Ternyata hidup bertetangga itu enak ya? Semuanya dibantui dengan tanpa pamrih" hcap Khumairah sembari tersenyum


Zain menghentikan pekerjaannya, dan menatap sang istri polosnya.


"Ini karena tinggal di desa, Sayang.. Semua sikap gotong royong itu masih ada, berbeda dengan kehidupan kota, yang mana masyarakatnya bersikap masa bodoh" ucap Zain, mengenang kehidupannya saat di Kota.


"Kota itu seperti apa, Mas?" tanya Khumairah penasaran.


"Suatu saat nanti Mas akan membawamu Ke kota, namun setidaknya kita memiliki mobil pick up seperti mobil pengangkut barang semalam" janji Zain kepada Khumairah.


"Memangnya Mas bisa bawa mobil?" tanya Khumairah tak percaya.


Zain tersenyum mendengar pertanyaan konyol dari istrinya, sebab sebelum merambah dunia bisnis Ia dulunya seirang driver online yang akhirnya mempertemukannya dengan Amyra sebagai penumpangnya.


"Tentu, Sayang" jawab Zain dengan santai.


"Wah.. Mas ternyata hebat, diam-diam bisa menyetir mobil" puji Khumairah dengan polosnya.

__ADS_1


Zain menatap sang istri, hal sekecil itu saja menjadi kebanggaan untuknya. Zain berjanji akan menutup kisah masa lalunya dan akan membawa Khumairah ke kota, jika kasusnya kelak sudah menghilang dan ditutup.


__ADS_2