
Grace terbangun dari tidurnya. Ia merasakan jika organ intinya membengkak karena para Asing itu yang terlalu kasar dalam memperlakukannya.
Bahkan memasukkan berbagai benda ke organ intinya dalam memuaskan fantasi mereka.
Ia melihat Tony masih berbaring diranjang bersamanya dan tampak teridur pulas.
Grace mencoba beranjak dari tidurnya, dan ingin kekamar mandi. Namun Ia merasakan perutnya tiba-tiba merasa sakit, dan semakin Ia bergerak semakin terasa sakit.
Ia mencoba membangunkan Tony yang tidur disisi bagian kirinya.
"Heeei.. Bangunlah.." ucap Grace membangunkan Tony yang masih berbaring pulas, Ia mencoba mengguncang tubuh pria itu.
Setelah cukup lama mengguncang Tony, akhirnya pria itu terbangun dan mengusap kedua matanya.
"Ada apa, sih?" tanya Tony dengan tatapan mengantuk.
"Perutku sakit sekali, sepertinya ada sesuatu yang mengganjal di jalur rahimku" ucap Grace menjelaskan.
Tony mencoba mengumpulkan nyawanya yang masih belum kumpul. Setelah merasa hampir pulih, Ia mencoba menolong Grace.
"Coba aku periksa, apa ada sesuatu yang tertinggal didalam" ucap Tony mencoba memeriksa kondisi Grace.
Grace akhirnya menuruti ucapan Tony, toh Ia dan pria itu juga sudah kumpul tanpa ikatan apapun.
Grace merenggangkan kedua kakinya, dan Tony mencoba meraih phonselnya dan menghidupkan senter phonsel tersebut.
Ia memeriksa jalur rahim Grace, dan Ia melihat sepeerti ada benda tertinggal disana.
"Apakah mereka ada yang menggunakan pengaman?" tanya Kepada Grace.
Grace menganggukkan kepalanya. Iya.. Satu orang menggunakan pengaman" jawab Grace yang tampak meringis kesakitan karena Tony tampak melebarkan jalur tersebut.
"Hemm.. Ia mencabutnya saat sudah mengkerut dan benda pengaman itu tertinggal disana.." ucap Tony menjabarkan.
Seketika Grace terperangah mendengarnya.
"A-apa..? Mengapa bisa?" ucap Grace panik.
"Tenanglah, aku akan mencoba mengeluarkannya" ucap Tony, lalu beranjak dari ranjangnya.
"Sebentar, aku mau kekamar, dan jangan banyak bergerak" titah Tony kepada Wanita itu.
Grace tak punya pilihan, Ia hanya mematuhi ucapan Tony, pria yang dulunya sangat dibenci dan menganggapnya karyawan rendahan, kini keduanya terlibat hubungan tanpa ikatan dan menjalin kerjasama dalam mendapatkan uang.
__ADS_1
Tak berselang lama, tampak Tonya keluar dari kamar mandi dan kembali menghampiri Grace yang masih terbaring diranjang dengan wajah pucat ketakutan.
Grace tidak dapat membayangkan jika nantinya benda itu itu tidak dapat dikeluarkan dari rahimnya, maka itu akan sangat memalukan.
"Lebarkan kembali kakimu" ucap Tony, lalu meraih pbonselnya dan mengarahkan kembali ke jalur rahimnya.
Tampak begitu melebar, sebab sudah begitu banyak pria yang singgah disana.
Tony memasukkan dua jemarinya, dan mencoba menarik benda transparan berwarna kuning yang terbuat dari silikon tersebut.
Tony membuang benda tersebut kedalam tong sampah yang berada dibawah meja nakas.
Karena merasa senang Tony telah membantunya, Grace memeluk pria itu dan mengecupnya "Terimakasih" ucapnya begitu saja saat merasakan hatinya yang tampak bahagia.
Seketika Tony terdiam, dan Ia tidak tahu mengapa hatinya tiba-tiba merasakan getaran yang berbesa saat Grace memeluknya dengan perasaan tulus sembari mengucapkan terimakasih kepadanya.
Wanita sombong nan angkuh itu akhirnya mengucapkan kata yang tak pernah Ia ucapkan sebelumnya.
"Ya.." jawab Tony, sembari memegang punggung wanita itu dengan ragu.
Setelah merasa terbebas dari peristiwa yang membuat Grace ketakutan, wanita itu melepaskan pekukannya, berjalan tertatih menuju kamar mandi.
Tony memandanginya, entah perasaan apa yang menggelayuti hatinya, rasa iba dan tak tega melihat wanita itu berjalan dengan kesulitan. Apalagi saat tadi Ia melihat dua jalur itu terluka, dan Ia membayangkan jika Grace akan tersiksa saat akan buang air nantinya.
Sebuah notif masuk kedalam akunnya yang memperlihatkan pesanan untuk membooking wanita itu.
Ia memandang dengan ragu, namun melihat kondisi Grace barusan, Ia merasa tak tega.
Akhirnya Ia menekan tombol tolak dan mencoba menutup aplikasi tersebut.
Tak berselang lama, Grace keluar dari kamar mandi dengan langkah tertatih dan wajah meringis menahan sakit.
Tony merasa tak tega saat melihat Grace berdiri diambang pintu kamar mandi, sembari memegang kusen pintu.
Sesaat Tony beranjak dari ranjangnya, lalu menghampiri wanita yang sudah memberikannya kepuasan dan banyak uang itu.
Tony membopongnya dan membawanya ke ranjang. Tindakan yang dilakukan oleh Tony tersebut membuat hati Grace tersentuh.
Ia memandang sendu pada pria itu dan melingkarkan kedua tanganya dileher sang pria yang kini tampak berbeda dari biasanya.
Baginya saat ini Tony bersikap begitu manis padanya, sehingga Ia merasakan debaran-debaran yang berbeda dari biasanya.
Tony membaringkannya diranjang dengan begitu lembut, lalu menarik selimut dan menutupkan pada tubuh Grace.
__ADS_1
"Aku keluar sebentar, apakah kamu ingin menitip sesuatu?" tanya Tony dengan nada lembut, nada yang tak pernah didengarnya selama ini.
"Aku ingin minum juice jeruk" ucap Grace, satu hal yang tak pernah Ia minta dari pria itu.
Tony menganggukkan kepalanya dan meraih pakaiannya lalu mengenakannya.
Tony beranjak keluar dari kamar hotel, lalu membeli beberapa makanan dan dua cup juice jeruk.
Tak lupa Ia singgah ke apotik mencari obat antibiotik dan juga obat paracetamol untuk dapat menghilangkan rasa nyeri pada luka yang dialami oleh Grace.
Setelah mendapatkan semuanya, Ia kembali ke hotel dan memsuki kamar yang tadinya telah disewa untuk melayani para tamu Grace.
Namun kini Tony merubah fikirannya karena tidak tega melihat kondisi Wanita itu yang sangat menderita.
Saat membuka pintu kamar, Ia melihat Grace tampaknya tertidur kembali. Wanita yang awalnya sangat Ia benci, kini tiba-tiba menyentuh hatinya dan mecairkan hatinya yang beku dan lama tertutup semenjak ditinggalkan oleh istrinya.
Ia membelai lembut wanita yang kini tertidur pulas itu, dan mengecup keningnya.
Grace menggeliatkan tubuhnya, dan merubah posisinya menjadi miring menghadap pria itu.
Tkny memandanginya, jika dilihat secara detail, Grace itu cantik dan memiliki lekuk tubuh yang indah.
Mungkin Tony telah pelan-pelan menyimpan rasa dengan wanita itu, dan Ia terus memandangi wajah itu.
Andaikan Tony berniat mengajak wanita itu mengikat suatu hubungan, apakah kiranya Grace sanggup hidup tanpa barang branded hidup tanpa kemewahan?
Tony ingin melihat semuanya pada hari kedepan, jika saja Grace ingin diajak dalam hidup yang biasa saja, maka Ia bersedia menerima wanita tersebut dengan segala masa lalunya dan memulainya dari awal.
Sesaat Grace terbangun, lalu menatap pria dihadapannya yang memandangnya penuh arti.
"Ini juice jeruk pesanan kamu" ucap Tony sembari menyodorkan satu cup juice jeruk kepada Grace.
Wanita itu bangkit, dan meraihnya "Terimakasih" ucap nya lirih, lalu beranjak bangkit dari tidurnya dan duduk ditepian ranjang sembari meringiskan wajahnya katena masih merasa perih.
"Sakit, Ya" tanya Tony lembut.
Grace menaganggukkan kepalanya, lalu meraih cup juice tersebut dan menyeruputnya.
"Maafkan Aku, ya.. Esok dan seterusnya kamu tidak perlu lagi bekerja seperti ini" ucap Tony mencoba mengungkapkan keinginannya.
Seketika Grace terperangah dan menatap wajah pria itu.
"Benarkah?" tanyanya dengan nada tak percaya.
__ADS_1
Tony menganggukkan kepalanya, dan tersenyum tipis.
Seketika Grace melebarkan senyumnya, Ia melupakan jima pria itu adalah karyawan rendahan yang pernah dihinanya.