
Fairi dan Kenan telah tinggal terpisah selama 2 bulan dan terlihat Fairi juga jarang ketemu Kenan apa lagi pergi ke kantor Kenan untuk mengajaknya makan siang atau hanya sekedar mampir begitu juga dengan Kenan, bahkan Kenan pun terlihat cuek dan tak peduli dengan apa yang dilakukan oleh Fairi.
"Eh apa kau tau, aku dengar katanya bos kita sedang pisah ranjang, tapi kenapa ada video yang menunjukkan kalau mereka sedang bermesraan. Terus ini video diambil kapan ya?"
"Iya benar, aku juga penasaran dengan itu. Terlihat di sini kalau mereka sedang melawan ******, lalu kenapa sekarang malah kalah"
"Ah aku benar - benar tak mengerti, akankah bos kita kena guna - guna oleh si jal.."
Beberapa pegawai yang sedang bergosip langsung diam begitu mereka melihat Sofiana berjalan melintasi mereka. Dan Sofiana berjalan dengan membusungkan dadanya merasa sedang terbang keatas awan.
"Maaf Bu pak Kenan masih ada pertemuan tolong tunggu dulu." Melisa menahan Sofiana yang ingin masuk
"Pertemuan dengan siapa dia"
Dengan nada sombong Sofiana berkata dan menatap Melisa yang telah menahannya didepan pintu.
"Maaf Bu beliau ada pertemuan dengan perusahaan Jhonson Bu Tanti" jawab Melisa dengan sopan
"Tanti" Sofiana merasa kaget dan langsung mendorong Melisa lalu menerobos masuk
"Bu tunggu, maaf kak" Melisa meminta maaf pada Kenan karena tak bisa menahan Sofiana yang menerobos masuk dan membuat Kenan serta kliennya kaget.
"Tak apa" Kenan melambaikan tangan dan Melisa keluar
"Tanti, bagaimana bisa kau ada di sini dan apa ini semuanya!?" Sofiana melihat berkas yang sedang didiskusikan antara Kenan dan Tanti
"Maaf Bu Sofia, saya ditunjuk oleh pak Sama sebagai pengganti anda karena selama ini saya yang tau bagaimana kerja sama dengan pak Kenan terjadi." Tanti menjawab dan berdiri menatap Sofiana
"Apa maksud mu, aku belum keluar dari perusahaan itu. Aku hanya mendapatkan surat skorsing saja dan akan segerah kembali lagi untuk bekerja, kau pasti telah melakukan kecurangan untuk mendapatkan proyek ini kan!? Kau pasti berbuat curang dan memanfaatkan tubuhmu itu" Sofiana berkata dan merendahkan Tanti
"Tolong jangan bicara seperti itu dan jagalah bicara anda Bu." Tanti mulai tak sabar dan kesal karena dituduh oleh Sofiana berbuat curang untuk proyek yang digantikannya.
"Kenapa, apa aku salah. Kau hanyalah seorang asisten bagaimana bisa kau bisa naik jadi penanggung jawab hanya dengan beberapa hari saja." Sofiana melipat kedua tangannya di dada dan berkata dengan sombong serta menatap Tanti meremehkan.
"Tolong jangan membuat keributan di kantor saya, Sofi jika kau ada maslah dengannya sebaiknya kau selesaikan dulu itu, aku tak ingin ada maslah di kantorku. Tolong keluarlah semuanya dan aku akan mengirimkan salinannya lewat email nanti." Kenan berkata dengan tegas dan tak memihak siapa pun
"Maafkan saya pak Kenan, saya akan kembali dulu" Tanti merapikan berkasnya dan pergi meninggalkan kantor Kenan
"Ken, kenapa kau bisa melakukan ini. Bukankah kerja sama ini adalah tanggung jawab ku" Sofiana meminta kejelasan pada Kenan
"Sebaiknya kau pergi dulu karena aku sibuk, dan soal kerja sama sebaiknya kau bicarakan pada pihak mu jadi jangan membuat keributan di sini, karena aku hanya mengikuti saja tak peduli siapa penanggung jawabnya asal semuanya berjalan lancar." Kenan berkata dengan dingin pada Sofiana
"Ken." Sofiana
"Tolong pergilah dan jangan ganggu aku" Kenan
__ADS_1
Sofiana pun keluar dengan raut wajah kesal karena kenan menolaknya dan berkata dengan dingin padanya. Sofiana pergi ke klub dan menghabiskan waktunya di sana dengan minum - minum.
...💔💔💔...
"Panggil Baron dan Broto kesini sekarang juga" perintah Gusti dengan tegas
Dalam rumah yang begitu besar dan megah itu serta terdapat beberapa pegawai yang berlalu lalang sangat terlihat kalau keluarga itu adalah keluarga orang kaya yang sangat ternama dan juga sangat berkuasa di daerahnya. Namun bangunan itu bukan sebuah rumah yang disinggahi melainkan lebih mirip dengan penjara karena orang - orangnya dipenuhi ketakutan dan juga kecemasan yang tinggi atas kekuasaan dari orang yang lebih tinggi dan unggul di sana.
"Kakek memanggil kami" Baron masuk ke ruangan yang diberitahukan
Plak
Sebuah pukulan yang keras mendarat dengan tepat di wajah Baron dan Broto hingga membuat kedua orang itu seketika jatuh tersungkur di lantai.
"Kakek, apa yang kakek lakukan" Broto bangun dan memegangi wajahnya yang merasakan nyeri dan perih
"Berapa kali aku mengingatkan kalian hah?!"
"Kalian masih saja tak bisa mengendalikan hasrat terkutuk kalian itu. Sudah sering ku katakan jika kalian berbuat hina dan bermain dengan wanita - wanita nakal kalian silakan saja tapi jangan membawah nama keluarga ini"
Baron dan Broto berdiri dan saling melihat satu sama lain karena mereka merasa bingung, selama ini mereka selalu bermain dengan sangat aman dan selalu meminimalkan efek yang akan ditimbulkan.
"Apa maksud kakek kami tak melakukan apa - apa yang bisa merugikan keluarga ini" Baron berkata dan menatap bingung pada kakeknya.
"Begitu, lalu bagaimana dengan video permainan kalian dengan wanita ini bisa ada." Gusti menunjukkan rekaman video antara Sofiana dan mereka.
"Pergi!! Bereskan masalah kalian sebelum video itu tersebar ke publik, karena jika tidak maka aku yang akan mematahkan kedua kaki kalian"
Gusti berkata dengan tegas dan mengancam mereka berdua yang selama ini memang sudah sering melakukan kejahatan dengan bermain gila bersama beberapa wanita - wanita nakal.
"Wanita itu, dia berani sekali bermain - main dengan ku." Baron berkata dengan kesal sambil berjalan keluar dengan cepat.
...💔💔💔...
"Om Cipto berikan aku alamat rumah wanita waktu itu" Baron mendatangi kediaman pamannya dan meminta alamat rumahnya Sofiana
"Untuk apa dan kenapa dengan wajah kalian itu, kalian berkelahi lagi dengan seseorang?" Sucipto menatap kedua keponakannya itu yang memiliki luka disudut bibirnya.
"Ini perbuatan kakek, karena dia menerima rekaman video kita dengan wanita itu dan dia mengancam kalau akan menyebarkan rekaman itu, entah apa maunya wanita itu." Broto berkata dengan kesal
"Apa? Dia memiliki rekaman video, tapi bagaimana bisa. Mungkin itu hanya akal - akalan ayah saja." Sucipto berkata dengan ringan
"Itu bukan karangan, karena kami sudah melihatnya secara langsung rekaman itu." Baron
"Sofi, berani sekali dia." Sucipto merasa kesal.
__ADS_1
...💔💔💔...
Malamnya saat Sofiana kembali pulang dari klub dia tak tau kalau sudah ada orang yang sedang menunggunya, Sofiana berjalan sempoyongan saat turun dari taksi dan menuju ke apartemennya.
"Aah!! Siapa kalian?" Sofiana kaget karena saat dia baru membuka pintu rumahnya langsung di dorong masuk oleh seseorang.
"Kau memang wanita yang tak tau diuntung ya, berikan rekaman itu cepat." Sucipto menekan Sofiana di sofa
"Kau, untuk apa kau kemari lagi hah. Kita sudah selesai pergilah. Dan aku tak tau rekaman apa yang kau maksudkan." Sofiana mendorong Sucipto
"Selesai itu karena kau sudah menemukan mangsa baru? Berani sekali kau mengancam dan menyerahkan merekam kepada ayah, apa yang kau rencanakan sebenarnya." Sucipto berkata dengan marah
"Kau gila ya, rekaman apa dan menyerahkan apa. Aku tak tau dengan apa yang kau katakan." Sofiana berjalan ke kamarnya
"Jadi kau tak tau apa - apa, apa kau pikir aku percaya dengan mu wanita licik dan serah sepeti mu hah?! Cepat berikan rekaman itu pada ku dan jangan main - main dengan ku" Sucipto mendorong dan menekan Sofiana lagi di tempat tidur
"Lepaskan, aku tak tau apa yang kau bicarakan. Dan aku tak mau ada hubungan dengan mu lagi, kau gila" Sofiana berontak dan berusaha untuk lepas.
Tingkah Sofiana yang seolah dia tak tau apa - apa itu membuat Sucipto marah dan semakin kesal dan dia pun merobek baju Sofiana dan melakukan hal yang tak diinginkan oleh Sofiana.
"Hentikan aku tak mau, sakit!!"
Teriakan Sofiana tak membuat Sucipto menghentikan aksinya, dan dia semakin menggila. Bahkan Sucipto juga membawah kedua keponakannya untuk melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan seperti dalam video sebelumnya.
"Tidak, kalian sudah gila aku tak mau lagi." Sofiana terus teriak dan berontak sampai kehilangan tenaganya karena melayani tiga orang yang sangat kuat.
"Heh, masih tak ingin mengatakan dimana kau menyimpan rekaman itu." Baron
"Aku benar - benar tak tau apa yang kalian katakan, aku tak pernah merekam apa pun. Bahkan aku tak tau apa yang kalian katakan dan rekaman apa." Sofiana berkata dengan takut dan meringkuk di sudut tempat tidur
"Aku tak menemukan ada rekaman atau alat yang terpasang, tapi sepertinya sudah diambil karena aku menemukan perekat ini terpasang di lampu dan bawah meja." Broto yang sudah memeriksa rumah Sofiana tak menemukan satu pun alat rekam hanya bekas alat yang digunakan untuk meletakkan saja.
"Kalian keluarlah dulu" Sucipto menyuruh Baron dan Broto keluar
"Kau mau apa?" Sofiana waspada saat Sucipto mendekat
"Kau akan tau apa" Sucipto menarik Sofiana dan melahapnya lagi
"Hentikan aku capek, aku benar - benar tak tau apa pun" Sofiana memelas pada Sucipto yang sangat bertenaga.
"Baik, ingat ini jika sampai aku menemukan kau melakukan sesuatu dibelakang ku maka kau akan berakhir." Sucipto berkata dan menekan dagu Sofiana
"Ah" Sofiana merasa takut dan tubuhnya bergetar hebat.
"Oh jangan bilang kalau kita sudah selesai karena aku akan datang lagi nanti sampai kau mengaku dan menyerahkan sendiri rekaman itu padaku, dan jangan coba - coba untuk kabur kau mengerti" Sucipto menegaskan lagi pada Sofiana dan merapikan bajunya sebelum pergi meninggalkan Sofiana.
__ADS_1
Terlihat Sofiana merasa bingung dan tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Sucipto karena dia memang tak tau apa pun soal rekaman dan dia juga tak mengerti siapa orang yang melakukan itu padanya, hingga membuat dia kembali terjebak dengan Sucipto yang memiliki gangguan hiperseks.