
1 minggu kemudian hasil dari pemeriksaan antara Kenan dan Kemal pun keluar dan Agus yang mengambil hasil tes itu langsung bergegas ke kantor untuk bertemu dengan Kenan guna menyerahkan hasil laporan tes DNA antara dirinya dan putranya.
"Selamat pagi pak, ini hasil dari tes yang bapak lakukan minggu lalu." Agus menyerahkan amplop itu pada Kenan.
"Apa hasilnya Gus, apa kau sudah tau?" Kenan menatap Agus asistennya.
"Maaf pak saya belum membukanya." dengan cepat Agus menjawab dan menatap Kenan dengan bingung karena ada keraguan dari tatapan Kenan.
"Ken, hasil laporan penjualan sudah ke...luar." Farid menerobos masuk kedalam kantor Kenan dan merasa heran karena suasana sepi "Eh ada apa ini, kok suasananya jadi tegang begini? Ada yang salah Gus." Farid jadi bingung karena suasana dalam kantor Kenan jadi hening dan tegang.
"Tidak apa pak Farid, cuma hasil pemeriksaan DNA sudah keluar dan pak Kenan merasa ragu untuk membukanya." Agus menjawab dan menatap Farid.
"Hem, kenapa Ken? Kau takut kalau hasilnya tak sesuai dengan harapan mu ya." Farid mendekat dan mendekatkan wajahnya dengan Kenan dari depan meja.
"Bagaimana jika iya." jawab Kenan mendongak menatap Farid.
Farid tersenyum lalu kembali berdiri dengan tegap, "itu adalah keinginan mu untuk melakukan tes itu, jika kau memang yakin akan hasilnya maka kau juga harus bisa menerima kemungkinan terburuknya, apa pun hasilnya itu tak akan mempengaruhi jika kau memang ingin menjaganya." Farid berkata dengan kata - kata sok bijaknya.
"Kalau begitu bukalah." Kenan menyerahkan amplop itu pada Farid
"Baiklah, akan ku lakukan untuk mu." Farid dengan ringan menerima dan langsung merobek pembuka amplop itu.
Kenan menatap dengan degup jantung yang memburu, ekspresi Farid tak berubah saat dia sudah membuka dan mulai membaca hasil laporan itu, hanya sesekali Farid menatap Kenan, dan hal itu membuat Kenan jadi semakin gugup, sedangkan Agus yang ada disisi Farid juga ikut melihat namun Agus tak memberikan respon apa pun dia tetap datar dan biasa saja.
"Hem...sepertinya kau harus..." Farid berkata dengan kalimat diputus - putus dan hal itu mempermainkan emosi Kenan.
"Apa, apa hasilnya?" Kenan menatap tak sabar
Farid bergeleng kepala dan menutup mulutnya dengan rapat, Kenan terlihat lesu karena dia menangkap arti kode dari Farid adalah kalau dirinya dan Kemal bukanlah ayah dan anak kandung, Kenan menunduk lesu dan Farid sekarang senyum semakin lebar melihat reaksi sahabatnya itu. Kenan tak pernah terlihat sedih sebelumnya dengan tatapan menyedihkan seperti saat ini dan itu membuat Farid merasa sangat puas mempermainkan emosi Kenan.
"Terimalah kenyataan Ken." ucap Farid
"Aku tau, aku tak apa." Kenan menjawab dengan memotong kata - kata Farid yang belum selesai
"Bahwa kau adalah ayah dari anak itu." sambung Farid lagi sambil menyerahkan hasil tesnya.
"Hem, ya..." Kenan menjawab dengan bernafas berat "eh, apa yang kau bilang tadi?" Kenan menatap Farid saat sadar kalau kalimat Farid ada yang berbeda.
Farid tertawa dan Agus juga ikut tersenyum, Kenan yang melihat reaksi dua orang itu langsung mengambil kertas hasil tes yang diserahkan Farid dan melihatnya sendiri. Senyuman Kenan mengenang dan wajahnya yang tadi sedih telah berubah jadi cerah, Kenan membaca lagi berulang kali atas hasilnya dan dia menjadi sangat senang.
"Dia putraku Rid, dia putraku. Gus dia putraku." Kenan berkata dengan tersenyum bercampur tangis karena merasa sangat bahagia dan juga terharu karena dia tak pernah berfikir kalau dirinya akan menjadi seorang ayah bahkan putranya sudah begitu besar dan bisa diajak untuk berbicara dan bermain dengan sangat seru.
__ADS_1
...💔💔💔...
Disaat Kenan berbahagia berbeda dengan Fairi karena dia mendengar kabar kalau pabriknya Daan gudangnya yang di Bogor mengalami kebakaran dan menelan begitu banyak kerugian karena bahan - bahan yang di stok semuanya habis dilalap api dan tak ada yang tersisa sedikit pun. Dari hal itu pasti akan mempengaruhi prodak yang sedang berlangsung dan akan diluncurkan.
"Bagaimana hasilnya apa sudah bisa untuk dipadamkan apinya?" Tuan Adi menghubungi pak Karto selalu pengawas pabrik.
"Iya pak syukurlah sudah bisa diatasi dan tidak sampai melahap ke yang lainnya, hanya saja ini semua pabrik dan gudang telah habis terbakar pak." jelas pak Karto.
"Baiklah, aku dan putriku akan segerah kesana, jadi untuk sementara kau atasi yang disana bersama dengan Hasan dan yang lainnya dulu." pinta tuan Adi
"Aku tak habis pikir bagaimana bisa semuanya terbakar begitu saja, aku sangat yakin kalau itu pasti ada pemicunya." Fairi berkata sambil terus bernafas dalam.
"Kita akan menyelidiki semuanya setelah sampai di sana besok." ucap tuan adi "Han, kamu sekarang pergi kesana dulu dan bantu yang lainnya, juga periksa apa yang terjadi tapi jangan sampai ada yang tau kalau kamu kesana untuk menyelidiki sebelum polisi kamu mengerti kan?" tuan Adi menatap Handoko asistennya.
"Saya mengerti pak, sekarang juga saya akan berangkat. Non Fairi sebaiknya jangan terlalu cemas, semua akan kita atasi bersama." Handoko menatap Fairi yang terlihat sangat tegang.
"Terima kasih om Han, semua ku serahkan pada om. Aku akan langsung berangkat besok." Fairi tersenyum dan menjawab Handoko.
"Lina, tolong kamu atasi dulu dan cancel semua janji untuk satu minggu kedepan, aku akan pergi menjemput Kemal di sekolahnya." Fairi terlihat sangat sedih, namun sama Fairi disembunyikan dan berusaha untuk ditahan.
"Baik Bu, saya akan melakukannya dan menghubungi mereka semuanya untuk mengkonfirmasi lagi jadwal selanjutnya." Lina pun langsung sibuk dengan teleponnya untuk menghubungi semua orang yang besok ada janji dengan Fairi.
"Baik, aku pergi dulu." Fairi pun pergi ke sekolah Kemal
...💔💔💔...
Setelah menjemput Kemal di sekolah Fairi langsung pulang ke rumah, dan di rumah dia terlihat sangat bingung dan semakin tambah bingung karena dia tak mungkin membawah Kemal ke Bogor yang sedang kacau, sementara jika ditinggal Fairi tak tau harus menitipkan Kemal pada siapa karena Amrita dan keluarganya sedang berkunjung ke rumah mertuanya yang ada di luar kota. Fairi bernafas dalam dan terus menghela nafas berat sambil mengepak bajunya.
"Sayang besok mama harus pergi untuk kerja jauh dan sedikit lama, apa Boo bisa di rumah sama nenek? Nanti mama minta Tante Lina untuk mengantar kamu pergi ke sekolah dan menjemput kamu gak apa kan" Fairi berkata sama Kemal yang ikut membantu Fairi menata baju - bajunya.
"Iya honey, tapi apakah pekerjaannya akan sangat lama? Aku akan merindukan mu nanti." Kemal berkata sambil manyun.
"Mama usahakan untuk cepat ya." Fairi berkata lagi dan mencium pipi Kemal
"Tapi, bolehkah aku main sama om Kenan sesekali karena aku sangat merindukannya. Atau kalau tidak aku akan melihatnya dari jauh apa boleh?" Kemal bertanya dan menatap Fairi dengan tatapan mata berkaca - kaca.
"Sayang.." belum selesai Fairi bicara sudah ada yang menekan bel rumah Fairi.
"Siapa yang datang bi?" Fairi yang sedang mengepak bajunya bertanya pada bi Mina
"Biar aku yang buka nenek." Kemal langsung lari keluar dari kamar Fairi.
__ADS_1
Fairi keluar kamarnya juga dan melihat siapa yang datang, karena setelah Kemal membuka pintu suasana jadi hening tak terdengar suara Kemal yang selalu teriak untuk memberitahu siapa yang datang ke rumah mereka. "Boo, sayang siapa yang datang nak?"
"Assalamualaikum bi, Fa." Kenan berdiri diambang pintu dan Kemal berada disamping Kenan dengan diam
"Iya waalaikumsalam nak Kenan." Bi Mina menjawab salam Kenan.
"Kenapa kamu kesini." Fairi berkata dengan tatapan acuh pada Kenan.
"Aku sudah mendengar semuanya dari om Adi apa yang terjadi. Apakah kamu akan membawah Boo pergi besok? Karena jika tidak, biarkan aku yang menjaga dia." Kenan menawarkan diri untuk menjaga Kemal
"Tidak perlu, aku tak akan merepotkan mu." Fairi menolak tawaran Kenan.
"Bolehkah aku ikut dengan om Kenan? Boleh ya...?" Kemal memohon pada Fairi dan menggenggam tangan Kenan dengan erat.
"Fairi, aku janji tak akan mengecewakanmu, jadi percayalah pada ku. Biarkan aku menjaganya untuk mu, dan ini mungkin bisa membuatmu mau memberikan hak untuk aku menjaganya." Kenan pun ikut meyakinkan Fairi dan menyerahkan amplop hasil tes DNA antara Kenan dan Kemal
"Ini...kau melakukan semua ini dibelakang ku" Fairi menatap dengan marah pada kenan setelah membuka dan membaca hasil tes DNA yang diberikan Kenan padanya.
"Jangan pikirkan ini dulu, selesaikan dulu urusan pabrik dan kita bicarakan ini setelah semua selesai." Kenan menahan Fairi yang ingin marah pada dirinya.
"Baiklah, tapi ingat jangan melakukan apa pun." ucap Fairi setelah dia melihat Kemal yang terus berdiri disamping Kenan dengan tenang.
...💔💔💔...
"Hei, apa kau sudah gila. Kau ingin menghancurkan segalanya ya." Pak Hasan terlihat marah pada salah seorang pegawai yang ingin membuang sisa - sisa pabrik dan gudang yang terbakar.
"Maaf pak saya tak sengaja." jawab pegawai itu
Keadaan pabrik dan juga gudang sudah tak berbentuk semuanya habis tak bersisa, dan dengan terpaksa Fairi menunda peluncuran prodak baru dari pabrik yang sedang dijalankan oleh Fairi. Semuanya telah menjadi abu, Handoko yang sudah sampai merasa miris melihat semuanya sebab tak ada yang bisa diperbaiki lagi karena semuanya telah hancur dan benar - benar hancur.
"Asisten Han." pak Karto menghampiri Handoko yang sedang berada di lokasi pabrik yang kebakaran.
"Bagaimana, pak Karto apa semua pegawai tak ada yang luka karena saya ingin melaporkan pada pak Adi dan juga non Laras mengenai keadaan di sini saat ini." tanya Handoko pada pak Karto yang saat itu menghampirinya
"Ya syukurlah semua pegawai tak ada yang terluka parah, mereka hanya luka ringan karena kejadiannya kemaren pas bertepatan dengan jam istirahat, jadinya hampir semua pegawai ada diluar pabrik, sedangkan yang di gudang mereka langsung menghambur lari keluar dari pintu samping dan belakang begitu melihat api dari arah pabrik." jelas pak Karto dari apa yang dia ketahui kemarin.
"Baiklah, saya ingin melihat mereka yang terluka apa mereka ada di klinik yang sama semuanya?" tanya Handoko
"Iya asisten Han, mereka ada di klinik yang sama semua, mari saya antar anda kesana." Pak Karto pun mengantar Handoko ke klinik.
"Baik, mari kita pergi kak karto." Handoko pun pergi bersama dengan pak Karto dan sebelum pergi Handoko memasang alat dan juga orang - orangnya untuk menyelidiki hal apa yang memicu kebakaran itu, dan kenapa hal itu terjadi pas jam istirahat yang seharusnya semua mesin mati tak ada yang menyala.
__ADS_1