
Dengan bertanya - tanya dalam hati Kemal yang mengikuti Kenan selalu melihat kanan kiri dari tempat itu, dari pada rasa penasaran Kenan membawahnya ke rumah siapa Kemal lebih penasaran dengan suasana rumah yang sangat besar itu namun begitu sepi karena tak menemukan orang selama dia masuk kedalam rumah itu.
Dengan tangan dan jari - jari kecilnya Kemal menyentuh setiap perabotan di rumah itu dengan hati - hati karena rasa ingin tahunya, Kemal tersenyum saat dia mendapati sebuah foto degan bingkai kuning keemasan yang menampakkan gambar seorang anak kecil dengan pita rambut warna merah dan baju setelan gaun merah dan hitam yang terlihat sangat imut.
"Mama..." Kemal bergumam mengangkat bingkai foto itu dan membelainya, lalu tersenyum karena dia tau kalau itu adalah foto kecil dari mamanya yang pernah dia lihat didalam barang - barang yang disimpan oleh mamanya di rumah.
"Eh, hai anak kecil, siapa kamu? Kenapa ada di sini, datang sama siapa?" Nyonya Tias yang dari luar rumah merasa kaget ada anak kecil yang berdiri didepan meja foto keluarga dan terlihat sangat lucu.
"Nenek, ini foto ma...oh honey kan?" Kemal bertanya pada nyonya Tias sambil mengangkat foto itu
"Honey?" Nyonya Tias mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Kemal dan menatap gemas padanya "Kamu masih kecil tapi sudah mengenal kata honey hem, siapa yang mengajari mu anak kecil." dengan gemas nyonya Tias mencubit pipi Kemal.
"Ma, aku mencari mama kemana - mana, dari mana dan kenapa rumah sepi sekali." Kenan keluar dari arah dalam belakang rumah.
Nyonya Tias bangun dan tersenyum melihat Kenan datang ke rumah "Oh, semuanya sedang pulang kampung jadi rumah terasa sepi. Oh iya kamu kemari membawah dia bersama dengan mu ya, siapa dia imut sekali." dengan nada senang nyonya Tias bertanya pada Kenan mengenai Kemal yang berdiri didepannya.
"Hm, dia...sebenarnya aku ingin bicarakan soal ini sama mama dan papa, tapi aku masih belum siap jadi nanti aku akan bicara lagi dan dia adalah Kemal." Kenan berkata dan mengisyaratkan sesuatu yang membuat nyonya Tias penasaran. "Kemal, ayo perkenalkan nama mu pada nenek." Kenan menatap Kemal dengan senyuman.
"Baik om Ken." jawab Kemal dengan riang lalu meletakkan foto kecil Fairi diatas meja lagi "halo, nenek namaku Kemal, sekarang usiaku 6 tahun dan sudah sekolah di taman kanak-kanak. Sudah?" Kemal bertanya dan berbalik melihat Kenan setelah memperkenalkan dirinya pada nyonya Tias.
"Ya ampun anak manis, apa kamu sudah makan? Mau makan kue coklat tidak, tadi nenek bikin kue coklat." Nyonya Tias mensejajarkan dirinya dengan tinggi Kemal lagi.
__ADS_1
"Maaf, tapi aku lebih suka kue stroberi, dan keju." Kemal menjawab dengan lucu dan polos.
"Stroberi dan keju?" Nyonya Tias menatap Kenan, dan Kenan hanya tersenyum.
Setelah mendengar ucapan Kemal nyonya Tias pergi keluar dan membawah Kemal untuk beli kue yang ada di gang sebelah rumah. Di Toko itu tak ada kue yang diinginkan Kemal, hanya banyak roti - roti isi dan puding. "Kok tumben Bu habis semua kue-kue basahnya" nyonya Tias bertanya pada pemilik toko itu.
"Iya, tadi ada yang borong dan ini hanya tinggal roti isi saja sama puding." ibu pemilik toko menjawab dengan menyesal karena apa yang dicari oleh tetangganya yang baik ini tak ada.
"Kem, loh kemana dia?" Nyonya Tias mencari Kemal yang menghilang.
"Bukankah dia anak kecil yang tadi Bu Tias bawah." Pemilik toko menunjuk pada Kemal yang sedang jongkok melihat barisan puding.
"Oh iya" nyonya Tias tersenyum dan mendekati Kemal "Mau beli puding?" Nyonya Tias bertanya pada Kemal
"Baiklah, puding stroberi dan roti susu Bu." Nyonya Tias membelikan apa yang diinginkan oleh Kemal, lalu membawah Kemal kembali pulang ke rumah.
Nyonya Tias tersenyum melihat cara Kemal makan dengan sangat lahap, dan hal itu membuat nyonya Tias jadi bernostalgia dengan masa kecil Kenan yang selalu menyukai roti isi susu dan selalu memakannya setiap hari tanpa bosan.
"Dia lucu sekali, putra siapa dia dan kenapa roti kesukaannya sama dengan mu waktu kamu kecil, bahkan pudingnya juga. Caranya makan mengingatkan aku akan masa kecil mu dulu." Nyonya Tias tersenyum menatap Kemal
"Dia putra kenalan Kenan ma, dan kebetulan orang tuanya sedang ada maslah jadi Kenan menawarkan diri untuk menjaganya sementara waktu karena Kenan sangat menyukainya, dan Kenan yakin kalau mama juga akan menyukainya karena anaknya sangat lucu." jawab Kenan yang masih tak berani jujur pada mamanya karena takut kalau nanti mamanya akan mengambil Kemal dari Fairi. Sebab Kenan berencana untuk menjalin hubungan baik dengan Fairi dan menunggu agar Fairi dengan suka rela memperkenalkan putranya pada orang tuanya sendiri.
__ADS_1
...💔💔💔...
Disaat Kenan mendekatkan dan mengenalkan putranya sama sang mama dengan cara tak mengatakan yang sebenarnya di tempat lain Tyas sedang merayakan keberhasilannya membuat Fairi hancur dengan membakar gudang dan pabrik Fairi yang ada di Bogor.
Malam itu Tyas dan teman - temannya sedang berpesta setelah dia selesai dengan pekerjaannya. Dan saat malam telah larut teman - teman Tyas mengantarkan Tyas pulang ke rumahnya. Terlihat nyonya Ayu sangat marah melihat tingkah Tyas yang dirasanya tak membantu apa pun dalam menyingkirkan Fairi yang merupakan batu sandungan untuk mereka.
Dengan marah nyonya Ayu membawah Tyas masuk kedalam kamarnya dan mendorong dengan keras tubuh Tyas ke tempat tidur hingga Tyas mengeluh. "Apa mama sudah gila hah?! Sakit tau." Tyas teriak dan menatap mamanya dengan marah.
"Kau yang sudah gila, kenapa kau tak membantu sama sekali. Bukankah aku sudah bilang pada mu untuk membuat anak tak tau diuntung itu angkat kaki dari perusahaan. Tapi apa yang sedang kau lakukan sekarang, kau mabuk - mabukan dengan teman - teman mu yang tak berguna itu dan tak melakukan apa pun." Nyonya Ayu sangat marah pada Tyas.
"Tak melakukan apa pun? Apa mama tau apa yang aku lakukan? Apa mama tau apa yang aku kerjakan?" Tyas bangun dari posisi duduknya dengan sempoyongan "mama selalu bilang ini dan itu tapi tak pernah mau membantu, mama hanya menyuruhku melakukan semua pekerjaan tapi mama tak pernah berusaha untuk mempermudah dan hanya bersenang - senang sendiri dengan teman sosialita mama yang banyak mengeluarkan uang itu."
"Jangan terus berjalan dengan oleng, duduklah kau membuatku susah." Nyonya Ayu mendorong Tyas dengan kesal.
"Apa mama tau kenapa papa pergi ke Bogor 2 hari ini, hah?! Dia sedang membenahi pabrik Fairi yang aku bakar." Tyas berteriak dengan sangat lantang.
"Kau bakar?" Nyonya Ayu sangat terkejud mendengar perkataan dari putrinya itu.
"Ya, aku bakar. Aku membakarnya, mama puas!" Tyas berteriak pada sang mama
Nyonya Ayu yang mendengar pernyataan dari putrinya itu bukannya senang tapi malah langsung menamparnya dengan sangat kuat sehingga Tyas terjatuh ke lantai. Dengan tatapan kaget dan juga bingung Tyas menatap mamanya sambil memegangi pipinya yang terasa panas dan sakit atas tamparan sang mama.
__ADS_1
"Apa kau sudah gila hah, apa kau tak berfikir kalau itu semua akan berdampak pada kita. Dimana otak mu Tyas?!" Nyonya Ayu menekan kepala putrinya dengan keras "kenapa kau tak pernah berfikir setiap kali melakukan tindakanmu, kenapa kau hanya berfikir dengan emosimu itu, gunakan akal mu. Bagaimana jika papamu tau kalau dalang dari semuanya adalah perbuatan mu, maka kita akan terusir dari rumah ini karena kita bukan siapa - siapa. Aku melakukan semuanya demi kebaikan kita berdua dan aku tak ingin hidup sengsara dengan papa kandung mu yang tak punya apa-apa untuk kita." Nyonya Ayu sangat marah besar, dia menghela nafas dan gontai lalu duduk di sofa dengan lemas.
"Ma, mama...tolong maafkan aku ma." Tyas bangun dan memohon maaf pada nyonya Ayu yang terduduk lemas di sofa setelah memarahi putrinya dan mengatakan kebenaran tentang siapa dirinya yang sebenarnya tak ada hubungan dan ikatan darah dengan tuan Adi.