
Pagi itu Fairi datang ke kantor dan dia mulai aktif bekerja di kantor mulai dari hari itu, dan untuk rapat pertama yang dihadirinya membuat semua orang merasa puas dengan segala penjelasan dan juga ide yang diutarakan oleh Fairi. Bahkan Tian Adi juga merasa sangat bangga dengan Fairi, karena tuan Adi tak pernah menyangka kalau putrinya itu memiliki kemampuan di bidang bisnis dengan sangat baik.
"Bagaimana menurut kalian semuanya apa kalian menyetujui dengan segala ulasan yang baru saja saya berikan? Jika ada yang merasa kurang silakan katakan saja karena saya tak akan merasa ciut untuk itu, siapa tau ide dari kalian ada yang bagus dan bisa dijalankan bersama." ucap Fairi didepan semuanya dan terlihat semua orang manggut - manggut tanda kalau mereka menyukai ide dari Fairi.
"Tidak ada Bu Laras, kami semua setuju dan suka dengan ide dari Bu Laras, serahkan proposal yang barusan dipersentasikan kepada kami maka kami akan langsung menanda tangani semuanya." jawab semua orang yang ada didalam ruang rapat.
Fairi tersenyum "baiklah kalau begitu nanti sekretaris saya akan menggandakannya dan membagikannya kepada kalian semua, terima kasih dan selamat bekerja kembali." jawab Fairi dan dia mengakhiri rapat hari itu.
"Gila keren sekali dia, aku belum pernah melihat seseorang yang begitu percaya diri dan juga sangat luas pengetahuannya, bahkan dia bisa memunculkan ide yang sama sekali tak pernah kita pikirkan sebelumnya."
"Benar, aku juga tak tau kalau cara seperti itu bisa digunakan dalam pemasaran."
Semua orang yang tadi ikut dalam rapat sedang membicarakan soal Fairi, dan juga memuji Fairi tanpa ada yang mereka tutupi. Karena mereka merasa kagum dan juga sangat menyukai cara kerja Fairi walau baru bergabung dan pertama kali mengikuti rapat resmi di perusahaan.
Didalam ruangannya Fairi berkerja dengan tenang dan melihat layar komputernya dengan sangat serius dan sesekali Fairi melihat berkas yang ada diatas mejanya. Hari itu Fairi bekerja dengan sangat serius karena dia sedang melakukan pekerjaan yang sedang berhubungan dengan tender perusahaan yang akan dilakukan dengan pihak luar di pusat kantornya yang ada di Bangkok.
Tok tok
"Masuk" suara Fairi dari dalam
"Bu Laras berkas yang harus ibu tanda tangani sudah saya bawakan semuanya dan untuk berkas rapat tadi juga sudah saya gandakan ." Lina masuk dan menyerahkan beberapa berkas pada Fairi.
"Hem, oh iya Lin tolong nanti kamu bantu aku menghubungi pihak Bangkok, kabari pada mereka kalau ada waktu ke sana aku akan terbang ke sana, tapi kalau tidak tolong lakukan rapatnya via video saja." perintah Fairi pada Lina.
"Baik Bu nanti saya akan langsung menghubungi kesana, apakah ada pesan lagi untuk mereka Bu?" Lina bertanya pada Fairi
"Tidak ada cukup itu saja." Fairi berkata dan tersenyum
"Baiklah Bu." Lina pun keluar dari ruangannya Fairi.
Didalam ruangannya tuan Adi merasa sangat senang dengan persentasi pertama Fairi untuk hari ini dan dia sangat bangga dengan putri yang selama ini tak pernah menganggapnya sebagai anggota keluarganya itu.
"Bagaimana dengan Fairi Han?" Tuan Adi bertanya pada Handoko
"Baik tuan dan kelihatannya non Fairi juga sangat beradaptasi dengan baik." jelas Handoko
"Dimana cucu ku, apakah dia ada di sekolahnya? Aku ingin menjemputnya." Tuan Adi berkata dengan sangat senang.
"Sepertinya sekolahnya sedang libur tuan, dan dia ada di rumah saat ini." jawab Handoko
__ADS_1
"Hah, aku ingin bertemu dengan dia apakah Fairi akan melarang ku untuk bertemu dengan bocah yang menggemaskan itu. Aku tak menyangka kalau aku akan memiliki cucu yang sangat menggemaskan dan sangat pintar." Tuan Adi berkata dengan sangat senang.
"Soal itu saya tidak tau tuan." Handoko berkata dengan ragu.
Disaat tuan Adi membahas soal Fairi dan cucunya dengan asistennya Lina yang telah menjadi asisten dari Fairi selama 3 bulan ini merasa sangat canggung dengan semua pertanyaan dari teman - temannya yang menanyakan soal Fairi dan cara kerja Fairi yang selama 3 bulan ini baru masuk kantor. Dan setelah bersusah paya Lina menghindari teman - temannya dia langsung berjalan menuju ke ruangan Fairi untuk bertanya soal makan siang Fairi.
"Bu Laras apa makan siangnya mau saya bawakan kesini saja." Lina menawarkan untuk membelikan makan siang untuk Fairi.
"Hem, apa kamu sudah makan Lin?" Fairi dengan tatapan lembut bertanya pada Lina asisten dan juga sekretarisnya itu.
"Belum Bu, saya akan makan di kafetaria kantor saja." Lina menjawab dengan tersenyum.
"Hem, kalau begitu ajak aku kesana aku mau makan disana bersama mu." Fairi berkata dan beranjak "Ayo, nunggu apa lagi aku sudah lapar." ajak Fairi yang sudah berjalan didepan pintu.
"Baik Bu." Lina tersenyum dan mengikuti Fairi dari belakang, "Ya ampun akan jadi bahan omongan orang - orang lagi ini aku nanti, karena.tadinsajansudah bersusah paya aku menghindari mereka." gumam dalam hati Lina.
"Katakan pada ku apa kamu sudah menikah atau punya kekasih Lin, karena aku tak pernah mendengarnya dari mu, sebab aku takut kalau nanti pekerjaan ya g aku berikan malah justru menyita waktu mu bersama dengan orang tersayang mu." Fairi bertanya sambil berjalan menuju kafetaria.
"Belum Bu saya tak pede untuk hal itu." Lina menjawab dengan malu
"Kalau kamu mau di Bangkok ada asisten ku yang bernama Lime, jika kamu mau aku akan memperkenalkan kalian berdua karena dia juga masih singel." Fairi berkata dan tersenyum melihat Lina yang malu - malu
"Bu Laras kenapa malah mau menjadi comblang untuk saya." Lina semakin malu dengan perkataan Fairi.
"Oh iya, apakah saya boleh bertanya pada anda Bu Laras? Karena saya sangat penasaran." Lina berkata dengan ragu - ragu dan mengalihkan pembicaraan tentang dirinya..
"Katakan apa itu." Fairi menjawab dengan tatapan penasaran.
"Apakah suami Bu Laras tak ikut kesini." Lina menatap dan langsung menunduk saat terlihat Fairi diam dan wajahnya menjadi kaku.
"Hahaha." detik berikutnya Fairi tertawa lebar
"Ya, kenapa dia malah tertawa lebar begitu." Lina bergumam dan menatap bingung pada Fairi.
"Bu Laras kita duduk dimeja sana." Lina menunjuk pada meja diujung kafetaria untuk mengalihkan pertanyaannya mengenai suami Fairi.
"Baiklah." Fairi mengangguk dengan tersenyum ramah.
Saat mereka berjalan memasuki kawasan kafetaria semua orang yang ada disana menatap dengan terkejud melihat Fairi dan Lina berjalan bersama masuk kedalam kafetaria. Dan mereka berdua terlihat seperti rekan kerja bukan atasan dan bawahan, Fairi yang selalu tersenyum dan bicara dengan Lina menarik perhatian dari semua pengunjung dari kafetaria itu.
__ADS_1
"Bu Laras ingin makan apa?" Lina menunjukkan menu pada Fairi.
"Nasi campur dan es jeruk saja, kamu pesanlah apa yang kamu mau aku akan traktir." Fairi berkata dengan tersenyum pada Lina
"Ya ampun apa benar dia adalah atasan Lina yang baru yang katanya datang dari Bangkok dan katanya juga bisa menundukkan tuan Adi itu? Mereka terlihat sangat akrab"
"Benar sepertinya dia tak sesuai dengan rumor yang beredar, dan sepertinya orangnya baik."
"Hem, mereka lebih terlihat seperti rekan kerja dari pada atasan dan bawahan kan."
Semua karyawan yang ada di kafetaria itu saling berbisik satu sama lain melihat keakraban antara Fairi dan Lina. Dan mereka menatap Fairi dengan penasaran karena selama ini Fairi tak pernah masuk kantor dan semua urusannya diserahkan pada Lina, sehingga mereka berfikir kalau Lina sangat sial karena bekerja dengan orang seperti Fairi, namun saat ini mereka justru berfikir berbeda saat melihat kedekatan antara Lina dan Fairi yang terlihat lebih akrab dan dekat seperti seorang sahabat.
Brrrt
"Halo sayang." Fairi menjawab panggilan teleponnya.
"Halo honey, aku main ke rumah mama Rita. Nanti kalau honey datang tolong bawakan aku snack keju dan sosis bakar." suara Kemal dari sebrang terdengar sangat riang.
"Pesanannya Bu." Lina meletakkan menu makanan yang tadi dipesan Fairi.
"Iya terima kasih." Fairi berkata dengan lembut dan hampir tak bersuara pada Lina.
"Baiklah baby, nanti mama akan menjemput setelah pulang kerja, jangan nakal dan dengarkan apa yang dikatakan oleh mama Rita ok." Fairi berkata dengan lembut.
"Ok honey, love you." jawab Kemal
"Hem, love you too baby." Fairi mengakhiri panggilannya dengan kata sayang.
"Adek Kemal bu." Lina bertanya saat Fairi sudah mematikan panggilannya.
"Hem, dia bilang sedang main ke rumah mama Rita nya dan ingin dijemput dengan membawah oleh - oleh." Fairi berkata dengan tersenyum bahagia.
"Kalau boleh tau kenapa dia memanggil ibu dengan sebutan honey bukan mama." Lina bertanya dengan penasaran.
"Itu karena dia selalu mencarikan jodoh untuk ku, dan selama tak ada yang cocok dengan ku maka dia berkata ingin menjaga dan menjadi kekasih ku, jadi dia memanggil ku honey biar orang - orang tau kalau dia adalah kekasih ku dan aku miliknya seorang." jawab Fairi dengan tersenyum bahagia.
"Ya ampun dia lucu sekali." Lina berkata dengan canggung karena pertanyaannya yang pertama tak dijawab oleh Fairi yang soal suami Fairi.
"Oh iya tadi kamu tanya soal suami ku kan, sebenarnya aku sudah janda saat aku mengandung kemal. Dan mantan suami ku ada di kota ini, aku melahirkan kemal dalam pelarian ku karena aku tak punya kekuatan untuk menghadapi semuanya, tapi sekarang aku sudah siap untuk menghadapi semua orang, karena semua sudah berlalu jadi aku tak akan mau kalah dari mereka semua, orang - orang yang serakah itu tak akan aku biarkan mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Dan aku akan mendapatkan semua yang menjadi hak ku. Jadi aku bilang pada om Handoko kalau aku butuh orang yang cekatan dan terampil serta mampu bertahan bekerja dengan ku dan juga setia padaku karena pertempuran akan dimulai saat dia kembali." Fairi berkata dengan serius.
__ADS_1
"Em, maksud Bu Laras siapa? Dan apakah saya dianggap layak untuk dipilih jadi bawahan anda oleh taun Handoko.
Fairi tersenyum menatap Lina "Sepertinya kamu orang yang dianggap mampu oleh om Han, dan orang itu adalah istri serta anak dari ayahku yang lain, Tyas dan Tante Ayu, dua orang yang sudah cukup lama menikmati kemewahan mereka." Fairi berkata dengan senyuman licik, dan hal itu membuat Lina kaget karena diantak pernah melihat ekspresi Fairi yang satu itu, karena terlihat dari ucapan dan juga senyuman Fairi terlihat jelas kalau Fairi siap untuk tempur.