Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
Episode 173


__ADS_3

Adnan masih menatap lorong itu, menunggu seseorang yang sangat Ia nantikan. Tatapannya tampak sangat gelisah, dan terus menantinya.


Diantara seluruh santri, tampak Ustazah Nazla yang sedikit membedakan dan menspecialkan Adnan, dan bocah itu dapat merasakannya.


Sesaat satu sosok tampak berjalan diujung lorong, lalu Adnan bangkit dari duduknya sembari mulutnya tak henti-hentinya terus mengulangi hafalannya. Sosok itu penyemangat hidupnya.


Saat sosok itu semakin mendekat, Ia semakin terus mengulangi hafalannya agar tak lagi melakukan kesalahan.


"Umi..." teriaknya. Seolah Ia memendam kerinduan yang teramat sangat. "Iya.. Sudah banyak hafalannya?" tanya Ustazah Nazla dengan lembut. Kata-kata wanita itu bagaikan air penyejuk yang merasuki relung hatinya.


Rasa dahaga terhadap belaian seorang Ibu. Sedari berusia 6 bulan Ia ditinggalkan Mamanya, lalu bersatu kembali lagi dengan sang Mama dalam kondisi yang memperihatinkan, lalu ditinggal selama-lamanya.


Dan rasa dahaga akan kasih sayang itu begitu membuncah diseluruh qalbunya, ingin rasanya Ia mendekap wanita didiepannya, nakun Ia seorang bocah berusia 13 tahun yang pastinya Ia memiliki tubuh tinggi seperti Papanya dan itu adalah hal yang tidak mungkin disebabkan mereka juga bukan muhrim.


Adnan berusaha mengerti batasan-batadan yang harus Ia jaga, sebab Ia sudah memepelajari ilmu fiqih dikelasnya, maka Ia sudah dapat membedakan yang mana harus dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan.


Sosok itu semakin dekat dengan seluruh tubuhnya yang tertutup dan tak terlihat satupun meskipun hanya kulitnya saja. Namun Adnan merasakan hatinya damai saat berdekatan dengan sosok wanita itu.


Semakin dekat, semakin Adnan gencar trus mengulangi hafalannya.


"Sudah banyak hafalannya?" tanya ustazah Nazla dengan begitu sangat lembutnya. Membuat Adnan semakin bersemangat.


Lalu bocah itu menganggukkan kepalanya, dan tersenyum.


"Ayo.. Kita setorannya ke Mushallah" ajak Ustazah Nazla, sembari berjalan menuju Mushallah.


Sementara itu, Reno merasa gelisah menanti Nazla yang katanya hanya sebentar saja ke pondok pesantren. Hari ini libur tidak masuk kekantor, karena masih suasana pengantin baru.


Reno keluar dari kamarnya, dan melihat Raisa baru saja selesai mandi dan sudah wangi.


"Pa.. Sekolah" ucap Raisa dengan nada menggemaskan. "Iya, besok Papa anterin kesekolah, hari ini libur dulu, Ya Sayang" rayu Reno sembari mengangkat puterinya.


Sesaat Abah baru selesai dengan dhuhanya, Ia mendengar percakapan Ayah dan anak perempuannya.

__ADS_1


"Raisa.. Sini sama Opa.. Raisa mau sekolahkan?" tanya Abah yang tampak dengan tatapan teduh.


Raisa seorang anak yang tidak pernah mau dengan orang asing, tiba-tiba saja menganggukkan kepalanya, lalu meminta turun dari gendongan Papanya.


Reno tak menduga jika Abah dapat menerima dengan mudah anaknya dan dianggap sebagai cucunya sendiri.


Raisa menghampiri Abah dengan suka rela.


"Wah.. Cucu, Opa sudah besar, sholeha lagi.." ucap Abah dengan begitu lembut, membuat hati Raisa merasa sangat senang mendapat pujian seperti itu.


Lalu Abah meraih sebuah kitab kecil yang ukurannya sangat tipis. Abah membuka lembaran pertamanya, dan meperlihatkannya kepada Raisa.


"Ini namanya huruf hijaiyah.. Raisa harus menghafalnya, agar bisa membaca Al-quran.. Raisa sayang tidak sama Papa dan Mama?" tanya Abah dengan begitu sangat lembutnya, kata-katanya bagaikan hipnotis yang dapat membuat siapapun akan menurutinya.


Raisa menganggukkan kepalanya "Tentu sayang, Opa.." jawab Raisa cepat.


"Nah.. Kalau sayang.. Kita mulai ya mengajinya, Ya.. Cucu Opa kan anak pintar" ucap Abah lagi, yang membuat Raisa semakin menurutinya.


Sementara itu, Adnan sudah selesai menyetorkan hafalannya. Ia begitu bersemangat untuk menjadi seorang hafiz.


"Nanti Kamu SMA-nya tetap disini, Ya? Jika Kamu dapat meraih predikat terbaik, Umi akan kirim kamu kuliah ke Mesir. Disana ada tempat kuliah favorite yang menjadi tujuan mahasiswa disegala penjuru dunia yang ingin menimba ilmunya ditempat favorite itu, kamu akan menjadi seorang ulama besar. " ucap Ustazah Nazla Memberikan semangat yang besar kepada Adnan.


Bocah tersenyum sumringah "Benarkah Umi? Adnan janji akan belajar lebih baik dan juga giat" jawab Adna dengan penuh semangat.


"Alhamdulillah.. Semoga ilmu yang baru kamu pelajari melekat dan menjadi berkah buat hidup kamu kelak.. Aamiin.." ucap Ustazah Nazla dengan nada lembut dan menyejukkan.


"Aamii.. " jawab Adnan penuh semangat.


"Kalau begitu Umi mau pulang kerumah dulu, karena ada sesuatu hal yang harus umi kerjakan" ucap Ustazah Nazla sembari membelai lembut ujung kepala Adnan.


Adnan menganggukkan kepalanya, dan tersenyum bahagia mendapati perlakuan tak biasa dari Nazla.


Lalu Nazla meninggalkan bocah itu dan berjalan menuju pulang. Nazla sudah mengambil cuti selama seminggu, Ia masih ingin menikmati masa-masa bulan madunya yang terasa begitu manis.

__ADS_1


Menikahi seorang duda ternyata lebih dari apa yang dibayangkannya. Dimana Ia melihat suaminya adalah sosok pria dewasa yang begitu memanjakannya dan juga menjadikannya seorang ratu dihatinya.


Nazla sudah sampai dirumah, Ia melihat Abah sedang mengajarkan huruf hijaiyah kepada Raisa sang puteri sambungnya.


Sikap Abah yang berbesar hati menerima Raisa dan juga Adnan merupakan kebahagiaan bagi Nazla, sebab itu merupakan hal yang sangat langka terjadi dikehidupan masyarakat.


Nazla melintasi keduanya, dan Ia menuju kamar untuk menemui suaminya dan ingin memasak untuk makan siang mereka


Baru saja Nazla masuk dan menutup pintunya, Reno sudah menyergap Istrinya dari nalim pintu, sebab Ia bersembunyi dibalik pintu saat mendengar langkah Nazla ingin masuk kedalam kamar.


Nazla tersentak kaget melihat perlakuan Reno yang sedari malam tadi tidak pernah ada habisnya melahabnya.


Mendapatkan istri seorang perawan membuatnya seakan tak pernah merasa bosan dan terus saja menggugah seleranya.


"Mas. Nazla mau masak untuk makan siang.. Nazla belum memasak" ucap Nazla yang kewalahan menghadapi Reno yang terlihat sangat buas.


"Jangan mikirin masak.. Ntar beli saja" jawab Reno seenaknya.


"Tapi Abah lebih suka masakan Umi atau Nazla, Mas.." jawab Nazla yang sudah terkungkung oleh tubuh kekar Reno.


"Iya.. Satu kali lagi saja. " ucap Reno tak ingin menyudahi aksinya.


Mengingat dosa akan menolak ajakan suaminya, akhirnya Nazla pasrah saja dengan apa yang diperbuat oleh Reno.


Semakin mengetahui hal tentang agama, maka akan semakin membuat Nazla menjadi seorang penurut kepada apapun yang diinginkan suaminya.


Janji yang hanya sekali saja, ternyata berlanjut hingga menjadi tiga ronde, membuat tenaga Nazla terkuras habis oleh sikap suaminya.


Nazla menganggap ini adalah resiko menikahi duda yang sudah lama berpuasa menahan hasrat. Setelah mendapatkan menu berbuka, rasanya seperti orang yang kelaparan dan tidak pernah ada kenyangnya.


"Bisa kehabisan energi lama-lama Nazla kalau begini, Mas.." celoteh Nazla yang tampak kelelahan diatas ranjang.


"Ntar kita kedokter, dan meminta obat oenambah darah dan juga vitamin buat kamu, Ya sayang.. Maafin, Mas.. Abisnya Kamu menggemaskan.." ucap Reno seenaknya. Lalu mengecup lenbut ujung kepala Nazla.

__ADS_1


__ADS_2