
Setelah dari kantor Kenan Fairi langsung pulang dan siap - siap untuk mengantarkan si bungsu ke tempat les piano karena dia sudah terlihat siap untuk berangkat dan hanya menunggu sang mama datang saja.
Terlihat Arlan sangat senang bermain piano dan Fairi merekamnya untuk mengabadikan moment putranya dengan senyuman yang merekah di wajahnya. Hasil rekaman itu sama Fairi dikirimkan ke Kemal yang saat ini sedang bermain basket bersama dengan teman - temannya karena dia telah aktif lagi dengan semua kegiatan sekolah dan juga belajar bisnis dengan papanya, untuk dipersiapkan sebagai ahli waris perusahaan besar.
"Bu Laras putranya ya." Seorang ibu - ibu yang juga mengantarkan anaknya
Fairi tersenyum dan mengangguk "apa anda juga mengatakan anak anda?"
"Benar saya juga mengantarkan putri saya, dia sedang latihan vokal." jawab ibu itu.
Sejak pertemuan itu Fairi jadi akrab dengan ibu itu dan mereka sering ngobrol bersama dan bercerita banyak hal yang seru, walau ada beberapa ibu - ibu yang terlihat berbisik dan menatap Fairi diam - diam tapi Fairi tak peduli dengan semua itu, karena bagi Fairi rasa sakit yang diterima oleh Fairi sudah cukup banyak dia terima jadi kalau cuma gunjingan itu tak mempengaruhi Fairi sama sekali.
"Mama..." Arlan lari dan memeluk Fairi dia terlihat sangat bahagia.
"Sudah selesai, kita pulang." Fairi membawah Arlan pulang
...💔💔💔...
"Kakak, papa." Arlan lari menghampiri Kemal dan Kenan yang sedang terlihat sibuk dengan beberapa tumpukan berkas
"Jangan bebankan semuanya padanya, biarkan dia memiliki banyak waktu untuk dirinya sendiri, aku gak mau kalau putraku merasa stres dan terbebani." Fairi berkata dan menatap Kenan dengan tajam
"Aku tau, aku tak memintanya untuk mengerjakan semuanya. Aku hanya menunjukkan dan memintanya untuk mempelajarinya saja." Kenan menjawab dengan cepat.
Terlihat mereka bertiga bermain dengan sangat seru, sedangkan Fairi sedang masak untuk makan malam dan diam - diam tersenyum melihat keseruan mereka bertiga.
"Bu Laras maaf apa saya boleh minta air." Agus mendekati Fairi dan meminta air minum pada Fairi.
"Oh, maafkan saya tunggu sebentar" Fairi mengambilkan air untuk Agus
"Terima kasih Bu Laras." Agus menerima dengan malu
"Tak apa, saya yang minta maaf karena gak perhatian. Oh iya kalau ada di rumah panggil Fairi saja tak perlu terlalu formal." Fairi berkata dengan tersenyum
"Kalau begitu saya panggil seperti man Ayub saja non Fairi, boleh?" Agus berkata dengan malu.
"Tentu silakan, oh iya Gus, tunggu sampai makan malam ya, kita makan malam bersama sebentar lagi selesai." Fairi berkata dengan ramah pada Agus
"Baik - baik terima kasih." Agus kembali pada posisinya duduk di samping pintu dengan tenang menyaksikan keseruan bosnya dan anak - anaknya.
Setelah selesai makan malam bersama Agus ijin kembali pulang dan bi Mina membereskan dapur, sedangkan Fairi sedang membereskan kamar anak - anaknya.
"Mama ayo main bersama, kita main tangkap penjahat dan polisi." Arlan membawah Fairi bergabung dalam permainan mereka saat melihat Fairi keluar dari kamarnya.
"Eh tunggu dulu, mama gak tau cara mainnya." Fairi menolak karena sebenarnya dia gak mau main bareng Kenan.
"Muda kok ma, mama mau jadi penjahatnya atau polisi. Kalau polisi mama tinggal menangkap apa yang dibawah oleh penjahat, dan jika mama jadi penjahat mama harus sebisa mungkin membuat benda yang mama pegang tak tertangkap oleh polisi." Jelas Kemal
"Baiklah kalau begitu mama jadi polisi saja." Fairi memilih jadi polisi
__ADS_1
"Yeeee, mama satu regu sama aku." Arlan terlihat sangat senang.
Permainan pun dimulai Arlan berusaha untuk meraih robot yang dipegang oleh Kemal dan Fairi berusaha untuk mendapatkan bunga yang dibawah oleh Kenan. Mereka terlihat sangat seru dan menikmati permainan.
"Awas jangan sampai kena pa." Kemal mengingatkan papanya
"Tentu." Kenan terus memutar bunga itu agar Fairi tak dapat meraihnya.
"Jangan curang kamu Ken." Fairi marah saat Kenan menyentuh pinggangnya waktu Fairi hampir mendapatkan bunganya.
"Siapa yang curang, semua boleh dilakukan kok." Kenan membelah diri
Fairi pun mulai lupa kalau dia sedang jaga jarak dengan Kenan dan dia pun mulai sangat gigih untuk mendapatkan bunga yang dipegang Kenan.
"Ayo dapatkan bunganya itu, mama bisa." Arlan berteriak dengam seru
"Jangan kalah pa." Kemal pun menyemangati kenan.
"Kau tak bisa menghindar lagi Ken." Fairi menahan tangan Kenan yang satunya dan meraih bunga yang dinaikkan keatas sama kenan. "Dapat, mama dapat."
"Eh." Fairi kaget karena tergelincir
"Oh." Kenan berusaha menahan tubuh Fairi
Mereka berdua jatuh bersama dengan posisi Kenan dibawah dan Fairi diatas. Mereka jatuh dengan posisi yang sangat absurd untuk dilihat, dan dengan tak sengaja bibir mereka beradu temu satu sama lain.
"Ya mama jatuh." Arlan mengeluh dan Kemal langsung menutup mata adiknya itu.
Kedua orang itu jadi canggung, Fairi dengan cepat berdiri dan meninggalkan ruang tengah dan pergi ke kamarnya.
"Aku mau mandi dulu, kalian kalau selesai cepat mandi dan tidur."
"Ah iya ini sudah malam ayo kita pergi bersih - bersih dan tidur." Kenan pun membawah Arlan pergi ke kamarnya.
"Kenapa dengan mereka, seperti anak kecil saja. Bukannya mereka sudah pernah menikah dan melahirkan aku, aneh." Kemal bergumam dan menatap heran kepada kedua orang tuanya.
Setelah Kenan selesai memandikan Arlan dan siap - siap untuk istirahat Kemal pun juga mandi di kamarnya sendiri dan pergi ke kamar adiknya untuk melihat adik dan papanya.
"Oh dia sudah tidur pa." Kemal yang masih mengeringkan rambutnya dengan handuk berjalan mendekati Kenan yang sedang duduk di sofa sedang melihat beberapa berkas.
"Sudah barusan, kau tak pergi tidur. Nanti kalau mamamu tau dia akan marah pada mu." jawab Kenan tanpa melihat Kemal
"Mama tak pernah marah lagi padaku pa kalau aku telat tidur karena aku sudah besar hahaha." Kemal menjawab dan tertawa.
"Jangan berisik nanti adikmu bangun." Kenan memukul bahu Kemal
"Oh iya lupa. Pa, bolehkah aku tanya sesuatu sama papa." Kemal
"Apa, tanya saja." Kenan
__ADS_1
"Tapi ini sedikit sensitif dan pribadi." Kemal
"Coba katakan dulu apa." Kenan
"Apa papa masih mencintai mama, dan ada apa dengan kalian sampai berpisah hingga aku lahir dan besar tanpa tau siapa papa." Kemal
"Hem..semua adalah kesalahan papa karena mengkhianati mamamu." Kenan
"Hem, apa sampai separah itu hingga mama tak bisa melupakan rasa sakit itu." Kemal
Kenan menatap Kemal dan dia tersenyum, Kenan tak pernah menyangka kalau dia akan ada waktunya untuk berdiskusi dan membicarakan soal masalahnya dengan Fairi pada anak mereka yang saat ini telah tumbuh dewasa.
"Papa tak pernah menyangka kalau papa sudah tua." Kenan mengusap kepala Kemal
"Eh, apa maksudnya." Kemal memiringkan kepalanya
"Tidak bukan apa - apa, papa hanya tak menyangka kalau kamu sudah besar dan bisa diajak bicara soal ini." Kenan
"Tapi pa, apa papa tak masalah dengan perubahan wajah mama yang seperti sekarang ini. Kadang aku masih merasa aneh kalau melihat mama, tapi saat aku merasakan perhatian dan kasih sayangnya aku sangat bahagia karena dia adalah mamaku dan tak akan pernah berubah sampai kapan pun, walau wajahnya telah berubah menjadi wajah baru yang terlihat cantik iya kan pa." Kemal
"Ya mamamu terlihat lebih cantik dan muda sekarang, tapi dia masih tetap sama galaknya." Kenan
Kemal tersenyum mendengar jawab dari papanya "namanya juga orangnya sama pa, hanya beda wajahnya karena operasi."
"Apa papa masih mencintainya, atau lebih mencintainya karena wajahnya lebih cantik dan muda." Kemal
"Apa kamu sudah gila, tentu saja papa masih mencintainya karena dia adalah mamamu. Seperti apa pun perubahannya asalkan dia adalah mamamu papa akan selalu mencintainya." Kenan menjawab dengan sangat serius dan penuh dengan keyakinan.
"Hem, papa ini, pantas saja mama masih marah. Papa selalu bilang cinta padanya tapi papa juga yang telah menduakannya." Kemal
"Jangan bahas masa lalu, karena sebenarnya dulu papa tak tau kalau papa mencintai mamamu. Papa hanya menganggap kalau itu adalah perasaan terbiasa karena sering bertemu dan tinggal bersama, namun saat mendapati mamamu menghilang dan menceraikan papa, barulah papa mengerti dan menyadari kalau itu bukan hanya perasaan terbiasa tapi itu adalah cinta." Kenan berkata dan bersandar pada sandaran sofa sambil membayangkan masa lalunya.
Kemal menghela nafas dalam melihat papanya "ya penyesalan memang selalu datang terlambat pa."
"Tapi mama adalah wanita yang baik dan berhati lembut, selama papa menunjukkan keseriusan dan ketulusan papa sekarang aku yakin mama akan memaafkan papa dan menerima papa lagi."
"Apa kau yakin?" Kenan menatap Kemal
"Yakin, karena aku mengenal siapa mamaku. Dia adalah orang yang sangat baik dan lembut. Papa harus bersabar karena saat itu akan datang pada papa."
"Tapi jika saat itu telah kembali pada papa tolong jangan sakiti mama lagi, karena jika tidak maka aku yang akan berurusan dengan papa."
Kemal berkata pada Kenan dengan serius, selain dia memberikan keyakinan dan semangat pada papanya dia juga memberikan ancaman pada papanya.
"Kau benar - benar ya, memberikan obat sekaligus memberikan racun." Kenan
"Hanya memperingatkan saja." Kemal tersenyum pada Kenan
"Baiklah, papa cepat istirahat biar besok aku yang melihat laporannya."
__ADS_1
Kemal bangun dan kembali ke kamarnya sambil tersenyum menatap Kenan.
"Dia benar - benar sudah dewasa." Kenan pun menutup laptopnya dan menata berkasnya lalu pergi tidur disebelah Arlan dan memeluk tubuh kecil Arlan yang menggeliat dan masuk kedalam pelukan Kenan.