
Pagi itu setelah selesai mengantarkan Kemal ke sekolahnya Fairi langsung menuju ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya dan mengirim pesan email pada tuan Jhonson atas berkas kerja samanya dan juga kuasa atas pembelian sahamnya. Terlihat Fairi pagi itu berdandan sedikit berbeda dari biasanya, dengan kebiasaannya yang suka menguncir rambutnya dengan gaya kuncir kuda hari ini dia menggerai rambutnya dan mengambil sebagian untuk diikat diatas kepala dengan tali pita warna biru yang senada dengan baju yang dia kenakan hari ini. Orang - orang yang melihat juga merasa heran kenapa gaya berpenampilan Fairi tiba - tiba saja berubah.
"Selamat pagi non." Handoko menyapa Fairi saat mereka bertemu di depan lif.
"Pagi om Han, mau menemui ayah ya." jawab Fairi yang terlihat lebih santai mengucapkan kata ayah.
"Iya, apakah hari ini suasana hati mu sedang baik." Handoko bertanya karena merasa penasaran. Tapi Fairi menatapnya dan tersenyum tanpa memberikan jawabannya lalu keluar dari lif begitu saja.
Handoko pun merasa bingung dengan reaksi dari Fairi yang tak seperti biasanya, bahkan gaya dan penampilannya juga berubah. Handoko berjalan dengan pikiran yang bingung dan pertanyaan yang banyak di kepalanya atas apa yang barusan dia lihat dari reaksi Fairi yang berbeda.
"Bagaimana Han apa ada perkembangan?" Tuan Adi yang memberikan pekerjaan lain pada Handoko asistennya menanyakan atas perkembangan pekerjaannya, "kenapa Han, apa pekerjaannya terlalu berat untuk mu?" Tuan Adi merasa aneh melihat Handoko yang sudah bekerja padanya selama puluhan tahun jadi bengong. "Han, hei Han." Tuan Adi menggoyang tangan Handoko.
"Oh, maaf. Semua berjalan dengan lancar dan sesuai dengan rencana pak, tidak ada masalah semua baik - baik saja, dan anda harus melihat ini pak." Handoko menunjukkan sebuah rekaman pada tuan Adi.
"Kau melamun begitu ku pikir pekerjaannya terlalu sulit untuk kau tangani." Tuan Adi berkata dengan khawatir
"Tidak sama sekali pak, saya cuma merasa aneh pada non Fairi pagi ini, dia terlihat lebih bersemangat dan juga..." Handoko menjawab dan tersenyum lalu sedikit berfikir.
"Bagus dong kalau dia bersemangat Han, dari pada dia tambah mundur dengan masalahnya itu akan lebih mengawatirkan." Tuan Adi berkata dan Handoko mengangguk.
"Kau mengambilnya dimana ini Han, kenapa ada rekaman seperti ini." Tuan Adi melihat handphone Handoko dan tersenyum
"Itu diambil 3 hari yang lalu pak saat saya meminta orang untuk mengikuti non Fairi. Dan sepertinya non Fairi juga sudah menemukan pembeli atas sahamnya yang dia tawarkan. Orang itu bernama Jhonson, dia adalah atasan non Fairi waktu bekerja di hotel sebelum non Fairi menghubungi anda." jelas Handoko secara lengkap.
"Hem, jadi sebelum dia memintaku untuk melindungi data dirinya dia memiliki orang lain untuk melindunginya. Apakah orang itu adalah Jhonson mantan atasannya ini." tanya tuan Adi.
"Kalau soal itu bukan dia pak melainkan paman dari temannya yang bernama Sri Wati yang telah bersama dengannya selama jadi model. Dia adalah tuan Sujono manajer di hotel Janson
"Hem, sepertinya dia sudah tau kalau Fairi kembali jadi dia membuka semua akses soal jati diri Fairi selama ini. Apa kau tau seperti apa orang itu? Jika ada kemungkinan atur pertemuanku dengannya karena sepertinya dia memiliki pengaruh yang luar biasa." Tuan Adi meminta pada Handoko untuk mengatur pertemuan dengan tuan Sujono.
"Baik pak saya akan melakukannya, seperti apa dia saya masih belum menyelidikinya dengan benar, dan sepertinya dia memang orang yang berpengaruh." jawab Handoko.
Beberapa hari telah berlalu namun Handoko tak dapat menemukan resume soal siapa Sujono sebenarnya, selain dia adalah seorang manager hotel Janson dan orang kepercayaan dari keluar besar Jhonson tak ada lagi data tentang dia yang berarti. Bahkan hubungannya dengan Sri Wati pun bukanlah paman kandung dari orangtuanya melainkan anak angkat.
__ADS_1
...💔💔💔...
"Hei ken." Farid langsung nyelonong masuk kedalam ruangan Kenan
"Hem, kenapa." Kenan menatap bingung pada sahabatnya itu yang terlihat sangat tegang
Farid pun menceritakan apa yang ingin dia ceritakan dan Kenan mendengarkan dengan seksama sambil sesekali dia tersenyum melihat Farid cerita. Karena tak sabar Farid pun memukul Kenan karena ditertawakan padahal dia sedang cerita dengan sangat serius.
"Aduh sakit tau." Kenan tersenyum dan memegangi bahunya yang dipukul Farid sama penggaris.
"Lah kau ada orang cerita serius malah ketawa mulu dari tadi kan jadi kesel aku. Apa kau tak tau kalau aku khawatir." Farid berkata dengan serius
"Aku tau, aku tau. Tapi untuk hal itu aku juga tak tau dan tak mengerti kenapa tiba - tiba Fairi berubah pikiran dan menjualnya pada orang lain, yang sialnya orang itu adalah mantan bosnya dan juga memiliki pabrik yang sama sehingga Fairi melakukan kerja sama dengan dia dan bisa memproduksi lagi tanpa harus menunggu semuanya stabil." Kenan menjelaskan dan menghela nafas dalam.
"Jadi kau sudah tau kalau dia merubah keputusannya dan menjual sahamnya pada orang lain?" Farid memastikan lagi dengan menatap Kenan
"Hem, aku sudah tau saat hari pertama mereka melakukan kesepakatan bersama. Aku juga marah pada awalnya dan merasa tak terima dengan keputusan Fairi yang secara sepihak itu, tapi melihatnya bersih keras menjual pada orang lain aku mencobak untuk menerima." Kenan berkata dengan pasrah.
"Aku tau, tapi waktu itu Fairi tak menjawab iya atau tidak. Dia hanya bilang kalau masalahnya selesai dan rapat dibubarkan, jadi dia juga tak salah karena kami memang tak ada kesepakan secara tertulis." jawab Kenan dan tersenyum pada Farid.
"Hem...benar juga, tapi aku tak pernah menyangka kalau akan jadi begini. Ku pikir kalian sudah menjadi dekat setelah ku lihat rekaman kalian yang bermain dengan seru disebuah pusat hiburan." Farid pun mulai pasrah dan merilekskan tubuhnya di sofa.
"Tapi saya pikir bu Laras punya alasan yang kuat untuk melakukan itu." tiba - tiba saja Agus yang dari tadi diam bersuara, sehingga Kenan dan Farid menatapnya dengan tajam.
"Oh maaf, saya hanya menyimpulkan saja. Karena waktu di mol hari itu Lina asistennya berkata pada saya soal kesepakatan itu memang sengaja dirubah." Agus bicara dengan hati - hati
"Ceritakan dengan lengkap." Farid berkata dengan tak sabar dan Kenan mengangguk.
Seminggu sebelumnya
Lina yang menjadi korban kebingungan itu tak ingin bingung sendirian, Lina dengan cepat mendekati Agus dan menarik tangan Agus untuk menjauh dari Kenan dan Fairi. Sedangkan Agus yang ditarik tiba - tiba merasa bingung menatap Lina yang menurut Agus terlalu agresif sebagai seorang wanita.
"Ada apa, kenapa kau menarik aku." Agus berkata dengan kesal pada Lina
__ADS_1
"Hei, kau tau sesuatu kan." Lina mendekatkan wajahnya pada wajah Agus dan spontan Agus menjauh.
"Tau apa, kau ini sembarangan saja. Aku sedang bekerja." Agus cuek dan hendak pergi.
"Hei kau mau kemana, katakan pada ku kalau sebenarnya kau tau hubungan mereka dan kau juga tau ada sesuatu diantara mereka iya kan? Karena kau tak terkejud sedikit pun saat melihat kebersamaan mereka." Lina menunjuk pada Fairi dan Kenan.
"Mereka adalah rekan bisnis dan mereka dekat apa salahnya? Apakah itu mempengaruhi mu, atau mengganggu mu." Agus berkata dengan kesal.
"Oh jadi kau tak mau cerita. Baik aku akan membongkar kisahmu yang diam - diam mencintai ibu tiri mu, apa yang akan orang pikirkan seorang asisten yang agung ternyata jatuh cinta pada ibu tirinya sendiri." Lina berkata sambil melipat kedua tangannya didepan dada.
"Hei kau...ok, tapi sebelum aku kasih tau apa yang ingin kau ketahui, ayo buat kesepakatan. Aku akan tanya padamu juga soal kesepakatan jual beli yang dilakukan oleh bosmu." tegas Agus pada Lina
"Sudah seperti ini kau masih mau membuat kesepakatan hah?" Lina jadi tak sabar
"Kau tak mau ya sudah, aku juga tak peduli dengan kau yang ingin menyebarkan berita itu karena ayahku sudah mati." Agus pun berlalu
Tapi baru beberapa langkah akhirnya Lina mengalah dan menceritakan kenapa Fairi tiba - tiba merubah kesepakatannya secara sepihak dengan Kenan, padahal berkasnya sudah dibuat dan tinggal tandatangan saja.
"Kau puas." Lina menatap Agus kesal.
"Puas, baiklah. Mereka adalah mantan suami istri dan mereka terhubung lagi setelah berpisah lama karena ada anak diantara mereka berdua. Itulah hubungan yang mereka miliki, jadi tak heran kalau mereka saling dekat dan pelukan. Ok nona asisten." Agus menyentil kening Lina dan pergi sambil tersenyum karena dia merasa menang dari Lina. Dan Lina hanya menahan keningnya yang terasa sakit atas sentilan Agus.
Saat ini
"Jadi begitu ya, sepertinya dia punya rencananya sendiri, aku akan cari tau darinya apa itu. Terima kasih Gus kau sangat luar biasa." Kenan memuji Agus dan Agus merasa sangat bangga dipuji oleh bosnya secara langsung.
"Hem, tapi menurutku kau bukannya mencintai ibu tiri mu. Melainkan mencintai putri dari ibu tirimu ya, dan jangan bilang kalau orang itu adalah Lina asisten Fairi" Farid berkata dan menatap Agus tajam
Seketika Agus terlihat salah tingkah karena tebakan dari Farid sangat tepat sasaran. Dan Kenan sama Farid pun tertawa melihat tingkah Agus yang jadi serba salah karena berusaha menutupi kebenarannya.
Kenan masih terbahak melihat Agus "Ok, ok. Aku tak keberatan kau mau berhubungan dengan siapa pun, yang Penting jangan sampai kau melakukan kesalahan sama seperti ku. Tak melihat dan mengenali orang yang ku cintai." ucap Kenan memberi nasehat.
"Ya benar, itu jadi pelajaran. Sebelum kau menentukan target cintamu setidaknya kau harus tau dengan pasti orangnya." Farid juga ikut menasehati. Dan Agus tersenyum malu sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
__ADS_1