
Fairi merasa sangat nyaman duduk dipangkuan Kenan dan dia tak malu dengan terus menggoda Kenan dan mengabaikan Sofiana, bahkan Fairi tak merasa terganggu dengan pandangan orang lain yang ada di restoran itu dengan terus melihatnya.
"Ken apakah kau tak merasa malu melakukan ini." Sofiana terlihat sangat kesal
"Hem." Kenan hanya merespon sebentar dan pandangannya teralihkan karena tangan Fairi dengan sangat ramah menyentuh setiap bagian sensitif Kenan yang masih terbungkus oleh baju dan jasnya.
"Nyonya Larasati apakah anda sebagai pemilik perusahaan besar tak merasa malu bertingkah seperti seorang wanita nakal begitu" Sofiana
"Nyonya Kenan, itulah yang sebenarnya." Fairi berkata tanpa melihat Sofiana
"Kau" Kenan menahan tanga Fairi yang berjalan kesana kemari dan masuk kedalam jasnya.
"Kenapa, kau tergoda." Fairi tersenyum jail.
"Kalian harusnya menghormati orang yang ada di sini, karena ini bukanlah tempat untuk menunjukkan kemesraan yang murahan seperti ini" Sofiana
"Baiklah, jangan pulang terlalu malam ya. Karena sepertinya ada suara sumbang yang memaksaku untuk pergi." Fairi berkata dan bangun dari pangkuan Kenan
Terlihat tatapan Kenan seketika kosong saat Fairi bangun seolah ada sesuatu yang hilang dari pandangnya.
"Hei." Kenan menarik tangan Fairi
"Hem, kenapa." Fairi menoleh dan bertanya pada Kenan
Kenan bangun dari duduknya dan menatap Lina yang berdiri tepat didepannya. "Lin panggil Agus untuk membereskan semua yang ada di sini."
"Baik pak" Lina menjawab dengan cepat
"Ken." Sofiana menatap Kenan
Kenan tak menghiraukan panggilan Sofiana dan dia dengan cepat mengangkat Fairi dalam gendongannya seperti tuan putri
"Aah" Fairi yang kaget langsung mengalungkan tangannya di leher Kenan.
"Dan aku akan membereskan mu" bisik Kenan menatap Fairi sambil tersenyum.
Fairi pun tersenyum dan dia melihat kearah Sofiana lalu menggerakkan jemari tangannya dan berkata "bye" dengan gerakan bibirnya tanpa mengeluarkan suara, Fairi senyuman meremehkan saat Kenan berjalan membawahnya pergi dari restoran itu.
"Kenan." Sofiana memanggil Kenan namun yang dipanggil tak respon dan cuek.
"Oh maaf, saya harus menghubungi tunangan saya. Bye" Lina berkata dan bergaya dengan centil pada Sofiana yang sedang berdiri dengan menahan marah serta malu.
"Halo sayang bisakah kamu sekarang datang ke restoran Cina aku menunggumu di sini segerah ini perintah bos kita" Lina bicara dengan Agus lewat telepon dengan suara keras seolah sedang mengejek Sofiana.
Dengan kesal Sofiana meninggalkan restoran itu dan semua orang yang ada disana berkasak kusuk serta berbisik menatap kepergian Sofiana.
"Auh" Fairi menjerit ringan saat Kenan memasukkan kedalam mobil dengan keras.
Kenan melajukan mobilnya dan Fairi hanya menatap dengan tersenyum, seolah Fairi tau apa yang sedang ditahan oleh Kenan. Dan saat berada di jalan tol yang sepi Kenan menepikan mobilnya
"Eh kenapa berhenti di sini mas?" Fairi bertanya dengan wajah bodoh.
"Apa kau sengaja melakukan ini hah?" Kenan mendekat dan menurunkan sandaran kursi Fairi
__ADS_1
"Apa maksudmu" Fairi menatap polos.
"Aku suka dengan aksimu yang membuatku lepas darinya, tapi aku tak pernah menyangka kalau kamu bisa bertingkah dengan sangat nakal sepeti tadi." Kenan mendekati Fairi dan menciumnya
"Mas ini dijalan raya loh." Fairi mulai merasa panik
"Sudah terlambat untukmu merasa panik, dan tak akan ada yang tau kalau kamu diam dan menahan suaramu." Kenan mulai bertindak.
"Hem mas." Fairi menahan suaranya
"Apa kau sengaja memakai baju dengan bawahan sepan seperti ini, agar memudahkan aku untuk membuka dan melakukannya." Kenan
"Jangan konyol." Fairi
Mobil pun bergoyang karena aksi Kenan yang tak mampu menahan diri dan sedang berusaha untuk melemaskan kembali uratnya yang saat ini sedang mengeras bagai baja.
"Kau keterlaluan mas, tak bisakah menahannya sampai rumah." Fairi membetulkan baju bawahnya.
"Di rumah nanti kita sambung sayang, karena tadi hanya pemanasan saja" Kenan berkata sambil tersenyum, dia merasa puas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sampai keluar jalur tol dan menuju kesuatau tempat.
"Eh kita mau kemana kok ini bukan arah jalan pulang." Fairi menatap bingung pada jalan yang berbeda dari jalan menuju rumahnya.
"Apa kau lupa, kalau kau baru saja menguras setengah dari tenagaku. Dan juga membuat ku tak bisa menikmati makan malam ku sebelumnya, karena aku belum menyelesaikan makan malam ku tapi kau sudah membuatku sangat bersemangat dan bergairah, jadi aku merasa lapar sekarang"
"Kita makan dulu, mengisi nutrisi untuk pertempuran kita selanjutnya nanti di rumah."
Kenan berkata dan sekilas menatap Fairi, lalu dia tersenyum merasa sangat lega dan juga ringan.
Kenan hanya tersenyum dan mengusap kepala Fairi dengan lembut. Dan dia menarik tangan Fairi untuk digenggamnya serta diciumnya.
"Kita sudah sampai ayo turun" Kenan membawah Fairi ke restoran elit di hotel bintang 5
"Apa kau sudah gila, kau ingin aku pergi dengan penampilan seperti ini mas? Kau sudah membuat tatanan rambutku berantakan, aku gak mau." Fairi menolak karena rambutnya sudah berantakan oleh ulah Kenan tadi.
"Kamu tetap cantik kok" Kenan menarik ikat rambut Fairi dan membuat rambut Fairi tergerai panjang.
"Ayo keluar." Kenan keluar dari mobil
"Eh, ayo keluar sayang." Kenan membukakan pintu untuk Fairi, namun Fairi menolak karena dia merasa malu dan tak percaya diri karena merasa kalau dia telah berantakan
"Sayang, mau turun sendiri atau ku gendong lagi." Kenan menatap tak sabar
"Aku gak mau, sebaiknya mas makan sendiri saja" Fairi masih menolak
"Sayang." Kenan menekan kata - katanya
"Apa kau ingin aku pergi tanpa memakai itu" Fairi menatap marah pada Kenan dan menunjuk pada benda yang tergeletak dibawah kakinya.
Kenan yang mengerti pun tersenyum dan menundukkan kepalanya lalu mendekatkan pada wajah Fairi yang terlihat be te.
"Tak akan ada yang tau kalau kamu datang dengan memakai ****** ***** atau tidak sayang"
"Mas.!!" Fairi
__ADS_1
Kenan tersenyum "jangan khawatir sayang aku sangat sehat dan juga para kecebong ku sangat sehat dan kental jadi mereka tak akan merambat keluar tenanglah." Kenan berkata dengan percaya diri dan Fairi menatap serta melotot pada Kenan
"Sudah ayo, jangan drama lagi aku lapar ini sayang." Kenan mengeluh pada Fairi
Fairi pun mengalah dan keluar dari mobil, Fairi terlihat tak percaya diri dan dia terus membetulkan bajunya serat depannya, Kenan tersenyum dan merapikan rambut Fairi
"Sudah sayang, kamu cantik kok dan juga rapi. Tak akan ada yang tau kalau kamu tak memakai dalamndibagian bawah." bisik Kenan
"mas." Fairi mendorong dada Kenan
"Ayo" Kenan membawah Fairi, dan mereka berjalan masuk dengan tangan Kenan melingkar di pinggang Fairi
...💔💔💔...
"Sial, berani sekali dia."
"Kenan, hari ini kau telah mengabaikan ku dan membuat ku malu."
"Semua karena wanita ****** itu, dia telah membuatku malu dan mempermainkan aku."
"Lihat saja aku akan membalas mu nanti, jangan sebut aku Sofiana jika aku tak bisa mendapatkan dan merebut apa yang kau miliki itu Laras."
"Aaarh, kau tak akan ku maafkan."
Sofiana yang sedang ada di rumahnya berkata dengan kesal dan sangat marah dengan tindakan Fairi yang telah membuatnya malu di tempat umum tadi.
"Kenan kenapa, kenapa kau mengabaikan ku dan memilih dia" Sofiana mulai minum dan mabuk
"Larasati, jika aku tak bisa membuat Kenan jadi milikku maka aku juga tak akan membiarkan kamu memilikinya"
Sofiana menghabiskan langsung botol minumannya dan dia membuka yang baru lagi
"Aku, aku pasti akan membuat kamu ditinggalkan oleh Kenan."
"Aku membenci mu Larasati."
Sofiana pun mabuk berat dan mulai menghubungi seseorang dari teleponnya. "Halo Ken, Ken aku sangat merindukanmu tolong temani aku malam ini Ken."
Tak lama setelah telepon Sofiana tertidur di sofa dan terdengar seseorang menekan bel rumahnya
"Ken, kau datang Ken. Aku sangat merindukanmu."
Sofiana dengan sempoyongan berjalan membuka pintu rumahnya dan tersenyum melihat siapa yang datang dan berdiri didepan rumahnya
"Ken, kenan"
Sofiana memeluknya dan menciumnya dengan sangat lalu membawanya masuk kedalam rumah. Mereka seolah sedang melepaskan rindu satu sama lain, saling menyatukan bibir dan menikmati setiap sentuhan yang dibuat untuk dirinya sehingga Sofiana terlihat sangat menikmatinya.
Mereka melakukan aktifitas malamnya disebuah rumah itu, mulai dari ruang tamu, ruang tengah, ruang makan dan berakhir di kamar tidur. Permainan mereka seolah tak berujung dan seakan tak ada hari lain selai hari itu.
"Oh, ah."
Suara merdu dan teriakan kenikmatan dari Sofiana menghiasi seluruh rumahnya. Dan permainan mereka sungguh sangat panas dan penuh dengan semangat.
__ADS_1