Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
Episode 200


__ADS_3

Zain dan juga Khumairah sudah membentangkan tikar pemberian Halim didalam kamar, dan kini mereka akan beristirahat.


"Mandilah, lalu beristirahat. Mas akan shalat maghrib dulu, dan mengirimkan doa untuk Ayah" ucap Zain, lalu menuju kamar mandi dan ingin membersihkan dirinya.


Khumairah menganggukkan kepalanya, lalu menunggu Zain selesai dari kamar mandi, Ia menyediakan pakaian almarhum ayahnya yang akan digunakan Zain, sebab suaminya itu tidak memiliki pakaian dari awal pertemuan mereka, karena Zain hanya memakai satu pakaian yang melekat ditubuhnya.


Setelah Zain selesai membersihkan diri, Khumairah memeperlihatkan pakaian yang sudah disediakannya, dan kini Ia yang giliran untuk mandi.


Zain mengagukkan kepalanya, dan mengenakan pakaian mertuanya dengan apa adanya. Pria itu mengenakannya, dan melaksanakan shalat Maghribnya lalu membaca surah pendek dan menghadiakannya diakhir doanya untuk sang Ayah mertua.


Khumairah membersihkan dirinya, rasa lelah dan penat yang menghampirinya membuat tubuhnya bagaikan remuk redam.


Namun Ia juga sangat senang, sebab Ia dapat melihat dunia luar yang sangat berbeda.


Setelah selesai membersihkan diri, Ia melihat Zain menyeduh Mie instan, makanan itu sangat jarang sekali dinikmatinya, sebab Almarhum ayahnya sangat jarang membelinya.


"Mas dapat Mie instan ini dari mana?" tanya Khumairah penasaran.


"Ini beli diwarung yang tak jauh dari rumah kontrakan ini, air panasnya minta dengan pak Halim" jawab Zain menerangkan.


Khumairah menganggukkan kepalanya, mencoba memahami apa yang dikatakan oleh suaminya.


"Segeralah ganti pakaian, Kita akan makan" ucapnya dengan nada perintah.


Khumairah mengganti pakaiannya, lalu kembali keruang tengah untuk menemui Zain. Rasa lapar dan penasaran akan mie instan itu membuatnya mempercepat langkahnya.


Keduanya lalu menyantab mie instan tersebut dengan lahabnya. "Enak, Mas" ungkap Khumairah seolah seperti tak pernah merasakan nik-matnya mie instan.


Zain tersenyum dengan geli, lalu melanjutkan santapannya. Setelah selesai makan, Keduanya menuju kamar untuk beristirahat.


Khumairah yang sudah terkena panah asmara, merasakan tubuhnya panas dingin saat tidur berduaan dengan sang suami.


Ia menggeliat bagaikan cacing yang kepanasan dan gelisah tak menentu. Zain yang menyadari akan hal itu mencoba memberikannya pengertian.


"Sayang.. Tunggu sampai habis malam ketiga ayah ya.. Rasanya Mas malu sekali melakukan hal itu, sedangkan Ayah baru saja meninggal dunia" Zain menuturkan debgan bahasa yang sedemikian rupa.


Khumairah akhirnya mencoba meredam segala hasratnya menggebu. Ternyata pengaruh sang junior sangat berbahaya bagi seorang wanita, apalagi wanita lugu seperti Khumairah.


Dengan sikap yang penurut, akhirnya Khumairah tertidur, meski dengan melewati gundukan hasratnya yang membara.

__ADS_1


Zain memandangi sang istri. Ia menyadari jika sang istri sangat terlalu polos, maka Ia harus mengajari sang istri sebisa mungkin. Sebab kepolosannya itu dapat saja dimanfaatkan oleh orang-orang yang berniat jahat.


Zain kemudian tertidur sembari mendekap sang istri.


Disisi lain, Amyra membawakan secangkir kopi jahe kepada Denny, Ia meletakkannya diatas meja kerja "Mas.. Ini kopinya" ucap Amyra dengan lembut.


Denny menoleh, lalu meraih gelas tersebut dan menyeruputnya.


"Mas.." ucap Amyra lirih.


"Ya.." jawab Denny dengan cepat dan singkat, sebab Ia masih fokus dengan jemarinya diatas keyboard.


"Najma" ucap Amyra lirih.


"Ya.. Kenapa dengan Najma" tanya Denny.


Amyra menarik nafasnya dengan dalam, dan menghelanya debgan berat.


"Ia tampak seperti kehilangan Adnan" ucap Amyra dengan lirih.


Denny menghentikan jemarinya, menoleh kearah sang istri yang kini duduk ditepian ranjang "Maksudnya?" tanya Denny bingung.


"Apakah Ia terlihat murung?" tanya Denny penuh selidik.


Amyra menganggukkan kepalanya "Bahkan terkesan seperti melamun. Tadi Myra memergokinya sedang menyimpan foto Sepupunya itu didalam galerinya" ucap Amyra menjelaskan.


Denny terdiam sejenak "Ah.. Dasar bocah.. Nanti juga akan hilang sendirinya" jawab Denny dengan santai, lalu kembali mengerjakan pekerjaannya.


"Ya sudah.. Myra tidur duluan.. Ngantuk, besok banyak packing laundry" jawab Amyra dengan lirih.


Denny menganggukkan kepalanya dan tersenyum hangat kepada sang istri. Ia kemudian melanjutkan pekerjaaannya.


Mentari pagi bersinar dengan sangat cerah, kali ini Denny bertugas mengantar Ashraf dan juga Najma, sebab Amyra merasakan perutnya sangat mual dan kepalanya pusing.


"Mas.. Nanti singgahi laundry, katakan pada mereka untuk menambah karyawan, agar bisa bantu packing. Kepala Myra pusing sekali dan perut Myra mual" ucap Amyra dengan lirih.


"Iya, Sayang.. Mungkin kali ini sijagoan kita gak mau Papanya yang mual, cukup kakak Najma dan Ashraf yang buat papanya selalu morning sicknes" ucap Denny sembari membelai lembut perut Amyra yang tampak masih rata.


"Mas berangkat kekantor, ya Sayang" ucapnya berpamitan dan mengecup lembut kening Amyra. Sedangkan Najma dan juga Ashraf sudah berada didalam mobil sedari tadi.

__ADS_1


Amyra menganggukkan kepalanya, lalu memandang mobil yan dikendarai oleh suami dan anak-anaknya hingga menghilang dipersimpangan jalan.


Amyra kembali merasakan mual dan perutnya rasa bagaikan diaduk-aduk. Ia menuju kamarnya, lalu kekamar mandi dan memuntahkan sesuatu yang tidak ada, hanya dahak berwarna kuning yang rasanya sangat pahit ditenggorakan.


Amyra tampak lemah, lalu Ia berbaring diranjangnya.


Sesampainya dikantor, Denny merasa gelisah memikirkan kondisi Amyra, mungkin Ia akan membawa Amyra kedokter kandungan sore nanti setelah pulang bekerja.


Denny menghubungi tempat penyaluran Asisten rumah tangga untuk membantu mbak Ridha mengurus rumah dan juga melayani Amyra.


Ia juga memberitahu Amyra jika nanti akan datang pekerja baru dirumah mereka agar Amyra tidak terkejut nantinya.


Tok..tok..tok..


Suara ketukan dipintu" Masuk" ucap Drnny, sembari menutup sambungan telefonnya.


Tampak Fhitry menyembul dibalik pintu ruangan kerjanya "Pak.. Saya sudah menemukan sekretaris pengganti Dwy, dia juga orang yang berpengalaman dalam bidangnya" ucap Fhyti menjelaskan.


Fhytri berharap dengan adanya sekeretaris baru ini pekerjaaannya akan berkurang dan tidak repot dengan pekerjaan ganda.


"Apakah sudah lulus review?" tanya Denny tanpa menoleh, sebab Ia sibuk membuka laptopnya.


"Sudah, Pak.. Semalam sudah direview dan memenuhi kriteria" jawb Fhytri cepat.


"Baguslah.. Kalau begitu suruh cepat temui saya, karena banyak pekerjaan yang akan diselesaikan. Dan berkas-berkas resign Dwy tolong diurus, dan perintahkan kepada bagian keuangan untuk mencaikan semua hak Dwy" titah Denny dengan tegas.


"Baik, Pak.. Akan saya urus segera" jawab Fhytri dengan cepat, lalu beranjak pergi.


Beberapa menit kemudian, terdengar lagi suara ketukan dari pintu luar ruangan kerjanya.


"Masuk.." jawab Denny dengan nada perintah.


Terdengar pintu dibuka, lalu aroma parfum menyeruak masuk kedalam ruangan kerja Denny, dan suara pintu tertutup.


Terdengar derap langkah kaki menggunakan highless yang berjalan dengan anggun, lalu Denny menoleh memandang kearah suara dan seseorang yang menggunakan parfum sedemikian rupa.


Tampak berjalan seorang wanita bergaya feminim menuju kearah meja kerjanya dengan pakaian yang begitu sangat menggoda.


Wajah cantik, tubuh sedikit berisi, dan tonjolan didadanya sedikit lebih membusung, seolah kancing pakaiannya tidak mampu muat menampungnya.

__ADS_1


__ADS_2