
Rudy telah sampai dirumah, Ia menemui asisten rumah tangga untuk mencuci belanjaan yang baru dibekinya dan menyimpannya didalam lemari es.
Pria itu masuk kedalam kamar, dan mendapati Renata baru saja selesai melaksanakan shalat Ashar.
Melihat pemandangan itu, hatinya begitu damai. Ternyata Renata telah berubah dalam hidupnya, dan itu membuatnya semakin mencintai wanita itu.
Mungkin Rudy sedang dalam masa pubertas keduanya, sehingga Ia merasakan jatuh cinta untuk kedua kalinya pada satu wanita yang sama.
Rudy menghampiri Renata yang kini sudah duduk ditepian ranjang.
"Mas.." ucap Renata lirih.
"Ya" jawab Rudy dengan lembut, dan hal itu yang membuat Renata tak dapat lepas dari pria tersebut.
Renata menatap wajah pria itu dengan sendu "Aku ingin Umrah" ucap Renata menatap lekat prianya.
Rudy menatap wanitanya dan mencoba tersenyum tipis.
"Apakah ini permintaan calon bayi kita?" tanya Rudy sembari memegang perut Renata yang masih terlihat rata.
Renata tersenyum semabri merundukkan kepalanya "Mungkin juga, dan Aku sekalian ingin berziarah ke makam Rania, apakah boleh?" tanya Renata menghibah.
Rudy menganggukkan kepalanya, dan mengecup lembut kening wanita itu.
"Boleh.. Apapun itu, jika masih dalam kebaikan, Mas akan menurutinya untukmu" jawab Rudy dengan tenang.
Kalimat itu terdengar begitu sangat manis, sehingga membuat Renata serasa melayang dan begitu berarti dihidup dan dihati pria dingin tersebut.
"Makasih, Ya" jawab Renata, sembari memberikan kecupan lembut di bibir Rudy. Usia yang tak lagi muda, namun ternyata tak menyurutkan gelora asmara mereka mereda.
"Mas mau shalat dulu, kamu istirihat dulu ya" ucap Rudy, lalu beranjak dari ranjangnya menuju kamar mandi untuk sekedar bersuci.
Renata keluar dari kamarnya, menuju dapur. Ia ingin membuat kopi jahe untuk Rudy, satu kegemaran yang sama dengan Denny yang menyukai kopi jahe.
Saat berada di meja dapur, Ia melihat ada 2 kg terung ungu yang baru saja dicuci dan ditiriskan dalam wadah peniris yang sepertinya baru saja dikerjakan oleh si Mbok.
__ADS_1
Renata mengerutkan keningnya, dan saat melihat si Mbok menuju dapur, Ia memanggilnya "Mbok, sini" panggil Renata dengan sangat pelan.
Si Mbok yang melihat majikannya memanggilnya lalu datang menghampiri.
"Ada apa, Nyonya?" tanya Si Mbok dengan sopan.
"Mbok.. Ini terung ungu siapa yang beli?" tanya Renata dengan nada hampir berbisik.
"Oh.. Ini Tuan Besar yang beli, Nyonya. Sepertinya dari pasar tradisional, sebab plastiknya kresek" jawab si Mbok dengan jujur.
Seketika Renata terperangah mendengarnya "Mas Rudy berbelanja? Bahkan dipasar tradisional" Renata seolah percaya jika Rudy sampai melakukan hal itu.
Sejak kapan Rudy si pria dingin mau berbelanja ke pasar? Dan itu hanya demi untuk membelikannya 2 kg terung ungu.
"Ya, Ampuun, Mas. Dibalik sikapmu yang seperti itu, ternyata kamu itu sangat manis dan membuatku semakin melambung dalam buaian cinta dan perhatianmu" Guman Renata dalam hatinya dan tersenyum-senyum sendiri.
"Ada apa, Nyonya? Cuma dibeliin terong ungu saja kelihatannya senang banget, bagaimana kalau dibeliin berlian, pasti senangnya bukan main" celetuk si Mbok dengan polosnya.
Renata menatap si Mbok "Ih.. Si Mbok kepo banget" jawab Renata dengan memanyunkan bibirnya.
"Iya.. Maaf, deh Nyonya.. Saya permisi dulu ya, masih ada pekerjaan dibelakang dapur Nyonya" jawab si Mbok berpamitan.
Lalu Renata mengambil dua buah terung berukuran besar tersebut, Ia sepertinya akan menggorengnya kali ini dengan menggunakan tepung serba guna crispy agar Ia tidak bosan.
Renata mulai memasaknya, dan aromanya menyebar keseluruh ruangan.
Rudy yang baru selesai shalat, keluar dari kamarnya dan menuju ke dapur dimana Ia mencium aroma gurih dari masakan yang baru selesai dimasak.
Ia melihat Renata sedang sibuk memasak dan menghampirinya "Masak apa, Sayang?" tanya Rudy yang hampir mengagetkan Renata yang mana kehadirannya tiba-tiba saja.
"Terung goreng crispy" mau coba? Ucap Renata, sembari mencomot satu potong terung crispy yang sudah matang, dan menyuapkannya kepada suaminya.
Rudy mencoba menerimanya, dan memakannya "Heeem..enak juga.. Kenapa kamu tahu jika terung juga enak diolah seperti ini?" tanya Rudy yang kembali menyomot sepotong terung cripsy tersebut.
"Tau dong.. Kan ada Mbah You tu-be" jawab Renata jujur, yang membuat Rudy mendadak terkekeh mendengarnya.
__ADS_1
Ah.. Tawa itu, begitu indah terdengar ditelinga Renata. Sebab selama mendampingi Rudy, Ia tak pernah melihat pria itu tertawa, yang ada hanya wajah serius dan sikap yang sulit ditebak.
Dan saat Renata mendengar tawa itu untuk pertama kalinya, Ia seperti merasa menemukan sebuah harta karun yang tak ternilai.
Renata merapatkan tubuhnya pada pria, lalu melingkarkan kedua tangannya dipinggang Rudy "Terimakasih untuk segalanya, untuk semua yang telah Mas berikan dalam hidupku" ucap Renata sembari menengadahkan wajah pria bertubuh tinggi tersebut.
Rudy menatap kedua netra mata sang wanita, meraih dagu Renata, lalu memberikan kecupan lembut dibibir sang wanita.
Ia melingkarkan kedua tangannya dipinggang Renata yang masih terlihat langsing, dan Renata mengalungka kesua tangannya dileher Rudy.
Sepertinya meraka sedang terlibat cumbuan panas yang datang tiba-tiba saja.
Cinta mereka datang disaat usia gak lagi muda, dan itu hal tak biasanya.
Tanpa sengaja si Mbok melintasi dapur dan hendak mengambil air putih, sebab Ia baru selesai menjemur pakaian di ruang laundry.
Namun karena tak sengaja melihat adegan panas dari majikannya didapur, Ia terperangah dan dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan beranjak pergi meninggalkan ruangan itu lalu menuju ruang laundry dan akan keluar sebentar lagi setelah memastikan majikannya menyelesaikaan adegan yang membuat si Mbok panas dingin.
"Itu Tuan sama Nyonya kurang kerjaan banget sih, masa iya harus didapur? Saya yang sebagai janda kan gak enak lihatnya" guman Si Mbok semabri menggerutu.
"Mas.. Sudah, Ah.. Ntar kalau si Mbok tiba-tiba lewat kan gak enak" ucap Renata mengakhiri cumbuan mereka.
Rudy melepaskan cumbuannya dan tersenyum smrik. Kemudian Ia menarik kursi kosong dan duduk disana.
Renata menyuguhkan kopi jahe yang hampir saja dingin dan juga seporsi terung crispy beserta saos sambal botolan.
Keduanya menyantapnya bersama dan tampak raut wajah kebahagian terpancar pada keduanya.
"Mas sudah urus keberangkatan umrah Kita, dan dalam minggu ini mungkin Kita akan berangkat" ucap Rudy sembari menguyah makanannya.
"Bagaimana kalau kita ajak Denny dan kuarganya ikut Umrah bareng kita, Mas?" ucap Renata menyarankan.
Rudy memandang Renata "Nanti Mas akan coba tanyakan apakah mereka mau ikut dengan kita" jawab Rudy.
Renata menganggukkan kepalanya, dan tanpa terasa masakannya sudah habis tak tersisa.
__ADS_1
"Enak, Mas?" tanya Renata yang melihat Rudy memikmati masakannya.
Rudy menganggukkan kepalanya "Ya.. Dan itu sangat enak" ucap Rudy mencoba memuji masakan wanitanya dan tentu hal itu akan membuat Renata semakin melambung.