
Pagi itu Kenan tiba - tiba ingin menghubungi Fairi karena dia merasakan perasaan yang tak nyaman, hingga Kenan merasa sangat tak tenang selama rapat berlangsung. Dan dengan cepat Kenan langsung kembali ke ruangannya serta menyerahkan semua sisanya pada Farid dan juga Agus.
Dengan perasaan tak tenang Kenan menekan nomer Fairi tapi sudah beberapa kali nomer Fairi tak tersambung dan hal itu membuat Kenan semakin tak tenang, hingga akhirnya Kenan menghubungi tuan Adi untuk menanyakan kondisi dan keadaan pabrik serta Fairi disana.
"Halo Ken, ada apa?" suara tuan Adi yang terdengar sangat lelah.
"Tidak yah, oh maaf, om." Kenan merasa canggung dengan panggilan terhadap tuan Adi karena sudah lama dia dan Fairi berpisah.
"Kenapa kau selalu merasa bingung untuk panggilan, panggil saja aku ayah seperti biasanya Ken. Walau kalian sudah berpisah tapi kau masih tetap putraku." tuan Adi berkata karena dia selalu merasa kalau Kenan bingung untuk memanggilnya selama ini setelah dia tak lagi menjadi menantunya.
"Baik yah, maaf. Aku cuma mau menanyakan bagaimana perkembangan maslah disana apa semua sudah baik? Atau masih sulit, karena nomer Fairi tak bisa dihubungi dari tadi." Kenan bertanya dengan cemas.
"Ya sebenarnya kami bersyukur karena masalah ini terjadi saat semua orang diluar sedang istirahat, tapi kerugiannya memang lumayan besar sebab Fairi harus menghentikan semua kerja sama dengan beberapa pihak. Dan ini juga Fairi ngotot untuk menyelidiki lebih lanjut sebab cctv disebagian titik kejadian tak menunjukkan apa - apa semua terlihat baik - baik saja, tapi Fairi bersih keras kalau itu adalah rekayasa dan dia ingin melihat semua sistem mungkin ada yang bermain curang. Tapi di sini tak ada yang bisa dan Fairi ingin menghubungi Lime untuk meminta bantuannya." jelas tuan Adi pada Kenan.
"Maksud ayah Lime yang dari Bangkok?" Kenan terlihat kaget mendengar nama Lime
"Benar, Fairi bilang kalau Lime pasti bisa membantu sebab Lime seorang programmer." tuan Adi menjawab dengan biasa padahal disisi yang ditelepon Kenan merasa tak tenang dan mulai merasa panas.
"Tidak usah menghubungi dia Yah, karena menunggu dia datang kesini akan memakan waktu lama, kalau yang dibutuhkan adalah seorang programmer biar Ken saja yang datang. Ken akan berangkat hari ini juga dan nanti malam akan sampai sana. Baiklah yah Kenan siap - siap dulu sampai ketemu disana." Kenan buru - bur menjawab dan langsung mematikan sambungan teleponnya dengan tuan Adi karena dia tak ingin mendengar penolakan dari taun Adi.
"Lime, aku tak akan membiarkan kamu kembali lagi kesini. Tidak akan pernah." Kenan bergumam dan langsung menghubungi sang mama untuk menjaga Kemal beberapa hari sebab dia ada urusan mendesak. Setelah itu Kenan menjelaskan pada Farid dan mengalihkan semua tanggung jawab pada Farid dan Melisa lalu dia sendiri berangkat bersama dengan Agus ke Bogor untuk membantu Fairi.
...💔💔💔...
"Ya ampun anak ini kalau nyuruh gak pernah lihat situasi ya bikin kesal saja. Tapi Kemal bukankah dia bocah yang lucu waktu itu. Baiklah aku memaafkan mu Ken kali ini karena dia adalah anak yang lucu dan aku bersedia menjaganya." Nyonya Tias menggerutu sendiri setelah dia dihubungi oleh Kenan untuk dimintai tolong menjaga Kemal beberapa hari.
"Rum, tolong kamu bilang sama Yusri untuk menyiapkan mobil karena aku mau keluar 10 menit tidak 5 menit lagi." Nyonya Tias mengintruksikan pada pegawainya lalu dia pergi siap - siap.
__ADS_1
"Baik Bu." jawab Rumi dan dia langsung keluar untuk bilang pada Yusri kalau nyonyanya ingin keluar 5 menit lagi, dan Yusri diminta menyiapkan mobil.
"Lah Yus mau kemana lagi? Bukannya ibu sudah pulang ya, karena tadi aku menghubungi dia sudah di rumah." Tuan Bram yang baru datang pun bertanya karena melihat Yusri menyiapkan mobil.
"Iya pak, tapi barusan kata Rumi kalau ibu mau keluar lagi pak. Makanya ini saya disuruh menyiapkan mobil" jawab Yusri dengan sopan.
"Mau kemana lagi?" tuan Bram terlihat bingung.
"Saya tidak tau pak, karena Rumi tak bilang, hanya mengatakan kalau ibu mau keluar begitu saja." Yusri mulai bingung.
"Ya sudah." tuan Bram pun masuk kedalam rumah.
"Ma, mau kemana lagi? Bukannya tadi papa telepon kalau papa pulang hari ini." tuan Bram merasa tak puas pada istrinya.
"Oh iya pa, mama sibuk maaf ya mama harus menjemput Kemal sebentar ini sudah telat kasian kalau dia menunggu kelamaan, nanti kita bahas lagi ok pa, da pa." Nyonya Tias pun pergi terburu - buru melalui tuan Bram dan bicara tanpa melihatnya.
"Bi, apa bibi pernah dengar nama Kemal, siapa dia?" Tuan Bram bertanya pada bi Asih yang ikut kerja di rumah itu sudah hampir 30 tahun lamanya.
"Saya tidak tau pak, dan ibu juga tak pernah bicara soal nama itu." jawab bi Asih acuh.
"Itu dia, apa ku tinggal 3 hari sudah membuat dia berpaling dari ku dan melahirkan anak lain dengan orang lain ya bi. Kenapa anak ku Kenan bisa jadi Kemal pasti ada yang tak beres ini." Tuan Bram berasa bingung karena dia tak pernah diberitahu soal Kemal.
2 jam kemudian nyonya Tias pulang kerumah dengan banyak belanjaan dan dia terlihat sangat bahagia. Hal itu membuat tuan Bram semakin curiga kalau istrinya ada main dengan orang lain diluar sana semala dia tak ada di rumah, karena kebahagian nyonya Tias terlihat sangat sama persis dengan kebahagiannya saat mereka akan memiliki seorang anak sebelum Kenan terlahir.
"Dari mana saja mama, suami pulang bukanya diurusin malah ditinggal pergi." Tuan Bram berkata dengan kesal.
"Oh iya bukannya tadi sudah mama bilang kalau mama pergi keluar untuk menjemput Kemal, papa tunggu dulu mama letakkan dulu barang - barang Kemal." Nyonya Tias melewati tuan Bram dan meletakkan barang - barang yang dibawahnya.
__ADS_1
"Kemal, siapa dia. Kenapa mama lebih mementingkan orang lain dari pada papa, apa mama bermain dibelakang papa." Tuan Bram berkata dengan tak sabar
"Apa papa sudah gila hah? Papa bicara apa sih." Nyonya Tias berkata dengan aneh.
"Orang lain? Apa aku orang lain? Nenek apa aku mengganggu nenek di sini?" Kemal berkata sambil berdiri dan membawah tasnya.
"Eh, siapa dia?" Tuan Bram berbalik dan melihat Kemal yang terlihat lucu serta menggemaskan.
"Tidak sayang kamu tidak mengganggu siapa pun di sini, kalau ada yang tak suka maka biarkan saja dia pergi." Nyonya Tias berkata dengan cuek pada tuan Bram yang dari tadi bertanya dengan kesal. "Ayo kita pergi mandi dan makan setelah itu tidur siang." Nyonya Tias melewati tuan Bram sambil menggendong Kemal.
Dalam gendongan nyonya Tias Kemal menghadap kebelakang dan melihat tuan Bram lalu tersenyum seolah Kemal mengatakan aku menang. Melihat hal itu tuan Bram terkejud karena dia tak pernah melihat istrinya sedekat itu dengan anak kecil sampai menggendong dia penuh dengan kasih sayang, terlebih lagi anak kecil yang melihatnya dengan tatapan perang yang terlihat sangat familiar, yang sepertinya pernah dia alami dulu.
...💔💔💔...
Ditempat lain di Bogor Kenan dan Agus telah sampai dimana tempat Fairi dan tuan Adi berada, Kenan langsung menemui tuan Adi dan mendengarkan cerita dari tuan Adi secara langsung bagaimana asal mula kejadian kebakaran di gudang dan pabrik Fairi itu bisa terjadi.
"Jadi maksud ayah Fairi mencurigai ada seseorang yang bekerja sama dan membakar pabrik serta gudang secara bersamaan?" Kenan memastikannya lagi dan mengulang ucapan tuan Adi.
"Ya begitulah, dan Fairi sekarang sedang mendekati semua pegawai satu persatu untuk menyelidikinya dan menanyakan pada mereka secara khusus." jelas tuan Adi pada Kenan.
Terlihat Kenan berfikir sejenak dan dia tersenyum saat teringat akan kejadian kelam dalam hidupnya. Fairi yang sebenarnya bukanlah orang yang sabar dan pantang menyerah dalam sesuatu hal yang membuatnya tak nyaman, tapi saat Kenan datang malam itu dengan wanita lain justru Fairi tak menunjukkan reaksi karena dalam pikirannya Fairi telah mengambil keputusan untuk pergi meninggalkan dirinya.
"Kenapa kau malah tersenyum begitu?" Tuan Adi menatap Kenan aneh, karena tiba - tiba saja Kenan terdiam dan tersenyum sendiri.
"Ah tidak apa yah, aku hanya teringat sesuatu saja dan merasa lucu. Ternyata selama ini aku tak begitu mengenal Fairi, sikap tenangnya bukanlah hal yang baik. Karena saat dia diam itu menandakan sebuah nuklir akan siap untuk dilepaskan dan menghancurkan segalanya." jawab Kenan dan tersenyum menatap tuan Adi.
"Hem, dia memiliki sifat yang sama persis dengan alm. Ibunya. Tenang tapi mematikan, namun Fairi jauh lebih kejam dari ibunya saat diam dan tak peduli, dan itu juga yang selama ini aku sesali dari caraku mengambil sikap untuk masalah ku dan keluargaku." tuan Adi pun jadi bernostalgia atas ibu kandung Fairi yang telah pergi meninggalkannya.
__ADS_1
Setelah bicara banyak hal dan saling mengingat masa lalu tuan Adi dan Kenan pun pergi ke ruang kendali cctv yang ada di pos pabrik teh. Disana Kenan sangat fokus bekerja dan jemarinya sedang menari dengan lincah diatas keyboard komputer untuk menemukan ketidak benaran dari rekaman cctv yang ada disana.