Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
Bab 140


__ADS_3

"Ken katakan pada mama apa yang sedang terjadi, kenapa semua barangmu di kirim ke rumah mama. Memangnya kenapa dengan rumahmu hah?!"


Nyonya Tias menghubungi Kenan dan bertanya karena dia bingung kenapa semua barang di rumah Kenan di kemasi dan dikirim ke rumahnya dan bi Ningsih sama man Ayub pun juga ikut datang.


"Oh itu ma, Ken menjual rumah itu dan sekarang Fahmi adalah pemilik baru rumah itu. Makanya Ken mengemasi semau barang Ken karena rumah itu bukan lagi rumah Ken ma." Kenan menjawab dengan santai


"Apa, apa kau sudah gila Ken. Kenapa kau harus menjual rumah segala sih." Nyonya Tias merasa sangat kesal dan marah pada Kenan


"Ya karena Fairi tak ingin menginjakkan kaki di rumah itu ma, jadi ya Ken jual karena Ken ingin membangun hidup baru Ken sama Fairi dan anak - anak ma" jelas Kenan yang lagi - lagi dikatakan dengan santai pada mamanya.


"Kenapa ma?" Tuan Bram bertanya pada istrinya yang terlihat kesal setelah menghubungi Kenan.


"Hah...anak papa sudah gila pa, lihatlah semua barangnya di bawah kemari karena rumahnya dijual sama Fahmi karena dia tak ingin tinggal di rumah yang tak ingin di datangi oleh Fairi." nyonya Tias tak habis pikir.


"Ya tak apa lah ma, dia ingin membangun keluarga dan kenangan baru." Tuan Bram berkata biasa saja


"Ya gak harus dijual juga kali pa, kan bisa di renovasi dan diubah untuk jadi bangunan baru" nyonya Tias memberikan pendapatnya


"Ya itu repot ma, dibangun dan di renovasi juga akan mengeluarkan banyak biaya mending langsung di jual saja dan beli baru bereskan." Tuan Bram berkata dengan pendapat yang tak ingin ribet


"Ya elah anak dan papa sama saja, ya sudah mama males bicara." Nyonya Tias pergi meninggalkan tuan Bram


"Hah, wanita suka sekali cari yang ribet. Kalau ada yang gampang kenapa harus repot - repot bangun ulang, dijual saja kan beres." Tuan Bram bergumam sendiri saat nyonya Tias pergi.


"Bu kalau begitu saya akan pulang kampung saja Bu, karena mas Kenan pasti akan tinggal bersama dengan non Fairi" ucap bi Ningsih pada nyonya Tias


"Benar Bu saya juga akan pulang kampung juga." Man Ayub pun berkata sama dengan bi Ningsih.


"Hah, aku juga tak tau apa yang harus ku lakukan. Anak itu bertindak tanpa berfikir." Nyonya Tias merasa pusing


"Sebaiknya jangan pulang sekarang, menginap saja di sini dulu tidak apa kan Bu." Bi Asih berkata dan meminta pendapat pada nyonya bosnya.


"Ya ya, yang dikatakan oleh Bi Asih benar. Sebaiknya kalian menginap di sini dulu biar nanti aku akan bicara sama Kenan." Nyonya Tias pun sependapat dengan bi Asih.


"Ma, ada Lina datang ini." Tuan Bram berteriak memanggil istrinya.


"Oh Lin, ada apa kemari?" Nyonya Tias keluar dan bertanya pada Lina


"Maaf nyonya, apa man Ayub dan bi Ningsih ada di sini? Karena saya diminta sama bu Laras untuk menjemput mereka untuk tinggal di rumah Bu Laras sekarang." jelas Lina tujuannya datang ke rumah nyonya Tias.


"Hah? Fairi meminta mereka untuk ke rumahnya." Nyonya Tias dan tuan Bram berkata bersamaan.


"Benar tuan, nyonya. Bu Laras meminta saya untuk menjemput mereka sekarang karena Bu Laras tak bisa datang karena masih ada rapat saat ini." jawab Lina dengan sopan.


"Tunggu dulu ya." Nyonya Tias masuk dan memanggil man Ayub dan bi Ningsih serta mengatakan kalau mereka akan tinggal bersama dengan Fairi.


Kedua orang itu terlihat senang dan mereka tak menyangka kalau akan kembali bekerja bersama dengan Kenan dan Fairi lagi seperti dulu.


"Bagaimana apa kalian bersedia? Jika kalian tak mau juga tak apa." Nyonya Tias bertanya dengan lembut pada man Ayub dan bi Ningsih


"Saya mau Bu" bi Ningsih


"Benar saya juga mau." Man Ayub


"Ya sudah kalau begitu ayo keluar karena Lina sekretaris Fairi sudah datang untuk menjemput kalian." Nyonya Tias berkata dan membawah mereka keluar


"Kalian baik - baik di sana ya, dan tolong jaga putriku dan cucuku dengan baik." Nyonya Tias berpesan pada man Ayun dan bi Ningsih


"Baik Bu insya Allah." jawab kedua orang itu


"Kalau begitu saya pamit tuan, nyonya." Lina pun minta ijin pergi.


Selama dalam perjalanan man Ayub dan bi Ningsih selalu mengucapkan rasa syukur dan terlihat sangat bahagia.


"Apa bibi dan Maman begitu senang." Lina bertanya karena dia melihat kedua orang yang dia bawah itu terlihat sangat senang


"Iya non, saya sangat bahagia karena bisa ketemu sama non Fa setiap hari. Dia adalah orang yang sangat baik, dan dulu saya sangat senang saat mas Kenan menikah dengan non Fa, tapi pernikahan mereka tak begitu bahagia." Bi Ningsih berkata dan terlihat sedih


Lina tersenyum, "tapi sekarang berbeda, karena mereka menikah dengan kebahagian serta penuh dengan cinta."


"Benar benar, saya sungguh sangat bahagia untuk itu, dari pada dulu non Fa selalu saja sedih dan menangis diam - diam." Man Ayub berkata dan sangat bersyukur.


...💔💔💔...

__ADS_1


"Ningsih, Ayub ayo masuk masuk aku sudah menyiapkan kamar untuk kalian." Bi Mina menyambut kedatangan man Ayub dan bi Ningsih


"Kalau begitu saya langsung kembali ke kantor bi" Lina pamit pada bi Mina


"Loh tidak masuk dan minum dulu nak Lina." Bi Mina berkata dengan lembut


"Tidak terima kasih bi, takut nanti Bu Laras mencari saya kelamaan di luar." jawab Lina sopan


"Ya sudah kalau begitu hati - hati." Bi Mina


"Baik, mari bi" Lina


Bi Mina mengantarkan bi Ningsih dan man Ayub masuk dan melihat kamar mereka, karena saat Fairi menghubungi dan bilang kalau bi Ningsih dan man Ayub akan datang dan tinggal bersama bi Mina langsung menyiapkan kamar untuk mereka berdua.


"Ya Allah saya sangat bersyukur, karena tadi rencananya saya akan pulang kampung." Man Ayub


"Iya benar loh mbak, saya juga tadinya akan pulang kampung juga." Bi Ningsih


"Tidak usah, pulang kampung kalau lebaran saja. Sekarang kita tinggal di sini bersama, kalian bisa membantu saya." Bi Mina


Ketiga orang itu terlihat senang dan bekerja sama dengan suasana hati yang terlihat gembira. Dan mereka pun saling bercerita dan bi Mina juga menceritakan keadaan dan kondisi Fairi dan anak - anaknya yang selalu bahagia.


...💔💔💔...


"Kak Kem, apa kak Kem mau pergi untuk latihan kak." sapa Angel saat dia melihat Kemal melintas di depan lapangan


Karena sekolah Kemal saat ini adalah sekolah yang bergabung mulai dari TK, SD, SMP dan SMU jadi satu dan hanya saja ada blok sendiri dan memiliki kantin sendiri disetiap tingkatan. Karena Kemal ingin sekolah yang bisa melihat dan memantau adiknya, serta tak ingin adiknya menunggu dia di luar sekolah lain, sehingga dia memilih untuk sekolah di sekolah yayasan.


Kemal tak menjawab pertanyaan Angel dan dia tak peduli dengan apa yang dilakukan oleh angel dan Sarah setiap kali mereka selesai latihan. Bahkan tindakan mereka membuat Kemal mulai merasa terganggu hanya saja Kemal diam karena dia menghormati Agung jadi Kemal membiarkan mereka dan tak memperdulikannya.


"Dia cuek pada kita" Angel


"Benar, tapi dia ke kantin, ayo kita juga kesana dan cari kesempatan untuk ngobrol dengannya lagi." Sarah


"Sepertinya dia gadis itu mengikutinya" Bandi


"Biarkan saja" Kemal


"Hei Kem, kau lihat gadis itu." tanya Gani setelah Kemal dan Bandi duduk


"Kenapa." Kemal


"Kau benar - benar tak perhatian ya sama teman ya Kem, dia menyukai gadis itu Kem." Bandi


"Oh terus apa hubungannya dengan ku." Kemal


"Ya apa hubungannya dengan Kemal" Bandi


"Menurutmu bagaimana dia." Gani


"Hei, kenapa kau tanya pada ku. Memangnya aku ibu mu, ya terserah kau lah yang jatuh cinta adalah kau bukan aku." Kemal menjawab dan tersenyum menatap Gani


"Bukan begitu, dia selalu menghindari ku." Gani


"Ya itu artinya dia tak menyukaimu lah." Kemal


"Ya, apa yang ku katakan. Lihat, aku dan Kemal sependapat dia tak menyukaimu" Bandi


Kemal tersenyum melihat Gani yang berwajah murung setelah mendengarkan pendapatnya dan Bandi. Dan Kemal menggelengkan kepala karena wajah Gani terlihat lucu dengan bibir monyongnya karena pendapat temannya adalah yang paling pasti bagi Gani.


"Hah...sungguh kasian nasibku. Semoga di kehidupan ku selanjutnya aku bisa bersama dan bersatu dengan pujaan hatiku, Mayangsari aku mencintaimu." Gani mulai bertingkah dramatis.


"Auh, maafkan aku." Maya terjatuh dan dia meminta maaf pada orang yang menabraknya.


"Apa kau buta hah.?! Tak punya mata." orang itu menyiram Maya dengan air soda yang dibawah dan mereka mentertawakannya.


"Ah sial mereka selalu saja mengganggu Dewi ku." Gani bangun


"Tunggu, kau bilang siapa tadi namanya." Kemal menahan tangan Gani


"Mayangsari." jawab Gani


"Ah sial, kenapa aku tak mengenalinya selama ini." Kemal langsung bangau dan lari membuat Gani dan Bandi menatap bingung.

__ADS_1


"Oh lihatlah coba kau buka kancing bajumu itu kau pasti akan sama dengan ibumu yang wanita nakal itu." ucap seorang pria yang bersama dengan para wanita yang mengganggu Maya


"Tidak tolong jangan lakukan ini." Maya berusaha untuk menahan agar bajunya yang basah itu tak terbuka


Bruk


Kemal langsung memukul orang itu dengan keras dan berdiri tepat di depan Maya dan secara spontan Maya terjatuh lagi dan duduk di lantai dengan tertunduk.


"Kau, berani sekali kau memukul ku." orang itu bangun dan marah pada Kemal


"Ya ampun, ya ampun teman kita berkelahi." Bandi lari mendekati Kemal dan Gani juga ikutan.


"Apa kau tak memiliki moral hah?! Apa kau selalu berbuat begitu pada seorang wanita. Dan kalian, berteriak kalau dia wanita nakal, lalu apa bedanya dengan kalian. Kalian menikmati pertunjukan saat seorang wanita dilecehkan di depan kalian, apa kalian juga sering membuka baju kalian di depan para pria dengan suka rela." Kemal berkata dan menatap semua orang yang tadi mengganggu Maya


"Apa kau sudah gila, tentu saja tidak." jawab salah satu dari wanita yang mengganggu Maya


"Lalu kenapa kalian melakukan ini padanya, bukankah apa yang dia miliki sama dengan miliknya. Bayangkan jika aku yang membuat pakaian kalian di sini apa kalian akan menyerahkan tubuh kalian padaku dengan suka rela." Kemal berkata dan menatap tajam pada wanita yang terlihat sepertinya mereka adalah kakak kelasnya.


"Kau." wanita itu terlihat kesal pada Kemal


"Kenapa kau keberatan, jika aku membukanya" Kemal berjalan mendekat.


"Dia adalah Kemal kampen tim basket."


"Dia keren banget"


"Biar tau rasa itu geng aneh."


Kasak kusuk semua siswa yang ada di situ menatap dan menyalahkan mereka yang tadi berbuat kejam pada Maya.


"Tentu saja tidak, jika kau mau silakan lakukan." jawab salah satu dari mereka


Kemal tersenyum tipis dan berjalan semakin maju lalu tangan Kemal meraih Krah baju gadis itu dan mendekatkan wajahnya, terlihat gadis itu gugup dan debar jantungnya memburu "sayangnya aku yang keberatan, karena kakak bukanlah tipeku dan aku juga tak suka membuka baju di tempat umum, karna aku lebih suka dan menikmati mereka yang alami serta polos."


Kemal berdiri didepan gadis itu dan menatapnya tajam "Kakak terlihat seperti barang yang sudah ternoda." Kemal menjauh setelah mengatakan kalimat itu.


"Hei kapten ada apa ini." Putra dan teman - temannya yang datang untuk menjemput Kemal melihat pertunjukan di kantin sekolah Kemal.


"Aku diam bukan berarti aku tak peduli, sekali lagi aku melihat kalian menyakiti kakakku habis kalian." Kemal terlihat sangat marah


"Kem, sudah." Bara menahan bahu Kemal


Kemal menurunkan pandangannya "pergi kalian."


Orang - orang itu pergi dengan kesal dan Kemal berbalik melihat Maya yang masih duduk di lantai, Kemal mengambil jaket Angga lalu menutupi tubuh Maya dan membantu Maya berdiri.


Kemal menata rambut Maya yang berantakan dan tersenyum manis pada Maya sehingga membuat Maya pun terpesona pada sosok Kemal yang selama ini banyak dikagumi oleh teman - temannya dan para gadis di sekolahnya.


"Kakak tak apa, lain kali jangan diam saja jika ada hal seperti ini, kakak harus melawan mereka agar mereka tak semena - mena sama kakak. Jika mereka mengganggu kakak lagi datang saja pada ku. Kakak tau aku kan? Atau kakak cari kedua temanku itu, mereka adalah Gani dan Bandi. " Kemal menatap Maya dan menunjuk pada kedua temannya.


Maya mengangguk dengan cepat dan menangis "kemarilah, tak apa semua baik - baik saja. Aku ada untuk kakak, jika aku tak ada pergilah mencari mereka berdua. Kakak mengerti kan."


"Hem" Maya mengangguk dalam pelukan Kemal.


"Jangan menangis, kemarilah." Kemal membawah Maya duduk di kursi.


"A-apa yang terjadi." Gani bertanya dan menatap bingung pada Kemal dan Maya.


"Dia adalah Bandi dan Gani, mereka temanku. Jika kakak mau makan cari saja mereka atau jika ada yang mengganggu kakak cari mereka juga, dan mulai sekarang aku akan menyerahkan tanggung jawab kakak pada Gani, jika dia tak bisa menjaga kakak laporkan padaku aku akan menghukumnya." Kemal berkata dan menghapus air mata Maya lalu tersenyum pada Maya


"Terima kasih." Maya mengucapkan terima kasih pada Kemal


"Hem, dan jangan menangis lagi." Kemal menepuk bahu Maya


"Ku serahkan kakakku padamu, awas jika sampai dia menangis lagi." Kemal menatap Gani


"Dia mencintai kakak, jika kakak mencintainya silakan lakukan dan jika tidak tinggalkan dia." Kemal tersenyum pada Maya


"Baiklah aku tinggal dulu, makan yang kenyang."


"Belikan dia makanan"


Kemal bangun dan menatap Gani sebelum dia pergi bersama dengan tim basketnya.

__ADS_1


__ADS_2