Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
Bab 92


__ADS_3

"Baiklah biar ku cari tau dari mana alamat yang ngirim." Kenan pun mulai mencari tau alamat email yang mengirimkan pesan ke email Fairi.


Cukup lama Kenan mendapatkan alamat pengirimnya sampai pada akhirnya Kenan mendapatkan kalau id dari orang yang mengirimkan pesan ke email Fairi "ketemu."


"Siapa yang memiliki akun itu?" Farid dan yang lain melihat kearah laptop yang Kenan buka.


"Mungkin dia seorang gadis karena namanya memakai inisial F.A" Fahmi berkata dan memperhatikan layar komputer itu


"Tunggu kenapa jadi begini bentuknya." tiba - tiba gambar dilayar menghilang dan berubah menjadi garis dan angka dengan bilangan ganda.


"Apa yang terjadi Ken?" Fahmi merasa bingung


Kecepatan tangan Kenan kalah cepat dengan pihak lain yang berusaha untuk menutup kembali akun yang dibuka dan diaktifkan lagi oleh Kenan. Dan orang itu benar - benar mengalahkan kecepatan Kenan karena dengan cepat akun itu pun telah terhapus dan tak dapat diperbarui lagi.


...💔💔💔...


"Bagaimana apa bisa dihapus Ina?" seorang wanita bertanya pada Sabrina yang sedang sibuk dengan laptop didepannya.


"Bisa non, tenang saja." jawab Sabrina yang sedang menatap laptop dan jari - jarinya menari lincah diatas keyboard.


"Pastikan untuk tak dapat dipulihkan kembali, dan apa kamu sudah mendapatkan semua data yang aku minta." tanya wanita itu lagi


"Masih belum non, tapi akan saya pastikan kalau saya akan mendapatkannya segerah. Oh iya, apa nona tak mau muncul ini sudah 1 tahun lebih." tanya Sabrina dan menatap wanita yang dipanggilnya nona itu.


Wanita itu tersenyum, terlihat dari bibirnya dan tatapan matanya dia sepertinya adalah wanita yang cantik. Hanya saja masih belum tau apa tujuan dari wanita itu mengirimkan data yang berisikan dokumen dari perusahaan Fairi dan juga ayahnya.


"Jika semuanya sudah selesai kamu kembalilah dan tolong kamu sampaikan pada Anita untuk datang besok pagi. Terima kasih atas bantuannya dan selamat malam Ina." ucap wanita itu dan dia pergi naik keatas menuju kamarnya.


"Aku tak menyangka kalau nona menjadi orang yang sangat - sangat lebih aku kagumi lagi dari sebelumnya. Dan untuk dia aku akan melakukan apa saja, karena baru kali ini aku menemukan atasan yang sungguh sangat baik dan juga sangat cantik. Bahkan dia tak hanya cantik wajahnya namun hatinya juga sangat cantik." ucap Sabrina dan dia pun pulang dari rumah majikannya.


Keesokan paginya saat Anita tiba orang yang selalu dipanggil nona itu meminta kepada Anita untuk menjadi dirinya dan menyambut kedatangan tamu yang pasti akan datang menemuinya. Hingga Anita pun belajar dan bergaya sesuai dengan nona nya, bahkan Anita juga belajar cara bicara dan bersikap dari sang nona. Setelah seharian penuh Anita belajar dan ditemani oleh Sabrina yang dari awal selalu tersenyum setiap kali Anita memerankan peran nona nya.


"Bagiamana menutur nona, apa seperti ini sudah baik?" tanya Anita pada nona nya.

__ADS_1


"Baik, kau belajar dengan cepat." jawab dari sang nona


"Tapi kenapa nona meminta Anita untuk berperan sebagai anda, apakah akan ada tamu yang tak seharusnya Nina temui?" Sabrina bertanya penasaran, karena selama ini dia selalu tak bisa mengerti nona nya.


"Ina, tamu itu pasti akan datang. Apa kau lupa saat di pesta dia bilang apa. Dia bilang kalau dia sangat ingin ketemu sama aku orang yang selalu kalian sebut nona dihadapannya karena telah memberikan fasilitas padanya untuk mengadakan pesta hari itu." jawab dari sang nona.


"Oh, maksud nona mereka." Sabrina pun mengerti.


"Lalu bagaimana dengan wanita - wanita itu nona, apa kita juga harus melakukan sesuatu?" Anita pun balik bertanya.


Nona mereka tersenyum "mereka adalah orang - orang ku juga, apa yang akan mereka lakukan tentu saja sesuai dengan perintah dari ku. Aku sudah pernah bilang kalau aku akan membiarkan mereka melambung tinggi sebelum aku akan menariknya kembali dan membuatnya hancur berantakan."


"Jangan bermain terlalu kasar ayah tak akan suka." ucap Sujono yang datang dan masuk kedalam rumah.


"Paman." wanita yang dipanggil nona itu bangun dan memeluk Sujono.


"Ayah tanya apa keadaanmu sudah baik, dan aku bilang kali subah mulai membaik. Jangan terlalu keras berlatih dan juga melakukan aktifitas. Aku akan membawamu ke rumah sakit nanti sore untuk memeriksakan luka mu lagi." ucap Sujono dan membelai wajah wanita itu yang sebagian dari wajahnya diperban.


...💔💔💔...


Disisi lain nyonya ayu dan tuan Bagus telah membuat persiapan untuk pertemuan yang akan diadakam secara langsung untuk menunjukkan kuasanya dan sebelum melakukan itu mereka ingin bertemu dengan orang yang telah membantunya dalam pesta beberapa Minggu lalu. Mereka berdua datang ke hotel dan menanyakan soal orang yang mengelola hotel tersebut.


"Maaf yang anda maksud adalah nona Ayu." jawab seorang resepsionis.


"Ayu? Maaf aku tak tau siapa namanya." jawab nyonya Ayu


"Oh, baiklah saya akan menghubungi bawahannya silakan ditunggu dulu nyonya." jawab resepsionis dan nyonya Ayu melihat wanita itu menghubungi seseorang dan sedang berbicara.


"Nyonya, silakan ini adalah alamat rumah dari nona. Jika anda ingin bertemu dengan beliau silakan anda datang ke alamat ini." pegawai resepsionis itu menyodorkan sebuah kerta pada nyonya Ayu


"Ayo kita harus bertemu dengan dia, siapa tau kalau dia adalah orang yang bisa kita ajak kerja sama." Nyonya Ayu berkata pada Bagus dan bergegas


Cukup lumayan lama nyonya Ayu dan tuam Bagus mengisi dan dia telah merencanakan banyak hal untuk membuat orang yang bernama sama dengannya itu tertarik dan mau bekerja sama dengan dirinya. Dan saat sampai didepan sebuah rah besar nyonya Ayu dan tuan Bagus terkejut karena sebelum mereka membunyikan bel pintu gerbang yang menjulang tinggi itu telah terbuka lebar, dan tuan Bagus langsung memasukkan mobilnya.

__ADS_1


"Selamat datang nyonya Ayu, akhirnya anda sampai juga. Nona sudah menunggu." sambut Sabrina dengan ramah.


"Oh kau adalah wanita yang anggun waktu malam pesta itu." Tuan Bagus berkata dengan senyuman lebar.


"Anda masih mengingat saya tuan, silakan" Sabrina tersenyum dan mempersilakan nyonya Ayu dan tuan Bagus masuk.


"Nona mereka.sudah datang." ucap Sabrina pada Nona nya yang berdiri didepan jendela dengan segelas anggur ditangannya.


"Hem, selamat datang nyonya. Tidak susah kah menemukan alamat rah ini, mari silakan duduk." ucap Anita dengan gaya tegas dan angkuh.


"Kau..." Nyonya Ayu kaget karena dia adalah wanita yang datang bersama dengan Sabrina malam itu.


"Iya ini saya. Orang yang sangat ingin anda temui." ucap Anita dan duduk di sofa serta Sabrina juga duduk di sofa sebelah Anita.


Nyonya Ayu dan tuan Bagus pun duduk di sofa depan Anita dengan bingung dan tak tau harus bicara apa karena mereka berdua tak menyangka kalau orang yang malam itu menghibur tamu - tamunya adalah orang yang berpengaruh namun mereka malam itu justru tak memberikan muka dan bersikap acuh.


Anita menatap kedua orang yang ada didepannya dan tersenyum "kenapa tuan dan nyonya, apa kalian merasa tak enak Karena waktu itu kalian tak peduli dan tak memberikan muka pada ku." ucap Anita dan membuat nyonya ayu dan tuan Bagus tersenyum canggung.


"Maafkan saya nona Ayu, saya benar - benar tak tau kalau itu adalah anda. Karna anda tak mengatakan pada saya yang sebenarnya." jelas nyonya Ayu merendah.


"Tak apa, aku suka sepeti itu. Karna aku memang sangat suka menguji orang yang akan menjadi mitraku." jawab Anita dengan gaya bicara anggun.


"Oh, syukurlah. Kami datang memang ingin membuat kesepakatan kerja sama dengan pihak kami, dan jika nona Ayu berkenan melakukan kerja sama." Tuan Bagus bersuara.


"Tentu saja, dengan sangat senang hati. Dan aku dengar kalau kalian sedang dalam malah yang cukup rumit untuk menggantikan orang yang ditunjuk sebagai pemegang perusahaan dan mengelolanya saat ahli waris masih dibawah umur." Anita berkata dan menatap keduanya.


Pembicaraan antara ketiga orang itu terdengar sangat seru dan juga menyenangkan, nyonya Ayu dan tuan Bagus seolah mendapatkan dukungan dari orang yang sangat berpengaruh dan juga mereka berdua seolah tersiram dengan air es yang mendengar kalau orang itu akan selalu membantunya memecahkan maslah dengan muda serta bersedia untuk bekerja sama dengan kedua orang itu (nyonya Ayu dan tuan Bagus)


"Ikan telah mendapati umpannya, sungguh sangat bagus. Aku tak pernah menyangka kalau mereka adalah orang - orang yang b*doh." Sabrina berkata dan tersenyum setelah tuan Bagus dan nyonya Ayu pergi


"Hah...sungguh melelahkan berperan sebagai nona, sudah sebaiknya sekarang kamu kembali sebelu mereka mendapati kamu tak ada ditempat." Anita merebahkan tubuhnya di sofa.


"Ok, kamu tadi berperan sebagai nona dengan sangat baik. Aku pergi dulu." Sabrina berkata dan tersenyum lalu pergi dari rumah itu.

__ADS_1


__ADS_2