Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
Episide 193


__ADS_3

Semakin hari Zain merasakan kesembuhannya mulai terasa semakin membaik sebab Khumairah yang terus merawatnya dengan penuh kesabaran.


Zain merasakan jika Khumairah adalah wanita yang begitu sangat sempurnah dalam hal mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Zain mulai merasa nyaman dengan gadis polos itu.


Abdullah memanggil Zain kehadapannya "Mendekatlah.. Aku akan pergi sejenak ke ujung desa. Aku akan memanggil saksi dan wali hakim yang akan menikahkan kalian berdua, apakah Kau menerima pernikahan ini?" tanya Abdullah dengan tenang.


Zain terperangah mendengarnya. Ia tak pernah menduga jika kalimat itu meluncur dari mulut pria paruh baya tersebut.


"A-apakah Bapak bersungguh?" tanya Zain dengan tidak percaya.


Abdullah menganggukkan kepalanya. Ia bersungguh dalam ucapannya, sebab Ia tidak memiliki waktu untuk menahan semua ini. Ia merasa penyakitnya semakin lama semakin parah dan Ia takut tidak dapat menyaksikan pernikahan Khumairah.


Zain tak mampu harus berkata apa, Ia hanya menganggukkan kepalanya.


"Baiklah.. Aku percayakan Khumairah kepadamu, dan jangan pernah menyakitinya.." ucap Abdullah mengingatkan.


Zain hanya menganggukkan kepalanya dengan lemah, tanpa mampu memandang kepada pria paruh baya itu.


Lalu Abdullah berpamitan kepada Zain, Ia berpesan kepada Khumairah agar esok memasak lebih banyak dari biasanya, sebab akan ada acara pernikahannya dengan Zain.


Meskipun Ia belum mengerti tentang pernikahan ini, sebab Ia hanyalah gadis hutan yang sangat polos dan tidak memiliki edukasi tentang pernikahan dan hubungan lain jenis.


Khumairah hanya menganggukkan kepalanya mematuhi perintah sang ayah.


Setelah berpesan kepd Zain dan juga Khumairah, Abdullah mengayuh sepeda tuanya yang biasanya Ia pakai untuk ke ujung desa membeli pakaian untuk Ia dan keluarganya, itupun hanya setahun sekali Ia lakukan.


Abdullah mengayuh sepedanya dengan penuh semangat. Menempuh perjalanan berkilo meter untuk mencapai desa, Ia jalani dengan penuh semangat.


Setelah hampir setengah hari Ia mengayuh sepedanya, Ia merasa kelelahan dan beristirahat dibawah sebatang pohon.


Sementara itu, Zain merasakan hatinya begitu sangat berdebar saat mengetahui akan dinikahkan dengan gadis cantik itu.


Zain menghampiri sang gadis dan mempertanyakan kepada gadis itu apakah bersedia menikah dengannya apalagi dengan kondisi tubuhnya tanpa sebelah kakinya.


Khumairah merasa bingung, Ia belum memahami apa yang ditanyakan oleh Zain.


"Maksudnya.. Apa itu menikah?" Tanya Khumairah kepada Zain dengan penasaran.

__ADS_1


Zain membolakan matanya. Ia tak menduga jika gadis yang akan dinikahinya begitu sangat polosnya.


"Apakah Kau tidak memahami dan mengerti apa itu menikah?" tanya Zain dengan bingung.


Khumairah menggelengkan kepalanya, sebab Ia memang tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Zain.


Zain menggaruk kepalanya yang tak gatal. jika menikah saja Khumairah tidak memahaminya, bagaimana Ia harus menjelaskannya.


"Kamu melihat hubungan Ayah dan Ibumu kan?" tanya Zain kepada gadis itu.


Khumairah menganggukkan kepalanya, mencoba memahami apa yang akan dijelaskan oleh Zajn berikutnya.


"Hubungan Ayah dan Ibumu itu adalah hubungan pernikahan dari dua orang bukan muhrim, lalu dihalalkan dengan pernikahan dan akhirnya boleh bersentuhan lalu lahirlah Kamu" ucap Zain mencoba menjelaskannya.


Khumairah mengerutkan keningnya, Ia masih sedikit belum faham apa yang dikatakan oleh Zain.


"Jika Kamu belum mengerti, Aku jngin bertanya apakah Kamu mencintaiku? Maksudku kamu memiliki perasaan yang nyaman saat dekat denganku?" tanya Zain dengan hati-hati.


Khumairah menganggukkan kepalanya dan menatap pada pemuda didepannya.


Zain tersenyum sumringah mendapati pengakuan Khumairah.


Keduanya makan berdua tanpa Abdullah. Ada rasa hampa dihati Khumairah karena tidak pernah ditinggal sendirian oleh ayahnya, sebab selama ini Ia selalu ditinggal bersama Ibunya jika ayahnya pergi keluar hutan.


Setelah keduanya menyelesaikan makan siangnya, Khumairah pergi kebelakang rumah untuk menuju anak sungai mencuci piring dan mandi.


Sementara itu, Abdullah membuka bekal makan siangnya, lalu menyantabnya. Dalam menyuapkan makanannya itu, Abdullah terus memikirkan nasib puterinya. Mempercayakan kepada orang asing adalah hal yang sangat sulit, namun Ia tidak memiliki pilihan lain. Ia hanya dapat berharap pada Zain.


Khumairah sudah menyelesaikan pekerjaan rumah tangganya, dan dengan kondisi menggunakan kain basahan, Ia menuju rumah tua mereka untuk membawa wadah plastik besar dan tentu saja kondisi itu membuat lekuk tubuh sang gadis terbentuk sempurnah.


Zain yang saat itu baru saja keluar dari kamarnya tanpa sengaja berpapasan dengan Khumairah yang tampak begitu menggoda imannya.


Ia menyadari jika gadis bukanlah sengaja menggodanya, sebab Khumairah terlalu polos akan hal itu.


Namun Ia yang seorang pria yang pernah merasakan beberapa gadis saat membalaskan dendamnya kepada Amyra membuat nauri kelakiannya bangkit dengan tiba-tiba.


Kondisi rumah yang sepi tanpa siapapun, membuat Kesempatan iblis datang merasukinya.

__ADS_1


Setelah merapikan piringnya, Khumairah memasuki kamarnya dan berniat untuk mengganti pakaiannya.


Zain yang sudah dikuasai oleh hasrat membara mengekori Khumairah yang sudah masuk terlebih dahulu.


Saat Ia memasuki kamar gadis itu, Ia terperangah melihat sang gadis yang melepaskan kain penutup tubuhnya tanpa menyadari kehadiran Zain.


Zain semakin merasa terbakar hasratnya melihat pemandangan indah itu.


Saat Khumairah berbalik, Ia dikejutkan dengan kehadiran Zain yang tiba-tiba saja sudah berada didalam kamarnya.


Ia menutup tubuh intinya dengan kedua tangannya. Zain berjalan tertatih menghampiri sang gadis yang tampak bingung dengan prilaku Zain yang tak biasa.


"Mas mau apa kesini?" tanya Khumairah yang masih menutupi kedua organ intinya dengan kedua tangannya.


"Jangan berteriak, Ku mohon.." ucap Zain menghiba.


Khumairah masih tampak bingung dengan bahasa tubuh Zain yang sangat berbeda.


Setelah jarak mereka begitu sangat dekat, Zain menarik wajah Khumairah mendekati wajahnya.


Ia memagut rakus bibir sang gadis. Gadis itu masih bingung, namun Ia merasakan gelenyar aneh didalam aliran darahnya, ini yang pertama kali Ia rasakan dan juga Ia lakukan.


Melihat sikap polos Khuamirah, Zain semakin bersemangat untuk memberikan rasa yang tak pernah dirasakan oleh gadis itu.


Tangannya mulai menjelajahi dua buah melon sang gadis, yang membuat gadis itu kalang kabut dan menggelinjang hebat.


Zain mendorong sang gadis keranjang tua yang terbuat dari papan itu dengan sangat liar.


Khumairah hanya pasrah menerima perlakuan sang pemuda. Ia yang tak pernah merasakan hal itu sebelumnya, tentu merasa sangat penasaran.


Zain melahab kedua buah melon itu dengan begitu rakusnya, sehingga Khumairah bagaikan cacing kepanasan.


Hasrat Zain semakin tak terbendung dan ingin melakukan penyatuan, namun tiba-tiba Ia tersadar akan amanah yang dibaru saja dipercayakan oleh Abdullah kepadanya.


Ia beranjak dari tempat tidur Sang gadis yang tampak bingung.


"Maafkan Aku.. Aku khilaf.. Aku akan memberikanmu semuanya setelah pernikahan kita" ucap Zain, lalu pergi meninggalkan Khumairah begitu saja.

__ADS_1


Ia memasuki kamarnya, rasa penyesalan yang hampir saja merusak gadis itu membuatnya merasa sangat bersalah. Ia tidakn ingin terjerumus kedalam kubangam dosa lagi.


__ADS_2