Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
Episode 205


__ADS_3

Setelah menyantab pesanan Amyra, Denny tampak kekenyangan, Ia bersandar dikursi yang terdapat disisi ranjang.


"Kamu yang ngidam koq Mas yang bawaannya pengen makan mulu, ya?" ucap Denny mengeluh.


"Tak mengapa, paling juga ntar perut kita sama besarnya" ucap Amyra berkelakar.


Denny tiba-tiba tersadar dengan ucapan istrinya, jika Ia merasakan perutnya sedikit mulai membuncit. "Wah.. Bisa barengan Kita, Sayang.. Tapi ntar kamu lahiran, jadi kempis, Perut Mas tetap buncit juga" ucap Denny sembari menge lus perutnya.


Amyra tertawa geli mendengarnya, sebab Ia melihat Denny tampak sedikit berisi "Ya olah ragalah, Mas" jawab Amyra menyarankan.


"Biarin saja.. Ntar kalau buncit kan gak ada cewek yang mau sama Mas" jawab Denny yang tampak memejamkan matanya karena merasa sangat-sangat kekenyangan.


Amyra terdiam mendengar ucapan suaminya, sampai seperti itukah Ia menghindari untuk merawat penampilannya.


Amyra menatap wajah sang suami yang kini sepertinya mulai mengantuk, dan tampak begitu sangat menggemaskan.


"Mas.." ucap Amyra memanggil suaminya.


"Heeem.." jawab Denny dengan suara yang lemah, mungkin ngantuk sebenarnya.


"Pindah kemari" pinta Amyra dengan suara menghiba.


Denny bangkit dari duduknya, dengan nyawa yang masih setengah dan berjalan terhuyung Ia naik keranjang tidur disisi Amyra.


Kondisi mengandung saat ini, membuat Amyra selalu ingin dekat Denny. Bahkan hal aneh yang dilakukan Amyra, Ia suka mencium aroma ketiak suaminya, ya.. Untung saja ketiak suaminya tidak bau asem.


Amyra menyelipkan wajahnya diketiak Denny, lalu merasakan aroma khas seorang, dan perlahan mulai tertidur.


Ditempat lain, Dokter Bram melaporkan hasil pemeriksaan yang didapatnya saat memeriksa Amyra tadi.


Ia tak pernah menduga jika pasien yang tadi ditanganinya seorang Ibu muda yang begitu menawan hatinya.


Banyak Ia menangani pasien, dan baru kali ini Ia merasakan jika hatinya berdebar saat memeriksa pasiennya.


Ia melihat Amyra begitu sangat berpenampilan sederhana meskipun Ia seorang istri pengusaha.

__ADS_1


Berbeda dengan kebanyakan wanita lainnya yang selalu berpenampilan seperti selebritis dan penuh kemewahan dengan berbagai barang branded.


Namun tidak untuk Amyra, Ia mampu menahan semua keinginannya untuk membeli barang-barang seperti itu.


Bram mengetahui hal tersebut saat tanpa sengaja melihat sebuah lemari kaca yang berisi koleksi tas milik Amyra yang berada didalam kamar.


"Dimana ad satu stok lagi wanita seperti itu? Sudah cantik, tidak banyak tingkah" guman Bram dalam hatinya.


Ia sepertinya kngin menjadi dokter pengganti untuk Amyra dalam merawat wanita muda itu selama 6 bulan saja.


Dalam benaknya, ada sesuatu yang membuatnya merasa nyaman.


Sementara itu, Denny merasakan dalam kantuknya jika Amyra yang menyelipkan kepalanya dibawah ketiaknya, ada rasa geli disana, namun Ia harus mencoba menahan semuanya, meski terasa berat.


Ia membelai lembut kepala sang istri, hingga akhirnya mereka sama tertidur.


Mbak Ridha tersentak kaget saat tanpa sengaja masuk kedalam kamar dan melihat majikannya sedang tidur bersama.


Saat ini sudah pukul 3 sore, maka sebelum pukul 5 Ia harus sudah membantu sang Nonya mandi karena Myra harus dibantu ke kamar mandi.


"Wah.. Tuan tampaknya begitu sangat menyayangi Nyonya. Semoga Saya beruntung dan medapatkan suami yang menyayangi saya" guman wanita berusia 28 tahun yang sampai saat ini belum menemukan jodohnya.


Ia betah bekerja dirumah Amyra karena selalu mendapatkan gaji tepat waktu, dan majikannya selalu memberikan bonus tambahan setiap bulan dengan alasan Zakat harta.


Ridha merasa sangat beruntung bekerja dirumah majikannya, dan Ashraf yang juga sudah dianggap seperti adiknya sendiri juga sangat manja kepadanya. Sebab Ashraf juga usianya tak jauh beda dengan adiknya.


"Mbak.. Makan" rengek Ashraf yang kini berusia 8 tahun memecah lamunannya.


Ridha tersentak, dan menoleh kearah Ashraf.


"Iya.. Mau makan pakai apa?" tanya Ridha lembut.


"Telur dadar dan nuga nugget ya, Mbak" pinta Ashraf yang tidak begitu rewel soal makanan.


"Iya.. Mbak masakin dulu, Ya.. Kamu tunggu dimeja makan" titah Ridha.

__ADS_1


Lalu Ashraf menganggukkan kepalanya dan mengikuti Ridha ke dapur lalu duduk di kursi makan sembari menunggu Ridha memasak lauk untuknya.


"Biar saya saja yang masakin m, Mbak" Mbak Inem menawarkan dirinya, sebab Ia Asisten yang bertugas di bagian memasak dirumah Amyra.


"Tidak apa-apa, Mbak.. Sebab Den Ashraf saya sudah tau wataknya, jika meminta memaskkan dengan orang yang dimintanya, maka orang itu yang harus memasaknya, sebab nanti Dia tidak mau memakannya." Ridha mencoba menjelaskan.


Inem menganggukkan kepalanya dan mencoba mempelajari kebiasaan dirumah tersebut, karena Ia baru beberapa waktu dirumah ini.


"Mbak siapkanuntuk memasak makan malam saja, masalah Den Ashraf dan Najma itu urasan saya" ucap Ridha kembali.


"Iya, Mbak.. " jawab Inem dengan patuh.


Ridha teringat ketika usia Ashraf masih 4 tahun. Saat itu Ia merengek meminta dibuatkan susu formula. Karena Ia sedang kerepotan kala itu, Mbak Lela yang kebetulan bertandang untuk melaporkan rekapitulasi hasil laundry yang dikelolanya datang membantu dan membuatkan susu.


Ashraf menolaknya dan tidak mau meminum susu buatan Mbak Lela dan terus merengek untuk Ridha yang harus membuatnya.


Padahal waktu itu Ridha benar-benar sibuk dan Ashraf terus menangis.


Saat seperti itu, untung saja Amyra sigap dan meraih botol susu buatan Mbak Lela dan berpura-pura kedapur membuat yang baru dan menyerahkannya kepada Ashraf.


Karena melihat botol berasal dari tangan Mamanya akhirnya Ashraf diam dan menyusu.


Selain Amyra, Ashraf tidak akan mau patuh dan untungnya saja dengan Ridha Ashraf juga mau mendengarkan ucapnnya.


Ridha sudah selesai memasak apa yang diminta Ashraf "Dimakan yang banyak, Ya.." ucap Ridha sembari menyodorkan piring berisi nasi dengan telur dadar dan juga nugget.


Ridha juga meletakkan botol saus pedas instan didekat Ashraf "Abang Ashraf makan yang banyak, dan jangan nakal. Sebab Mbak mau mempersiapkan pakaian ganti untuk mama, karena sebentar lagi Mama jadwal mandi" ucap Ridha mencoba memberi pengertian.


Ashraf menganggukkan kepalanya dan mulai menyantab makanannya.


"Anak pinter, Mama Abang Ashraf sedang sakit, maka Abang harus jadi anak baik" Ridha kembali mengingatkan sembari mengacak lembut rambut Ashraf dan beranjak kekamar majikannya.


Ridha mengetuk pintu, Ia harus membangunkan Amyra, sebab dalam kondisi hamil Amyra tidak boleh tidur menuju maghrib dan juga mandi lewat pukul 5 sore.


Maklum, Ridha masih orang desa yang masih memegang semua pituah dari orang tua terdahulu.

__ADS_1


"Masuk.. Jawab Denny serak dan sepertinya Ia juga tertidur pulas.


Denny tersentak sebab Ia belum shalat Ashar. Ia bergegas ke kamar mandi dan berwdhu lalu dan shalat Ashar, mengejar ketertinggalannya.


__ADS_2