Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
Bab 41


__ADS_3

Dua hari kemudian Kenan berangkat ke Beijing untuk dinas luar dalam pembahasan masalah kerja sama dengan pihak luar yang mengambil banyak barang dari perusahaan Kenan sebagi pensuplai bahan - bahan pokok.


Siang itu Kenan telah sampai di Beijing dan telah disediakan kamar oleh pihak hotel, hari itu Kenan datang ditemani oleh Agus sebagai asisten Kenan. Pihak hotel menyambut kedatangan Kenan dengan baik karena perusahaan Kenan selama ini telah melakukan banyak hal untuk segala kebutuhan dari hotel, dan selalu memuaskan.


"Selamat datang dan selamat beristirahat tuan Kenan, maaf ibu manager sedang cuti jadi saya sebagai wakilnya mewakili beliau untuk menyambut tuan Kenan, jika ada yang dibutuhkan silakan menghubungi saya saja." ucap wakil manager hotel pada Kenan.


"Baiklah terima kasih." Kenan menjawab dengan ramah dan dia masuk kedalam kamarnya untuk beristirahat.


...💔💔💔...


Hari ini Fairi siap - siap untuk pulang ke rumah karena dia sudah 4 hari dirawat di rumah sakit dari sejak dia datang dengan keluhannya, dan keadaannya sudah membaik serta stabil. Fairi menatap bayi kecil yang sedang tertidur pulas itu dengan wajah berseri. Dia tak pernah menyangka kalau dirinya akan menjadi seorang ibu dari sosok yang begitu sangat memukau bagi dirinya.


"Kenapa nak Fairi?" Bi Mina bertanya dengan bingung karena Fairi lekat - lekat menatap bayi dalam gendongannya.


"Tidak ada bi, dia lucu sekali. Tubuh kecil mungil yang tak berdaya ini, dia akan jadi seperti apa nantinya aku sungguh sangat penasaran." Fairi berkata sambil mengangkat bayinya dan menciumnya.


"Jadi apa dia nantinya, nak Fairi lah yang berperan dalam hidupnya dan harus membimbing dia dengan baik dan benar, agar dia tak jadi salah jalan." Bi Mina tersenyum dan mengusap kepala Fairi.


"Sudah siap semua?" Melisa berseru dengan sangat semangat dari ambang pintu.


"Sudah, ayo." Bi Mina membantu Melisa membawa barang - barang Fairi.


"Dia lucu sekali, sangat kecil dan aku ingin sekali mencubitnya." Melisa terlihat gemas dengan bayi Fairi. Dan dia terus saja mencolek dan mencubit ringan pipi bayi Fairi saat dalam mobil.


Bayi kecil itu menggeliat dan mengerutkan keningnya saat Melisa mencubit pipi dan hidupnya, lalu Fairi dan Melisa tertawa bersama sehingga guncangan dari tubuh Fairi membuat bayinya terbangun dari tidurnya dan membuka mata hitamnya yang bening.


Deg (jantung Fairi berdebar karena dia teringat akan tatapan tajam dari bola mata Kenan yang menatapnya dengan dingin)


Fairi tersenyum saat dia tersadar kembali akan lamunannya, dan melihat Melisa yang dengan seru mengganggu bayinya yang hampir tak pernah menangis ini, bayi kecil ini hanya akan menangis saat dia merasa lapar, gerah, dan sedang risih karena buang air kecil atau air besar saja.


"Nona sudah sampai" seru supir taksi yang ditumpangi Fairi dan yang lainnya


"Iya, terima kasih pak." Fairi keluar dan Melisa membayar ongkos taksinya.


...💔💔💔...


Keesokan harinya saat Melisa melintas di lobby hotel dia melihat sekilas Kenan masuk kedalam lif, Melisa mencobak mengejarnya untuk lebih memastikannya. Namun dia kehilangan jejaknya. "Pasti bukan, karena kak Kenan tak kan mungkin kesini." gumam Melisa lalu dia pergi.


"Lisa, bagaimana? Apa anak dari Bu Laras?" tanya rekan kerja Melisa


"Iya, ayo kapan kita menjenguknya?" rekan kerja lainnya juga ikut bertanya.


"Enaknya bawah apa ya?" rekan kerjanya sedang heboh berfikir kado yang akan mereka bawah nanti.


"Aku justru penasaran setampan apa dan secantik apa anaknya?" wakil Fairi


Melisa tersenyum melihat semua pegawai sedang heboh dengan kelahiran anak Fairi dan mereka ingin segerah untuk pergi menjenguknya, karena selama ini Fairi sangat baik pada semua pegawai jadi mereka semua pun baik sama Fairi dan sangat mengidolakan Fairi.


"Halo tuan Kenan, ini sungguh sebuah kehormatan bagi saya, karena bos besar langsung yang datang untuk kali ini." Tuan Jonson menyambut Kenan dalam pertemuan bisnis itu, di ruang rapat hotel.


"Sebuah kehormatan juga bisa datang dan bertemu langsung dengan pimpinan dan pemilik hotel langsung." Kenan menjawab dan berjabat tangan dengan tuan Jonson


"Bagaimana pendapat tuan Jonson mengenai perusahaan kami yang sudah lama bekerja sama, apakah ada keluhan atas bahan atau prodak yang kami kirimkan." Kenan menanyakan pendapat dan penilaian soal kinerja perusahaannya.

__ADS_1


"Ya, saya sangat puas dengan kerja sama ini tuan Kenan, karena semua bahan yang anda kirim selalu fresh dan kapan pun permintaannya anda tak pernah mengecewakan kami, apa lagi dari pengunjung kami banyak sekali yang merasa puas, karena dari bahan yang bagus pasti masakannya juga akan menjadi bagus. Dan untuk semuanya sampai sekarang tak ada keluhan dari kami." Tuan Jonson menjawab dengan sangat puas.


Pagi itu dihabiskan dengan pertemuan dan pembicaraan bisnis karena tuan Jonson juga ingin menawarkan pada Kenan untuk bekerja sama dengan mol yang juga dia pimpin dan akan menjadikan prodak Kenan menjadi barang nomer satu dari mol itu. Dengan begitu maka Kenan bisa memasarkan prodak kosmetiknya di pasar luar negeri, yang artinya produknya akan menjangkau pasar luar dan jika berhasil akan meraup untung besar.


"Pembicaraan kita jadi semakin dalam saja, tapi bagaimana pun semua kembali pada tuan Kenan lagi. Karena saya hanya ingin lebih banyak bekerja sama dengan tuan Kenan yang sangat luar biasa ini. Tidak hanya menguasai pasar Asia dengan prodak makanannya namun juga merek kosmetiknya, sungguh sangat luar biasa, bahkan diusia yang sangat muda ini" puji tuan Jonson pada Kenan.


"Anda terlalu memuji, bahkan anda juga sangat luar biasa, tidak hanya mendirikan hotel, anda juga mendirikan mol yang sangat besar." Kenan memuji balik.


"Hahaha,,, kesuksesan dalam berbisnis lancar, namun kesuksesan dalam cinta gagal taun Kenan. Bagaimana dengan tuan Kenan sendiri? Maaf ini agak pribadi." Tuan Jonson berkata dengan senang.


"Sama saja, saya juga kehilangan permata dan sekarang sedang berusaha untuk mengejarnya kembali." Kenan menjawab dengan santai.


"Hahaha,,, rupanya kita senasib. Tapi sepertinya tuan Kenan masih lebih baik dari saya, karena setidaknya tuan kena sudah pernah menggapainya, sementara saya belum pernah dan bisa dibilang tak bisa mendapatkannya dan hanya bisa mengaguminya serta berusaha untuk menarik perhatiannya" tuan Jonson berkata dengan blak blakan.


"Semoga tuan Jonson berhasil menggapainya." Kenan memberikan semangat.


"Ya, ya semoga saja. Oh iya apa tuan Kenan sudah keliling Beijing? Kalau ada waktu ayo kita keliling dulu, aku akan membawah tuan Kenan ke tempat - tempat bagus di sini." Tuan Jonson menawarkan diri untuk membawah Kenan keliling


"Tidak terima kasih, saya tak ingin menyita waktu tuan Jonson yang padat." tolak Kenan dengan sopan.


"Baiklah, baiklah. Kalau begitu aku akan mengatur orang untuk menemani tuan Kenan, dia juga dari Indonesia dan anaknya sangat baik. Sebenarnya ada manajer hotel ini yang juga dari Indonesia tapi dia masih cuti karena melahirkan." Tuan Jonson berkata dengan senang.


"Baiklah terima kasih atas pengaturan tuan Jonson." Kenan menjawab dengan senang juga.


"Kalau begitu selamat bersenang - senang dan selamat atas kerjasama kita berdua." Tuan Jonson berkata dan mereka pun berjabat tangan. "Mari saya akan mengantar tuan Kenan sampai kamar hotel." tuan Jonson pun masuk kedalam lif bermasa dengan Kenan dan para asisten mereka.


"Kak Kenan? Beneran kak Kenan?" Melisa yang berpapasan dengan Kenan di depan lif terlihat sangat bahagia.


"Oh, kalian saling kenal? Bagus lah kalau begitu, tadinya saya akan mengatur Melisa untuk menemani anda berkeliling, ternyata kalian sudah saling kenal, kalau begitu Melisa ku titipkan dia padamu dan ajak dia berkeliling Beijing, dia adalah tamu spesial hotel ini." Tuan Jonson berkata dengan senyuman yang menawan.


"Ya, dia adik dari sahabat saya." Kenan menjawab dengan ringan.


"Bagus, bagus kalau begitu selamat bersenang - senang." ucap tuan Jonson dan dia meninggalkan hotel.


...💔💔💔...


Sore itu bayi Fairi sangat rewel dia terus saja menangis tanpa henti, bahkan dia gak mau untuk disusui. Fairi sangat bingung dan juga panik dengan hal itu, karena ini merupakan pengalaman pertama baginya.


"Kenapa dia rewel nak?" Bi Mina bertanya dengan bingung juga


"Tidak tau bi, sudah diganti semua baju dan popoknya, perutnya juga gak kembung tapi dia tetap saja menangis? Bakan tidak mau untuk menyusu. Apakah ada yang sakit dengan dia? Dia kenapa ya bi?" Fairi terlihat sangat panik.


"Kenapa ini, ada firasat apa yang akan terjadi?" bi Mina l berkata dengan takut


"Apa maksud bibi? Memangnya ada apa bi?" Fairi bertanya dengan takut sambil menggendong bayinya yang masih rewel tanpa sebab.


"Eh, loh kenapa kok si boy nangis terus? Apakah dia sedang sakit?" tanya tetangga sebelah rumah Fairi yang datang untuk melihat bayi Fairi


"Tidak tau Tan, dari tadi tiba - tiba saja rewel kalau orang Indonesia bilang." jawab Fairi dengan ramah.


"Atau dia merasakan adanya bahaya, atau akan ada masalah yang datang mendekat? Karena bayi selalu bisa merasakan firasat sepeti itu" jelas tetangga itu pada Fairi, dan hal itu membuat Fairi jadi semakin panik.


"Kita bawah ke rumah sakit saja nak Fairi." ajak bi Mina.

__ADS_1


"Hah? Oh baiklah bi, Fairi menghubungi taksi online dulu" jawab Fairi yang tertegun dengan omongan tetangganya tadi


"Kami pergi ke rumah sakit dulu ya Tan." ucap Fairi dan tetangga Fairi pun pulang.


...💔💔💔...


"Ayo kak masuk ini rumah kontrakan Lisa." Melisa membawah Kenan ke rumahnya setelah jalan - jalan keliling Beijing seharian.


"Lumayan nyaman, apa kau tak ada rencana untuk kembali ke Indonesia?" Kenan bertanya dengan penasaran karena disana Dafid sangat tidak baik.


Melisa tersenyum mendengar pertanyaan Kenan, "Apa kak Kenan disuruh kak Farid atau Kak Dafid untuk bertanya ini hah? Karena ini sangat aneh, Kenapa tahun ini kakak yang datang biasanya kak Farid yang datang dengan ngomelnya panjang lebar pada ku." Melisa berkata dengan tersenyum.


"Hah, kau suka sekali menyiksa hati orang." Kenan berkata dengan tersenyum


Melisa mempersilakan Kenan untuk duduk dan membuatkan minuman untuk Kenan, lalu Melisa menatap orang yang datang bersama dengan Kenan hanya berdiri diam didepan pintu rumah.


"Dia siapa kak?" tanya Melisa pada Kenan.


"Dia Agus, asisten baru yang diatur kan oleh kakak mu untuk ku" jawab Kenan santai


"Ayo kak Agus, kenapa berdiri saja. Ini bukan saatnya bekerja santai lah, ayo masuk." Melisa mendekati Agus yang berdiri di luar rumah Melisa.


"Ah iya, aku merasa aneh saja dengan tetangga sebelah, sepertinya dia juga orang Indonesia ya? Ku lihat mereka sangat panik dan memanggil taksi untuk pergi entah kemana sambil membawah bayi yang menangis terus." Agus berkata dan berjalan masuk.


"Eh benarkah? Apa mereka sudah berangkat?" Melisa terlihat panik setelah mendengar itu dari Agus.


"Eh, eh Lisa." Agus memanggil Melisa yang lari ke rumah sebelah dan membuka pintunya.


"Kenapa Gus?" Kenan ikut keluar dan melihat.


"Melisa masuk ke rumah tetangga sebelah, padahal orangnya sudah pergi." jelas Agus bingung


"Kenapa bisa begitu?" Kenan dan Agus ikut memasuki rumah Riri untuk melihat Melisa.


"Apa benar tidak apa - apa mbak? Atau ada barang yang mau dibawah ini Lisa ada di rumah. Kenapa mbak Fairi gak bilang Lisa kalau mau pergi?" Melisa bertanya pada Fairi lewat panggilan telepon.


"Lisa, ada apa?" Kenan bertanya dengan menatap bingung pada Melisa.


"Oh, kak Kenan. Tidak ada, aku cuma mau melihat barang kali saja ada yang mau dibutuhkan oleh mbak Fair, ,ah maksudku mbak Laras." jawab Melisa, karena Fairi hanya mengijinkan namanya dipanggil Fairi saat bersama keluarga saja, namun kalau ada orang luar maka namanya jadi Laras


"Kau bilang siapa tadi?" Kenan merasa kalau Melisa sebelumnya menyebutkan nama lain


"Ah, siapa? Maksudnya mbak Laras? Dia sama - sama dari Indonesia sama dengan ku kak." jawab Melisa dengan canggung dan langsung mematikan sambungan telepon begitu Kenan datang, dan Kenan mengerutkan keningnya karena Kenan sangat yakin kalau Melisa tadi mau menyebutkan nama lain sebelum menyebut nama yang dia panggil dengan nama Laras.


"Non Laras, oh ku pikir sudah pulang, karena dari tadi anaknya sangat rewel." tetangga sebelah Laras yang datang untuk menjenguk datang lagi karena melihat rumah Laras terbuka.


"Belum datang bibi Ceng." Melisa menjawab dengan sopan.


"Ya sudah aku pulang dulu, ini berikan padanya nanti kalau sudah datang." Bibi Ceng menitipkan sesuatu pada Melisa.


"Iya terima kasih. Ayo kak." Melisa mengajak Kenan keluar dari rumah Fairi setelah menerima barang dari bibi Ceng.


"Hm" Kenan merasa suka dengan aroma rumah itu yang seluruh ruangannya semerbak aroma bayi yang dominan dengan bau harus dan menyegarkan, seperti aroma minyak telon dan parfum bayi yang khas.

__ADS_1


Keluar dari rumah Fairi Kenan merasa sangat janggal dan aneh karena dia merasa seperti ada sesuatu yang tertinggal dan dia lupakan, bahkan saat di hotel masih saja dia merasa tak tenang. Perasaannya semakin berat yang kadang samar - samar mencium aroma harum bayi yang menyegarkan itu menggoda penciumannya.


"Hah, ini aneh sekali. Kenapa aku jadi merindukan aroma rumah tetangganya Lisa, disana terasa sangat menenangkan dan juga nyaman." gumam Kenan tersenyum sendiri.


__ADS_2