
Denny pulang dengan membawa berbagai makanan dan tak lupa pula es campur yang kesukaan Amyra.
Meskipun lelah, Ia mencoba untuk terus merayu hati Amyra yang terlihat masih bersikap padanya.
"Sayang.. Ini Es campur kesukaan kamu" ucapnya lalu meletakkannya diatas meja nakas, dan bergegas mandi karena waktu hampir senja.
Ada rasa iba dihatinya, apakah Ia harus tetap bersandiwara akan hal ini, dan tetap memilih mengerjai Denny yang sudah berusaha untuk merebut hatinya.
Namun seperti Papa Rudy katakan, Ia hanya ingin melihat sejauh mana Denny dengan kesungguhannya.
Amyra menyiapkan pakaian shalat Denny dan juga pakaian tidur, namun tanpa bicara apapun, masih diam.
Lalu Ia menyiapkan dirinya untuk shalat berjamaah. Ia memandang beberapa makanan kesukaannya, lalu mencomot salah satunya dan memakannya.
Tak berselang lama, terdengar pintu kamar mandi dibuka, Amyra segera keluar dari kamar dan menunggu di sofa bersama Najma dan juga Ashraf yang juga bersiap untuk pergi shalat berjamaah.
Saat keluar dari kamar mandi, Denny sedikit tersentak saat melihat Amyra sudah menyiapkan pakaian shalat dan juga pakaian tidur.
Dengan tersenyum sumringah Ia meraih pakaian itu dan menyesap aromanya, lalu memandang keluar pintu.
Denny menduga jika Amyra mulai luluh dengan apa yang dilakukannya dalam merayu dan merebut hati wanitanya.
Kenudian Ia bergegas mengenakannya dan merapikan dirinya untuk pergi ke mushallah. Saat keluar dari kamar, Ia melihat Anyra dan kedua anaknya serta Mbak Ridha juga sudah bergabung untuk pergi bersama ke Mushallah.
Namun alam berkata lain, tiba-tiba saja hujan turun dan rintik hujan mulai terdengar dan perlahan turun dengan deras, sehingga mereka tak dapat menuju mushallah.
Lalu terdengar lantunan adza Maghrib dan akhirnya mereka shalat berjamaah dirumah saja.
Saat selesai shalat berjamaah, mereka bersalim kecuali Ridha.
Amyra menyalim tangan Denny, namun masih dalam diam, dan Denny meraih ujung kepala Amyra dan mengecupnya dengan lembut yang masih terrutup dengan mukena.
Sementara itu, Grace merasakan tubuhnya yang semakin panas dan menggeliat bagaikan cacing kepanasan.
"Des.. Ku kira kau teman, tetapi ternyata.." ucapnya dalam rintihan lirih yang Ia tak dapat menolaknya.
"Sudahlah, Grace.. Kau akan mendapat keuntungan besar jika melayani pria ini" ucap Desy tanpa merasa bersalah dan terus menyetir.
__ADS_1
Grace terus menggeliatkan tubuhnya yang sudah tak dapat terkendali lagi.
Desy membuka laci nakas mobilnya, lalu mengambil sebotol obat yang yang tampaknya ramuan tradisional dan dalam bentuk butir hitam mirip jamu.
Ia mengambil 5 butirnya sekaligus, lalu membuka memaksa membuka mulut Grace dan memasukkannya dengan paksa, sehingga Grace menelannya.
"uhuuuuuk.." Grace tersedak dan terbatuk, lalu meneguk air pemberian Desy "Sialan, Apalagi yang kau masukkan kedalam mukutku?" ucap Grace kesal.
"Beerisik banget sih, Kamu. Itu ektra manjakani, berfungsi biar **** * mu rapet lagi. Aku sudah melihat beritamu ditelevisi yang dilempar keluar dijalanan dan pastinya habis dirudal paksa" ucap Desy menjelaskan.
Grace tercengang "Apa? Aku sampai diliput awak media dan masuk berita?" tanya Grace tak percaya.
"Ya.. Berita itu menyebutkan jika kamu habis dirudal paksa kawanan remaja brandal, dan itu terekam dari camera cctv yang terpasang dijalanan" jawab Desy santai.
"Siall.." ucap Grace dalam kegelisahannya.
"Tenannglah.. Ramuan itu bisa buat **** *-mu yang longgar jadi rapet lagi" Ucap Dessy sekenanya.
Sesampainya di klub malam yang mereka tuju, Desy membawa Grace kesebuah kamar yang sudah dipesan untuk Grace menjual tubuhnya.
Sesampainya dikamar itu, Grace masuk dan menunggu tamu yang akan dilayaninya "Tunggulah sebentar, jangan coba kabur" ucap Desy dengan nada penuh penekanan.
Desy menemui seseirang dan melakukan transaksi sesuai kesepakatan antara Ia dan pria yang akan menyewa jasa layanan Grace.
Setelah menemukan kesepakatan, akhirnya pria itu melakukan pembayaran.
Disisi lain, Grace sudah merasakan tubuhnya sangat panas dan membutuhkan pria untuk pelampiasan, siapapun tak lagi penting, yang terpenting dapat menyalurkan hasratnya.
Grace sudah mengenakan lingere untuk menyambut pria yang akan menyewa jasa layanannya dan juga ikut memuaskannya.
Grace duduk ditepian ranjang dan memebelakangi pintu kamar. Lalu terdengar suara derap langkah kaki pria yang membuka pintu kamar hotel dan perlahan menutupnya.
Pria perlahan mendekatinya dan kini berdiri disisi ranjang.
Tangan pria itu kini menyentuh pundak Grace, sehingga membuat wanita itu menoleh kearah sang pria. Saat keduanya berhadapan, tiba-tiba saja mereka tersentak dan sama kagetnya.
"Kau..?! sial..!!" maki pria itu dengan kesal.
__ADS_1
"Kau..?!" Grace mengerutkan keningnya dan merasa kesal, namun hasrat sudah menggebu dan tak dapat ditoleransi.
Keduanya tampak kesal dan saling menyalahkan dan merasa saling tertimpa sial.
Pria yang merasa sangat kesal itu tak lain adalah Tony "Aku membayar mahal hanya untuk wanita sepertimu, sungguh sial nasibku hari ini, dan karenamu Aku dipecat dari perusahaan, dan sebahian pesangon aku gunakan hanya untuk bersenang-senang dengan wanita, dan aku tertimpa sial menbayarmu" gerutu Tony dengan kesal.
Grace tertawa senang, akhirnya Tony juga mendapatkan kesialan yang sama dengannya.
Namun karena sudah terjadi transaksi pembayaran dimuka yang mana Desy adalah sang mucikarinya, maka mau tak mau Tony harus menerima kenyataannya jika Ia memiliki teman kencan yang ternyata Grace.
Grace yang sudah tak dapat lagi menahan hasratnya menerkam Tony yang masih mengomel dan mencumbu pria yang juga setengah mabuk alkohol itu.
Akhirnya mereka melakukan pergumulan meski saling mengomel.
Tony merasakan sedikit berbeda dari gigitan disenjatanya oleh milik Grace, Ia memiliki ide agar tak merasa rugi. Ia berniat akan membuat Grace untuk menjadi mesin pencetak uangnya, apalagi saat ini Ia sudah tidak lagi bekerja.
Tony tersenyum sumringah, dan menuntaskan hasratnya yang sudah kepalang tanggung.
Setelah keduanya terkapar, mereka tertidur lelap.
Saat pagi menjelang, keduanya terbangun lalu saling menatap dan Grace membuang muka. Tony mencoba melancarkan aksinya.
Ia menarik pergelangan tangan Grace "Maafkan Aku, maukah Kita bersikap akur saat ini?" Rayu Tony dengan segala cara.
"Malam ini kamu luar biasa, menggigit seperti gadis" puji Tony dengan berbisik ditelinga Grace yang membuat wanita itu melayang.
"Ayolah.. Jangan marah lagi. Maukah Kau hidup seatap denganku, namun tanpa ikatan, dan kita tetap bebas dengan pasangan yang kita inginkan?" ucap Tony memberikan tawaran.
Grace terdiam, Ia mencoba menimbang apa yang dikatakan oleh Tony.
"Aku memiliki sebuah apertemen, dan sudah lunas. Kita dapat tinggal disana, maka kamu tidak perlu repot memikirkan untuk membayar bulanan apertemen kamu" ucap Tony dengan berbagai rayuan yang akan menjerat Grace.
Grace memutar tubuhnya, dan menatap pada Tony "Maksudnya kamu memberiku tumpangan gratis di apartemenmu?" tanya Grace dengan penasaran.
Tony mengangguk cepat. "Ya.. Gratis" ucap Tony dengan senyum seringai.
"Sepertinya Aku tertarik dengan tawaranmu" ucap Grace menyetujui tawaran yang diberikan oleh Tony kepadanya.
__ADS_1
Namun Grace akan menagih bayarannya kepada Desy yang tentu sudah mendapatkan banyak uang dari Tony. Ia sepertinya dapat mengandalkan Tony dalam melanjutkan hidupnya, dengan tumpangan gratis diapatemennya.