
"Ken bagaimana hasilnya pembicaraan dengan atasan Sofi"
Farid merasa penasaran dan ingin tau segerah karena dilihat dari proposal yang ditawarkan oleh pihak dari Sofiana sungguh sangat menarik
"Sangat bagus dan semuanya sesuai dengan target, bahkan saat mereka menjelaskan sungguh sangat bagus. Dan jika semuanya berjalan sesuai dengan rencana maka keuntungannya akan sangat luar biasa."
Kenan menjelaskan dengan sangat antusias karena kerja sama kali ini memberikan keuntungan yang lumayan besar pada pihak Kenan. Karena PT Warsa Air adalah perusahaan besar yang sedang berkembang di luar negeri dan sudah memiliki beberapa anak induk di berbagai kota di Indonesia.
"Wah ini sangat luar biasa, aku tak menyangka kalau Sofi bisa menjadi orang yang sukses seperti ini."
Farid berkata dan tak henti - hentinya memuji Sofiana yang dulu sangat pendiam dan tak banyak bicara.
"Hem, dia benar - benar membuktikan dirinya"
Kenan pun ikut memujinya dan tak pernah mengira kalau Sofiana bisa berkembang dengan sangat baik.
"Tapi Ken kalian tak berniat untuk menjalin hubungan lagi kan? Karena dulu setau ku kalian berpisah juga tak ada kata putus, tapi Sofi tiba - tiba pindah dan tak ada kabar lagi."
Farid menatap Kenan dan bertanya dengan penasaran, karen Sofiana adalah mantan Kenan dan mereka telah bersama sejak masuk kelas 1 sampai kelas 2 dan saat kenaikan ke kelas 3 Sofiana tiba-tiba pindah sekolah dan tak ada yang tau dia pindah kemana.
"Tentu saja tidak, hubungan kami sudah berakhir sejak lama bahkan sudah puluhan tahun."
Kenan menjawab dan menjelaskan pada Farid kalau dia dan Sofiana tak akan mungkin bersama lagi.
"Tapi Ken, aku lihat sepertinya Sofi masih menyukai mu. Tatapannya padamu sangat beda dengan yang lain, dan dia juga selalu mencari alasan untuk bisa dekat dengan mu."
Farid berkata lagi dan menceritakan semua pengamatannya selama ini pada Kenan.
"Biarkan saja, aku juga sudah mengatakan padanya kalau hubunganku dan dia tak mungkin bisa dijalin lagi dan sudah berakhir sejak lama, sekarang ini aku hanya ingin bekerja saja dengan dia tak lebih, dan aku juga sudah tak memiliki perasaan apa pun padanya."
Kenan menjawab dan menjelaskan pada Farid kalau dia tak memiliki perasaan apa pun lagi pada Sofiana.
...💔💔💔...
"Mama mau ke papa."
Arlan mulai merengek pada Fairi sejak sore dan ingin bertemu dengan papanya yang sudah sebulan ini tak pernah datang atau menginap di rumah Fairi.
"Sayang ini sudah malam dan papa pasti sudah tidur. Jadi Lan Lan tidur dulu ya besok baru pergi sama kakak untuk ketemu sama papa"
Fairi mencoba untuk menenangkan anaknya dan membujuk agar tak terus merengek untuk bertemu dengan Kenan.
"Gak mau mama, Lan mau ketemu sama papa sekarang mama."
Arlan terus saja memohon dan menggoyang tangan Fairi agar mau mengantarkannya untuk bertemu dengan Kenan.
"Ada apa nak Ayu, tumben rewel." Bi Mina bertanya karena melihat Arlan terus merengek
"Dia minta ketemu sama papanya bi." jawab Fairi
"Iya juga, nak Kenan juga sangat aneh. Sudah sebulan lebih tak pernah datang dan menginap lagi di sini, pantas saja nak Arlan merindukannya karena mereka selalu bersama setiap nak Kenan di sini" bi Mina berfikir dan bergumam
Fairi hanya diam tak menanggapi ucapan bi Mina dan membiarkan Arlan terus merengek, dan sekarang bergelayut di kaki Fairi sambil menangis.
Sejak pertengkaran antara Kenan dan Fairi malam itu, Kenan langsung pergi dan tak pernah kembali ke rumah Fairi. Setiap kali dihubungi Kemal alasannya selalu saja sibuk. Dan ini sudah sebulan lebih Kenan tak datang.
"Mama.." Arlan mulai guling - guling karena kesal mamanya tak menanggapinya.
Fairi merasa kesal dan bernafas dalam "kenapa dulu aku mengijinkan dia menjadi papanya, dijaga sendiri pati tak akan merepotkan seperti ini."
"Eh, gak boleh bicara begitu nak." bi Mina menasehati Fairi
Fairi lagi - lagi bernafas panjang dan mengalah pada Arlan "baiklah - baiklah mama antar ke rumah papamu sudah berhentilah menangis."
__ADS_1
"Benar" wajah Arlan langsung sumringah.
"Bocah ini, bi ku tinggal sebentar ya. Nanti kalau Arman pulang tak usah menyusul." ucap Fairi
"Iya nak ayu hati - hati." Bi Mina menutup pintu saat Fairi telah pergi.
"Entah kenapa nak Arlan begitu terikat sama nak Kenan dan nak Ayu. Yang tak tau akan mengira kalau nak Arlan adalah anak kandung mereka." ucap bi Mina dan tersenyum.
...💔💔💔...
"Man Ayub" Fairi teriak dari dalam mobil
"Ya Allah, masya Allah wanita cantik. Eh non Fa." Man Ayub berkata dan membuka pintu pagar
"Kenan ada di rumah man?" tanya Fairi
"Ada ada non, langsung masuk saja." Man Ayub berkata dan bergeleng kepala setelah mobil Fairi masuk ke halaman rumah.
"Ya Allah dia benar - benar jadi cantik sekali, kalau yang tak tau tak akan mengira kalau dia adalah non Fairi." Man Ayub berkata dan kembali masuk posnya.
"Oh aku lupa bilang kalau mas Kenan ada tamu, bagaimana ini." man Ayub terlihat panik
"Papa..." Arlan langsung lari begitu keluar dari mobil.
"Sayang jangan lari nanti jatuh" Fairi mengikuti Arlan
"Pa." Arlan terhenti di depan pintu
"Ken." Fairi pun berhenti dan melihat Kenan serta wanita yang ada di pangkuan Kenan.
"Hei siapa yang mengijinkan kau datang ke rumah ini, apa kau tak punya sopan santun menerobos masuk ke rumah orang tanpa permisi." Sofiana bangun dan marah pada Fairi
"Percuma kau memiliki wajah cantik kalau tak memiliki etika. Apa kau pikir ini adalah rumahmu masuk seenaknya saja." Sofiana terus bicara dan Fairi hanya diam mendengarkan
"Aku sudah pernah bilang padamu sebelum kau membuka ucapan dan berkata harusnya kau memperbaiki diri mu dulu, dan pada saat ini sebelum kau bicara padaku soal etika harusnya kau melihat dulu ke sekeliling dan memperbaiki etika mu."
"Dan kau Ken, ini adalah terakhir kalinya aku menginjakkan kakiku di rumah ini, karena aku tak akan pernah lagi mau menginjak rumah yang sudah pernah di injak - injak oleh dua wanita yang tak benar. Ayo pulang." Fairi menarik tangan Arlan untuk pergi dari rumah Kenan.
"Mama." Arlan ingin merajuk
"Mama bilang pulang." Fairi mulai membentak Arlan dan dengan cepat Arlan berbalik badan.
"Fa haruskah kau membentaknya sepeti itu, dia bisa ketakutan" Kenan menegur Fairi.
"Dia adalah putraku dan aku tau apa yang harus aku lakukan." jawab Fairi menatap Kenan dengan tajam
Fairi mengangkat Arlan agar bisa berjalan dengan cepat. "Jangan katakan apa pun." ucap Fairi saat tau kalau Arlan ingin bersuara.
"Ya ampun dia wanita yang kasar sekali." Sofiana berkata dan menatap kepergian Fairi.
"Sof, sebaiknya kamu pulang." ucap Kenan
"Eh Ken, tapi kita belum selesai untuk membahas soal pekerjaan kita." Sofiana menatap Kenan
"Sof, tolong pulanglah dan soal pekerjaan kita bahas nanti" Kenan menahan emosinya
"Ada apa ini Ken, kau mengusirku hanya karena wanita itu. Wanita yang bahkan tak punya sopan santun itu." Sofiana merasa tak terima.
"Kau tau siapa wanita itu?" Kenan menatap Sofiana
"Tentu saja, dia adalah pimpinan dari PT Wijaya orang yang telah menolak dan membatalkan kerja sama dengan ku." jawab Sofiana dengan pasti.
Kenan tersenyum "Hanya itu yang kau tau, seharusnya kau menyelidikinya lebih dalam lagi."
__ADS_1
"Apa maksudmu." Sofiana merasa bingung
"Aku tau kau menyelidiki tentang aku selama ini. Wanita itu, wanita itu adalah nyonya Kenan, nyonya rumah ini. Jika kau mau ada di sini silakan, aku tak akan membiarkan istri dan anakku salah paham." Kenan pergi meninggalkan Sofiana.
"Apa, apa yang barusan Kenan katakan. Nyonya, istri." Sofiana mulai ingat kata - kata Fairi dan dia berbalik untuk berjalan di rumah kenan dan dia Samapi di ruang tengah dan melihat foto keluarga yang diambil saat selesai pertunjukan musik Arlan.
"Dia, wanita itu adalah istri Kenan beneran. Bukankah mereka bilang kalau pernikahan Kenan gagal, lalu bagaimana bisa wanita ini menjadi istri Kenan. Ini tidak benar."
"Sialan, sial. Aku tak akan membiarkan mereka bersama, tidak akan, sekarang mereka sedang berselisih dan aku akan memanfaatkan itu untuk merusak hubungan mereka."
"Aku tak akan menyia - nyiakan kedatanganku ke sini dan mendekati Kenan lagi."
Sofiana terlihat sangat marah dan dia bertekad ingin memisahkan Kenan dan Fairi.
...💔💔💔...
"Ma." Kemal yang baru saja sampai rumah kaget melihat mamanya yang terlihat sangat marah.
Sedangkan Arlan langsung lari dan masuk kedalam pelukan kakaknya serta menangis dengan keras
"Eh, ada apa. Mama" Kemal terlihat bingung
"Loh pa" Kemal makin bingung
"Dimana mamamu" Kenan terlihat terburu - buru
"Mama di atas." Kemal menjawab dan melihat papanya pergi.
"Ada apa ini sebenarnya nek." Kemal bertanya pada bi Mina
"Lah mana nenek tau nak, tadi nak Ayu pergi mau nganterin nak Arlan ke rumah nak Kenan, apa mereka bertengkar ya." Bi Mina pun ikut bingung.
"Hei sudah jangan nangis lagi, ayo ke kamar kakak" Kemal menggendong adiknya masuk kedalam kamarnya, sedangkan bi Mina ke dapur untuk membuatkan jus untuk Kemal dan susu untuk Arlan.
"Fa dengarkan aku." Kenan menerobos masuk kamar Fairi
"Keluar" Fairi membentak Kenan
"Fa dengarkan aku dulu." Kenan bersih keras.
"Aku bilang keluarlah Ken, jangan membuat keributan di sini anak - anak ada di rumah." Fairi mendorong Kenan untuk keluar dari kamarnya.
"Tidak dengarkan penjelasan ku dulu." Kenan menahan tangan Fairi agar tak mendorongnya.
Sementara di bawah di kamar Kemal Arlan bercerita kalau dia melihat papanya dengan Tante dan sedang duduk dipangkuan papanya. Mendengar itu Kemal dan bi Mina menghela nafas bersamaan.
"Hem, dasar kenapa otak udangnya itu tak selesai - selesai. Aku sudah bilang untuk mengejar mama dia malah membawah wanita lain." Kemal bergumam dan menghela nafas dalam.
"Maaf pa, kali ini aku tak bisa membatu papa lagi."
"Dengarkan kakak, jika kita harus hidup tanpa papa kamu tak boleh cengeng dan merengek lagi sama mama."
Kemal menasehati adiknya dan memberikan pengertian, karena Kemal bersiap untuk hal terburuknya dan papanya akan kehilangan kesempatannya untuk hidup bersama dengan mamanya.
"Kenapa, papa mau kemana kak?" Arlan bertanya dengan polos
"Papa akan berperang di medan pertempuran ok." jawab Kemal agar bisa dimengerti adiknya
"Papa akan jadi pahlawan." Arlan
Kemal mengangguk dan Arlan terlihat sangat senang, dia lompat - lompat kegirangan mendengar kalau papanya akan jadi pahlawan.
"Hem, masa kecil sungguh menyenangkan karena tak tau dan tak mengerti apa - apa." Kemal menghela nafas dalam. Dan bi Mina juga ikut tersenyum lalu mengusap punggung Kemal dengan lembut.
__ADS_1