
"Sebagai seorang putri aku tentu tak akan membiarkan perusahaan dari alm. Ayahku jatuh pada tangan orang yang salah, dan sebagi seorang ibu aku juga tak akan memberikan hak asuh anakku pada orang yang tak memiliki kemampuan untuk itu, jadi untuk itu aku harus muncul dan menunjukkan pada semuanya kalau aku sebagai putri kandung dari tuan Adi dan juga ibu kandung dari cucunya masih mampu untuk menjalankan perusahan dan mengasuh anakku dengan sangat baik, bahkan mungkin lebih baik lagi dari orang yang sejak tadi mengatakan kata - kata formalitasnya saja." ucap Fairi dan berjalan naik keatas podium mendekati meja nyonya Ayu dengan melepaskan satu persatu penyamarannya, membuang topengnya dan wig yang dikenakannya, serta terus berjalan menuju meja dimana tempat nyonya Ayu dan tuan Bagus duduk berdampingan. Sampai dia berdiri tepat disamping nyonya Ayu dengan dandanan sederhana.
Fairi membungkuk dan mendekatkan wajahnya pada nyonya Ayu "Aku telah kembali, ibu." ucap Fairi tepat disamping telinga nyonya Ayu dan menatapnya dengan senyuman penuh arti.
"Tidak mungkin. Siapa kamu dan apa tujuanmu sebenarnya, sudah jelas - jelas Fairi putri kami telah meninggal dunia dan aku sendiri ikut mengantarkannya ke pemakaman." Nyonya Ayu terlihat panik dan sangat terkejud.
Fairi tersenyum melihat reaksi dari nyonya Ayu, "tenanglah ibu, ini aku putrimu dan bukan hantu."
"Kau pasti seseorang yang mengaku - ngaku. Jelas - jelas aku melihat sendiri jasad dari putriku, cepat katakan apa yang kau inginkan sebenarnya." Nyonya Ayu berdiri dan terlihat marah.
"Tenanglah dulu, tolong kendalikan sikapmu. Ini didepan para wartawan." Tuan Bagus ikut berdiri dan merangkul nyonya Ayu untuk mengingatkan agar nyonya Ayu menjaga sikapnya.
"Kenapa nyonya Ayu terlihat panik dan marah begitu, dan terlihat sangat terkejud."
"Iya, ada apa sebenarnya. Bukankah harusnya dia merasa senang melihat putrinya kembali yang dikabarkan meninggal."
Beberapa dari wartawan berkasak kusuk melihat sikap nyonya Ayu yang tiba - tiba berubah saat melihat kalau putrinya tuan Adi masih ada dan terlihat sehat serta baik - baik saja.
Fairi tersenyum dan menghadap para wartawan, "Salam kenal untuk semua teman - teman awak media yang saat ini hadir di sini dan juga yang memadati halaman perusahaan. Selama ini aku tak pernah memperkenalkan diriku secara langsung karena aku tak ingin kehidupan pribadiku terusik. Namun dengan berdiam diri justru membuatku dalam kesulitan dan harus menjalani perawatan serta pengobatan yang cukup panjang."
Semua orang mendengarkan Fairi dan mereka merasa bingung dengan apa yang dikatakan oleh Fairi, para wartawan itu saling tatap. Dan melihat itu Fairi tersenyum lebar, dan saat melirik nyonya Ayu Fairi melihat ada kecemasan yang tersirat.
...💔💔💔...
Saat keluar dari ruang rapat Kenan merasa aneh karena semua karyawannya sedang heboh dengan tayangan yang sedang dilihatnya. "Ada apa."
"Entahlah pak, sepertinya mereka sedang melihat tayangan siaran langsung dari perusahaan Wijaya." jawab Agus yang juga tak tau menahu.
"Bagaimana dengan om Han dan Fahmi, apa mereka ada disana saat ini?" Kenan bertanya sambil berjalan ke ruangannya.
"Kalau tuan Handoko dia sedang ada di apartemennya dan pengacara Fahmi dia sedang melakukan penyelidikan atas semua berkas yang diterimanya untuk melihat keaslian dari semua berkas itu." Agus berkata dan mengikuti Kenan
__ADS_1
"Ini tidak mungkin, kak coba lihat apa yang sedang terjadi. Seorang wanita yang menyamar sebagai wartawan tiba - tiba maju dan mengaku sebagai mbak Fairi. Dia terlihat mirip sekali dengan mbak Fairi." Melisa langsung lari kepada Kenan setelah melihat dan bertanya pada kerumunan karyawan lainnya.
"Apa, apa yang kau katakan." Kenan langsung mengambil handphon Melisa dan melihatnya.
"Baiklah untuk para teman wartawan semuanya yang merasa penasaran kenapa aku bisa ada diantara kalian dan bukan langsung duduk bersama mereka karena aku punya kabar dan juga akan melakukan pembersihan secara menyeluruh untuk para anggota disetiap departemen yang telah melakukan kesalahan dan kecurangan." tegas Fairi dengan lantang dari video yang dilihat Kenan.
"Gus berikan kuncinya dan bilang sama Farid untuk menangani semua rapat nanti sore." Kenan langsung bergegas menuju ke perusahaan Wijaya dimana sedang diadakan siaran langsung.
Disaat Fairi sedang meluruskan masalah di apartemen Handoko ada dua orang yang datang menjemputnya untuk dibawah, karena orang - orang itu tak bilang apa - apa sehingga membuat Handoko melakukan perlawanan pada mereka yang akhirnya Handoko kalah dan diseret keluar dari apartemennya.
...💔💔💔...
"Nona Ayu apa yang sedang terjadi ini, kau menyuruh orang untuk menghina keluarga ku dengan menempatkan seseorang untuk menjadi putri ku yang telah meninggal dunia. Apa kau yang ingin kau lakukan sebenarnya. Apa kau sudah merencanakan ini semua sejak awal?" Nyonya Ayu berteriak dengan suara dan nada yang keras
"Tolong jelaskan apa semuanya ini sebenarnya, dan kenapa tiba - tiba saja muncul orang yang mengaku sebagai putri dari tuan Adi, dan apa tujuanmu sebenarnya karena aku tau dengan pasti hari pemakaman itu." seorang anggota dewan perusahaan itu angkat bicara.
"Benar apa yang telah terjadi ini" seorang lagi juga ikutan berkata.
Pertemuan itu pun jadi berantakan dengan kemunculan Fairi ditengah - tengah acara yang sudah berjalan dengan baik dan juga lancar. Semua wartawan itu pun mereka jadi lebih penasaran dengan pernyataan nyonya Ayu yang menuding Fairi melakukan penipuan dari pada kemunculan Fairi ditengah - tengah acara.
"Maaf nyonya kenapa anda mengatakan kalau wanita itu melakukan penipuan apakah ada sesuatu yang terlah terjadi sebelumnya karena kalau tidak salah dengar tadi anda mengatakan kalau putri tuan Adi telah meninggal dunia bersamaan dengan tuan Adi. Bagaimana hal itu bisa terjadi, apakah ada rencana untuk membuat semua anggota keluarganya yang berhubungan memang dib*nuh tolong jelaskan." seorang wartanya bertanya dengan lantang dan semua temannya mengangguk setuju karena pertanyaan dari wartawan itu mewakili pertanyaan mereka semua
"Apa, tentu saja tidak. Suamiku meninggal karena serangan jantung dan putriku meninggal karena kecelakaan dihari yang sama." Nyonya Ayu menjawab dengan berlinang air mata.
"Nona yang mengaku sebagai putri tuan Adi apakah memang benar anda mengalami kecelakaan? Dan jika nyonya Ayu mengatakan kalau anda telah meninggal lalu siapa anda sebenarnya?" wartawan pun bertanya pada Fairi yang duduk dengan santai setelah diambilkan kursi oleh salah seorang pengawal yang mengawalnya.
"Ya aku memang mengalami kecelakaan, tapi aku selamat dari kecelakaan itu makanya aku bisa kembali dan berada di sini sekarang. Soal apa yang dikatakan oleh mereka aku tak tau dan tak mengerti, siapa yang sedang mereka makamkan dan mereka anggap sebagai diriku" jawab Fairi santai.
"Kau pasti penipu. Nona Ayu aku tak tau apa salah ku pada mu kenapa kau melakukan hal ini padaku. Kau mempermainkan emosiku dan juga mempermainkan dan menghina keluargaku." Nyonya Ayu marah besar dan mengarahkan telunjuknya pada Anita yang menyamar sebagai nona Ayu.
"Tolong anda sopan nyonya, tidak baik menunjuk seseorang dengan kasar seperti itu. Dia adalah Anita asistenku, dan aku lah yang meminta dia untuk menggantikan aku menjadi diriku. Supaya aku bisa menemukan sesuatu yang sedang aku cari saat itu." jawab Fairi.
__ADS_1
"Lina.!" Nyonya Ayu berteriak memanggil Lina yang selama 1 tahun ini mengabdikan dirinya pada nyonya Ayu karena takut untuk dipecat.
"Lina adalah pegawai yang bekerja untuk ku dan dia yang selama ini melaporkan semua kegiatan yang dilakukan oleh pihak yang tak bertanggung jawab dibelakang kami, dan jika kau masih mengacau maka aku akan menuntut mu melakukan pencemaran nama baik atas putriku." Nyonya Ayu berkata dengan tak sabar
"Sudah cukup dramanya dan cukup bermain - mainnya, karena aku tak punya banyak waktu lagi. Namaku adalah Fairi Ayu Larasati putri dari tuan Adi Wijaya dan nyonya Ayu Larasati. Ku harap semuanya berjalan dengan baik, dan ku minta untuk anda diam jika anda tak ingin lebih dipermalukan lagi." Fairi berkata dan menatap nyonya Ayu
"Apa mau mu, aku tak akan menyerahkan semuanya pada penipu sepertimu dan kalian semuanya." Nyonya Ayu mulai menggila.
"Kau...akan tiba giliranmu" Fairi tersenyum dan berdiri lagi.
"Pembersihan akan ku lakukan dari sekarang." Fairi bangun dan menekan tombol yang memunculkan gambar dilayar besar yang menunjukkan kecurangan yang dilakukan oleh pimpinan departemen pemasaran, keuangan, serta yang lainnya dan juga penyalah gunaan dana yang masuk ke perusahaan.
"Untuk nama - nama orang yang tercantum di layar ku harap menyerahkan diri mereka secara baik - baik, karena jika tidak maka aku akan membuat semuanya semakin susah." ucap Fairi setelahnya dan menatap bergantian orang - orang yang duduk dengan setelan rapi itu.
"Bagaimana ini, kenapa dia memiliki rekaman itu."
"Aku tak tau, bagaimana sekarang?"
"Kenapa kita bisa ada dalam situasi seperti ini sekarang, bukankah mereka berdua mengatakan kalau kita akan aman."
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?"
Para orang - orang yang melakukan kecurangan disetiap departemen itu saling bertanya satu sama lain dan mereka menatap tuan Bagus juga nyonya Ayu yang merupakan orang kepercayaan mereka semua.
"Tolong untuk orang yang namanya tertulis di layar berdirilah, karena jika kalian menyerah sekarang aku akan membebaskan hukuman kalian, tapi jika tidak aku akan melaporkan kalian sebagai pihak yang merugikan dan melakukan korupsi serta penyala gunaan dana perusahaan, dan hukuman kalian akan lebih berat dari sekarang." Fairi berkata dan menatap semuanya.
Semua orang yang namanya muncul pun berdiri dan keluar dari balik meja mereka dengan menundukkan kepala mereka karena tak berani menatap kamera. Fairi tersenyum dan dia bertepuk tangan serta menatap nyonya Ayu dengan memainkan mata.
"Keluarkan dan pecat mereka semua, serta umumkan agar tak dapat diterima di perusahaan manapun supaya tak ada lagi perusahaan yang akan mengalami kehancuran dan kebangkrutan karena ulah tangan - tangan mereka yang tak bertanggung jawab" ucap Fairi dan terlihat Sabrina sedang sibuk dengan laptop ditangannya.
"Ini benar - benar kelewatan aku pasti akan membongkar siapa kamu sebenarnya." Nyonya Ayu berkata dengan kasar.
__ADS_1