
"Mas, Papa dengan tante Renata ajak Umrah bareng, kita ikut?" tanya Amyra sembari menata pakaian kedalam lemari.
Denny yang saat ini sedang memainkan phonselnya berhenti sejenak dan memandang sang istri.
"Apakah tidak berbahaya untuk kandunganmu saat melakukan tawaf nanti?" tanya Denny mencoba memikirkan kemungkinan yang terjadi.
"Ya kalau madalah itu, Mas yang dorong pakai kursi roda" jawab Mirna sekenanya.
Denny terdiam dan mencoba memikirkan apa yang dikatakan Amyra "Kamu benar-benar ingin pergi?" tanya Denny dengan penasaran.
"Ya kalau Mas ijinkan, Myra ingin pergi, kemungkinan Reno juga akan pergi, namun Nazla tinggal karena ada urusan pekerjaan"jawab Amyra yang mendengar kabar itu dari Renata.
Seketika mata Denny membola "Apa? Reno ikut serta?" Denny mencoba mengulangi ucapan Amyra.
Dengan santainya Amyra menganggukkan kepalanya, dan terus menata pakaian dilemari mereka.
"Tidak‐tidak... Mas ikut, ntar kamu dirik Reno lagi" jawab Denny dengan cepat.
Amyra menghentikan pekerjaannya dan menatap suaminya "Ih.. Segitunya, Mas? Lagian tidak mungkin juga Reno lirik Myra, Nazla jauh sempurnah dibanding Myra" ucap Amyra yang merasa bingung mengapa sampai kini suaminya itu tetap merasa cemburu pada sosok Reno.
"Mas itu laki-laki, jadi tau gimana sifat laki-laki, meskipun istrinya cantik sempurnah, kalau sudah ketemu sama yang pernah disukainya pada masa lalu pasti akan kembali lagi bunga-bunga cintanya" jawab Denny nyerocos.
Amyra mengerutkan keningnya "Oooo.. Begitu. Berarti Mas kalau lihat yang bening atau ketemu mantan Mas dimasa lalu langsung timbul lagi gitu perasaan yang lama terbenam?" jawab Amyra sewot.
Seketika Denny terjebak oleh ucapannya sendiri "Hah? Bukan begitu maksudnya. Kalau Mas gak mungkin melakukan itu lagi, Kan Mas udah taubat" jawab Denny mencoba membela dirinya.
"Hallah.. Intinya laki-laki itu memang begitu, gak bisa lihat cewek bening diluar sana, pasti matanya langsung melirik" Jawab Amyra mulai kesal.
Denny semakin bingung dan ingin menjawab apa "Kalau cuma lirik saja kan tidak mengapa, yang penting hati tetap untuk istri dirumah" jawab Denny mencoba beralibi.
Amyra semakin kesal "Tu.. Kan, apa coba begitu? Istrinya dilirik orang marah, Dia sendiri bebas melirik wanita lain diluaran" ucap Amyra semakin kesal.
Obrolan yang tadinya serius kini berunah menjadi drama yang menegangkan.
Denny semakin bingung harus menjawab apa, namun melihat Amyra yang tampak kesal, Ia memsatikan malam ini akan tidur dicuekin oleh Amyra.
__ADS_1
Pria itu beranjak dari duduknya, lalu menghampiri istrinya yang masih berdiri didepan lemari untuk menata pakaian yang baru disetrika.
Dengan sigap Denny menggendong tubuh Amyra dengan bobot 60 kg dalam kondisi hamil besar.
Amyra terkejut melihat perlakuan Denny yang tiba-tiba saja menggendongnya "Mas.. Turunkan, Myra berat. Ntar jatuh" ucap Amyra yang tadinya masih mengomel tiba-tiba merasa takut jika Denny akan terjatuh saat menggendongnya.
"Lebih berat Kamu omelin dan kamu cuekin ketimbang berat badanmu" jawab Denny yang sudah melangkah membopong tubuh Amyra keatas ranjang.
Ia meletakkan tubuh wanita itu dengan sangat hati-hati diatas ranjang, dan mentapnya dengan penuh seksama "Jangan lagi pernah menduga Mas akan melakukan pengkhianatan kepadamu. Tidak ada lagi wanita selain dirimu yang ada dihati Mas" ucap Denny yang sudah berada diatas tubuh Amyra sembari menatap lekat kesua bola mata istrinya.
Amyra terdiam, Ia tak pernah melihat tatapan yang begitu dalam dari suaminya.
"Mas pernah melakukan kesalahan dengan mengkhianatimu, namun bukan berarti Mas akan melakukan kesalahan itu untuk kedua kalinya. Orang yang pernah terperosok kedalam sebuah lubang, maka Ia tidak melewati jalan yang sama agar tidak terperosok kedalamnya dan jikapun melewatinya, maka Ia akan menghidarinya" ucap Denny mencoba menjelaskannya kepada Amyra.
Amyra hanya terdiam dan menatap sang suami dengan tatapan sendu.
"Meskipun seribu wanita cantik datang merayu, Mas tidak akan tergoda untuknya, sebab satu wanita sepertimu tidak akan pernah menandingi seribu wanita yang datang. Kamu adalah kekuatan dalam hidup Mas" ucap Denny lalu mengecup lembut ujung kening sang istri.
Hanya dengan kecupan itu membuat hati Amyra meleleh dan melupakan pertengkaran mereka. Denny begitu mudahnya membuat Amyra terpedaya dengan segala kata-katanya.
"Mas mau dorong Myra pakai kursi roda saat melakukan rukun Umrah nanti?" tanya Amyra mencoba mencari jawaban dari suaminya.
"Jangankan mendorong kursi roda, menggendong kamu saja Mas sanggup" jawab Denny sembari memamerkan Otot lengannya kepada Istrinya.
Seketika Amyra tertawa geli, sembari memanyunkan bibirnya "Yaelah, Mas.. Lihat tu perut, makin lama makin membuncit, yang ada nanti malah ngos-ngosan duluan" jawab Amyra sembari meledek Denny.
"Kan konsepnya biar sama-sama buncit" ucap Denny sembari menaikkan satu alisnya.
Amyra dengan cepat mencubit gemas kedua pipi sang suami yang mulai tampak chuby.
"Sudah, ah. Myra mau lanjutin nata pakain " ucap Amyra ingin beranjak dari ranjang, dan berusaha menyingkar tubuh Denny dari atas tubuhnya.
"Sudah, nanti saja lanjutinnya" Jawab Denny yang menjatuhkan tubuhnya ke sisi Kiri Amyra dan terus mendekap tubuh Amyra yang mulai tampak berisi
"Mas.. Itu pekerjaannya tanggung" protes Amyra yang berusaha melepaskan tangan Denny yang melingkar dipingganya.
__ADS_1
"Biarikan saja, ini juga tanggung" jawab Denny yang tampam mulai nakal.
"Mas.." Amyra protes.
"Heeem" jawab Denny yang mana bukannya melepaskan Amyra, tetapi semakin nakal bergerilya.
Tak berselang lama, suara phonselnya berbunyi, satu panggilan masuk kedalam phonselnya.
Satu nama tertera dilayar phonsel 'Papa' " Hemm.. Papa mengganggu saja" ucap Denny menggerutu.
Dan kesempatan itu membuat Amyra segera beranjak dari ranjang dan menyelesaikan pekerjaannya.
"Ya.. Assallammualaikum, Pa" ucap Denny ogah-ogahan.
"Apakah Amyra ada menyampaikan jika Tantemu ada mengajak untuk umrah bareng?" tanya Rudy dari seberang telefon.
"Heeemm.. Iya, Pa" jawab Denny, namun matanya terus saja melirik Amyra yang hampir selesai dengan pekerjaannya.
"Maksudnya apa? Kalian ikut apa tidak?" tanya Rudi penasaran.
"Iya, Pa.. Kami ikut.. Najma dan Ashraf juga" jawab Denny dengan cepat, seolah ingin segera mengakhiri obrolannya dengan papanya, karena Ia terus saja melirik Amyra.
"Ya, sudah. Papa akan menguruskannya esok.." jawab Rudy dari seberang telefon.
"Iya, Pa. makasih, ya" ucap Denny yang sudah tak sabar ingin mengakhiri panggilan telefon tersebut.
"Ya.. Assllammualaikum" ucap Rudy dari seberang sana.
"Waalaikum salam" jawab Dennya dengan cepat dan mematikan phonselnya, lalu dengan cepat turun dari ranjang dan kembali menangkap Amyra , lalu menggendongnya menuju ranjang.
"Mau kabur Ya" ucap Denny yang menghujani Amyra dengan kecupan diwajah Amyra.
"Mas.. Kamu ini kenapa sih, seperti orang kerasukan saja" protes Amyra.
Namun Denny tak perduli dengan apa yang diucapkan oleh istrinya, Ia terus saja melancarkan serangan panasnya hingga membuat Amyra akhirnya pasrah.
__ADS_1