Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
part 20


__ADS_3

anita menangis di dalam kamar karena hanya itu yang bisa dia lakukan dia tidak tau mau mengadu kemana dan kepada siapa karena dia sudah tidak punya sosok ibu lagi, walaupun dia masih punya seorang ayah tapi bukan saat nya untuk bercerita kepada nya.


anita memutuskan untuk menerima tawaran ayah nya untuk menggantikan posisi nya mulai besok karena dia bisa memulai kerja sambil belajar.


"ayah aku mau menggantikan posisi ayah di perusahaan mulai besok" kata anita tegas


"kamu sungguh sungguh an" tanya pak surya di Sebrang sana saat anita menelepon nya


"iya ayah, apa ayah merasa keberatan"


"tidak nak ayah tidak keberatan sama sekali" kata pak surya senang terdengar dari suaranya


"baiklah ayah, aku tutup dulu telepon nya"


"tunggu dulu an, ayah mau tanya kenapa kamu bisa mengubah keputusan mu dengan begitu cepat, apa kamu punya masalah dirumah? " tanya pak surya yang sebenarnya sudah tau dari orang suruhan nya kalau anita punya masalah dengan suami nya


"tidak ada ayah, aku hanya mau ayah bisa beristirahat total agar penyakit ayah tidak kambuh lagi" kata anita berbohong karena dia tidak mau membuat ayah nya khawatir apalagi melihat kondisi ayah nya yang sekarang baru pulang dari rumah sakit.


"ya sudah kalau tidak ada apa apa tapi kalau kamu punya masalah kamu bisa bilang sama ayah ya" kata pak surya kecewa karena anita tidak mau berkata jujur pada nya


"iya ayah" anita menutup telepon nya dia menahan tangis nya selama dia berbicara pada ayah nya melalui telpon.


"maafkan aku ayah karena aku tidak bisa berkata jujur pada ayah" kata anita akhir nya tangisan nya pun pecah sampai larut malam dia masih memikirkan kejadian tadi.


anita sudah bersiap siap akan pergi kekantor dia berpakaian seperti biasa nya karena dia tidak mau ada yang tau kalau sekarang dia anak pemilik perusahaan di tempat dia bekerja.


"bunda sudah mau pergi kerja ya" tanya rania


"iya sayang, rania kenapa kok manyun gitu" tanya anita pada anak nya yang bungsu


"rania kangen kakek bunda" kata nya polos


"kan baru kemarin kita ketemu kakek "


"iya, tapi kami masih kangen karena kakek baik tidak seperti nenek yang jahat dan pelit" kata nya sambil manyun


"eh eh gak boleh ngomong nya gitu, walau bagaimana pun nenek, beliau tetap orang tua yang harus di hormati dan beliau juga nenek kalian kan" kata anita menasehati anak anak nya


"iya tapi bun nenek tidak sayang pada kami" kata mereka mengeluh tentang nenek nya


"kata siapa nenek tidak sayang sama kalian" tanya anita


"nenek sendiri yang bilang katanya kita tuh orang susah gak punya uang , ibu saja ayah yang kasih makan karena tidak kerja dan cuma menyusahkan ayah sama nenek saja kerjaan nya karena sering minta uang pada ayah " kata vino

__ADS_1


"apa benar nenek ngomong gitu" tanya ku pada mereka


"benar bunda, apa benar kalau kita cuma bisa nya menyusahkan ayah sama nenek bunda? " kali ini kiki yang bertanya


"sudah ya sayang jangan dipikirkan, yang penting mulai sekarang kita akan hidup tanpa bantuan ayah lagi karena bunda sudah dapat kerjakan yang layak" kata anita menghibur mereka


"yang bener bunda" tanya kiki


"iya sayang, makanya kalian sekolah yang pinter ya biar nanti tidak dihina orang karena minim ilmu, apa kalian ngerti" kata anita memberi semangat pada anak anak nya


"iya bunda kami mengerti" jawab kiki


"ya sudah bunda kami pamit ke sekolah dulu ya nanti terlambat datang nya" kata kiki sambil menyalami tangan anita diikuti adik adik nya


"iya sayang hati hati dijalan ya nak dan jaga adik adik mu"


"iya bunda"


 


anita pergi kerumah ayah nya terlebih dahulu Karena pak Surya yang menyuruh Nya sampai sampai anita di jemput oleh supir didepan rumah nya sewaktu mau berangkat kerja


"ada apa ayah memanggil ku kesini" tanya anita setelah bertemu dengan pak surya


"apa itu perlu ayah?" tanya anita padahal aku malu kalau harus seperti ini


"tentu saja perlu, ini semua demi kebaikan mu sendiri anggap saja kamu baru mulai kerja hari ini." tegas pak surya


"baiklah kalau itu yang terbaik" kata anita menyerah karena tidak mau berdebat dengan ayah nya


"ya dan sekretaris ayah sudah menyiapkan semua nya kita tinggal berangkat saja dan kamu harus terlihat berwibawa jika mau dihormati"


"baik ayah"


"pertama tama kamu ganti dulu baju kamu itu dengan baju yang ada di lemari pakaian di kamar kamu yang sudah ayah siapkan" kata pak surya


" emang nya kamar ku ada di mana yah?" tanya anita penasaran


"bibi bibi" panggil pak surya


"iya tuan" kata bi aminah


"ini putri saya anita karena kamu kemarin izin tidak masuk maka nya sekarang saya perkenalkan kamu sama putri saya dan tolong kamu antar kan anita ke kamar nya" pak surya memperkenalkan anita pada bi aminah

__ADS_1


"baik tuan"


"mari non saya antar kan ke kamar nya" kata bi amanah sambil menunjukkan jalan pada putri majikan nya


"bibi sudah lama kerja disini? " tanya anita pad bi aminah


"sudah non, kurang lebih sudah 10 thun" kata bi aminah memberi tahu


"berarti sudah lama juga ya"


"iya non"


"apa penyakit jantung ayah sering kambuh ya bi" tanya anita


"sering non, apalagi waktu pertama saya kerja disini beliau sering melamun sambil memandangi selembar foto ibu dan anak yang kata beliau itu foto istri dan anak nya" bibi aminah bercerita


"jadi ayah memang sering memikirkan kami selama ini" anita berkata dengan wajah sedih


"apa putri tuan yang didalam foto itu adalah nona? karena wajah nona sama dengan wajah istri tuan" kata bi aminah ragu ragu


"iya bi itu foto aku sama mendiang ibu ku" kata anita sedih


"jadi ibu non anita sudah meninggal? " tanya nya


"iya bi"


"maaf ya non karena saya tidak tau itu"


"tidak apa apa bi" kata anita sambil tersenyum kecil


"ini non kamar nya" ketika mereka sampai depan pintu kamar anita yang berada di lantai 2 rumah itu


"iya makasih ya bi"


"iya non, kalau butuh apa apa jangan segan segan bilang sama saya ya" kata bi aminah sambil membuka pintu kamar nya


"iya bi, makasih" anita tersenyum pada bibi aminah


anita masuk kedalam kamar dan memperhatikan semua seluk beluk kamar nya yang di desain sangat indah dia menyukai kamar nya dan dia seakan lupa dengan tujuan nya untuk berganti pakaian sampai akhir nya dia menerima telpon dari ayah nya yang menyadarkan diri nya dari kenyamanan kamar nya, dia segera berganti pakaian dengan pakaian kasual dan pergi ke bawah untuk menghampiri ayah nya.


"kamu sudah siap" tanya pak surya


"siap ayah" kata anita tegas dan yakin dengan keputusan nya

__ADS_1


__ADS_2