
Zain kembali ke rumah Kontrakannya. Ia tampak begitu sangat bahagia hari ini, sebab Ia merasakan jika urusannya hari ini berjalan dengan lancar.
Sesampinya didepan rumah kontrakannya, Ia tak sabar ingin bertemu dengan Istrinya. Khumairah yang menegetahui suaminya sudah pulang merasa sangat senang, sebab Ia tidak lagi mencemaskan keadaan suaminya.
Zain segera memasuki rumah kontrakannya, Ia menemui Khumiarah, dan malam nanti akan mengambil semua barang mereka yang tertinggal dirumah kontrakan yang lama.
Khumairah menyerahkan kembali kartu ATM yang diberikan oleh Zain kepadanya saat akan pergi tadi.
"Ambillah, Mas.. Mai tidak bisa menyimpannya karena tidak dapat menggunakannya" ucap Khumairah yang merasa tak dapat menyimpan barang tersebut.
Zain mendenguskan nafasnya dengan berat, namu Ia berfikir jika harus mencairkan uang tersebut dan disimpan dalam bentuk uang tunai saja, Sebab Ia takut jika terjadi sesuatu padanya, Khumairah akan kesulitan untuk mencairkan uang tersebut.
"Baiklah, namun kamu harus belajar mandiri mulai dari sekarang, Mas akan ajarkan cara mengambil uang ini nantinya saat malam hari, agar Kamu tau cara menggunakannya" ucap Zain yang mulai terfikir untuk mengajarkan banyak hal kepada Istrinya, sebab Ia masih dalam was-was akan kejaran polisi yang masih terus mencarinya.
Zain tak ingin jika nanti terjadi sesuatu padanya, Khumairah akan kebingungan dan bahkan juga mungkin Zain akan mengajarkan Istrinya mengemudi.
Semua hal-hal yang tadinya disepelekan harus di segera diajarkan oleh Zain, dan mengemudi juga adalah hal penting bagi Khumiarah.
"Dik.. Ayo ikut Mas.." ucap Zain dengan tiba-tiba
"Kemana, Mas?" tanya Khumairah penasaran.
"Sudahlha.. Ayo.. Nanti Mas beritahu" ucapnya sembari beranjak dari duduknya.
Khumairah yang penasaran mengikuti suaminya, lalu Ia mengunci pintu rumahnya.
Keduanya masuk ke dalam mobil dan Zain membawa Khumairah sebuah tempat yang jaih dari keramaian.
Namun sebelumnya Ia singgah disebuah ATM dan mengajarkan kepada Khumairah tentang cara menarik uang menggunakan kartu tersebut.
Meskipun Khumairah tampak terperangah akan keajaiban sebuah kartu yang dapat mengeluarkan sejumlah uang dalam mesin tersebuy, ternyata Ia memiliki sebuah ingatan yamg cukup tajam dalam mempelajari segala sesuatu dengan cepat.
__ADS_1
Setelah merasa Khumairah faham akan mesin ATM, maka keduanya keluar segera dengan menuju mobil baru mereka.
Lalu Zain segera mengemudikannya dan menuju ketempat yang sepi dan jauh dari keramaian.
Terdapat sebuah padang rumput yang lumayan luas, lalu Zain menghentikan mobilnya dan turun dari kemudi menuju kepada Khumairah "Ayo turun" ucap Zain kepada istrinya, lalu wanita itu mengikut ucapan suaminya.
Zain membawa Khumairah ke jok kemudi yang membuat Khumairah merasa bingung.
Lalu Zain naik ke jok sisi kemudi, dan mulai memandu Istrinya cara mengemudi.
Wanita itu tampak bingung dengan apa yang dilakukan ileh suaminya, Ia tak mengerti mengapa suaminya begitu bersikeras ingin mengajarkan semua hal yang tak Ia ketahui bahkan yang diluar dari bayangannya selama ini.
"Mengapa Mai harus belajar semua ini, Mas?" tanya Khumairah penasaran.
"Sebab tidak selamanya kamu bergantung pada, Mas" jawab Zain dengan cepat.
"Tetapi Mai lebih suka bergantung padamu, Mas" ucap Khumairah menyela.
Khumairah mentap suaminya "Apakah itu artinya Mas akan meninggalkan Khumairah sendiri?" tanya wanita polos itu dengan tatapan sendu.
"Selagi masih melekat nyawa dan ragaku, maka Mas berjanji tidak akan meninggalkanmu, maka kamu harus mematuhi semua apa yang Mas ucapkan. Dan apa yang sudah Mas ajarkan kepadamu, maka ingatlah, suatu saat nanti ini semua akan berguna bagimu, Maka ikuti apa yang mas akan ajarkan padamu" ucapnZain, lalu memperlihatkan bagaimana cara mengemudi dengan benar.
Dan seperti dugaan dari Zain, tak sulit mengajarkan sesuatu pada Khumairah, sebab istrinya memiliki ingatan dan kecerdasan yang sangat tajam.
Mereka mengelilingi lapangan padang rumput dan beristirahat sejenak, sembari turun dipadang rumput, dibawah sebuah pohon nan rimbun, dan Khumairah menyandarkan kepalanya di pundak Zain.
Indah padang rumput ini ya, Mas.. Andai saja kita dapat membangun rumah diatasnya, maka kelak anak kita akan berlari-lari dengan begitu gembiranya, dan saat Ia akan belajar naik sepeda, maka ini akan sangat menyenangkan" ucap Kbumairah meluncur begitu saja.
"Kamu ingin membangun rumah disini?" tanya Zain sembari membelai ujung kepala Khumairah yang bersandar di pundaknya.
Khumairah menganggukkan kepalanya "Iya, Mas.. Sepertinya sangat nyaman" jawab Khumairah dengan lembut.
__ADS_1
"Semoga impianmu terwujud" jawab Zain dengan lirih. Ia tak berani menjanjikan apapun, sebab Ia kembali teringat ke masa lalunya, dimana Amyra pernah mengatakan ingin membangun rumah ditepi danau saat mereka masih bertunangan saat itu.
Zain sangat takut untuk mengatakan "Ya" pada Khumiarah, Ia tidak ingin kecewa untuk kedua kalinya.
Pria itu mencoba menutup luka hatinya yang pernah menganga dan sangat sakit, namun kehadiran Khumairah sanggup menyembuhkan luka menganga itu, meskipun Ia hanya seorang wanita polos yang memiliki ketulusan hati yang luas.
"Mas suka jika Kita membangun rumah disini?" tanya Khumairah yang menanyakan pendapat suaminya.
"Apapun yang membuatmu merasa senang, maka Mas akan ikut senang" jawab Zain dengan tenang.
"Apakah itu artinya Mas akan membangun rumah disini?" cecar Khumiarah tak sabar.
"Mas tidak dapat menjanjikan sesuatu yang belum pasti, namun jika itu akan menjadi takdir na rezekimu, maka itu akan kamu dapatkan dengan mudahnya, maka berdoalah agar semua impianmu akan terwujud" ucap Zain mencoba membangkigkan semangat istrinya diakhir ucapnnya.
Khumairah menatap sendu pada sang suami, dan tatapan itu membuat Zain begitu sangat candu.
Tatapan tanpa kepalsuan dan juga tanpa dosa. Zain mendekatkan wajahnya pada sang istri, sesuatu yang menggodanya membuatnya melupakan sejenak permasalahan hidupnya.
Ia memagut lembut bibir manis sang istri, yang mana kehadirannya selalu membuatnya merasa begitu bahagia, dan mampu move on dari masa lalunya.
Kaduanya terbuai dalam kemudi perahu yang membawa mereka seakan melayang mengarungi lautan kasih yang penuh cinta dan juga kebahagiaan tak bertepi.
Keduanya tak menghiraukan apapun yang terjadi disekitarnya. Suasan sepi tanpa apapun yang mengganggu mereka dan mengusiknya.
Cumbuan panas itu membuat mereka semakin mengeratkan cinta yang sudah terikat erat dan tak akan terlepas untuk selamanya.
padang rumput nan membentang luas serta teduhnya pohon nan rimbun yang kini menjadi saksi cinta mereka dalam mengarungi setiap kayuhan dayung yang menuju lautan surgawi.
Yang terdengar hanyalah lenguhan dan rintihan manja dari mulut seorang wanita polos yang menjadi penyembuh luka seorang pria yang mencari pelabuhan hatinya.
"Teriamkasih, Sayang.. Hadirmu.. Membuatku lebih mengerti tentang apa sebuah keikhlasan dan merelakan" bisik Zain lembut ditelinga sang wanita yang kini sudah rela mengandung benih buah cinta mereka.
__ADS_1