
Zain tersentak dari tidurnya. Mimpi buruk baru saja menghantuinya. Ia baranjak bangkit dari tidurnya, mengatur nafasnya yang tersengal karena seolah Ia sedang berlari sekencangnya karena dikejar oleh aparat kepolisian yang telah memergokinya.
Zain memandang Khumairah yang tertidur pulas disisinya, pria itu membelai lembut rambut sang istri, lalu mengecupnya ujung kulepalanya dengan begitu penuh ketulusan.
Sesaat Ia melihat perut sang istri yang membuncit, tampak tendangan kecil sang calon bayi yang sepertinya ikut terbangun dan merasakan kegelisahan sang ayah.
Zain memegang menyentuh perut sang istri yang tampak tonjolan siku dari sang calon bayi. Ia begitu sangat aktif dan juga tampak sangat agresif.
Saat Zain menyentuhnya, gerakan itu berpindah dan membuat Zain tersenyum, melupakan sejenak mimpi buruknya.
Zain beranjak dari kasurnya, lalu menuju ke dapur, menyeduh kopi panas dan duduk bersandar didinding beralaskan lantai semen.
Zain menatap memandang Kumairah yang tertidur pulas dengan sangat begitu tenangnya, tanpa beban apapun, karena Ia memang tidak mengetahui apa sebenarnya yang terjadi.
Zain telah menarik seluruh uangnya didalam ATM-nya, sebab kelahiran sang calon bayi kini tinggal menghitung hari saja.
Zain sempat membatalkan USG Khumairah, sebab kejadian kecelakaan yang menimpa seorang intel itu masih dalam penyelidikan dan kabar yang didapat Zain, Intel itu mengalami patah tulang pada pinggulnya.
Meskipun ada rasa takut untuk berkeliaran, namun Ia juga harus mencari nafkah. Ia merasa jika para Intel sepertinya sudah mencium keberadaannya sehingga mereka dapat saja menyebar menjadi profesi apapun.
Sore ini Ia berniat akan membawa Khumairah melakukan pemeriksaan. Meskipun istrinya tidak pernah mengeluh dengan segala apa yang dialaminya, namun Zain ingin memastikan jika istri dan calon anaknya dalam kondisi baik-baik saja.
Meskipun rasa takut ingin berdagang keliling, namun Ia tidak bisa berdiam diri saja dirumah dan tidak bekerja.
Zain merasakan jika tanggungjawabnya terhadap seorang istri ialah memenuhi kebutuhan pokonya sesuai kesanggupannya. Ia tidak akan membuat sang istri kelaparan dan itulah bentuk cinta yang sesungguhnya, bukan hanya sekedar kata cinta yang terucap di bibir tanpa pembuktian.!ak
Tanpa terasa hari sudah tampak terang, Ia melihat sang istri masih tertidur, mungkin sangat begitu lelah dikarenakan perutnya semakin membuncit.
Pekerjaan rumah bisa saja membuatnya kelelahan, Ia membiarkannya dan mencoba membuat sarapan serta memasak bekal untuk makan siangnya.
Setelah selesai dengan membuat sarapan dan bekal makan siangnya, Ia membangunkan sang istri untuk segera sarapan.
Khumairah menggeliatkan tubuhnya, Ia menatap sang suami yang sudah duduk disisinya.
__ADS_1
Melihat sarapan dan segelas teh hangat telah tersaji, Khumairah mengerutkan keningnya.
"Mas kenapa tidak membangunkan Mai?" tanyanya dengan pandangan penuh makna.
Zain tersenyum tipis "Kamu sangat terlelap, dan Mas gak tega bamgunkan Kamu" jawab Zain dengan senyumnya yang menghias bibirnya.
Khumairah beranjak dari tidurnya, berjalan menuju kamar mandi, lalu tiba-tjba sebuah tendangan sang janin mengenai dinding perutnya bagian bawah, Khumairah meringis, terdiam sejenak dan mencoba menahannya. Ia tak ingin sang suami mengetahuinya.
Lalu setelah mereda,Ia kembali menuju kamar mandi dengan berjalan tertatih.
Zain menyantab sarapannya, Ia harus segera pergi kepasar untuk untuk berbelanja ikan dan sayur-mayur yang akan dibawanya ke tempat waktu Ia menggelar barang dagangannya.
Khumairah kembali dari kamar mandi, Ia merasakan perutnya sangat keram dan tepatnya nyeri dengan sangat teramat nyeri.
Ia berusaha terus berjalan dan menghampiri sang suami yang sedang menikmati sarapannya.
Sebenarnya Ia tidak begitu berminat untuk sarapan, namun demi menjaga hati suaminya, Ia mencoba menelan sarapannya sesuap demi sesuap, dan sesekali menahan rasa sakitnya.
Khumairah menganggukkan kepalanya dan berusaha menelan suapannya.
"Mas mau berdagang, dan kepasar terlebih dahulu untuk membeli beberapa barang untuk dijual, dan jangn lupa kunci pintu dari dalam rumah" pesannya kembali.
Kemudian pria itu mengikat rambutnya, lalu memakai topi dan menggunakan masker wajah bersungkup serta kacamata hitam.
Zain berharap penyamarannya tidak membuat para aparat mengenalinya.
"Mas berangkat dulu ya, Dik" ucapnya sembari mengecup ujung kepala Khumairah dan beranjak keluar.
Kumairah meletakkan piringnya, lalu berjalan tertatih menuju pintu untuk melihat kepergian sang suami dalam mencari nafkah.
Setelah mobil Zain menghilang dipersimpangan, Kbumairah mengunci pintu sesuai dengan pesan sang suami.
Ia merasakan jika perutnya terkadang melilit dan merasakan sangat sakit. Ia kembali ke kasurnya, mencoba meredakan sakit yang kini Ia coba tahan.
__ADS_1
Zqin melajukan mobilnya, menuju pasar untuk berbelanja. Ia sampai dipasar tradisional dan melihat sudah sangat ramai sedari pagi tadi.
Zain memarkirkan mobilnya. Ia tidak berbelanja banyak, sebab Ia akan berdagang hingga pukul 4 sore saja, karena berniat akan mengantar Khumairah ke dokter untuk memeriksakan kandungannya.
Ia berbelanja dan membeli beberapa kilogram ikan segar dan berbaur dengan berbagai pembeli lainnya.
Tanpa sengaja Ia melihat seorang pria yang tidak waras sedang tiduran dilapak pasar yang tidak terpakai. Entah mengapa Ia merasa phobia melihat pria tersebut.
Ia merasa sangat mencurigakan saja baginya. Zakn menyudahi belanjanya, lalu segera menuju parkiran dan akan segera pergi untuk menggelar barang dagangannya.
Zain terus berharap dan berdoa agar tidak tertangkap saat sebelum Khumairah melahirkan bayi mereka.
Ia terus menyetir hingga memasuki simpang menuju perkampungan.
Sementara itu, jadwal HPL untuk Khumairah masih ada 3 minggu lagi, namjn terkadang perkiraan itu bisa maju juga bisa mundur sesuai kondisi janin dalam kandungan sang ibu.
Khumairah merasakan nyeri perutnya mulai mereda, namun beberapa saat kemudian akan kembali lagi nyeri, sepertinya sang calon bayi berusaha untuk berputar dan mencari jalan lahirnya.
Namun karena posisi rahim yang Kbumairah hang tampak berbeda dan langka, membuat janin itu bergerak pada posisi melintangnya.
Hal tersebut membuat sang janin melakukan gerakan-gerakan yang membuat nyeri diperut Khumairah semakin begitu tak terkendali.
Keringat dingin bercucuran dari pori-pori kulitnya yang halus. Terkadang Ia merasakan pandangannya seakan gelap, dan mengharuskannya untuk berbaring.
Bahkan hari ini Khumairah tidak melakukan pekerjaan rumahnya, sebab untuk bangkit berdiri saja Ia terasa tidak mampu. Ia berulang kali merubah posisi tidurnya untuk mencari posisi ternyamannya, namun tak jua Ia temukan.
Segala posisi yang Ia ubah membuatnya serba salah. Kahumairah ingin meraih phonselnya dan memberi tahukan kondisinya saag ini, namun phonsel itu terletak sedikit jauh dari posisinya saat ini.
Khumairah hanya dapat menahan rasa sakitnya seorang diri tanpa siapapun yang mengetahuinya.
Pandangannya semakin gelap, Ia memilih untuk memejamkan matanya, berharap rasa sakitnya mereda setelah Ia terbangun nanti. Sarapan yan Ia makan tak lagi dapat Ia habiskan, sebab sakit yang begitu menderanya.
"Mas, Zain.." Gumannya lirih, lalu mencoba memejamkan matanya, mencari cara untuk menghilangkan rasa sakitnya dengan cara tertidur.
__ADS_1