Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
episode 242


__ADS_3

Zain keluar dari kamar mandi dan saat melihat ke teras, seorang pemuda sedang memandang lekat Khumairah yang memberikan sebungkus rokok kepadanya.


"Eheeem.." Zain berdehem, yang membuat keduanua sama terkejutnya.


Seketika Khumairah menoleh kearah Zain yang tampak sorot matanya tak suka melihat Khumairah begitu dekat dengan pria lain.


"Eh, Mas.. Ini rokoknya berapa harganya, tadi Mas-mas ini beli rokok, dan saya katakan harganya nunggu Mas bemtar masih dikamar mandi" ucap Khumairah dengan jujur.


Zain dapat melihat kejujuran dimata Khumairah, namun mata pemuda itu Ia melihat sebuah kelicikan.


"24 ribu" jawab Zain datar.


Lalu pemuda itu mengeluarkan uang 50 ribu dari dalam dompetnya, dan Zain meraihnya dengan cepat, lalu memberikan kembaliannya.


Pemuda itu tersenyum licik dan melirik Khumairah sesaat sebelum Ia meninggalkan warung itu, entah apa yang ada benaknya, namun tersirat sesuatu yang sedang direncanakannya.


Zain menatap pada Khumairah "Jangan terlalu dekat dengan pria yang tidak dikenal, karena itu sangat berbahaya, apalagi saat Mas tidak ada dirumah. Apakah Kamu mengerti?" ucap Zain dengan nada cemburu.


Ternyata Ia merasakan begitu sakitnya saat melihat istrinya dilirik pria lain. Lalu bagaimana perasaan Denny saat melihatnya hampir menggagahi Amyra saat berada diruang kosong rumah sakit terbengkalai saat itu? Ya Kini Ao tahu tentang semua pelajaran hidup yang baru dialaminya.


"Iya, Mas" jawab Khumairah lirih. Ia tidak pernah melihat wajah Zain berubah seperti itu dan dengan nada yang sedikit berbeda.


Khumairah menyadari dengan cepat, jika Zain tidak suka melihat dirinya bercengkrama atau sekedar bertegur sapa dengan seorang pria.


Khumairah memilih masuk kedalam rumah, dan menyelesaikan pekerjaan rumahnya dengan mencuci piring.


Zain menghela nafasnha dengan berat. Ia merasa terlalu berlebihan terhadap Khumairah, namun semua ini demi kebaikan Istrinya, sebab istrinya terlalu polos, sehingga mudah diperdaya oleh seseorang, termasuk pria.


Sementara itu, Romlah baru saja selesai mandi, dengan rambut basah terurai, Ia kembali ke warung Zain untuk membeli sebungkus kopi.


Dengan membawa uang receh dua ribuan, Ia berjalan menuju warung Zain dengan menggunakan tank top dan celana pendek yang super ketat.


"Mas.. Beli kopinya sebungkus" ucap Romla dengan nada sedikit genit dan menggoyangkan buah melonnya untuk menarik perhatian Zain.


Seketika Zain tersenyum simpul. Baginya wanita seperti Romlah sudah dapat ditebak apa tujuannya, sebab Ia juga berasal dari dunia hitam penuh dosa.


Namun bukan berarti Ia harus kembali kejurang kehancuran tersebut.


Zain mengambil satu bungkus kopi cappucino dan memberikannya kepada Romlah.


Dengan pandangan genit, Romlah memberikan uang tersebut, dan sengaja membelai punggung tangan Zain. Seketika Zain tersenyum sinis dan segera menepis tangan Romlah dari punggung tangannya "Ini Kopinya, Mbak.." ucap Zain cepat, dan Romlah menyerahkan uang dua ribuan itu kepada Zain.

__ADS_1


Dengan tersenyum menggoda, Romlah beranjak dari warung Zain, sembari melenggokkan bokongnya.


"Heemm.. Wanita yang lebih darimu sudah pernah cicipi, lalu untuk apa lagiaku penasaran" guman Zain membuang jauh fikiran negatifnya.


Sementara itu, Amyra menata semua barang belanja yang dibelinya dari toko swalayan tadi.


Saat menata susu formula ibu hamil, Ia kembali teringat pada sosok pria misterius yang ditemuinya di toko swalayan tadi. Amyra merasa seperti pernah melihatnya, namun entah dimana.


Amyra menggelengkan kepalanya, mencoba membuang semua fikirannya tentang pria asing tersebut. Sebab Ia merasa tidak ada guna dan tidak juga baik memikirkan pria lain yang bukan suaminya.


Setelah selesai menata barang belanjanya, Amyra menyeduh susu formula khusus ibu hamil dan juga menyeduh kopi jahe untuk Denny.


Ternyata Ia tidak kekantor, dengan alasan masih ingin istirahat sejenak.


"Mas, ini kopinya" ucap Amyra, sembari meletakkan segelas kopi jahe panas dimeja nakas.


Denny menoleh ke arah Amyra, lalu melirik kopi jahe tersebut dan menyeruputnya, lalu kembali menatap layar laptonya.


"Lagi apa, Mas?" tanya Amyra sembari menyeruput susu formulanya.


"Lagi membuat animasi yang nantinya akan Mas pakai untuk iklan produk terbaru kita. Nantinya iklan ini akan ditayangkan dibeberapa aplikasi novel yang saat ini sedang digandrungi banyak orang" ucap Denny menjelaskan.


"Heem.. Ide Mas cemerlang juga" Puji Amyra, yang membuat Denny merasa tersanjung.


"Bahkan nantinya konten Mas sendiri juga akan Mas sisipkan iklan yang Mas buat sendiri" ucap Denny, sembari meneggerakkan jari-jemarinya diatas papan keyboard.


"Semoga nanti anak ini lahir pintar seperti Papanya" ucap Amyra meluncur begitu saja.


"Dan baik seperti Mamanya" balas Denny dengan cepat.


Seketika Amyra terperangah mendengar ucapan Denny dan tersenyum smrik.


"Mas.." ucap Amyra lirih.


"Ya.." jawab Denny cepat.


"Myra sudah lama tidak mengunjungi Laundry dan ingin melihat laundry sebentar" ucap Amyra mengungkapkan keinginnanya.


"Nanti saja, nanti Mas yang antar. Kamu jangan terlalu memikirkan Laundry, kan sudah ada yang urus" ucap Denny mengingatkan.


"Bukannya begitu, Mas.. Laundry itu yang membantu Kita saat terpuruk dimasa lalu, dia begitu banyak jasa dalam kehidupan kita" ucap Amyra dengan nada sendu.

__ADS_1


Seketika Denny menatap pada Amyra, dan tersenyum tipis.


"Ya.. Namun kamu jangan terlalu begitu capek, nanti setelah melahirkan baru boleh lagi beraktifitas, tetapi jangan dipaksakan, dan kamu cari anggota tambahan untuk membantu semuanya" saran Denny yang mencoba membuat Amyra tidak terlalu memikirkan pekerjaannya.


Amyra menganggukkan kepalanya, dan menyeruput habis susu coklatnya.


Denny kemudian melanjutkan pekerjaannya.


Tak berselang lama, Fhytri menghubungi Denny dan memberikan kabar jika Dwy akan dapat bekerja lagi dalam minggu ini.


Hal tersebut memberikan kabar gembira kepasa Denny, sebab Ia tak lagi akan berhadapan dengan sekretaris yang genit dan juga menyebalkan.


"Baiklah.. Semoga berjalan dengan yang diharapkan" jawab Denny dengan singkat, lalu panggilan telefon berakhir.


"Siapa yang telfon, Mas?" tanya Amyra penasaran.


"Cewek" jawab Denny asal.


Amyra mengerutkan keningnya "Maksudnya?" tanya Amyra semakin merasa penasaran.


"Ya ceweklah" jawab Denny yang seolah memamcing kecemburuan Amyra.


Amyra semakin kesal dan memanyunkan bibirnya " Oh.. Gitu" jawab Amyra dengan nada kesal.


Melihat Amyra cemberut, membuat Denny semakin gemas saja.


"Fhytri, loh Sayang. Masa iya Dia cowok" ucap Denny dengan tanpa dosa.


Seketika Amyra memasang wajah kesal.


"Ih.. Mas nyebelin" ucap Amyra semakin kesal.


Denny menghentikan pekerjaannya, lalu membuka aplikasi WA-nya "Nih.. Coba lihat, siapa yang baru nelfon? Fhytri, kan? Dia kan cewek bukannya cowok" ucap Denny mencoba menjelaskan.


Amyra dengan cepat mencubit pinggang Denny dengan gemas "Bilang sajalah tadi Fhytri, gak usah pakai sebut Cewek" ucap Amyra dengan cubitan gemasnya yang membuat Denny meringis kesakita.


"Iya.. Iya.. Ampun.. Gitu saja cemburu" ucap Denny sembari tersenyum nakal.


Seketika Amyra memanyunkan bibirnya dan melepaskan cubitannya sembari beranjak dari tempat duduknya dan menuju dapur dengan membawa gelas kotor sisa susu formulanya.


Denny tersenyum geli melihat Amyra yang tampak begitu mudahnya cemburu terhadap dirinya.

__ADS_1


~Reader harap sabar ya.. Tembus 300 rb kata novel ini tamat. Dan diakhir cerita akan ada kejutan antara Zain dan AmyraπŸ™πŸ™πŸ™~


__ADS_2