
Sudah 1 bulan Kenan tinggal bersama dengan Fairi dan anak - anaknya, walau Kenan tidur bersama Arlan tapi kegiatan rumah mereka masih melakukannya bersama, mulai masak, bermain dan membersihkan rumput di halaman rumah bahkan menguras kolam renang. Kebersamaan itu membuat Kenan sangat menyukainya.
Bahkan saat akhir pekan pun tak ada lagi pergi jalan - jalan melainkan belajar. Arlan sibuk dengan les pianonya bersama dengan sang mama sedangkan Kemal sibuk dengan papanya dan beberapa tumpukan berkas laporan perusahaan. Mereka terlihat seperti keluarga yang sesungguhnya dan sangat bahagia, walau saat berkunjung ke rumah nenek mereka Fairi tak pernah ikut serta karena banyaknya pekerjaan Kenan dan kedua anaknya sangat menyukai itu, dan nyonya Tias juga tak pernah meminta Fairi untuk datang karena dia tau kalau dia dan keluarganya sudah sangat menyakitinya terutama putranya kenan yang sudah sering kali membuat Fairi sakit hati.
"Fa malam ini ada pesta amal yang diadakan di hotel Cahya apakah kamu mau ikut? Jika mau diwakilkan juga tak apa karena acaranya tak begitu formal." Kenan menghubungi Fairi dan mengingatkan Fairi soal pesta amal yang digalang secara internasional.
"Hem, sepertinya aku akan datang karena aku sudah sering absen untuk acara itu. Tapi nanti aku tak ingin pulang terlalu malam karena anak - anak pasti akan menunggu." jawab Fairi secara langsung
"Baiklah, nanti mau berangkat bersama atau kau akan berangkat dengan Sujono karena dia juga akan datang katanya." Kenan bertanya dan dalam hati dia berharap kalau Fairi ikut dengannya.
"Hem, entahlah lihat nanti saja. Nanti aku kabari lagi, baiklah aku masih ada banyak pekerjaan aku tutup dulu." Fairi
"Baiklah selamat bekerja dan jangan lupa makan." Kenan
Kenan tersenyum setelah mematikan sambungan teleponnya dan dia menatap layar ponselnya dengan cukup lama. "Perjuangan ini tak ada apa - apanya bagiku, dan aku akan terus berusaha untuk kau melihat ku Fa."
"Hem,.sudah mulai berusaha keras untuk mendapatkan hati istrimu tuan." Farid menggoda Kenan yang sejak tadi duduk melihat Kenan.
"Kau masih saja suka menggoda, harusnya kau fokus pada istri dan anakmu kau sudah bukan orang muda lagi." Kenan menjawab dengan kesal
Farid tertawa "aku sungguh sangat lega saat ini Ken, tak ku sangka semuanya akhirnya selesai dan tak ada lagi gangguan atau godaan."
"Kau benar, aku juga merasa lega untuk semuanya. Rasanya perjalanan ini sungguh sangat melelahkan, mulai dari segala rintangan yang ada sampai semua masalah yang terjadi dan silih berganti." Kenan
"Bagaimana dengan perkembangan Tyas dan yang lainnya apa mereka ada kelanjutan atau ada keringanan hukuman." Farid bertanya karena sejak hari itu tak ada kabar soal Tyas dan yang lainnya.
"Entahlah, aku tak pernah mendengar kabar dari Fahmi sama sekali. Kalau pun ada kabar Fahmi pasti ngabarin karena dia yang mengurus semuanya." jawab Kenan
"Nanti malam kau datang sendiri atau perlu ku temani." Fahmi
"Hei, kau adalah bagian dari perusahaan ini apa kau ingin aku hadir tanpa bawahan ku." Kenan melotot pada Fahmi
"Sial. Bukankah sudah ada Agus, apa kau bayi yang masih harus di asuh 2 orang pria hah." Fahmi berkata dengan tak puas
"Terserah apa sebutan mu, aku tak mau tau soal itu." Kenan menjawab dengan cuek
"Ha...lihatlah dia mulai menjadi bos yang menyebalkan." Farid berkata dan melihat ke arah Agus yang sedang berdiri disamping Kenan dengan tersenyum
"Hei Gus, sebaiknya kau cepatlah menikah dan tinggalkan orang yang menyebalkan ini. Aku memberikan mu dengan tujuan agar aku bisa santai sedikit, tapi nyatanya aku malah tetap saja sama sibuknya." kelu Farid
__ADS_1
"Kalau begitu saya akan membantu pekerjaan anda pak Farid." jawab Agus dengan cepat.
"Kau banyak mengeluh, apa kau ingin aku memotong gajimu dan tak memberikan bonus padamu." jawab Kenan menatap Farid dengan jengkel
"Hei ya ya ya, kau selalu mengancam dengan itu. Ha..kau benar - benar ya" Farid berkata dan pergi meninggalkan ruangan Kenan
"Pak Farid mungkin ingin waktu lebih banyak dengan keluarga pak Ken, karena anaknya baru saja berusia 2 tahun." Agus mencobak membela Farid didepan Kenan
"Hem, anaknya sudah 2 tahun bukan bayi lagi." jawab Kenan acuh.
"Sebaiknya kau siapkan saja untuk acara malam ini, aku gak mau repot untuk acaranya." perintah Kenan pada Agus
"Baik pak, apa seperti tahun - tahun kemarin atau berbeda pak." Agus bertanya untuk memastikan
"Samakan saja." Kenan
"Baik pak, kalau begitu saya permisi." Agus
...💔💔💔...
Malam harinya hotel cahya terlihat sangat ramai karena kali ini pesta amalnya digabung dan diadakan secara menyeluruh sehingga semua orang datang semua ke acara malam itu baik yang luar negeri atau yang dal negeri.
Para hadirin yang datang pun semuanya terlihat sangat memukau, para wanita sungguh terlihat sangat cantik dan menawan dan para prianya sangat tampan dan gagah. Para penyambut tamu dan peramu sajinya juga terlihat sangat baik dengan seragam yang senada dan terlihat cerah dengan warna kuning hitam.
"Halo, apa kabar"
"Halo tuan"
"Iya halo"
Semua orang saling menyapa dan bertemu satu sama lain. Yang sudah kenal mereka mengobrol seru, yang baru bertemu saling mengenal dan berbincang ringan. Bahkan ada yang ternyata adalah teman lama yang tak pernah bertemu dan sekarang mereka bertemu dikesempatan malam itu.
Termasuk seorang pria yang baru saja datang dan berbaur dengan yang lain menatap kaget pada wanita yang berdiri dan berbincang dengan seseorang yang ternyata wanita itu adalah Fairi.
Dengan ragu pria itu menghampiri Fairi dan menatapnya tak percaya kalau orang yang saat ini dia lihat adalah orang yang dia kenal dan sangat dia rindukan selama bertahun - tahun.
"Melly" panggil orang itu dan menyentuh bahu Fairi.
"Ah iya." Fairi menoleh dan menatap pria itu
__ADS_1
"Oh ternyata bener kau. Aku sungguh sangat terkejud dan tak percaya melihat mu ada di sini, kau berdandan dan terlihat sangat berbeda, kau benar - benar tak berubah sama sekali." pria itu berkata pada Fairi dengan sangat akrab
"Maaf, tapi siapa ya." Fairi yang tak mengenal orang itu merasa bingung karena orang itu tau dan mengenal Melly yang saat ini wajahnya dia gunakan.
"Oh, aku adalah Bagas kau sudah lupa dengan ku?" ucap orang bernama Bagas menatap tak percaya pada Fairi yang saat ini memiliki wajah wanita bernama Melly
"Bagas," Fairi bertanya - tanya karena Herman tak pernah cerita soal Bagas saat mereka menjalani operasi perubahan wajah.
"Ah iya, sudah hampir 20 tahun lamanya kau pasti sudah lupa dan tak ingat pada ku karena aku sudah banyak berubah, tapi kau masih tetap cantik seperti dulu, wajah mu seolah tak pernah berubah sama sekali." Bagas berkata dengan nada sedih.
"Halo Gas lama tak bertemu." Herman menghampiri Fairi dan Bagas.
"Oh, om Herman. Maafkan aku om, iya sudah sangat lama sekali." Bagas berkata dan merasa bersalah
"Oh iya kenalkan dia Fairi saudara kembar Melly, selama ini dia tinggal di Bangkok dan kali ini dia kembali untuk meneruskan perusahaan yang telah ditinggalkan oleh keluarganya." ucap Herman dan Bagas kaget karena dari nada bicara Herman seolah mengatakan kalau Melly tak ada.
"Maksud om apa? Dan aku tak pernah tau kalau Melly memiliki saudara kembar." Bagas berkata dengan bingung
"Melly," Herman terhenti dan menatap Bagas "dia tak bisa menerima perpisahan kalian, dia mengalami tekanan batin dan depresi. Dia pergi meninggalkan kami semua 1 tahun setelah perpisahan kalian." jelas Herman
"Apa. Ah..maafkan aku om, aku tak tau soal itu, aku sungguh minta maaf." Bagas berkata dengan sangat menyesal
"Tak masalah, aku tak menyalahkan mu. Karena semua orang tua pasti menginginkan agar anak mereka memiliki pendamping yang seagama dan seiman, semuanya bukanlah salah mu, kami sekeluarga juga mengerti soal itu. Hanya saja Melly tak siap untuk itu, dia menahannya sendiri dan menelan semua kepahitan dan rasa sakit sendiri hingga dia memilih untuk membawah semua kenangan dan cinta kalian pergi bersamanya untuk selamanya." Herman berkata dengan menyesal karena tak bisa menyelamatkan keponakannya.
"Maaf om, aku benar - benar minta maaf untuk itu. Dan sampai sekarang pun aku tak memilih siapa pun untuk mendampingi ku." Bagas berkata dan tak kala sedih dengan Herman.
"Hei, sudahlah yang dulu biarlah berlalu karena kak Melly juga tak ingin melihat kalian bersedih seperti ini." Fairi membuyarkan kenangan kelam dua pria itu.
"Ah benar, semua sudah berlalu. Dan aku sangat senang melihat mu, kau telah menjadi orang yang sukses di Singapura sekarang." Herman mencoba mencairkan suasana dan mengubah topik.
"Tentu terima kasih om, dan kalau boleh apakah aku masih boleh untuk bertemu dimana Melly beristirahat om." Bagas berkata dan berharap kalau Herman masih mengijinkan dia bergaul dengan keluarganya.
"Tentu, aku akan kirimkan alamatnya. Dia pasti senang melihatmu mengunjunginya." Herman pun memberikan nomernya pada Bagas.
"Oh iya tadi om bilang dia adalah Fairi." Bagas menatap Fairi
"Iya namanya fairi. Fa dia adalah tuan Bagas maaf aku belum cerita sama kamu soal dia." Herman berkata dan memperkenalkan mereka berdua.
"Iya, halo tuan Bagas." Fairi mengulurkan pada Bagas
__ADS_1
"Iya senang bertemu dengan mu Fairi, semoga kedepannya nanti kita bisa bekerja sama." Bagas menyambut sambutan tangan Fairi.
"Iya dengan senang hati." jawab Fairi.