Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
Bab 65


__ADS_3

Hari ketiganya Fairi sudah menunggu Kenan dengan sangat lama dari sore hari dan juga sudah menghubungi Kenan namun hanpon Kenan dimatikan.


Perlahan Kenan melangkah masuk kedalam rumah dan dia melihat Fairi duduk di meja makan dengan sebuah kue didepannya, tatapan mata Fairi sama seperti sebelumnya tak ada rasa marah atau penasaran. Kenan melangkah maju mendekati Fairi dan terlihat Fairi juga berdiri untuk menyambut kedatangan Kenan.


Keheningan membuat suasana rumah itu terlihat mencekam, karena tak ada satu pun yang bicara sampai - sampai hembusan nafas dari orang - orang yang ada di ruangan itu bisa terdengar dengan sangat jelas. Tatapan mata Fairi yang bening menatap lurus pada Kenan dengan tatapan seperti biasanya, tatapan tanpa emosi.


"Fairi, maaf aku telat datang, kalau hari ini adalah hari jadi pernikahan kita. Dan,,, ini kenalkan dia adalah Melinda, kekasihku yang sekarang adalah istriku, juga putri kami Mayangsari yang baru berusia 5 hari." ucap Kenan mengenalkan istri dan juga anaknya pada Fairi dihari perayaan pernikahan mereka.


Dengan diam Fairi menunduk dan meniup lilin itu sendiri dan memotong kue itu menjadi 3 potong lalu membaginya dengan Kenan dan Melinda. Fairi duduk memakan kue itu dengan sangat lahap seakan tak ada apa - apa diantara mereka bertiga.


"Fairi maaf, selama 3 hari ini aku tak pulang ke rumah karena menemani Melinda melahirkan anak kami, dan hari ini baru bisa keluar dari rumah sakit." Kenan menjelaskan kepada Fairi alasannya tak pulang selama ini.


"Hem." Fairi hanya menanggapi dengan gumaman.


Kembali saat ini


Didalam kamarnya Kenan termenung dan berusaha untuk mengingat kenangannya bersama dengan Fairi, tapi Kenan tak pernah menemukan ekspresi yang berbeda dari Fairi selama mereka tinggal bersama selama 3 tahun lamanya, bahkan dihari dia mengenalkan Melinda. Kenan menyeka air matanya dan berusaha untuk mengikhlaskan Fairi walau terasa berat dalam hatinya. Kenan merebahkan tubuhnya dan menutup matanya karena waktu sudah menunjukkan pukul 3 pagi.


"Apa sikap diamnya adalah protes yang dilakukan Fairi? Kenapa aku tak pernah mengenal dia selama ini" gumam Kenan sambil menutup matanya yang kemudian dia terlelap.


...💔💔💔...


Keesokan paginya Kenan menuju ke restoran Farid untuk menyegarkan pikirannya karena kebetulan ini adalah hari Minggu dan tak ada kegiatan apa pun yang harus dilakukan oleh Kenan. Dengan bermain catur bersama dengan Dafid Kenan berusaha untuk mengalihkan pikirannya terhadap ingatannya tentang Fairi dan keluarga kecilnya yang terlihat sangat bahagia.


"Selamat pagi Bu maaf saya datang terlambat, Tante saya bilang kalau pesanan kue dan beberapa menunya dipesan dari restoran ini jadi saya datang untuk mengambil pesanan Tante saya." ucap Lina yang datang untuk memanggil pesanan tantenya.


"Oh, iya maaf anda yang datang ingin mengambil pesanan untuk acara arisan kan ya?" tanya pegawai restoran itu dengan ramah.


"Iya benar Bu." jawab Lina


"Tunggu sebentar." pegawai restoran itu masuk untuk menginfokan kalau pesanannya sudah mau diambil sama pemiliknya.


Dibagian dalam restoran itu ada Ambar dan Melisa yang sedang merapikan bungkusan dari kota - kotak pesanan dengan dibantu beberapa pegawai restoran. "Maaf Bu Ambar pesanannya sudah diambil dan orangnya menunggu didepan." ucap pegawai restoran itu.

__ADS_1


"Baik, kamu bawah kedepan yang sudah selesai dan yang belum nanti menyusul." Ambar berkata dengan baik.


Setelah semuanya selesai Ambar dan Melisa pun ikut bergabung dengan para suami mereka yang sedang asyik berkumpul, bermain dan berbincang. Dan Melisa yang selalu penasaran dengan segalanya jadi semakin penasaran saat terdengar mereka membahas soal Fairi.


"Ada apa ini, kok aku dengar nama mbak Fairi disebut - sebut, apa ada masalah dengan kerja samanya?" Melisa nyeletuk


"Tidak sayang, ini bukan bahasan soal kerjaan tapi soal pribadi. Dan Kenan sedang membahas soal masa lalunya, dia merasa galau karena melihat mantan istrinya itu terlihat bahagia dengan keluarga kecilnya yang sekarang." jelas Dafid pada Melisa dan hal itu membuat Melisa bingung dan memiringkan kepalanya.


"Kenan baru tau bagaimana rasanya sakit saat melihat orang yang kita miliki dan kita inginkan bersama dengan orang lain, sedangkan dulu dia justru menikah lagi dengan wanita lain bahkan membawah wanita itu ke rumahnya saat hari peringatan ulang tahun pernikahan mereka, itulah sebabnya Fairi minta pisah dengan dia." jelas Dafid lagi karena dia tau kalau istrinya sedang bingung.


"Apa?! B*r*ngsek banget kamu kak. Dan sekarang aku tak akan membiarkan kamu mengganggu dia walau kita bekerja sama dengan dia." Melisa berkata dengan emosi membuat semuanya kaget.


"Mel, jaga ucapan mu." Farid menegur adiknya yang berkata kasar pada Kenan.


"Kenapa. Bukankah itu adalah perbuatan yang sangat kejam, benarkah mbak Ambar." Melisa menatap Ambar dan Ambar mengangguk.


"Tapi Fairi tak pernah marah." jawab Kenan "Aku juga tak pernah melihat ekspresi Fairi yang menyediakan selama dia tinggal bersama ku karena dia tak mencintaiku."


"Apa kakak tau, apa kakak tak pernah melihatnya menangis? Walau kalian menikah karena dijodohkan dan tak berniat apa pun, bukankah dia selalu menjaga pernikahannya dengan kakak selama itu? Kakak sendiri yang cerita padaku saat aku masih sekolah di luar dan aku tak pernah menyangka kalau orang itu adalah mbak Fairi orang yang aku kenal selama ini." Melisa berkata dengan emosi


"Apa kakak pikir dua orang yang tinggal bersama dalam waktu lama tak akan ada perasaan walau itu hanya sedikit? Sekarang aku tanya pada kakak, kenapa kakak merasa sakit melihat dia bersama dengan orang lain karena dia bukan istri kakak lagi. Apa karena obsesi atau karena Kakak diam - diam menyukainya katakan?!" Melisa menatap Kenan tajam.


"Sayang tenanglah." Dafid menarik tangan Melisa.


"Bagaimana aku bisa diam saja, orang yang selama ini selalu aku hormati dan seorang kakak yang sungguh sangat aku sanjung adalah seorang pria b*j*ngan seperti ini." Melisa menunjukan telunjuknya pada Kenan.


"Mel, jangan kelewatan" Farid menahan tangan Melisa.


"Apa maksud kakak. Jadi selama ini kak Farid juga tau? Lalu apa yang dia inginkan hah?! Apa dia ingin agar mbak Fairi kembali pada dirinya? Untuk apa kak, untuk menjadikannya pemuas atas kebahagiaan Tante dan Om, untuk dijadikan sebagai alat melahirkan anak, atau pemuas nafsunya, katakan?!" Melisa berkata dengan emosi yang memuncak.


Melihat itu Kenan bangun dari duduknya dan berjalan mendekati Melisa, Dafid dan juga Farid berusaha untuk menenangkan Melisa yang mulai menangis sesenggukan. Suasana menjadi sangat sedih saat Farid mendapati adiknya menangis dengan sedih dan mengingat kakaknya yang telah lama meninggalkan mereka berdua.


"Kenapa kak, kenapa seorang wanita hanya dijadikan alat. Kenapa mereka menikahi wanita hanya untuk mendapatkan keturunan kenapa kak? Apa yang akan terjadi jika wanita itu tak bisa memberinya apa pun, apakah mereka akan dibuang dan diabaikan, apakah seorang wanita hanya sebuah alat dan mesin pencetak anak, kenapa..." Melisa menangis dengan sangat sedih.

__ADS_1


"Maafkan kakak Mel." Kenan menarik tangan Melisa dan memeluknya erat.


"Aku benci kak Ken." Melisa menangis sesenggukan.


"Tolong maafkan kakak, ya kakak memang b*r*ngsek dan kakak pantas menerima semua ini. Tapi jujur kakak mencintainya dan kakak sangat mencintainya, tak pernah terlintas dalam pikiran kakak untuk menjadikan dia sebagai alat atau apa pun." Kenan menjelaskan dan menepuk lembut punggung Melisa.


"Dengar kak, tolong jangan sakiti dia lagi karena aku tau siapa mbak Fairi dulu yang aku kenal, walau sekarang aku tak tau siapa pria yang kak Ken katakan, tapi siapa pun dia syukurlah kalau dia bisa membuat mbak Fairi bahagia, tapi ada satu rahasia yang mungkin tak diketahui oleh semuanya kalau rumah yang ada disebelah rumah ku di Beijing adalah rumah mbak Fairi." ucap Melisa mengurai pelukannya dari Kenan.


"Apa?!" Mendengar itu Kenan kaget karena dia sempat masuk kedalam rumah itu saat dia berkunjung ke rumah Melisa dan mendapati Melisa panik saat ada tetangganya sedang ada masalah.


"Iya, itu rumah yang kita datangi saat orangnya sedang tak ada karena mengantar anaknya kerumah sakit, karena tiba - tiba saja anaknya sakit." ucap Melisa.


"Tapi bukankah waktu itu kamu bilang yang tinggal disana adalah seorang orang tua tunggal." Kenan berkata dengan bingung.


Farid, dan yang lainnya yang mendengar merasa bingung dengan apa yang dibicarakan oleh Melisa dan Kenan. Mereka bertiga hanya bisa menyimak karena Dafid dan Farid sangat kenal seperti apa Melisa, karena jika dia sudah memutuskan sesuatu maka dia akan melakukannya sampai selesai.


"Ya, dia adalah ibu tunggal. Tapi aku tak tau siapa mantan suami yang dia sebutkan yang telah membuat dia hamil dan dia harus menghindarinya untuk membuat hidupnya dan anaknya aman, karena mau bagaimana pun seorang ibu tak akan pernah mau menyerahkan anaknya pada siapa pun." jelas Melisa dengan kesal


"Anak, dia sudah hamil waktu itu." Kenan tanpa sadar mengetahui kebenaran Fairi dari Melisa.


"Jangan pernah menyakitinya, aku tak akan pernah membiarkan kakak mengganggunya lagi, walau aku kenal kakak orang baik bagi ku, tapi bagaimana pun kakak adalah suami yang buruk dan aku tak akan membiarkan wanita baik seperti mbak Fairi disakiti oleh orang seperti kakak." Melisa berkata dengan emosi yang tak turun.


"Tidak akan, tapi katakan apa dia benar - benar sudah hamil waktu itu?" Kenan terlihat sangat antusias.


"Iya, saat datang dan menjadi atasan di hotel Jhonson mbak Fairi sudah hamil dan sedang mengandung 3 bulan, lalu dia menghilang setelah 1 bulan kakak datang ke dan aku menceritakan soal kakak padanya." jelas Melisa yang sudah mulai tenang.


Kenan tersenyum dan kini dia mengerti kenapa Fairi tiba - tiba memutuskan meminta perlindungan dari ayahnya yang sangat dia benci dan dia hindari selama ini. "kenapa aku begitu bodoh seperti ini, aku harus mengatur orang untuk melindunginya."


"Tapi belum tentu kalau anak itu adalah anak kakak." Melisa berkata dan menatap Kenan.


"Kakak bisa mencari tau sendiri soal itu, dan kakak janji pada mu kakak tak akan pernah menyakitinya atau membuatnya susah." Kenan memeluk lagi Melisa dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.


"Berikan pelukan pada kakak mu ini juga" Farid ikut memeluk Melisa dan Kenan bersamaan.

__ADS_1


"Aku juga sayang karena aku adalah suamimu" Dafid pun ikut memeluk, dan mereka berpelukan seperti Teletubbies.


__ADS_2