Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
Episode 239


__ADS_3

Renata duduk ditepian ranjang dan membelai perutnyanya yang masih rata. Ia tidak tahu harus bagaimana dengan kandungannya.


Rasa ingin memiiki seorang anak lagi juga begitu kuat, sebab Ia telah kehilanga Rania yang merupakan satu-satunya puterinya.


Namun rasa bersalah yang terlalu besar terhadap Denada karena pernah menjadi pecundang, membuatnya menjadi serba salah, dan Ia tidak ingin pecundang untuk kedua kalinya.


Tak berselang lama, tampak Rudy membuka pintu kamar, lalu berjalan menghampirinya.


Ia melepas kacamatanya, dan meletakkannya diatas meja nakas.


Rudy adalah type pria setia, penyayang dan penuh kelembutan. Selain itu, Rudy adalah pria cerdas dan mampu menyelesaikan masalah dengan mudah, dan tentunya sedikit berbading jauh dari Denny yang mudah panik dan sedikit gegabah.


Rudy adalah type pria idaman yang membuat wanita akan bertekuk lutut, meskipun Ia bersikap sedikit pendiam dan dingin, namun karakternya sangat begitu mempesona, penuh dengan kesahajaan.


Dan Renata mengakui Ia jatuh cinta saat pertama menjadi istri pura-puranya yang juga awal menjadi pecundang.


Renata menatap pria yang kini duduk ditepi ranjang bersamanya, tatapan teduh pria itu membuatnya begitu nyaman dan menentramkam jiwanya.


"Mas.. Apakah Kamu yakin dengan calon bayi ini?" tanya Renata lirih.


Rudy menatapnya "Apakah Kamu yang tidak meyakininya? Ia tidak bersalah, jika Kamu merasa bersalah dengan masa lalu, maka perbaikilah, dan bertaubatlah dengan taubat yang sebenarnya" ucap Rudy mengingatkan.


Renata merasa tertampar dengan ucapan Rudy, dan tanpa sadar bulir bening itu jatuh disudut matanya "Aku tidak dapat memaafkan kesalahanku, Mas.. Aku melakukan dosa yang tidak termaafkan" ucap Renata mencoba mengungkapkan isi hatinya.


Rudy membawa kepala wanita itu kepundaknya, Ia membelainya dengan lembut. Setiap manusia memiliki masa lalu, dan Tuhan tahu mana uang berniat untuk berubah dengan sungguh dan mana yang hanya topeng semata.." ucap Rudy dengan setenang mungkin.


Renata terisak dalam dekapan Rudy, begitu sangat nyaman bersandar dipundak pria itu. Meskipun selama ini mereka telah hidup bersama, namun karena hanya kepura-puraan, membuat Renata tak mampu menemukan kenyamanan yang sesungguhnya.


Dan saat ini mereka terikat dalam ikatan halal, sehingga Ia begitu merasakan indahnya ikatan tersebut.


"Terimakasih, Mas.. Kamu telah memaafkan semua salah dan dosaku" ucap Renata, masih dengan suara tersedunya.

__ADS_1


"Berjanjilah, untuk membesarkan anak ini, dan jangan pernah mengulangi kesalahan yang sama, jadikan Denny sama seperti anak ini, memberikan kasih sayang yang sama dan seutuhnya tanpa membeda-bedakannya" ucap Rudy, sembari membelai lembut rambut Renata.


Renata menganggukkan kepalanya "Aku janji, Mas... Tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, dan akan berubah menjadi yang lebih baik" ucap Renata dengan semua sisa kejujuran yang Ia miliki.


Rudy melepaskan dekapannya, lalu mengecup kening wanitanya.


"Kita ke dokter hari ini, mencoba memeriksa kondisinya, sebab kamu butuh pemeriksaan yang rutin karena usia yang sudah tidak lagi muda" ucap Rudy mengingatkan.


Renata mengerutkan keningnya "Apakah Aku sudah tampak keriput, dan juga tua Mas?" tanya Renata mulai sensitif.


Rudy tersenyum tipis, yang membuat sisa ketampanannya dimasa muda kian terpancar.


"Kamu masih cantik seperti dahulu, sama seperti saat Mas melihatmu ditaman kampus, dengan dres kuning lemon" ucap Rudy mengingat kisah awal Ia melihat Renata.


Renata mengerutkan keningnya, dan Ia sebenarnya masih begitu sangat penasaran, mengapa Rudy memilih memotretnya, sedangkan saat itu Ia bersama ke empat teman kampusnya yang lain.


"Apa yang membuat Mas tertarik saat melihatku pertama kalinya?" tanya Renata penuh penasaran.


Rudy mengulum senyum simpul "Tawa itu begitu lepas, dan Mas menyukainya" ucap Rudy tanpa memberikan alasan yang jelas.


"Kalau begitu Kita ke dokter sekarang. Oh, Ya. Mas.. Kata Dokter Mas harus puasa 3 bulan, sebab usiaku yang sudah tidak muda dan juga demi keselamatan calon bayi ini" ucap Renata mengingatkan.


Rudy mengerutkan keningnya "Tak mengapa, yang penting kamu masih bisa menggunakan cara lain jika Mas lagi butuh" ucap Rudy yang terlihat sedikit nakal.


Renata mengerutkan keningnya "Ih.. Kamu kenapa tiba-tiba jadi genit, Mas" ucap Renata bingung.


Rudy tertawa kecil, tawa yang tak pernah terlihat selama ini, dan kini begitu Ia keluarkan untuk pertama kalinya.


"Ya, karena mungkin bawaan si calon bayi" jawab Rudy asal yang kini melimpahkannya kepada calon bayi yang tidak tahu apa-apa itu.


Renata mencubit pinggang Rudy dengan gemas, sehingga membuat pria dingin itu meringis dan membalasnya dengan kecupan gemas dipipi Renata.

__ADS_1


Sementara itu, Denny baru saja selasai dari mandinya, Ia telah menyiapkan air hangat untuk Amyra mandi.


Ia tampak begitu segar dan sepertinya sembuh lebih cepat "Sayang, mandilah.. Mas sudah menyiapkan air hangat di buthtub, tapi jangan dipakai untuk berendam, karena akan menimbulkan tekanan pada caon bayi" ucap Denny mengingatkan.


Amyra beranjak dari ranjangnya, lalu berjalan dengan tertatih sembari memegangi pinggangnya. Ia berjalan hanya menggunakan underware saja, dan itu terlihat sangat menggelikan bagi Denny, sebab bukan hanya bagian perut saja yang menonjol, tetapi bokong dan melon Amyra juga ikut semakin menonjol selama proses kehamilan.


"Kamu sudah sehat, Mas?" ucap Amyra sembari membuka pintu kamar mandi.."Sudah.. Obatnya sangat mujarab dan mengalahkan obat resep dokter" jawab Denny sembari membuka pintu lemari mencari pakaian gantinya.


Amyra mengerutkan keningnya, sembari memanyunkan bibirnya dan masuk kedalam kamar mandi.


Jika tidak melihat Amyra kesusahan dengan kondisi perutnya yang membuncit dan kasihan, mungkin Denny akan ikut lagi mandi bersama dan mengulangi kenakalannya, namun Ia tak tega melihat Amyra yang tampak begitu kesusahan.


Ia hanya mengintip dari balik pintu kamar mandi yang dibiarkan terbuka oleh Amyra.


Tampak Amyra menarik kursi plastik yang berkaki pendek dan duduk dikursi tersebut, lalu menghadap Buthtub dan menjadikannya sebagai bak mandi.


Ia mengguyur tubuhnya dengan menggunakan gayung dan mulai menyabuni tubuhnya.


Kini Denny dapat melihat jelas bagaimana menderitanya Amyra saat mengandung anaknya. Bahkan untuk mandi saja Ia terlihat begitu kesusahan, dan beberapa hari ini harus merawatnya yang sakit demam.


"Maafkan, Mas.. Dengan Segala salah dan Khilaf yang pernah Mas lakukan padamu selama ini" Guman Denny dalam hatinya. Lalu Ia memilih pakaian santai, danmemakainya.


Setelah itu, Ia melihat pintu lemari sebelah kananya. Ia membukanya, lalu mengambilkan pakaian daster untuk Amyra, beserta underware dan meletakkannya diatas tepi ranjang. Ia juga menyiapkan peralatan kecantikan yang biasa dipakai Amyra setelah mandi.


Tak berselang lama, Ia melihat Amyra sudah selesai dengan mandinya dan dengan rambut basah terurai. Lalu berjalan tertatih menuju tepi ranjang.


Amyra tersenyum senang melihat perlakuan kecil Denny namun terlihat cukup manis baginya.


Amyra duduk ditepian ranjang unru memakai underwarenya. Memakai underware saja sudah begitu sangat kepayahan, dan Denny terus memperhatikannya.


Lalu Denny mengambil bra milik Amyra "Sini, biar Mas bantu pakaikan" ucap Denny yang tanpa persetujuan Amyra lalu membantu mengenakannya.

__ADS_1


Amyra semakin melebarkan senyumnya, Ia tidak tahu entah apa yang ada difikiran suaminya saat ini. Lalu Denny kembali memakaikan daster itu kepada Amyra, dan mencoba membantu menyisir rambut istrinya.


Setelah selesai semuanya, Ia memberikan kecupan lembut dipipi sang istri "Terimakasih, sudah mau bersusah payah mengandung anak kita" bisiknya dengan lembut ditelinga Amyra, lalu mendekapnya dari arah belakang, sembari membelai perut Amyra yang kian semakin membuncit.


__ADS_2