Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
Episode 232


__ADS_3

Grace mengerjapkan kedua matanya, Ia merasakan sakit dikepalanya. Ia melihat dirinya yang berada dirumah sakit berbaring tak berdaya.


Tak ada penanganan khusus, sebab Ia masih dalam pengaruh alkohol, sehingga obat yang dimasukkan akan menolaknya.


Grace beranjak dari ranjangnya, tak ada satupun perawat yang datang memeriksanya.


Wanita itu memandang kesekelilingnya, ada beberapa pasien lain yang berada satu ruangan dengannya dan sedang beristirahat.


"Mau kemana, Mbak?" tanya seorang keluarga dari salah satu pasien yang berada satu ruangan dengannya.


Grace hanya diam saja, lalu berjalan tertatih menuju pintu keluar. Ia merapikan pakaiannya, lalu menggerai rambutnya agar tidak dikenali oleh siapapun. Ia berjalan menuju pintu keluar, lalu mencari angkot untuk menuju apertemennya.


Grace kehilangan phonselnya, sepertinya para remaja brandal itu mengambilnya malam tadi.


Ia menghentikan sebuah angkot dan menyebutkan alamatnya.


Angkot itu membawa Grace menuju alamat yang diminta olehnya. Lalu angkot melaju menuju alamat apertemen Grace.


Sesampainya di depan gang apertemen, Grace merogoh uang yang ada disaku rok pendeknya, dan hanya tersisa dua puluh ribu, lalu menyerahkannya kepada sopir itu, lalu turun dari angkot dan berjalan tertatih menuju apertemen.


Orang-orang yang berpapasan dengannya memandangnya dengan penuh perasaan tanda tanya, namun melihat prilaku Grace yang juga masa bodoh terhadap penghuni apertemen lainnya membuat mereka juga merasa acuh tak acuh dengan kondisi Grace saat ini.


Sesampainya didalam apertemennya, Ia membaringkan tubuhnya diatas ranjang, rasa lelah dan tubuhnya yang masih terasa sangat sakit karena seharian dan srmalaman dirudal paksa, membuatnya merasa kehabisan tenaga.


Selama ini Ia hanya melayani para petinggi perusahaan, namun akhirnya, semua orang yang dianggapnya rendahan telah mencicipinya, bahkan secara gratis.


Kini Ia tak lagi dapat mencemooh orang yang dianggapnya rendahan, sedangkan Ia sudah lebih dari rendahan.


Ia berjalan srmpoyongan, menuju meja nakasnya, dan melihat isi laci nakas, lalu mengambil laptopnya.


Ja membuka aplikasi WA-nya. Mencoba menghubungi seluruh sahabatnya satu persatu untuk meminta bantuan keuangan, namun satupun tak ada yang ingin membantunya dengan alasan belum gajian dan bahkan Ia menghubungi para petinggi perusahaan yang pernah tidur dengannya, dengan menawarkan jasa layanan plus-plus, mamun mereka menolaknya, sebab sudah mendapatkan wanita pengganti yang lebih muda dan lebih bergairah.


Grace merasa sangat frustasi, Ia menghubungi teman wanita terakhirnya yang kini bekerja disebuah club malam sebagai pengantar minuman dan pemandu lagu.

__ADS_1


Dengan cepat sahabatnya itu merespon dan bersedia untuk membantunya.


Grace bernafas lega, Ia bergegas untuk mandi dan membersihkan tubuhnya.


Banyak bercak luka disekujur tubuhnya, sebab OB itu berlaku kasar padanya saat bergumul digudang waktu itu.


Begitu juga dengan para brandal tersebut yang sudah menggilirnya, rasanya bagian organ intinya begitu ngilu dan bengkak, namun Ia harus bekerja untuk mencari uang masuk agar dapat membayar angsuran apertemennya.


Pesangon yang didapat dari perusahaan Denny masih ditahan, namun ia berharap jika rumah tangga Denny hancur berantakan karena istrinya telah membuka vedeo vulgarnya.


"Rasain Kamu, Denny. Pria sok alim dan sok setia" gerutu Grace sembari mengguyur tubuhnya dengan air yang mengucur dari Shower.


Sementara itu, Rudy tidak ingin rumah tangga anaknya hancur, Ia juga tidak rela kehilangan menantu kesayangannya, sebab bukan tanpa alasan, karena Amyra wanita yang tepat buat Denny.


Ia pergi menemui Amyra tanpa sepengetahuan Denny. Ia sudah mendengar masalah yang sebenarnya, dan pergi menemui Amyra saat Denny sedang bekerja.


Rudy melajukan mobilnya menuju rumah anak dan menantunya itu. Sesampainya dirumah itu, Iq berjalan dengan penuh kesahajaan.


Amyra merasa kaget karena tidak biasanya papa mertuanya itu datang tiba-tiba, dan pastinya ada sesuatu yang penting.


Amyra bergegas keluar dari kamarnya menuju ryang tengah untuk menemui sang papa mertua.


"Apa kabar, Pa?" sapa Amyra saat melihat pria paruh baya yang duduk di sofa dengan kesahajaan dan tatapan teduh yang membuat siapa saja memandangnya akan terpancar aura kewibawaan yang berkahrismatik.


Sisa guratan ketampanannya saat masih muda dahulu masih terpancar jelas diwajahnya, meskipun kini usianya sudah tak lagi muda.


"Alhamdulillah baik. Bagaimana kabar kamu?" tanya Rudy dengan tenang.


"Alhamdulillah baik, Pa" mencoba menyembunyikan permasalahannya dengan Denjy yang beberapa hari ini masih renggang.


Rudy menghela nafasnya, lalu mulai menceritakan semua permasalahan yang ada dikantor Denny.


Dimana Grace tidak terima karena dipecat secara sepihak oleh Denny sebab selalu menunjukkan gelagat ingin menjadi wanita penggoda dikantor itu dan tujuannya adalah Denny. Lalu Rudy membawa beberapa bukti dari apa yang ditemukannya.

__ADS_1


Amyra terperangah mendengarnya, lalu menutup mulutnya.


"Myra sudah berprasangka buruk padanya, Pa. Namun Denny semakin berubah dan lebih perhatian, sepertinya Ia ingin membuktikan jika Ia tidak bersalah dalam hal ini" jawab Amyra dengan nada merasa bersalah.


"Hemmm.. Sepertinya kamu harus pura-pura bersandiwara belum mengetahui kebenarannya, dan lihat sejauh mana Ia berusaha untuk mendapatkan hatimu" ucap Rudy yang mencoba mendukung menantunya dalam menguji kesungguhan Denny.


Lalu keduanya tersenyum dan sepakat merahasiakn ini semua, dan Rudy berpamitan untuk pulang.


Amyra akhirnya bernafas lega dan ternyata Denjy masih memegang teguh janjinya untuk menjaga kesetiaaan dan kepercayaan yang telah Ia berikan kepada pria itu.


Amyra tampaknya mulai mengikuti sandiwara yang diusulkan oleh Papa mertuanya, dan hanya untuk melihat sejauh mana Denny dalam memperlihatkan kesungguhan hatinya.


Sementara itu, Grace baru saja selesai membersihkan tubuhnya, Ia tahu jjka sahabatnya itu akan menjemputnya hari ini.


"Aku harus berdandan cantik, meski sebenarnya tubuhku rasanya mau remuk, namun harus ada pemasukan, karena banyak tagihan yang yang akan aku bayar" guman Grace dalam hatinya.


Ia mencoba merias wajahnya sebaik mjngkin, namun tubuhnya tak dapaat ditoleransi karena rasa sakit disekujur tubuhnya, bahkan Ia belum makan sesuatu apapun.


Saat Ia selesai ber make up, suara ketukan dipintu apartemennya dan Grace bergegas membukanya, lalu melihat sahabatnya Desy yang sudah berpenampilan menggoda menunggunya didepan pintu.


"Yuuk.. Berangkat" ucap Desy sumringah.


"Aku makan bentar, Ya" ucap Grace dengan lirih, sebenarnya tatapannya juga sudah sayu dan tak mampu menopang lagi tubuhnya, namun Ia coba memaksanya.


"Sudah.. Ntar aku traktir dijalan, Kita jalan dulu yuk" ucap Desy tak perduli dengan kondisi Grace saat ini.


Sesampainya didalam mobil, Desy memberikan dua bungkus roti dan Grace menyantabnya dengan sangat rakus.


Setelah itu, Grace meneguk air mineral pemberian Desy. Namun setelah meneguk air mineral itu, seketika tubuhnya bereaksi dan menggeliat seperti cacing kepanasan.


Grace menatap Desy dengan tatapan nanar "Des.. Kau..." ucapnya tercekat ditenggorokan.


Desy tersenyum dengan licik "Maaf, Bestie, aku terpaksa melakukannya, karena aku butuh uang juga " jawab Desy dengan tatapan penuh kelicikan.

__ADS_1


__ADS_2