Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
Bab 125


__ADS_3

"Hai Fa, wah tak ku sangka kalau kita bertemu secepat ini." sapa Bagas saat bertemu dengan Fairi di sebuah restoran setelah Fairi bertemu dengan klien nya.


"Oh...tuan Bagas." Fairi berkata dengan malu


"Duh jangan panggil tuan, panggil Bagas saja toh kita seumuran." Bagas mencoba untuk akrab dengan Fairi


"Baiklah, ku panggil kak Bagas saja bagaimana karena anda adalah teman kak Melly." Fairi berkata dengan senyumnya.


"Tentu tak masalah asal jangan tuan karena aku terdengar sangat tua kalau dipanggil dengan sebutan itu." ucap Bagas sambil tersenyum.


"Anda bisa saja, baiklah sampai jumpa lagi saya harus kembali." Fairi mohon pamit pada Bagas


"Oh iya Fa, boleh tidak kalau besok kita bertemu karena aku ingin pergi ke tepat Melly namun aku masih belum begitu hafal daerah sini." Bagas meminta pada Fairi untuk mengantarkan dia ke makam Melly


"Baiklah, kak Bagas ingin pergi kesana jam berapa?" Fairi bertanya untuk memastikan


"Mungkin siang atau pas kamu longgar, oh berikan nomer mu biar aku bisa menghubungi mu." Bagas


"Baik" Fairi menyimpan nomer di handphon Bagas


"Besok aku akan menghubungi mu." Bagas


"Iya sampai jumpa." Fairi


"Bu Laras sepertinya tuan Bagas menaruh hati sama anda." Lina berkata setelah mereka pergi dan melajukan mobilnya


"Kamu jangan aneh - aneh, oh iya besok kalau ada telepon dari nomer yang tak kau kenal anggar saja." ucap Fairi dan Lina merasa bingung


"Eh, jangan bilang kalau yang anda simpan adalah nomer saya. Bu Laras kenapa selalu seperti itu ada berapa banyak nomer yang tersimpan di kontak saya Bu." kelu Lina pada Fairi yang selalu memberikan nomernya pada setiap orang yang meminta nomer Fairi


"Apa masalahnya, kamu tinggal alihkan nomer - nomer itu ke panggilan darurat biar pihak perusahaan yang angkat kan beres." jawab Fairi ringan


"Ya ampun Bu, kalau begitu kenapa tidak anda lakukan sendiri saja." kesal Lina sambil fokus nyetir

__ADS_1


"Kan kamu yang pegawai." Fairi menjawab dengan ringan


"Ya ya derita seorang pegawai." Lina berkata dengan sewot


Fairi tersenyum melihat Lina yang merajuk karena nomernya selalu jadi korban. "Nanti ku berikan bonus dan juga libur serta tiket makan malam romantis dengan Agus."


"Benar" Lina langsung senyum mendengar makan malam romantis gratis


"Hem, lakukan akhir pekan besok aku akan reservasi restoran untuk kalian berdua." Fairi berkata dan menatap Lina yang tersenyum lebar


"Aku tak tau sejak kapan kalian menjalin hubungan asmara, tapi aku ucapkan selamat untuk kalian berdua. Dan anggap saja itu sebagai hadiah dari ku untuk hubungan kalian."


"Terima kasih Bu Laras, ibu memang yang terbaik." Lina berkata dengan sangat senang


"Hem kalau sudah begitu saja memuji." Fairi


"Tapi Bu, kalau boleh jujur sebenarnya saya kadang merasa masih canggung dengan perubahan penipuan ibu, apa lagi wajah ibu yang sekarang. Kadang saya suka lupa karena tak mengenali ibu." Lina berkata dengan jujur pada Fairi


"Iya aku mengerti, wajah ini meninggalkan banyak kenangan baik untuk ayah Herman dan keluarganya dan juga kak Bagas yang merupakan mantan dari kak Melly." Fairi berkata dan menghela nafas dalam


"Tidak akan Lin, aku tak ingin dia memiliki perasaan seperti itu padaku." Fairi berkata dengan cepat atas apa yang dipikirkan oleh Lina.


"Tapi kita kan tidak tau perasaan orang, siapa tau saja karena wajah Bu Laras sama jadi timbul perasaan familiar dan dia mengajak anda untuk ke makam non Melly hanya sebagai alasan saja untuk lebih dekat dengan anda." Lina masih saja mencoba untuk berasumsi.


"Hem, sudah ku bilang aku tak akan melakukan hal itu, lagian aku tak ingin dekat atau didekati siapa pun." Fairi mulai sewot sama Lina


"Benarkah, lalu ayah dari Kemal dan Arlan apakah anda juga akan mengabarkan dia. Bukankah waktu itu ijab kabul sudah dilantunkan untuk anda olehnya." Lina mulai menggoda Fairi


"Dia..." Fairi terdiam setelah bicara dan Lina melirik lalu tersenyum melihat bosnya merasa bimbang dan bingung.


"Bagaimana jadinya" Lina mendesak Fairi


"Entahlah aku tak tau, karena aku rasa acara pernikahan waktu itu belum sempurna sebab yang duduk di sana bukanlah aku dan juga niat dalam hatinya adalah orang lain walau yang disebutkan adalah namaku." Fairi mecoba untuk beralih dengan ringan

__ADS_1


"Hem, tapi kalau menurut ku itu sudah boleh kok, karena pernikahan itu intinya adalah tuan Kenan ingin menikahi anda walau yang ada di sana adalah orang lain yang menyamar." Lina mencobak membenarkan


"Mana ada yang seperti itu Lin, yang namanya pernikahan itu harus ada mempelai berdua, sudah jangan bahas itu." Fairi tersenyum pada Lina


"Ya intinya pernikahan itu baik - baik saja, hanya kurang untuk disempurnakan lagi. Kalau menurut ku tinggal mengucapkan janji suci lagi maka kalian akan sah dan resmi menjadi pasangan suami istri. Walau menurut ku sekarang juga sudah suami istri meski belum sempurna." Lina berkata dan terbahak, Fairi yang ada di kursi penumpang hanya tersenyum menanggapi omongan Lina.


Keesokan paginya tanpa sengaja Kenan melihat Fairi jalan sama Bagas dan mereka sedang makan di restoran bersama, Kenan merasa familiar dengan pria yang bersama dengan Fairi dan dia langsung menghampiri mereka berdua.


"Fa, Gas. Kalian saling kenal" Kenan langsung menegur setelah berada tepat dieja mereka


"Loh Ken, kebetulan sekali. Ya kami saling kenal dia adalah adik dari mantanku yang aku ceritakan tempo hari. Fa dia adalah Kenan teman ku waktu kami kuliah dulu. Dan dia adalah.." Bagas ingin mengenalkan Fairi namun Kenan sudah menjawabnya.


"Fairi." jawab Kenan langsung


"Oh kau sudah kenal ya, oh iya tak heran kalian adalah pebisnis yang terkenal dan berkembang kalian pasti sudah saling kenal satu sama lain tak heran, ok duduklah kita makan bersama." Bagas berkata dan mempersilakan Kenan untuk bergabung.


"Papa.." Arlan datang menghampiri Kenan setelah selesai beli es krim sama Kemal


"Putramu." Bagas menatap Arlan


"Ma, katanya mama mau ke makam Tante Melly sama teman...oh." Kemal menghentikan kata - katanya setelah melihat Bagas duduk didepan mamanya.


Fairi tersenyum dan menunduk lalu dia menarik Arlan dan Kemal ke sampingnya dan memeluk mereka serta mengenalkan mereka berdua pada Bagas kalau keduanya adalah putranya Arman dan Arlan.


"Oh..jadi kalian ini adalah keluarga, ya ampun aku tak tau dan tak pernah menyangka sebelumnya. Jadi istri yang dibilang oleh Farid yang telah membuatmu gila karena kau dibuang itu adalah dia Fairi." Bagas berkata dan tertawa terbahak


"Haruskah kau mengulanginya sekarang." Kenan merasa kesal pada Bagas.


"Ok ok, selamat untuk kalian. Dan setidaknya kau masih bisa bertemu dan melihatnya Ken tak seperti aku, karena kepengecutan ku justru membuat aku kehilangan cintaku untuk selanya. Jadi jagalah dia dengan baik dan jangan sampai kau kehilangan dia untuk kedua kalinya. Karena saat itu terjadi aku akan mengambilnya dari mu." Bagas berkata dengan sedih dan langsung berubah serius.


"Mengambil pala mu, hilangkan pikiran itu kalau kau mau selamat." Kenan berkata dengan serius juga


"Hahaha...baiklah ayo kita makan bersama sebagai ucapan selamat untuk mu dari ku." ucap Bagas dan mereka pun makan bersama, sampai Bagas pamit pada Fairi dan Kenan.

__ADS_1


Kenan terlihat sedikit sewot dan marah tanpa sebab saat mereka kembali pulang dan amarah Kenan itu membuat Fairi merasa bingung karena Kenan terlihat seperti anak kecil yang lagi ngambek tak mau bicara sama sekali, Kenan terlihat diam seribu bahasa dan duduk dengan tenang fokus nyetir. Sikap Kenan yang seperti itu baru dilihat dan diketahui oleh Fairi karena dulu mereka tak pernah dekat sama sekali.


__ADS_2