Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
episode 259


__ADS_3

Khumairah merasa cemas karena suaminya yang tak juga kunjung pulang hingga larut malam. Saat Ia mendengar suara ketukan dipintu belakang, Ia merasakan takut juga was-was sebab Ia masih trauma akan pria yang pernah hampir bertindak asusila kepadanya.


"Dik.. Dik Mai, ini Mas.. Buka pintunya" ucap Zain dengan nada berbisik agar tak ada yang mencurigainya.


Mendengar namanya dipanggil, Khumairah meyakini jika itu suaminya, sebab hanya suaminya yang tau nama panggilannya 'Mai'.


Khumairah berjalan dengan tertatih menuju pintu dapur dan membuka pintu dengan penuh debaran dan hati was-was yang sangat begitu penuh kecemasan membuka pintu dapur.


Saat Ia membuka pintu dapur, Zain segera masuk dan membekap mulut Khumairah agar tak berisik.


"Dengar, turuti ucapan Mas. Kita pergi dari kontrakan malam ini, Mas belum bisa jelaskan apapun, namun semua ini terpaksa harus Mas lakukan demi kamu" ucap Zain sembari berbisik ditelinga Khumiarah.


Wanita polos itu hanya menganggukkan kepalanya dan mengikuti semua apa yang diucapkan oleh suaminya.


"Lalu barang-barang ini bagaimana Mas?" tanya Khumiarah dengan menunjuk barang dagangan dan juga perlengkapan bayinya.


"Itu biar Mas yang urus, yang penting sekarang Kita harus pergi dahulu" ucap Zain dengan suara yang sangat pelan.


Khumairah hanya menganggukkan kepalanya dan tak tahu harus mengatakan apa, namun firasatnya Ia mengkhawatirkan suaminya.


Lalu keduanya keluar dari pintu dapur menyusuri gang sempit dan menuju ke simpang tempat dimana Ia berjanji akan bertemu dengan sopir taksi tersebut.


Saat akan keluar dari simpang, Zain melihat dua orang pria yang mencurigakan, tampaknya itu dua orang pria yang siang tadi mondar-mandir didepan rumahnya.


Ia merapatkan tubuhnya didinding rumah warga berada didalam gang.


"Sayang, sepertinya kita harus memutar kearah selatan, dan ada sesuatu yang tak bisa Mas jelaskan" ucap Zain dengan penuh debaran.


Ia menggenggam pergelangan tangan Khumairah dan membawa kembali Khumairah mencari jalan lain agar gak terlihat oleh dua pria tersebut.


Khumairah mulai merasakan keram diperutnya, sebab sudah lama berjalan. "Mas.. Perut Mai keram, dan sakit buat berjalan" keluh Mai dengan wajah lelah dan meringis.

__ADS_1


Zain mengamati sekitarnya. Dalam kegelapan, Ia melihat teras rumah warga tanpa pagar yang kebetulannya lampunya sedang mati karena tidak berpenghuni "Kita kesana dulu untuk beristirahat sejenak" ucap Zain menyarankan. Andaikan saja kedua kakinya masih utuh, mungkin Ia memilih menggendong Khumairah agar segera mencapai simpang yang lain.


Khumairah menganggukkan kepalanya dan berjalan tertatih sembari menopang perut bawahnya agar tidak terlalu keram.


Sesampainya diteras tersebut, Khumairah duduk berselunjurkan kakinya dan menarik nafasnya yang tersengal.


Zain membelai perut sang istri yang tampak membuncit dan pastinya Ia sangat kelelahan.


Setelah beberapa menit, Khumairah merasa sudah enakan "Sudah membaik Mas. Ayo kita jalan lagi" ucapnya dengan sumringah.


Wajah polos itu, yang mana Ia tidak mengetahui apa sebenarnya yang terjadi, namun karena melihat Zain bersamanya, Ia tak menghiraukan apapun yang terjadi, baginya bersama pria itu adalah sumber kekuatannya.


Zain kembali beranjak, menggenggam pergelangan tangan Khumairah dan kembali berjalan menuju simpang jalan lainnya.


Setelah lama berjalan, akhirnya mereka mencapai persimpangan jalan, Zain mencoba menghungi taksi onlinenya dan meminta menjemputnya di simpang yang berbeda.


Tak berselang lama, taksi itu muncul dan dengan terburu-buru, Zain memapah Khumairah memasuki taksi dan kemudian Ia masuk dari pintu sebelahnya, dan menuju rumah kontrakan baru.


Saat melintasi gang rumah kontrakan, Zain singgah sebentar disebuah warung yang buka 24 jam dan membeli beberpa makanan dan minum air mineral serta sebotol minyak kayu putih.


Setelah selesai, Ia kembali membawa Khumairah kerumah kontrakan yang baru dan sudah berada di depan mereka.


Sesampainya didalam rumah, Khumairah langsung membaringkan tubuhnya yang terasa lelah dan juga lemah karena terlalu lama berjalan.


Zain menghampiri sang istri, lalu memberikan sebotol air mineral dan beberapa camilan untuk wanitanya.


Kemudian Ia mengambil minyak kayu putih, lalu mulai mengurut betis Khumairah, yang Ia yakin saat ini terasa sakit dan juga lelah.


Perlakuan Zain pada sang istri, membuat wanita itu tiba-tiba saja hilang rasa lelahnya. Rasa hangat minyak kayu pada betisnya, mengalahkan hangatnya perlakuan Zain padanya.


Siang tadi Ia hampir saja putus asa karena Zain tak kunjung kembali, apalagi sampai hampir larut malam Ia menunggu dengan penuh kecemasan.

__ADS_1


Namun saat melihat pria itu sudah kembali, Ia merasa mendapat kekuatan dalam dirinya. Ia tak perduli dengan keadaan apapun saat ini, baginya bersama pria itu sudah membuatnya begitu tenang.


Perlahan Khumairah mengantuk dan mulai tertidur karena kelelahan, dan juga merasa aman saat melihat sang suami kini sudah berada disisinya kembali.


Melihat istrinya terlelap, Zain merasakan hatinya sedikit tenang. Meraka hanya tidur beralaskan sebuah tikar seadanya tanpa bantal.


Zain memandang wanita itu dengan penuh rasa bersalah, sebab tanpa sengaja membawanya kepada lingkaran masalah yang seharusnya tak pernah dirasakan oleh sang wanita polosnya.


Ia beringsut mengahampiri wajah sang istri, mengecup kening istrinya dengan lembut dan membelai ujung kepalanya, hingga akhirnya Ia juga tertidur dengan lelap.


Sinar mentari pagi menyapa kedua insan yang kini sedang tertidur lelap, lalu sepasang mata yang masih mengantuk dan lelah mengerjapkan kedua matanya.


"Mas.. Sudah siang" ucap Khumairah dengan lirih, lalu berusaha untuk bangkit dari tidurnya.


Khumiarah memandang kesekelilingnya, tampak asing, karena saat malam mereka tiba dirumah ini, dan tak sempat untuk memperhatikannya karena rasa lelah yang mendera.


Zain mengerjapkan kedua matanya, melihat kearah Khumairah yang tampak sedang memperhatikan semua keadaan rumahnya.


"Mas.. Mai masak sarapan dulu, Ya.." ucapnya hendak beranjak dari duduknya.


Namun zain menahannya "Kompornya tidak ada, Dik.. Nanti kita beli sarapan saja dan malam nanti Mas akan jemput semua peralatan kita" ucap Zain menerangkan.


Khumairah hanya menganggukkan kepalanya.


Zain beranjak ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. setelah itu Ia berpamitan untuk mencari sarapan.


"Dik.. Kunci pintu rumah dari dalam, Mas mau beli sarapan sebentar di ujung simpang" ucap Zain kepada istrinya, lalu berjalan menuju pintu keluar untuk mencari sarapan. sasampainya didepan hang, Zain memesan nasi uduk dua porsi, lalu duduk dikursi pelanggan.


Sembari menunggu pesanannya, Zain mencari-cari mobil pick up berwarna putih yang dijual secound. Ia harus segera mendapatkan mobil pengganti untuk mengangkut barang-barangnya yang Ia tinggal begitu saja dirumah kontrakan yang lama.


Setelah berseluncur diaplikasi jual beli barang dalam akun media sosialnya, akhirnya Ia menemukan satu mobil yang sesuai dengan keinginannya dan segera menghubungi penjual tersebut untuk melakukan temu janji dan penawaran harga serta mengecek kondisi mesin serta kelengkapan surat-suratnya.

__ADS_1


__ADS_2