Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
Bab 51


__ADS_3

"Halo maaf saya diminta tuan Adi untuk bertanya kapan anda akan kembali karena saya sudah menyiapkan orang yang anda minta, dan nanti dia akan menjemput anda di bandara." Handoko menghubungi orang yang selalu menghubungi tuan Adi selama 5 tahun terakhir ini. "Baiklah kalau begitu tolong nanti jika anda mau berangkat kabari saya akan saya suruh orangnya untuk menjemput anda. Iya, terima kasih."


Handoko menatap layar ponselnya dan merasa tak percaya dengan orang yang baru saja diajak berbicara, karena dia terdengar lebih dewasa dan juga sangat berwibawa dari suaranya. Handoko merasa tak sabar ingin segerah bertemu dengan orang itu yang selalu membuatnya penasaran dengan perubahannya.


...💔💔💔...


"Ma, katanya kita akan jemput kakak Arman, kapan kita akan berangkat ma?" tanya Arumi pada mamanya karena dia merasa tak sabar.


"Iya sayang nanti kita berangkat, nunggu papa dulu ya. Bentar lagi papa selesai rapatnya" Amrita menjelaskan pada putrinya yang terlihat sudah sangat tak sabaran itu.


"Kenapa papa lama sekali." Arumi sudah memonyongkan bibirnya karena sudah tak sabar ingin bertemu dengan Arman.


"Ha, ya ampun ternyata lama juga pertemuannya kalian sudah menunggu lama ya sayang." Fahmi keluar dari ruangannya dan melihat putrinya sudah manyun.


Amrita tersenyum melihat putrinya marah sama papanya, "Oho tuan putri papa marah ya sayang? Baiklah ayo tak usah menunggu lama kita jemput mereka datang" Fahmi langsung menggendong putrinya dan senyum gadis kecil itu langsung mengembang.


...💔💔💔...


Disebuah bandara seorang anak kecil yang sedang duduk diatas troli koper mencuri perhatian banyak pengunjung bandara karena anak kecil yang rupawan itu terlihat sangat tampan dengan penampilan celana jeans hitam berpadu dengan hem putih dan kardigan hitam serta sepatu boot hitam dan kacamata hitam juga terlihat bagai bintang cilik yang sedang berusaha untuk tampil dalam adegan drama.


"Ya ampun lihatlah anak itu tampan sekali dan juga sangat menggemaskan."


"Benar, mamanya juga sangat cantik dan elegan walau dandanannya sangat sederhana dengan celana putih dan hem hitam garis - garis dengan rambut kuncir kuda serta kaca mata coklat besar."


"Tapi kenapa tak ada suami disampingnya, seperti apa ya suaminya jadi penasaran."


"Jangan - jangan dia seorang singgel parent"


Para pengunjung sedang berkasak kusuk membicarakan dua orang yang keluar dan berjalan menuju ke luar bandara itu, dan mereka tak terlalu memusingkan omongan orang - orang itu karena mereka sudah sangat nyaman dengan kehidupan mereka dan tak mau ambil pusing soal omongan orang.


"Honey, apakah kita akan tinggal dengan mama Rita nanti?" tanya Arman pada mamanya


"Hem, enaknya gimana? Apakah Boo mau tinggal dengan mereka?" sang mama bertanya dengan penuh nada sayang.


"Mau, mau aku bisa terus melihat istri ku nanti." jawabnya dengan nada dan gaya sok macho.


"Oho, sebelum itu terjadi kamu harus sunat dulu sayang ku." Fairi berkata dan mencubit hidung putranya.

__ADS_1


"Honey, katakan pada ku apakah kamu mau mencari suami di sini? Kamu sudah menolak semua calon suami yang aku pilihkan disana, kalau kamu mau aku akan mendaftar lagi calon yang baik untuk mu nanti." ucap Arman dengan sangat semangat.


"Hei boca bicara apa kau ini mau aku lempar dari sini hah?" sang mama marah padanya namun Arman tak peduli dan terus saja bicara soal calon suami dari mamanya.


"Baiklah, baiklah. Jika kau bersih keras maka carikan yang sama persis dengan mu, jika sudah ketemu aku akan menikahi dia secara langsung tanpa pilih - pilih lagi ok." sang mama berkata dengan keyakinan kalau anaknya tak akan pernah bisa menemukan orang yang sama dengan anaknya yang menggemaskan dan sangat pintar dan juga sangat tampan ini.


"Ok honey." jawab Arman dengan melepas kaca matanya dan memainkan alisnya persis seperti pria dewasa yang sedang menggoda wanita.


"Mereka keluar." Amrita yang melihat orang yang dikenalnya.


"Kakak Arman." teriak Arumi sangat senang melihat Arman


"Oh, honey nanti kita bicara lagi soal calon suamimu aku ingin menemui istriku dulu." Arman melompat turun dari troli dan berlari menghampiri Arumi.


"Boo, hati - hati." teriak Fairi yang tak didengarnya.


"Fairi, selamat datang kembali." Fahmi menyebut Fairi dengan sangat senang.


"Ya, selamat datang lagi." Fairi menghampiri Fahri dan memeluknya.


"Syukurlah aku memiliki kalian berdua, aku sangat senang bisa bersama dengan kalian lagi." Fairi terlihat sangat senang dan berbeda dari Fairi yang dulu. Kini Fairi terlihat sangat dewasa dan juga sangat menarik.


"Selamat datang kembali bi Mina." ucap Fahmi dan Amrita bersamaan.


"Ya akhirnya bisa menginjakkan kaki di tanah kelahiran lagi setelah berpetualang sangat jauh dan lama." Bi Mina berkata dengan sangat senang, dan itu membuat Fairi dan yang lain tersenyum


"Baiklah ayo kita menuju rumah baru mu." Fahmi membawah Fairi, bi Mina dan Arman menuju ke rumah baru Fairi yang dibeli oleh Fairi sejak 2 bulan lalu.


"Awalnya aku tak percaya saat Amrita cerita kalau dia bertemu dengan mu di Bangkok. Tapi saat aku melihat mu baru aku mempercayainya, kau terlihat sangat segar dan jauh berbeda dengan dirimu yang dulu. Sekarang kau terlihat semakin cantik dan dewasa, kau sangat elegan dan berkharisma. Aku sangat bersyukur kau terlihat baik - baik saja." Fahmi banyak bicara dan memuji Fairi.


"Apakah kak Fahmi selalu banyak bicara seperti ini?" Fairi berkata dengan tersenyum.


"Ya karena suami ku ini adalah pengacara jadi dia banyak bicara." Amrita menjawab dan mereka tertawa bersamaan.


Perjalanan menuju rumah baru Fairi dihiasi dengan canda tawa semua orang yang terlihat sangat senang dan bahagia. Terutama Arman dan Arumi yang terlihat sangat senang karena mereka akhirnya bisa bertemu secara langsung setelah sekian lama tak bertemu dan hanya bisa bicara lewat panggilan video call satu sama lain.


"Oh ya Fairi, apa kamu tak memberitahu papa mu kalau kamu sudah kembali sekarang? Takutnya dia akan menunggumu." Fahmi bertanya karena takut kalau tuan Adi merasa khawatir.

__ADS_1


"Tidak perlu, besok aku akan menghubungi om Han untuk mengirim orang yang aku minta, untuk melakukan pertemuan dan penanda tanganan kontrak dengan pihak pemasok." jawab Fairi santai.


"Hem, baiklah terserah kamu saja. Tapi belakangan ini papa mu terlihat sangat baik dan jauh lebih baik dari sebelumnya." lapor Fahmi yang memang selama ini bekerja sama dengan tuan Adi sebagai pengacara kepercayaan dari tuan Adi untuk mengurus semua berkas dan asetnya.


...💔💔💔...


"Ok kita sudah sampai di rumah baru mu. Ayo masuk." Amrita membuka pintu pagar rumah itu.


"Wah rumahnya sangat bagus." Arumi berkata dengan sangat senang


"Keren, honey kamu memilih rumah yang bagus." Arman memuji mamanya dan mengecup pipi Fairi


"Kau suka Boo?" Fairi bertanya pada putra semata wayangnya


"Ya sangat suka, ayo Arumi kita masuk dan melihat dalamnya." Arman menarik Arumi memasuki rumah dan mereka bermain dengan sangat senang.


"Terima kasih ya, rumahnya nyaman." Fairi berkata pada Amrita dan Fahmi karena merasa sangat puas.


"Oh iya Fa, apa kamu tau kalau Kenan sudah berpisah dengan Melinda dan mereka terlibat masalah yang sangat serius, karena terakhir yang aku tau Kenan memenjarakan Danang kakak tiri Melinda dengan tuduhan membahayakan nyawa dan percobaan mencelakai dirinya." jelas Fahmi pada Fairi.


"Eh, kenapa bisa sampai seperti itu?" Fairi merasa kaget dengan kabar itu, karena yang Fairi ketahui kalau Kenan amat sangat menyukai Melinda, bahkan dia meminta untuk membujuk mamanya agar mau menerima Melinda sebagai istrinya dulu.


"Ya memang, kalau semua hal itu diawali dengan keburukan maka akan berakhir dengan keburukan juga kan Fa." Amrita menimpali omongan Fahmi, "kejadiannya terjadi saat Kenan mengalami kecelakaan dan menderita kelumpuhan sementara, setelah sembuh dia langsung menggugat cerai Melinda, sungguh sangat mengejutkan." sambung Amrita.


"Aku tak menyangka kalau ada kejadian seperti itu, tapi syukurlah kalau semuanya baik - baik saja sekarang, aku tak mau peduli dengan urusan mereka, dan tak mau juga berurusan dengan mereka" Fairi berkata dengan cuek


"Tapi Fa apa yang akan kamu lakukan kalau Kenan meminta kembali pada mu, karena dia sering datang pada ku dan menanyakan soal dirimu. Dia terlihat berbeda sejak berpisah dengan Melinda dan dia terlihat sangat kejam serta dingin." jelas Fahmi pada Fairi.


"Aku tak kepikiran untuk itu, dan aku gak mau kembali terluka seperti dulu lagi." jawab Fairi dengan cepat seolah dia tau pasti jawabannya.


"Siapa yang mau kembali pada honey ku? Apakah honey punya mantan di sini? Aku akan mencoba untuk menilainya, jika dia layak maka bisa ku pertimbangkan, jika tidak akan ku depak." Arman berkata dengan sangat serius saat dia mendengar pembicaraan antara mamanya dan kedua sahabatnya itu.


"Bocah tengil jangan bicara macam - macam kalau tak ingin ku kirim kau ke kutub." Fairi berkata dengan mencubit pipi putranya.


"Aku berkata serius hony, karena aku tak mau kau salah pilih." Arman menjawab dengan sangat serius dengan gaya orang dewasa.


Semua orang yang mendengarkan jawab Arma tertawa terbahak, dan Fahmi melihat kalau Arman sangat mirip dengan Kenan dari segi wajah dan aura caranya bicara, tatapan mata Arman saat berkata dengan serius sangat mirip dengan tatapan mata Kenan yang bicara dengannya saat dia mencari keberadaan Fairi. "Buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya, dan anak memang tak jauh beda dari orang tuanya, mereka memiliki perangai yang sama persis." gumam Fahmi dan dia tersenyum melihat Arman.

__ADS_1


__ADS_2