
Setelah Tyas pergi Agus dengan cepat melihat kondis kenan didalam kamar mandi, dan Agus benar - benar kaget melihat Kenan yang sudah berantakan tak karuan. "Ya ampun pak, kenapa bisa begini." dengan cepat Agus mengangkat Kenan dan membantu Kenan untuk berjalan menuju parkiran, untuk dibawah ke rumah sakit bertemu dengan David yang sudah dihubungi Kenan saat Agus bicara dengan Tyas diluar kamar mandi.
"Cepat sedikit Gus, aku sudah tak sanggup lagi." suara Kenan parau seolah sedang menahan dengan kuat rasa sakitnya dan kesadarannya. Karena Kenan terus saja membuat luka ditangannya dengan menusukkan jarum dari penjepit dasinya.
"Baik pak bertahanlah sebentar lagi." dengan cepat Agus melakukan mobilnya untuk membawah Kenan kesebuah rumah sakit untuk bertemu dengan David
...💔💔💔...
Setelah sampai rumah sakit Kenan langsung ditangani oleh David dan diberikan suntikan penenang untuk melawan obat yang telah dikonsumsi oleh Kenan, serta mengobati luka tusukan di kedua lengannya. Tak butuh waktu lama, setelah mendapatkan suntikan Kenan langsung tenang dan tertidur pulas.
"Apa yang terjadi Gus, kenapa bisa seperti ini?" David bertanya dengan penasaran.
"Maafkan saya dokter David, saya juga tak begitu tau apa yang terjadi. Karena selama di pesta saya terus bersama dengan pak Kenan dan saat pak Kenan pergi ke kamar mandi kira - kira 15 menit saya dihubungi dan diminta untuk menghubungi pak Farid agar menggantikannya dan meminta saya untuk mengantarkannya ke rumah sakit. Ya...awalnya saya bingung, namun saat saya buka dan melihat kondisinya didalam kamar mandi saya benar - benar kaget, pak Kenan sangat berantakan dengan luka - luka di lengannya yang ternyata dilukai sendiri untuk mempertahankan kesadarannya." jelas Agus pada David.
"Sungguh aneh, pasti ada seseorang yang mengincar atau menginginkannya. Tapi apa motifnya ya...masak iya ada yang iri dengannya dan ingin menghancurkan reputasinya." David bergumam dan berasumsi sendiri. Dan Agus menatap tak berdaya karena tau tau apa pun urusan bosnya.
...💔💔💔...
Keesokan harinya di sebuah rumah besar milik seseorang yang tak pernah mempublikasikan dirinya secara langsung dan hanya menyuruh anak buahnya saja yang turun tangan sedang merundingkan sesuatu yang terlihat sangat penting. Terlihat dari beberapa orang yang berpakaian serba hitam serta kaca mata hitam itu sedang duduk di meja bundar.
"Maafkan kami pak, kami terlambat dan tak dapat menemukan orang yang anda minta." seseorang melaporkan pada orang yang duduk diujung meja dan terlihat sangat tenang, yang ternyata adalah ayah angkat Sujono.
"Hem, begitu ya. Sepertinya mereka sudah merencanakan semuanya dengan matang. Sekarang harus bagaimana?" Sujono bertanya pada ayah angkatnya yang terlihat sangat berpengaruh yang tak lain dia adalah Hermansyah. Orang yang dulu telah menyelamatkan Sujono dari sebuah kecelakaan dan juga orang yang memiliki hubungan dengan nyonya Ayu dan juga tuan Bagus.
"Semua terserah padamu Jon, aku hanya memfasilitasi saja. Lakukan sesuai dengan aturan, jangan sampai menyalahi aturan yang ada, dan juga hati - hati. Oh iya, bagaimana dengan Ayu, apa dia sudah baik - baik saja." orang itu bertanya pada Sujono, orang memerintahkan agar pesta nyonya Ayu semuanya ditanggung olehnya.
"Ayu, yang ayah tanyakan adalah Ayu yang telah ayah tolong atau nyonya Ayu matan ayah. Kalau Ayu yang ayah tolong dia baik dan sudah mulai pulih. Soal Ayu mantan ayah aku akan pikirkan lagi nanti. Karena sudah saatnya untuk ku membalas semua perbuatan mereka." Sujono berkata dengan sangat santai dan percaya diri.
__ADS_1
"Bagus kalau dia sudah pulih. Bilang padanya untuk tak memaksakan diri, karena dia baru saja pulih" ucap Herman pada Sujono. "Dan soal Ayu yang itu aku serahkan semuanya padamu, jika dia berulah aku yang akan mematahkan pergerakan mereka."
"Baik ayah, aku akan sampaikan padanya pesan ayah, dan soal hasil Ten DNA akan keluar Minggu depan." Sujono pun pergi setelah bicara dengan Herman yang dia panggil ayah itu.
"Tuan apakah kita akan membiarkan mereka melakukan semuanya? Tidakkah tuan merasa khawatir." bawahan orang itu bertanya dengan cemas.
"Mereka adalah orang - orang yang memiliki pemikiran yang matang sebelum bertindak, dan aku percaya pada Jon kalau dia pasti bisa menjaga gadis itu dan menyelesaikan tugasnya, karena selama ini dia telah melakukan yang terbaik. Dan kelihatan juga kalau gadis itu adalah orang yang tak mau menyerah, aku tak ingin mengganggu mereka. Aku akan hadir saat mereka membutuhkan ku itu saja, atau pada saat yang diharuskan." jawab Herman dengan tenang.
"Apakah tuan tak ingin membalas orang - orang itu juga, mereka yang sudah membuat tuan mengalami banyak kerugian?" anak buah Herman bertanya lagi.
"Tentu saja akan datang waktunya, tapi aku yakin Ayu akan melakukannya dengan baik." orang itu menjawab dengan percaya diri.
...💔💔💔...
Keesokan harinya Kenan sadar dan tangan kirinya masih terpasang infus, serta sudah ada Kemal yang dengan tenang duduk disamping Kenan dengan menggenggam tangan Kenan erat.
"Selamat pagi sayang." sapa Kenan pada Kemal
"Maafkan papa sayang, papa akan berusaha untuk tak sakit dan meninggalkan mu. Bagaimana kamu senang?" Kenan berkata dan bangun dari tidurnya dan mengangkat tubuh Kemal kedalam pangkuannya.
"Papa tau, aku sangat takut tadi saat melihat papa lama tak membuka mata dan tangan papa terpasang selang, apakah ini sakit?" Kemal berkata dan memegang tangan Kenan yang terpasang infus.
"Tidak ini tak sakit sama sekali." Kenan memeluk dan mencium pipi Kemal.
"Apa kamu tak pergi ke sekolah hari ini, karena nungguin papa di sini?" Kenan melihat Kemal
"Iya, nenek Tia tadi sudah mengijinkan pada Bu guru." jawab Kemal dengan polos.
__ADS_1
"Baiklah, setelah ini kita pulang bersama ok." Kenan memeluk Kemal semakin erat.
"Hai Ken, sudah bangun. Bagaimana perasaanmu, apa sudah enakan?" David bertanya sambil berjalan masuk ke kamar rawat Kenan.
"Iya sudah enakan, makasih." Kenan menjawab dengan tersenyum pada David.
"Baiklah ku lepas dulu infusnya dan kamu sudah boleh pulang. Dan lain kali jangan datang ke rumah sakit kalau ada kejadian seperti ini, sebaiknya kamu cari lawan untuk menuntaskannya." David berkata sambil meledek Kenan
"Apa kau ingin aku hajar sampai k.o di sini, kalau bicara tolong diatur ya." Kenan menjawab dengan kesal, dan David hanya tertawa terbahak.
"Ken apa kau sudah melihat berita? Ada kabar yang gawat dan mengejutkan." Farid yang baru datang langsung heboh.
"Ada apa emangnya, kau datang mengganggu pasienku." David berkata dan mendorong Farid menjauh dari Kenan
"Hei...bicaralah dan berprilaku yang sopan pada kakak iparmu." Farid berkata dengan tak puas
"Idih, ini kawasan rumah sakit dan tak ada perbedaan status di sini, semua sama dan setara. Jadi tak ada yang namanya kakak atau adik ipar." David meledek Farid.
"Sial, kenapa aku bisa mendapatkan adik ipar kurang ajar sepertimu." Farid menjawab dan menyentil kening David.
"Sial, sakit tau." David memegangi keningnya yang sakit.
"Makanya minggir." Farid mendorong David menjauh dari Kenan.
"Kalian kalau ketemu tak bertengkar apa tak bisa." Kenan mengeluh.
"Tak bisa.!" jawab Farid dan dan David bersamaan dan saling menatap dengan tajam.
__ADS_1
"Ha...lupakan." Kenan menghela nafas
"Om seperti Tom dan Gerry yang selalu bertengkar kalau ketemu." Kemal berkata dan tersenyum senang.