
"Ah...akhirnya sampai juga" kemal meregangkan tubuhnya setelah menempuh waktu 3 jam lebih dalam pesawat.
"Om datang untuk menjemput ku" Kemal mendekat dan menegur seseorang yang berdiri di pembatas penjemputan dengan membawah papan nama Kemal dan Arlan
"Oh iya, saya Agus. Anda mas Kemal." jawab Agus dengan sopan
"Iya, aku Kemal" Kemal menjawab dan tersenyum ramah pada Agus lalu melepas kaca matanya.
"Iya selamat datang kembali di Indonesia mas Kemal" ucap Agus pada Kemal yang datang untuk menjemputnya.
"Iya terima kasih." jawab Kemal
"Kak berikan kuncinya aku akan pergi sendiri." Arlan datang belakang Kemal dan meminta pada Kemal kunci mobil.
"Dia mas Arlan ya, tapi aku tak bisa melihat wajahnya karena dia memakai masker dan kaca mata hitam."
"Kata pak Kenan kalau mas Arlan sedikit nakal mungkin benar ini dia"
Agus bergumam dalam hati sambil menatap penasaran pada Arlan yang berdiri disamping Kemal dengan atribut lengkap, masker, kaca mata hitam dan topi serta jaket hitam, semua yang dipakai Arlan hari itu serba hitam.
"Om bawah mobil berapa kemari" tanya Kemal pada Agus
"Dua mas, untuk mas Kemal dan mas Arlan." jawab Agus dengan sopan
"Baiklah berikan satu mobil untuk Bee, kita bisa pergi bersama." ucap Kemal pada Agus
"Baik mas." Agus langsung memberikan kunci mobil untuk Arlan
"Makasih kak" Arlan berkata dan memeluk serta mencium Kemal
"Oh." Agus terkejut melihat hal itu
"Kenapa, om juga mau ku peluk dan ku cium, hem" Arlan bertanya dan mendekatkan wajahnya pada Agus
"Ah, tidak - tidak mas." Agus langsung menjawab dan melangkah mundur.
"Baiklah aku pergi dulu kak." Arlan pergi
"Kau akan pulang duluan?" Kemal bertanya pada adiknya
"Tidak, aku akan keliling dulu. Ini adalah hukuman untuk mereka karena tak pernah melihatku selama 10 tahun" jawab Arlan sambil melambaikan tangannya
"Jangan buat masalah, karena kalau tidak akan ku patahkan kakimu" Kemal teriak lagi memperingatkan Arlan yang sedikit miliki gaya urakan.
"Yes sir." jawab Arlan sambil teriak juga.
"Oh, lumayan juga mobilnya" ucap Arlan setelah menemukan mobilnya di parkiran dia tersenyum dan melihat sekeliling mobil BMW 430i Convertible M Sport
"Apakah mama dan papa begitu memanjakan pegawai mereka sampai - sampai memberikan mereka mobil yang diproduksi langsung dari Jepang ini." Arlan terlihat kagum pada kedua orang tuanya lalu dia menaiki mobilnya dan langsung melajukan mobilnya meninggalkan bandara.
Sedangkan Kemal bersama dengan Agus dan yang lainnya pergi ke perusahaan Kenan karena Kemal ingin bertemu dengan papanya sebelum pergi untuk menemui sang mama, sebab dia ada pekerjaan yang harus diselesaikan bersama dengan sang papa.
"Oh ibu kota apa selalu padat seperti ini" gerutu Arlan yang mendapati kemacetan di jalan karena bertepatan dengan para anak sekolahan yang baru pulang.
"Bis kita sudah datang, ayo naik." seorang gadis menarik tangan temannya
"Ya ampun penuh, kita harus berdiri." ucap pemuda yang tadi ditarik naik bis
"Tak apa kak, yang penting kita bisa pulang cepat" ucap gadis disamping pemuda itu
"Lama sekali lampu merahnya" gerutu Arlan lagi
"Oh, siapa dia cantik sekali." Arlan tertarik pada seorang gadis yang naik bis dan sedang bercanda dengan seorang pemuda yang bersama dengannya.
Tin...tin...
Arlan membunyikan klakson untuk menarik perhatian penumpang bis yang ada disamping mobilnya.
"Ya ampun kenapa dengan orang itu, gak sabaran banget masih lampu merah juga" gerutu gadis itu melihat kearah Arlan.
Arlan mengikuti bis kemana pergi dan dalam perjalanan Arlan membuka atap mobilnya dan juga membuka topi serta masker dan kaca matanya.
"Ya ampun pemuda itu cakep sekali"
"Ya ampun kau benar, dia sungguh pria idaman."
Semua penumpang bis yang kebanyakan adalah para siswa sekolahan mereka semua ribut melihat Arlan yang terlihat nyata sedang menggoda penumpang bis itu, padahal yang digoda oleh Arlan adalah gadis yang berdiri bersama dengan seorang pemuda.
Arlan melakukan cium jau dengan dua jari dan melakukan hormat serta mengedipkan sebelah matanya. Apa lagi saat mereka berhenti di lampu merah lagi, Arlan membuat lambang love dengan kedua tangannya dan tersenyum dengan sangat manis.
"Oh ya ampun..!" teriak semua anak gadis dalam bis itu histeris, sampai dari sisi sebelah penasaran apa yang terjadi disisi satu bis karena membuat mereka berteriak histeris
"Dih, murahan sekali dia. Cakep tapi percuma kalau mengobral semuanya." gumam gadis yang berdiri dalam bis
"Ya...dia gak ngikuti kita lagi, siapa ya dia aku ingin sekali mengenalnya." ucap seorang gadis yang sangat heboh, begitu juga dengan teman - temannya yang lain.
...💔💔💔...
"Ya Allah cucu nenek, kenapa kau membuat nenek menunggu sangat lama. Bukankah kau sudah datang dari tadi pagi." Nyonya Tias meraih Kemal dan memeluknya dengan erat.
"Maaf nek, aku harus menyelesaikan pekerjaan dengan papa dulu." Kemal menjawab dan memeluk kembali neneknya.
"Papa mu benar - benar kelewatan ya, masak anak baru kembali setelah 10 tahun sudah di suruh bekerja saja." Nyonya Tias menatap Kenan kesal
"Sayang, mama memarahiku." Kenan mengadu pada Fairi
__ADS_1
"Diam." Fairi berkata dengan dingin dan memukul Kenan
"Oh sayang, kau melupakanku setelah anak mu datang." Kenan merajuk
"Kau tak rindu sama mama sayang." Fairi mendekati Kemal dan memeluknya, Fairi mengabaikan Kenan.
"Aku sangat merindukanmu ma. Sangat, sangat, sangat." Kemal memeluk Fairi dengan erat dan menghujani Fairi dengan ciuman.
"Hei hentikan, apa - apa an kau." Kenan memisahkan Fairi dan Kemal
"Apa lagi hah?!" Arlan yang baru datang menarik Fairi dan memeluknya lalu menatap Kenan dengan tajam
"Bee." Fairi memeluk Arlan dan Arlan membalasnya
"Kau sudah sangat tinggi dan juga tampan." Fairi menghujani Arlan dengan ciuman sambil menarik leher Arlan yang lebih tinggi dari Fairi dan kembali memeluknya lagi
"Honey" Arlan mengurai pelukannya dengan Fairi dan menatapnya dengan dalam
Arlan mencium kening Fairi dengan sangat lama "i love you"
"I love you too Bee." Fairi kembali memeluk Arlan dan mulai menangis.
Kemal yang melihat itu mendekati Fairi dan Arlan lalu ikut memeluk mereka begitu juga dengan Kenan, dan mereka pun saling berpelukan seperti Teletubbies.
"Aku bangga pada kalian berdua." ucap Kenan menatap penuh dengan kebanggaan pada kedua putranya
"Aku juga bangga pada papa, apa papa tak merindukan ku. Papa sungguh sangat tega tak melihatku selama 10 tahun" Arlan berkata dan memajukan bibirnya.
"Maafkan papa sayang, karena semua untuk kebaikan mu. Dan sekarang papa sungguh sangat bangga melihatmu yang begitu cemerlang, kau benar - benar kebanggaan papa. Kemarilah" Kenan berkata dengan sangat tulus dan membuka kedua tangannya.
"Aku sayang papa." Arlan mendekat memeluk Kenan lalu mencium bibir Kenan saat Arlan mengurai pelukannya dengan Kenan
"Oh, apa kau, belok." Kenan kaget dan bertanya secara langsung.
"Hah?" Arlan kaget dengan pertanyaan Kenan, sedangkan Kemal tersenyum melihat wajah papanya yang kaget.
"Kak" Arlan menatap Kemal dan kemal hanya menggerakkan bahunya keatas
"Ha...apa papa sudah gila, mengatai aku belok. Tentu saja aku lurus, apa perlu aku buktikan sekarang." kesal Arlan mendapatkan pertanyaan dari papanya.
"Kalau pun aku belok, aku tak akan mau sama papa. Sudah tua dan keriput." olok Arlan pada Kenan.
"Tak masalah, masih ada mamamu yang mau menerimaku." jawab Kenan.
"Sudah - sudah kenapa malah bertengkar, papa mu memang kolot dan tak bisa mengikuti pergaulan anak muda. Sini berikan pelukan dan ciuman pada kakekmu sayang ku." Tuan Bram berkata dan membuka kedua tangannya
"Oho grandpa" Arlan mendekat dan memeluk tuan Bram lalu mereka melakukan kecupan bibir.
"Oh apa itu cara anak muda." Kenan bertanya dengan bingung dan semua orang tertawa.
"Cucu nenek." nyonya Tias memeluk Arlan dan memberikan ciuman
"Waalaikumsalam, kau sudah datang." Nyonya Tias terlihat sangat senang.
"Tan, maaf harus menunggu bunga makanya telat" Melisa berkata dan memeluk nyonya Tias lalu Fairi, begitu juga dengan Ambar.
"Tak apa ayo - ayo masuk." Nyonya Tias membawah keluarga Melisa dan Farid masuk ke ruang makan
"Hem, Kemal kau tumbuh dengan sangat tampan." Melisa memeluk Kemal dan Ambar juga ikut memeluknya.
"Terima kasih Tante Meli, Tante Ambar." Kemal menjawab dengan ramah.
"Kak" Bunga menyapa Kemal
"Kak" Bintang juga ikut menyapa
"Iya, ini pasti Bunga dan Bintang ya" Kemal menebak karena sering dengar ceritanya dari sang mama jika mereka saling bicara lewat telepon.
"Iya kak" jawab Bintang dan Bunga bersamaan
"Oh, jadi namanya adalah Bunga ya" Arlan tersenyum dan mendekat. "Hai"
"Oh pria murahan tadi pagi." Bunga langsung nyeletuk saat melihat Arlan.
"Hah?" Kemal kaget dan menatap adiknya
"Apa? Aku tak melakukan apa - apa kak, serius." Arlan tersenyum menatap kakaknya
"Kak, jadi?" Bunga menatap bergantian antara Kemal dan Arlan.
"Yo, two Ar." jawab Arlan mengedipkan sebelah mata pada Bunga
"Sepertinya anak - anak saling kenal" ucap Melisa merasa senang
"Iya, biarkan mereka." Fairi tersenyum dan pergi meninggalkan anak - anak pada urusannya sendiri.
"Bagaimana kalau kita berbesan Vid." celetuk Kenan
"Wah luar biasa, sungguh menyenangkan. Itu adalah tawaran yang bagus." David menjawab dengan senang
"Maksud papa apa, ingin menjodohkan kakak dengan Bunga atau Bintang." Arlan berkata dan menatap Kenan
"Apa kau gila, tentu saja Bunga. Apakah kau tak mau? Kalau kau tak mau biar kakakmu yang menggantikan mu" ucap Kenan ringan
"Tentu saja aku mau." jawab Arlan spontan dan semua orang tertawa.
__ADS_1
Bunga terlihat malu - malu namun Arlan terlihat semakin ingin usil pada Bunga.
...💔💔💔...
"Hei, ada seorang pemuda tampan di depan gerbang sekolah kita dengan mobil mewah."
"Benarkah? Kira - kira dia sedang menunggu siapa ya?"
"Ayo lihat kedepan."
Beberapa siswa terlihat heboh dan mereka berkumpul di depan untuk melihat Arlan yang sudah berdiri disamping mobilnya.
"Ya ampun dia tampan sekali" ucap seorang siswa
"Kakak sedang mencari siapa? Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya seorang siswi yang mendekat pada Arlan.
"Aku sedang menunggu belahan jiwaku." jawab Arlan dingin.
"Eh, dia. Kenapa dia ada di sini? Duh kak Bintang lagi ada kegiatan lagi." gerutu Bunga lalu dia berbelok dan ingin keluar dari samping sekolahnya.
"Hai, baby" Arlan lari untuk menangkap Bunga
"Ah, lepaskan aku." Bunga berontak
"Mau pergi dan ikut aku atau mau berontak dan menerima ciuman dari ku." bisik Arlan
"Pergi." jawab Bunga seketika dan dia berjalan dengan cepat menuju mobil Arlan.
Arlan tersenyum melihat tingkah Bunga "dia lucu."
"Ya ampun ternyata dia menunggu Bunga toh"
"Tapi Bunga kenal dimana ya, bukannya dia selalu bersama dengan Bintang."
Teman - teman Bunga bertanya - tanya soal hubungan Arlan dan Bunga yang selama ini tak pernah cerita apa pun.
"Aku mau pulang." ucap Bunga saat Arlan melajukan mobilnya
"Boleh, tapi cium aku dulu." jawab Arlan santai
"Kau gila ya." Bunga marah pada Arlan
"Aku lebih tua dari mu sayang, dan lagi kau adalah calon istriku"jawab Arlan melirik pada Bunga yang duduk disebelahnya
"Aku belum mengatakan iya." jawab Bunga
"Oh." Arlan menepikan mobilnya
Perlahan Arlan mendekat pada Bunga dan hal itu membuat Bunga takut dan dia menahan nafasnya serta menutup matanya. Arlan tersenyum melihat reaksi Bunga yang takut padanya namun tak menghindarinya, Arlan yang memiliki kepekaan pada orang sekitarnya mengetahui kalau sebenarnya Bunga juga menyukainya dan itu membuat Arlan jadi semakin suka menggoda Bunga.
"Aduh." Bunga menahan sakit karena keningnya disentil Arlan
"Kenapa kau menutup matamu, apa kau berharap aku akan mencium mu" ucap Arlan tersenyum
"Siapa yang be...em" suara Bunga tertahan karena Arlan telah melahap bibir Bunga
"Aku tak suka jika kau berbohong, dan aku akan tau jika kau berbohong. Katakan saja jika kau ingin aku kan memberikannya." ucap Arlan setelah mengurai ciumannya
"Mana mungkin, harusnya kau yang tau." jawab Bunga menunduk karena malu
"Baiklah, nanti aku akan melakukannya saat aku ingin." ucap Arlan kembali duduk di kursinya.
"Tapi jangan didepan yang lain." jawab Bunga
"Hah?" Arlan tertawa dan mengusap kepala Bunga dengan lembut.
"Kenapa kau lucu sekali, kalau seperti ini aku tak akan bisa melepas mu loh" Arlan berkata dan menatap Bunga
"Kalau begitu jangan dilepas" jawab Bunga lagi seperti sedang menantang Arlan.
"Ah sial, boleh aku melakukannya lagi?" tanya Arlan dan Bunga mengangguk
Arlan pun kembali mendekat dan menatap Bunga dengan dalam, Arlan tersenyum lalu menarik dagu Bunga untuk menatapnya. mereka pun menyatukan lagi bibir mereka dan Bunga menikmatinya namun dia menahan nafasnya hingga dia hampir kehabisan nafas.
"Hei, jangan menahan nafas" Arlan tersenyum melihat Bunga
"Mana aku tau, aku kan gak pernah melakukannya." Bunga malu dan menghindari tatapan Arlan
Arlan tersenyum "tak apa nanti aku akan mengajarimu agar kau lebih santai lagi."
"Apakah kakak sudah sering melakukannya? Karena kakak tinggal di luar negeri pasti kakak sudah sering melakukannya makanya kakak sangat pandai" ucap Bunga dan terdengar ada nada kesal
"Tak pernah ini adalah pertama kalinya, dan jangan berfikir yang tidak - tidak karen aku termasuk orang yang pilih - pilih jadi tak akan sembarangan." jawab Arlan.
Bunga tersenyum sambil melihat kearah lain dan dia meremas tangannya. Arlan yang tau kembali tersenyum lalu menggenggam tangan Bunga dan melajukan lagi mobilnya untuk mengantar Bunga pulang.
Bunga merasa sangat bahagia dan juga senang karena ini merupakan pengalaman pertama bagi Bunga untuk mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang lain selain dari keluarganya.
"Kau bahagia" tanya Arlan
"Hem" jawab Bunga mengangguk
"Apa kau mencintaiku." tanya Arlan lagi
"Iya, ah maksudku." Bunga merasa panik saat dia menjawab iya pada Arlan
__ADS_1
"Hahaha, tak perlu panik begitu. Karena aku juga mencintaimu Bunga" Arlan menarik tangan Bunga dan menciumnya sehingga membuat Bunga salah tingkah.
Hubungan Bunga dan Arlan pun berjalan dengan baik dan berkembang sangat cepat sehingga mereka memutuskan untuk pacaran, dan setiap ada latihan musik Bunga selalu ikut menemani Arlan, bahkan setiap ada kegiatan apa pun Bunga selalu ada bersama dengan Arlan. Bunga bagaikan pengganti Kemal, karena saat bunga tau kelemahan Arlan Bunga justru semakin perhatian sama Arlan dan hal itu membuat Arlan merasa sangat nyaman dengan Bunga dan mulai mengenali aroma tubuh Bunga.