Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
episode 246


__ADS_3

Fhytri tampak sibuk dengan pekerjaannya. Ia mendapat pesan WA dari nomor Tony yang meminta dirinya untuk mengeluarkan segera berkas-berkas resign miliknya dan juga milik Grace.


Seingatnya Ia sudah mengirimkannya ke apartemen milik Grace, namun ternyata wanita itu tak lagi tinggal dialamatnya yang lama, dan kini telah tinggal dialamat baru yang mana satu tempat tinggal dengan Tony.


Fhytri mengerutkan keningnya, Ia merasa peansaran, sebab keduanya telah tinggal bersama dalam satu atap tanpa ikatan pernikahan, namun Fhytri sedikit lega, sebab Grace tampaknya tidak akan menjadi pelakor lagi dalam kehidupan, Denny suaminya.


Fhytri memprint semua berkas surat resign milik Tony dan juga Grace. Dalam rincian yang ada, Tony mendapatkan pesangon lebih besar dari Grace, sebab Tony sudah bekerja sangat lama diperusahaan milik PT. Rudy Group.


Dan pastinya pencairan BPJS milik Tony sangat lumayan besar, dan dapat menopang kehidupannya dimasa depan, asalkan tidak salah dalam menggunakannya.


Fhytri bergegas menuju ruang kerja Denny dengan membawa berkas-berkas resign milik Tony dan juga Grace. Ia ingin Denny menandatanganinya dengan segera.


Fhytri mengetuk pintu ruang kerja Denny, dan terdengar suara kata 'Masuk', lalu Fhytri membuka pintu dan memasuki ruangan sembari membawa 2 map folder berwarna merah yang terbuat dari bahan plastik tebal.


Denny menoleh kearah Fhytri yang tampak berjalan dengan tergesa-gesa menuju meja kerjanya.


Sesampainya di depan meja kerja Denny, Ia meletakkan dua map folder tersebut diatas meja, lalu meraih satu buahnya dan membuka lembaran demi lembaran dan menyerahkan kepada Denny.


"Pak, Tanda tangani disini, dan disini" ucap Fhytri sembari menunjukkan tempat mana yang harus ditanda tangani Denny dalam berkas tersebut.


"Berkas apa ini?" tanya Denny sembari meraih map folder tersebut, dan membaca kop surat perusahaan dengan perihal surat keterangan resign atas nama 'Grace'.


Lalu Ia menatap wajah Fhytri "Bukannya kemarin sudah dibuat?" tanya Denny yang kemudian menarik satu map folder yang masih berada diatas meja, kemudian membaca atas nama 'Tony'.


"Ternyata Grace sudah pindah satu atap dengan Tony, dan berkas yang dikirim waktu ke alamat lamanya tidak tersampaikan" jawab Fhytri dengan tenang.


Tony memegang dagunya dan membaca tiap kata paragraf yang tertulis didalanya.


"Heeemm.. Semoga saja mereka berjodoh dan tidak lagi melakukan kesalahan dan uang pesangon ini dapat merubah hidup mereka kearah yang lebih baik" ucap Denny sembari menandatangani surat tersebut dan menyerahkannya kepada Fhytri.


"Semoga saja, Pak.. Dan tidak terulang lagi kesalahan yang pernah mereka perbuuat" Fhytri menimpali.


Lalu Fhytri permisi dan beranjak pergi meninggalkan ruangan Denny. Namun saat langkahnya mencapai ambang pintu, terdengar Denny memanggilnya "Fhyt.." ucap Denny dengan singkat.


"Ya, Pak" jawab Fhytri cepat sembari memutar tubuhnya menghadap Denny.

__ADS_1


"Tolong belikan es campur diseberang kantor, dua cup, jangan sampai telat, saya pulang sebentar mengantarkan pesanan istri saya" ucap Denny dengan santai.


"ya, Pak" jawab Fhytri, sembari berlalu dengan cepat, agar tak lagi diberi kerjaan tambahan lainnya.


"Wah.. Sudah jadi suami sayang istri rupanya Pak Denny, sampai es campur saja dianterin kerumah" guman Fhytri lirih sembari tertawa geli.


Dilan tempat, tampak Tony membuat sarapan untuk dua porsi. Hal yang tak pernah dilakukannya, dan ini untuk pertama kalinya.


Ia membuat nasi goreng dengan telor ceplok dan menyerahkan seporsi kepada Grace yang masih terbaring diranjang.


"Makanlah, setelah itu minum obat" ucap Tony, sembari menyerahkan seporsi nasi goreng kepada Grace dan segelas air putih.


Wanita itu menerimanya, lalu menyantabnya dengan sangat lahab.


"Apakah masih sakit?" tanya Tony dengan hati-hati.


Grace menatap mata pria itu sembari mengunyah sarapannya. Ia melihat ada raut kekhawatiran diwajah pria tersebut untuknya, dan itu sangat manis baginya.


"Masih" jawab Grace lalu merundukkan kepalanya.


Grace kembali menatap pria, Ia tidak menduga jika ternyata dibalik sisi gelap pria itu tersembunyi sisi baiknya yang tak terlihat selama ini.


Grace menganggukkan kepalanya, dan mencoba menuruti semua ucapan Tony yang tampaknya mulai berubah.


Wanita itu segera menghabiskan makanannya, dan meneguk air putih untuk melancarkan pencernaannya, lalu Ia meminum obat antibiotik dan juga paracetamol sebagai pereda nyerinya.


"Sini, Aku bantu oleskan salep untuk luka memar kamu" ucap Tony menawarkan diri.


Lalu Grace dan mengangguk, dan membiarkan Tony mengobati luka memar yang ada hampir disekujur tubuhnya.


Setelah selesai mongoleskan salep ditubuh Grace, Tony meraih piring sisa sarapan Grace, lalu membawanya ke washtafel dan mencucinya, setelah itu menyantab sarapannya.


Hari menjelang siang, Denny kembali kerumah dan hanya sekedar mengantarkan es campur itu kepada Amyra. Ia tidak ingin membuat kesalahan sekecil apapun lagi untuk wanita yang telah banyak berkorban untuknya.


"Sayang, Ini es campur pesanan kamu" ucapnya sembari menyodorkan dua cup es campur yang menjadi kesukaan Amyra.

__ADS_1


Amyra tersenyum menerimanya, Ia merasakan Denny benar-benar telah berubah dan menjadi suami yang baik untuk dirinya dan juga Papa panitan bagi anak-anaknya.


"Mas balik kekantor, Ya.. Ada meeting yang akan dilakukan setelah makan siang" ucap Denny menjelaskan.


Amyra terperangah mendengarnya "Ya ampun, Mas.. Kalau gitu ngapain capek-capek pulang hanya untuk anterin es ini doank, Kan bisa suruh sopir yang anterin" ucap Amyra merasa tak tega melihat Denny yang bolak-balik kantor ke rumah karena hanya untuk mengantarkan es campur saja.


"Tak, Apa Sayang. Kamu dulu lebih capek saat Mas lumpuh dan tak sanggup bekerja, kamu melakukannya semuanya sendiri, dari merawat Mas dan mencari nafkah" ucap Denny mengingat masa itu.


Amyra menatap suaminya "Tapi Myra ikhlas melakukannya" jawab Amyra sembari menatap mata suaminya, dan menyeruput es campur tersebut.


Denny memgang dagu sang istri "Dan Mas juga ikhlas melakukan ini untukmu" ucap Denny, lalu mengecup bibir lembut wanitanya yang terasa dingin karena baru selesai menyeruput es tersebut.


"Ya sudah.. Mas berangkat ke kantor, Ya" ucap.Denny sembari mengacak jilbab Amyra lalu beranjak pergi.


Tony melirik arlojinya "Yuk.. Kita cek ke dokter kandungan" Ucap Tony kepada Grace, saat melihat waktu menunjukkan pukul 3 sore.


Wanita itu menganggukkan kepalanya, dan beranjak dari ranjangnya. Tony membantunya berjalan dengan memapah tubuh Grace yang tampak berjalan dengan tertatih menuju parkiran mobil.


Tony melajukan mobilnya membelah jalanan kota menuju dokter kandungan untuk memeriksakan kondisi Grace.


Sesampainya diklinik tersebut, Tony mendaftarkan diri Grcae, dan wanita itu duduk dikursi antrian yang masih sepi.


Tampak seorang wanita berhijab dengan kacamata hitam dan juga masker, baru saja keluar dari ruangan pemeriksaan. Wanita itu duduk diseberang kursi antrian yang saling berhadapan dengan Grace.


Wanita yang tak lain adalah Amyra, menatap wanita didepannya "Sepertinya aku pernah melihat wanita itu, tapi dimana?" Amyra mencoba mengingat wajah wanita yang ada diseberang kursi antrian.


"Apakah itu wanita yang berada didalam vedeo mas Denny waktu itu?" Amyra mengerutkan keninganya, mencoba menerka dan mengasah daya ingatannya.


Lalu tampak seorang pria yang baru saja dari meja pendaftaran datang menghampiri wanita tersebut "Ayo.. Sekarang giliran kamu melakukan pemeriksaan" ucap Tony, sembari memapah tubuh Grace untuk menuju ruang pemeriksaan.


Amyra semakin mengerutkan keningnya saat melihat wajah pria yang menghmpiri wanita tersebut.


Seketika ingatannya melayang menuju sebuah memory dimana pria itu adalah pemeran dalam vedeo yang dikirim oleh Fhytri waktu itu.


"Oh.. Ternyata mereka berdua.. Berarti kini mereka memutuskan hidup bersama setelah dipecat oleh Mas Denny? Mudah-mudahan saja mereka menikah" Guman Amyra dalam hatinya, lalu beranjak pergi meninggalkan ruang klinik menuju mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2