Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
Episode 215


__ADS_3

Zain menghidupkan mesin mobilnya, Ia menuju sebuah pasar yang menjual berbagai pakaian. Ia membawa Khumairah kesana dengan tertatih.


"Kita beli pakaian disini, Ya.." ucap Zain menuturkan, sebab Ia tahu jika hargapakaian dipasar jauh lebih murah dibanding didalam butik apalagi di dalam Mall.


Khumairah tampak bingung dengan banyaknya toko yang menjual berbagai pakaian.


"Pilihlah" ucap Zain dengan lembut.


Lalu Khumairah memilih gaun yang hampir mirip dengan yang ada dibutik tadi. "Yang ini saja, Mas" ucapnya lirih, setelah Ia mencobanya dan sesuai dengan ukurannya.


Zain menganggukkan kepalanya, lalu membayarnya. Namun Ia meihat jika rona wajah Khumairah masih tampak gelisah, Zain merasa jika Khumairah masih terbayang akan gaun yang dilihatnya tadi.


"Kita pergi ketempat lain, Ya? Mas ada janji dengan seseorang" ucap Zain kepada Khumairah.


"Mas punya kenalan di kota?" tanya Khumairah bingung.


"Mas ada pesan sesuatu" ucap Zain menuturkan.


Khumairah hanya memgamggukkan kepalanya, dan mengukuti semua yang dikatakan oleh Zain.


Mobil Zain meluncur menuju sebuah tempat yang menjadi tempat janji bertemu


Ia melirik arlojinya, Zain Mendatangi seseorang yang sudah melakukan perjanjian sebelum dengannya, Ia memesan kaki palsu pada seseorang.


Ia menemui pria itu, lalu Zain melakukan pembayaran dan mencoba mengenakan kaki palsu itu.


Pemakaian pertama membuatnya sangat begitu sulit karena tersambung dipinggangnya sebagai penopang karena kakinya yang diamputasi sampai mendekati pangkal kakinya.


Khuamirah menatap apa yang dikenakan oleh suaminya, Ia mulai mengerti jika suaminya menolak membelikan gaun tadi mungkin dikarenakan mahal dan karena Zain sudah terlebih dahulu memesan kaki palsu.


Khumairah menata hatinya, Ia harus memahami jika kaki palsu itu lebih penting, karena untuk mempermudah suaminya berjalan.


Khumairah tercengang saat melihat suaminya dapat berjalan tegak meski dengan kaki palsu.


"Maaf, Ya sayang.. Mas sudah sempat berjanji untuk membayar pesanan ini, lain kali Mas janji akan membelikan gaun itu untukmu" ucap Zain merasa bersalah karena tidak dapat mewujudkan keinginan Khumairah.

__ADS_1


Khumairah hanya tersenyum "Mai, tidak apa-apa Mas.. Melihat Mas dapat berjalan tegak seperti ini sudah membuat Mai senang" ucap Khumairah dengan senyum termanisnya.


"Terimakasih ya, Sayang.. Kamu sangat pengertian" ucap Zain lirih, lalu mereka keluar dari ruangan tempat Zain membeli kaki palsu tersebut.


"Kita ke dokter kandungan ya" ucap Zain kepada Khumairah, sebab Ia mengetahui jika dokter kandungan buka praktek pukul 5 sore,dan mereka harus menunggu dan juga mengantri.


Untuk memberikan sesuatu yang baik bagi Khumairah, Ia memilih USG 4 dimensi, meski baginya saat ini sedikit mahal, namun Ia harus mengetahui kondisi janinnya dalam keadaan baik-baik saja.


Menunggu dokter itu dayang, Zain Mendaftarkan diri Khumairah, dan duduk sembari menunggu antrian.


Ternyata mereka sudah terlambat mendaftar dan sudah memasuki nomor kesepuluh.


Tampilan Zain dan Khumairah tentulah sangat berbeda dengan para pasien yang sedang mengantri. Dimana zain dan juga Khumairah terkesan paling sederhana dan tampak dari desa. Namun karena kulit Khumairah yang putih dan bersih, membuatnya terlihat menawan.


Khumairah tampaknya sangat lelah, dan wajahnya memucat. Ia mungkin kelelahan selama perjalanan dari desa ke kota.


Ia menyandarkan kepalanya di pundak Zain, sesaat Ia ingin muntah, dan Zain berusaha membawanya kekamar mandi yang ada diklinik tersebut.


Khumairah memuntahkan semua yang dimakannya siang tadi, Zain berusaha tenang dan memberikan minyak kayu putih di bagian punggung dan juga dekat hidung Khumairah.


Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya kini giliran mereka, namun bagian administrasi tidak menyebutkana nama Khumairah, namun nama lain. Yang mana orang tersebut baru saja tiba.


Tiba-tiba Zain merasa tersinggung, Ia menghampiri penjaga loker "Mbak.. Saya sudah mengantri lama, dan ini giliran saya, mengapa nomor antrian istri saya dilewati? Dan kondisi istri saya saat ini sedang tidak baik-baik saja" protes Zain dengan kesal.


"Maaf, Pak.. Tapi pasien yang ini adalah pasien VVIP dan sudah mendaftar secara online, maka kami meperioritaskannya" ucap Administrasi itu menjelaskan.


"Tak mengapa, biarkan mereka lebih dahulu, kami nanti setelahnya" ucap seorang wanita dari arah belakang.


Seketika Zain menolehkan wajahnya menghadap si pemilik suara tersebut, sebab Ia merasa tidak asing dengan suara itu.


Seketika Ia tercengang melihat wanita berhijab dihadapannya, menatapnya dengan tersenyum tulus.


"Amyra" gumannya lirih dalam hatinya. Ia tergugup, namun sepertinya Amyra tak mengenalinya karena penampilannya yang berubah drastis.


Apalagi Zain juga menggunakan kacamata yang semakin menyamarkan penyamarannya.

__ADS_1


Degub jantung Zain bergemuruh memandang wanita didepannya, tampak Denny memegangi pundak Amyra dengan begitu sangat mesranya.


Belum hilang keterkejutan Zain, terdengar suara keluhan dan rintihan tak nyaman dari Khumairah. Seketika Amyra mengerjapkan kedua matanya, memberi Ijin kepada Zain untuk mendahului nomor antriannya.


"Terimakasih" ucap Zain dengan suara dibuat parau agar tak dikenali oleh keduanya.


Lalu Zain membawa Khumairah memasuki ruangan praktik dan mengecek kandungan Khumairah.


Degub jantung Zain bercampur aduk anatara menunggu penjelasan dari dokter tentang kondisi Khumairah dan juga degub jantung akan pertemuannya dengan Amyra yang tanpa diduga sebelumnya.


Dokter mulai mengarahkan trunduser diperut Amyra dengan bantuan gel sebagai pelicinya.


"Kondisi janin baik-baik saja dan semua organ tubuhnya lengkap. Hanya saja bentuk rahim ibu Khumairah sedikit berbeda, dan Ibu Khumairah sebaiknya melahirkan operasi. Jika sudah mendekati bulan kelahiran, harap segera dibawa ke kota yang dekat dengan rumah sakit, demi untuk keselamatan Ibu dan calon bayi" ucap Dokter itu menjelaskan.


"Apakah tidak ada jalan untuk melahirkan normal, Dok?" tanya Zain dengan khawatir.


Dokter itu menggelengkan kepalanya, dan menatap pada Zain "Operasi cesar adalah jalan satu-satunya" Dokter itu menjelaskan.


Zain mendenguskan nafasnya dengan berat. Ia harus bersiap untuk kemungkinan yang ada.


"Baik, Dok..terimakasih atas penjelasannya" ucap Zain dengan nada lirih, lalu membawa Khumairah dengan memapahnya.


Saat keluar dari pintu praktik, Zain kembali berpapasan dengan Amyra dan Denny yang kini sudah giliran mereka untuk masuk, yang mana seharusnya itu adalah giliran Zain dan Khumairah.


Zain merundukkan kepalanya, dan tak berani menatap keduanya. Ia juga takut jika Denny sampai mengenalinya, lalu melaporkannya kepada polisi dan Ia mendekam dipenjara, Ia tidak dapat membayangkan bagaimana kondisi Khumairah tanpanya, apalagi Khumairah akan menjalani operasi.


Zain menggunakan identitas palsu untuk menyamarkan pelariannya dan ia tidak akan merubah penampilannya, hingga orang-orang benar melupakan perkara yang dialaminya.


Amyra seperti mengenali dua bola mata itu, namun dimana dan siapa, Ia mencoba mengingatnya, namun karena Denny membawanya masuk kedalam ruangan, Amyra mencoba mengabaikannya rasa penasarannya.


Saat mengetahui Amyra sudah menghilang dibalik pintu praktik, Zain menolehkan wajahnya, melihat kearah pintu yang menyisakan ujung hijab Amyra yang akhirnya juga menghilang dibalik pintu.


"Ada apa, Mas?" tanya Khumairah dengan lirih.


"Tak mengapa, Ayo kita mencari penginapan sederhana untuk menginap kita malam ini, esok kita baru pulang ke desa" ucap Zain, lalu memapah Khumairah menuju parkiran.

__ADS_1


__ADS_2