
Dengan semangat Kenan malam itu datang ke rumah Fairi dan dia sudah membawah banyak makanan yang dijanjikan oleh Kenan tadi siang, namun sampai di rumah Fairi Kenan melihat mobil seseorang yang tak dikenalnya dan saat Kenan masuk kedalam ternyata itu adalah Lime mantan asisten Fairi saat di Bangkok. Dan kali ini Lime datang menemui Fairi karena memberikan kabar baik kalau dia akan menetap dan bekerja di sini sesuai dengan permintaan perusahaannya. Karena 1 tahun yang lalu Lime telah memutuskan untuk keluar dari perusahaan Wijaya.
"Oh Ken, kau datang masuklah, kau pasti masih ingat dengan Lime kan. Kali ini dia akan menetap di sini dan kami akan sering bertemu dan bersama seperti dulu lagi." Fairi berkata dengan ringan tanpa memikirkan apa pun.
"Ya aku masih ingat." Kenan menyerahkan bungkusan makanan pada Fairi.
"Baiklah, kalian berbincang lah dulu aku akan menyiapkan ini dulu." Fairi pergi kearah dapur.
"Halo tuan Kenan, senang bertemu dengan anda kembali." Lime mendekati Kenan dan mengulurkan tangan pada Kenan.
"Ya selamat datang. Tapi dari mana kau tau kalau Fairi tinggal di sini? Dan kapan kau datang." Kenan bertanya dan menahan rasa yang aneh dalam hatinya.
"Kami selalu berhubungan sejak 2 bulan yang lalu dan jujur aku sangat frustasi saat nomernya tak bisa dihubungi, namun saat aku melihatnya dalam berita kalau dia sedang dalam masalah yang menghimpit aku mengerti kalau dia sedang fokus dalam perusahaan. Aku sangat menyesal melihat itu, karena harusnya aku tak keluar dari perusahaan dan membantunya. Tapi saat Fairi menghubungiku dan mengatakan kalau dia baik - baik saja aku merasa lega." jelas Lime pada Kenan dengan sangat antusias.
Terlihat Kenan dan Lime sedang berbincang dan duduk di sofa ruang tengah, terlihat mereka sedang membicarakan sesuatu yang seru karena terlihat dari wajah Kenan dia sangat serius dan begitu juga Lime tak kalah seriusnya dengan Kenan.
"Non Ayu siapa Lime sebenarnya, apakah non Ayu punya hubungan dengan dia?" Sabrina yang mengikuti Fairi bertanya dengan penasaran.
"Bukankah tadi sudah aku katakan kalau dia adalah mantan asistenku saat aku bekerja di Bangkok." Fairi berkata ringan
"Hem, sepertinya akan ada perang dingin ini." Sabrina berkata dan tersenyum melihat Kenan dan Lime.
"Bicara apa kau ini, sudah ayo bantu aku." Fairi berkata dan memukul bahu Sabrina.
"Non Ayu apakah non Ayu tak merasakan kalau tuan Lime sebenarnya menyukai non Ayu, apa non Ayu tak peduli atau memang tak tau?" Sabrina bertanya dengan penasaran.
"Aku tau itu, tapi aku sudah pernah menegaskan pada dia kalau aku tak pernah memandangnya lebih dari seorang teman dan aku hanya akan menganggapnya sebagai teman juga sahabat yang baik untuk ku itu saja." jawab Fairi melihat Kenan dan Lime yang sedang duduk dan berbincang di ruang tengah.
"Lalu bagaimana dengan tuan Kenan, apakah anda memiliki perasaan untuknya atau anda mau memberikan kesempatan kedua padanya." Sabrina menatap Fairi.
"Kenan, dia adalah ayah Arman. Dan bagaimana pun aku tak bisa memisahkan mereka berdua. Tapi kalau ditanya untuk kesempatan kedua aku tak tau, karena kejadian dimasa lalu masih membekas dan membuatku takut untuk memulainya lagi dengan siapa pun." Fairi menjawab dan tersenyum pada Sabrina.
"Hem, aku tak pernah menyangka kalau tuan Kenan pernah membuat anda merasakan rasa sakit sampai membuat anda trauma dengan hubungan yang ada." Sabrina bernafas dalam.
"Sudah ayo." Fairi membawah beberapa makanan yang sudah disiapkan ke meja makan.
"Rin tolong hubungi Om Jono suruh dia pulang dan makan malam di rumah sekarang." Fairi memerintahkan pada Sabrina untuk menghubungi Sujono yang pergi membawah Kemal keluar.
"Memang dia kemana dan dimana Boo aku tak melihatnya." Kenan bertanya pada Fairi dan mendekatinya saat dia melihat Fairi menata makan diatas meja makan.
"Dia pergi keluar dan membawahnya entah kemana, ayo kita siap makan karena aku juga sudah masak beberapa tadi." Fairi mengajak Kenan dan Lime untuk makan.
"Tidakkah menunggu mereka datang dulu." Lime berkata dan tersenyum.
__ADS_1
"Hem, baiklah kalau begitu aku ke kamar dulu." Fairi pergi keatas untuk mandi karena dari sore belum mandi.
Tak lama setelah itu Sujono dan Kemal datang, Kemal membuat keramaian dan mereka bermain sambil menunggu Fairi. Namun sudah 30 menit tapi Fairi tak juga turun dan Kenan naik keatas untuk memanggilnya.
"Fa, apa kau masih didalam? Boo dan Sujono sudah datang dari tadi. Cepatlah turun dan ayo makan malam." Kenan mengetuk pintu kamar Fairi.
"Iya Ken sebentar." suara Fairi dari dalam kamar "aaaarh!!"
"Fa kau kenapa?" Kenan yang mau turun kaget mendengar teriakan Fairi dan dengan cepat Kenan membuka kamar Fairi lalu masuk kedalam.
"Eh, Ken kau..." Fairi berdiri didepan meja rias menatap kaget pada Kenan.
"Maaf, kau berteriak dan itu membuat ku kaget." Kenan berdiri dan menatap Fairi bingung karena Fairi terlihat baik - baik saja.
"Oh, maaf aku, sepertinya punggung ku terluka dan aku tak bisa mengancingkan baju, dan tadi tergores jadi terasa menyakitkan. Bisa bantu aku kalau begitu." Fairi membawah sebuah salep dan meminta Kenan untuk mengoleskan salep pada luka di punggungnya yang terkena goresan kaca tempat handuk di kamar mandinya.
"Oh kenapa bisa terluka seperti ini" Kenan kaget melihat punggung Fairi yang memiliki luka gores yang lumayan panjang.
"Apa itu terlihat dalam, tadi aku tergores tempat handuk saat mau keluar dan terpeleset." jawab Fairi santai. "Tolong oleskan salep untukku." Fairi duduk di sofa dan Kenan mengikutinya.
Saat duduk di sofa dibelakang Fairi Kenan menelan salifanya dan menatap tak berkedip pada punggung Fairi yang terlihat mulus setelah Fairi menarik semua rambutnya kearah depan, dengan tangan bergetar Kenan berusaha untuk mengoleskan salep pada luka di punggung Fairi.
"Ken cepat, katanya semua sudah menunggu." Fairi menyadarkan Kenan yang bengong.
"Iya, makasih." Fairi bangun dan berjalan kedepan meja riasnya dan meletakkan salep disana "ayo turun."
Saat Fairi keluar kamar dan hendak turun Kenan menetralkan pikirannya dan menghela nafas dalam berkali - kali. "Ya Allah, hukuman apa yang kau berikan pada hamba mu ini, kenapa semakin kesini Fairi jadi semakin sembarangan. Bagaimana kalau dia melakukan perbuatan itu pada orang lain, apa dia juga tak ada kewaspadaan pada pria lain seperti Lime yang jelas - jelas menyukainya." gerutu Kenan dengan kesal dan turun mengikuti Fairi.
Acar makan malam itu jelas membuat Kenan sangat kesal dan tak bisa menikmati makanannya, karena makanan yang dibawakan Kenan khusus untuk Fairi justru malah dimakan oleh Lime karena itu adalah makanan favorit Lime dan Fairi mengalah untuk itu.
Kenan menyibukkan dirinya dengan Kemal dan menyuapi Kemal yang saat itu duduk dipangkuan Kenan karena dia merindukan Kenan dan ingin makan dengan cara begitu seperti biasanya meraka lakukan saat di rumah Kenan.
"Wah makasih ya Yu makanannya enak. Oh iya rumahmu sudah diperbaiki dan di bersihkan jika kamu ingin tinggal disana juga gak papa, tapi barang - barang milik saudaramu Tyas masih disana karena dia masih belum memindahkan sebagian barangnya ke apartemennya." jelas Sujono pada Fairi.
"Tak apa om. Aku akan pindah minggu depan saja sekalian menyelesaikan tugas yang om berikan pada ku." jawab Fairi dan tuan Sujono tersenyum.
"Baiklah jangan lupa untuk menemui ayah, karena setelah kau kembali belum pernah sekali pun kau datang untuk menemuinya." Sujono bangun dan memeluk Fairi dari belakang.
"Jadilah wanita yang baik dan jangan membuat masalah lebih dari ini karena aku tak suka melihatmu menangis sesenggukan." bisik Sujono dan mencium pipi Fairi.
Kenan dan Lime yang melihat adegan itu merasa kaget karena Sujono mencium pipi Fairi dan terlihat Fairi biasa saja seolah hal itu bukanlah masalah. Kenan semakin panas saat dia mendapati Fairi bukanya marah malah tersenyum manis pada Sujono, dan mereka terlihat seperti pasangan suami istri yang sangat bahagia. Sedangkan Lime merasa ciut dan kalah karena dari dulu Fairi tak pernah mau menerima perasaannya.
Malam itu Kenan pulang dengan hati yang diliputi dengan segala pertanyaan dan juga kekesalan karena selain semua makanan yang dia bawah dimakan oleh Lime juga melihat keakraban Fairi dan Sujono.
__ADS_1
...💔💔💔...
"Bagaimana bisa dia melakukan itu pada ku, dia benar - benar ya. Pagi - pagi sudah mengganggu ketenangan ku" Tyas terlihat sangat marah setelah menerima panggilan telepon dari seseorang
Ting tong
Bel apartemen Tyas berbunyi dan dengan kesal Tyas berjalan untuk membukakan pintu, alangkah terkejutnya Tyas saat dia melihat dan mendapati seseorang yang tak pernah dia duga berdiri tepat didepan apartemennya.
"Kau, kenapa kau kesini dan ada urusan apa kau menemui ku." Tyas berkata dengan kaget
"Apakah kau tak ingin mempersilakan aku untuk masuk? Tidakkah kau merindukan ku saudaraku." ucap Fairi berdiri didepan Tyas.
"Aku tak ada urusan dengan mu." Tyas hendak menutup pintu namun dengan cepat Fairi mencegahnya dan menerobos masuk.
"Kau, apa yang kau lakukan hah?! Jika kau datang untuk memeriksa dan mencari mama ku, aku tak tau karena dia tak ada bersama dengan ku." ucap Tyas dengan kesal karena melihat Fairi yang masuk dengan paksa.
"Oh, jadi kau tau jika dia melarikan diri dari tahanan? Atau kau orang yang membantunya untuk melarikan diri hem." Fairi berjalan mendekati Tyas
Tyas tertegun dan kaget dengan apa yang dia katakan sendiri, karena kata - katanya telah membuktikan kalau dia tau soal nyonya Ayu yang keluar dari tahanan. Dengan cepat Tyas memalingkan wajahnya dan berjalan menghindari Fairi lalu menatap Fairi dengan tajam.
"Aku tak tau menahu soal mama, yang aku tau hanyalah kalau kau sudah menyudutkan mama dan membuat dia sengsara. Tapi kau jangan berfikir kalau aku kan memaafkan semua perbuatan itu." Tyas berkata dengan tatapan tajam dan duduk di sofa dengan angkuh.
"Tidak akan memaafkan ku itu bagus untuk mu, karena dengan begitu aku tak akan berfikir dua kali untuk melakukan segala tindakan ku. Aku datang hanya untuk memastikan seperti apa perasaan mu pada ku itu saja, karena kedepannya akan sulit jika sampai aku tau kau terlibat atas segalanya. Dan satu hal lagi, perbuatan mamamu terhadap ibu dan juga ayahku belum ku ungkapkan. Jika saatnya nanti aku pasti akan melakukan semuanya dan akan ku buat dia tak bisa keluar lagi dari tahanan bahkan jika dia mempunyai orang didalam sana." ucap Fairi dengan santai sambil duduk juga berhadapan dengan Tyas
"Apa kau mengancam ku." Tyas meluruskan posisi duduknya.
Fairi tersenyum menatap Tyas, lalu berdiri dan mendekati Tyas "aku tak pernah sekali pun untuk mengancam mu, tapi aku mengatakan yang sebenarnya. Dan aku membawah semua barang mu yang masih ada di rumah untuk kesini, karena kau bukan anggota keluarga jadi kau tak memiliki hak untuk tinggal di rumah itu lagi." jelas Fairi tersenyum lalu berjalan kearah pintu keluar
"Kau jangan sembarangan, jangan menatang - mentang kau sekarang banyak dukungan jadi bisa berbuat seenak mu sendiri." Tyas berdiri dan berteriak pada Fairi.
Fairi berbalik dan tersenyum "aku tau kau pasti akan berkata seperti itu, oleh karena itu aku sudah menyiapkan segalanya dan jika kau tak percaya kau bisa melakukannya lagi dengan ku." Fairi memberikan berkas yang dari tadi dibawahnya.
"Buka, lihat dan bacalah."
Tyas menerima map coklat itu dan membukanya, mata Tyas terbelalak menatap hasil tes DNA antara dirinya dan tuan Adi yang menyatakan kalau dia dan tuan Adi bukanlah anak kandung karena tes tersebut mengatakan kalau keduanya tak ada kecocokan sama sekali.
"Kau...kau pasti memalsukannya. Kau ingin membodohi ku, jangan harap kau bisa melakukan ini padaku Fa." Tyas berteriak dengan marah dan juga kesal.
Fairi tersenyum tipis "terserah apa pendapatmu, yang jelas dari hasil tes itu kau bukanlah siapa - siapa."
"Aaaaaarrrrhg. Sial.! Bagaimana dia bisa tau, dan kapan dia melakukan tes ini. Tunggu dia belum pernah mendapatkan sampel dari ku, dia pasti menggertak ku." Tyas berkata dengan marah dan frustasi setelah Fairi pergi dari apartemennya.
"Fairi, aku tak akan membiarkan mu mendapatkan segalanya, tidak akan pernah." Tyas bertekad dan dia menghubungi seseorang.
__ADS_1