
Sore itu lapangan basket terlihat sangat ramai mulai dari mereka yang datang ingin melihat latihan para anggota tim yang akan maju ke lapangan pertandingan dan mereka yang hanya mencari perhatian untuk para anggota tim.
"Kak Kem ini air untuk kakak, aku membawakan air untuk kakak. Oh maksudku aku membawakan air untuk kak Agung dan aku membawakan juga untuk kakak satu." ucap Angel yang datang bersama Sarah
Kemal yang duduk di bangku mengusap keringatnya dengan handuk yang tadi diberikan oleh Ajeng menatap pada Sarah dan Angel bergantian, lalu bangun dan menatap botol air yang dibawah oleh angel.
"Terima kasih, tapi maaf aku sudah dibawakan oleh Ajeng."
Kemal pergi setelah mengatakan itu pada Sarah dan Angel. Terlihat kedua gadis itu cemberut dan menatap tak suka pada Ajeng yang menjadi manajer dari semua anggota tim basket yang secara otomatis Ajeng akan dekat dan akrab dengan semua anggotanya.
Melihat Kemal berjalan kearahnya Ajeng langsung bergegas membawakan dua botol untuk Kemal. "Mau yang dingin atau biasa."
"Biasa." Kemal mengambil botol di tangan kiri Ajeng yang tidak dingin.
Ajeng mengintip dari balik tubuh kemal lalu menatap kemal yang berdiri di depannya. "Siapa mereka."
"Siapa." Kemal menatap Ajeng setelah menenggak habis air minumnya.
"Dua gadis itu, sepertinya dia membawahkan botol air untuk mu tadi." Ajeng menatap Kemal tajam.
"Oh, Sarah dan Angel sepupu kak Agung kalau tak salah" jawab Kemal dan mengalungkan handuk yang habis dipakai ke leher Ajeng.
"Hem, ada hubungan apa kau dengan mereka kok mereka terlihat sangat peduli dengan mu. Atau jangan - jangan kamu selingkuh ya." Ajeng menuding Kemal
"Kau gila ya." Kemal menyentil kening Ajeng dan pergi melewatinya.
"Hei, kau masih putraku ya jadi harus sopan padaku. Panggil aku bunda bocah." teriak Ajeng kesal
"Iya bawel." Kemal menjawab sambil berlalu dan melambaikan tangannya.
"Eh, hei Kem. Aku ini jauh lebih tua dari mu tau.. Kemal kau harus sopan padaku, Kem, Kemal, hei Kem." teriak Ajeng tak dihiraukan lagi oleh kemal karena dia masuk kedalam ruang ganti untuk mandi.
"Haaah...dasar bocah itu, kenapa dulu aku setuju dengan pelatih untuk menjadikan bocah tengil itu kapten dari tim bikin kesal saja." Ajeng menghentakkan kakinya dan melemparkan handuk Kemal ke lantai.
"Hei jangan marah dan menyumpahi putra kita seperti itu sayang." Putra mendekat dan menghibur Ajeng
"Diam!!" Ajeng menginjak kaki putra lalu pergi.
__ADS_1
"Auh Auh sakit, ya ampun dia marah sama anak bungsunya malah aku yang kena imbasnya." Putra memegangi kakinya yang diinjak Ajeng
"Karena kau pantas untuk mendapatkannya papi." ucap Surya lalu pergi meninggalkan Putra
"Hei Surya kau harus sopan pada papi mu." teriak Putra dan Surya hanya melambaikan tangannya.
Karena dalam anggota tim basket memang hanya Kemal dan Surya yang masih kecil dari pada anggota yang lainnya. Kemal masih duduk di bangku tingkat pertama sedangkan Surya tingkat atas dan masih kelas 1 sedangkan yang lain mereka sudah tingkat atas di kelas 2 dan 3.
Dan alasan Kemal kepilih menjadi kapten adalah karena cara memimpin Kemal pada anggota lainnya saat permainan dalam pertandingan pertama mereka sungguh sangat luar biasa dan membawah kemenangan secara berturut - turut sehingga diakui oleh pelatih dan anggota yang lainnya kalau Kemal adalah pemimpin tim yang luar biasa sehingga Bara mengundurkan diri dan mengajukan Kemal untuk menggantikan dirinya.
Kemampuan Kemal yang diakui oleh semuanya serta postur tubuh kemal yang terlihat tinggi menjulang membuat dia tak kelihatan kalau dia masih tingkat pertama dan masih duduk di kelas 1. Karena secara fisik dan pemikiran Kemal terlihat lebih dewasa dari pada usianya, sehingga dia tak kelihatan kalau masih tingkat pertama dan masih 13 tahun.
"Kakak." Arlan lari ke arah Kemal saat dia melihat kakaknya keluar dari gedung.
"Hei sama siapa." Kemal menangkap adiknya yang lari ke arahnya.
"Sama kak Arum." Arlan menoleh kebelakang.
"Kak" Arumi berjalan mendekati Kemal dan Arlan.
"Naik apa ke sini." Kemal tersenyum pada Arumi
"Lalu dimana papa sekarang." Kemal mencari papanya.
"Sudah pergi karena ada pertemuan dan hanya mengantarkan kami saja, soalnya tadi saat aku tiba di rumah adik Lan Lan merengek minta ketemu sama kakak." jelas Arumi dan Arlan sudah nemplok sama kakaknya.
"Hem, iya hari ini latihannya lebih lama, biasanya aku sudah ada di rumah jam segini." Kemal menjawab dan mengusap kepala adiknya yang bersandar di bahu sang kakak.
"Kakak mau makan es krim." ucap Arlan dan Kemal tersenyum
"Oho lihatlah pemandangan yang indah itu sayangku, putra kita beserta istri dan anaknya berkumpul sungguh sangat indah untuk dilihat." ucap Putra saat dia keluar bersama dengan yang lain dan melihat Kemal bersama dengan Arumi dan Arlan.
"Mereka perpaduan yang sempurna, rasanya aku seperti melihat keluarga Kemal di masa depan." Surya ikut bersuara.
"Rumi" panggil Ajeng dan berjalan cepat kearah Kemal dan Arumi.
"Kak Ajeng." Arumi tersenyum dan menunduk pada yang lainnya.
__ADS_1
"Siapa, apakah dia pacar Kemal? Aku tak pernah melihatnya sebelumnya." Agung bertanya pada Bara
"Ya dia pacar dan adik Kemal." Bara menjawab seperlunya karena dia tak terlalu banyak bicara.
"Aku berikan nasehat padamu ya Gung, sebaiknya kamu meminta pada sepupumu untuk berhenti atau kau hentikan dia. Karena tak akan bisa dia untuk menggapai seorang Kemal yang memiliki aura lebih tinggi dari seorang raja." ucap Wisnu
"Eh." Agung menatap Wisnu
"Hem...yang dikatakan oleh Wisnu benar, kami semua tau kalau kamu berusaha untuk membantu sepupu mu itu agar dekat dengan Kemal. Sebaiknya jangan dan lupakan saja." Angga pun ikut berkata pada Agung
"Sudahlah Gung jangan cari masalah, kamu sudah lama tak aktif karena cidera waktu itu dan Kemal masuk menggantikan Angga saat dia mengali insiden ditengah pertandingan. Waktu itu kami tak miliki pemain cadangan dan Kemal masuk untuk membantu kami namun auranya jauh melebihi prediksi kami semua hingga dia yang baru masuk dan langsung ikut main membuat kami yang waktu itu kehilangan strategi langsung mengikuti arahannya secara langsung tanpa latihan. Dan dia membawah kami semua dalam kemenangan." Andi menjelaskan
"Apakah dia sehebat itu?" Agung merasa tak percaya
"Ya begitulah ceritanya. Karena waktu itu kami tak punya banyak waktu saat Angga terluka di tengah permainan, kami tak mungkin mundur karena kami sudah ditengah jalan. Yang kami pikirkan waktu itu adalah siapa saja yang bisa bergabung tak masalah, bahkan jika kami tak membawah kemenangan juga tak apa, tapi justru diluar prediksi, kami seolah terhipnotis untuk mengikuti arahannya. Jadi kami hanya melihat ke arahnya dan berharap kalau dia akan membawah kami pada kemenangan lagi lagi dan lagi." Wisnu berkata penuh semangat.
"Iya aku masih ingat sekali dalam pertandingan itu, kami hanya melihat kearahnya dan mengikuti langkahnya. Teriakannya sejauh apa pun saat dia melambaikan tangan meminta bola dari kami, tanpa pikir panjang kami selalu menyerahkan bola itu begitu saja dan anehnya pilihan kami seolah tak pernah salah karena dia selalu bisa melampaui harap kami semua." Andi mengingat lagi dipertandingan awal kenal Kemal
"Haaa rasanya senang sekali melihat mereka." Ajeng berkata dengan lega setelah melihat Kemal pergi melajukan mobilnya.
Agung berfikir keras setelah mendengarkan cerita dari teman - temannya karena waktu Kemal masuk Agung sedang opname karena dia mengalami keracunan makanan saat makan setelah latihan dan teman - temannya tak ada yang tau kalau agung alergi dengan seafood.
...💔💔💔...
"Hai Ken bagaimana kau setuju dengan kerja sama kita? Aku jamin semua akan memberikan keuntungan yang luar biasa." ucap Sofiana pada Kenan
"Hem bagus juga, tapi yang aneh kenapa pihak sebelumnya tak setuju apakah mereka menentukan target tinggi" Kenan bertanya heran kenapa proposal yang begitu baik malah ditolak oleh pihak yang sebelumnya diajak kerja sama dengan PT Warsa Air.
"Aku tak tau kenapa, seperti yang aku katakan padamu sebelumnya kalau mereka membatalkan pertemuan yang sudah dijanjikan dan dijadwalkan, setelah itu mereka membatalkan secara sepihak kerja sama dengan pihak kami. Benar - benar tak profesional sekali." jelas Sofiana dengan kesal, sementara sekretarisnya diam saja yang tau cerita sebenarnya.
"Kenapa Bu Sofi malah melakukan hinaan pada klien yang bahkan belum ditemui dan sudah menunggunya selama 1 jam lebih." gumam Tanti dalam hati.
"Sungguh aneh, mungkin mereka terlalu menargetkan yang lebih." Farid berkata dan merasa kalau pihak pertama terlalu ambisius.
"Oh iya bagaimana kalau kita santai dulu dan makan malam bersama, untuk merayakan kerja sama kita." Sofiana menawarkan ajakan makan.
"Maaf tapi aku tak bisa, lain kali saja." tolak Kenan
__ADS_1
"Iya lain kali saja, karena aku juga ada urusan habis ini." Farid pun menolak
"Baiklah, selamat bekerja sama dan semoga kita akan jadi mitra yang baik kedepannya." Sofiana pun tak memaksa lagi dan mereka berpisah di situ.